Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 7 (S3)



Setiap orang yang pernah mengenal Kakek Kumbang, terkadang tidak mengerti bagaimana cara untuk memahami jalan pikiran pria tua itu. Ia penuh dengan kejutan yang membuat para lawan bicaranya untuk berpikir berulang kali. Bahkan, Kakek Syarif pun mengakui jika ia sering merenungi perkataan Kakek Kumbang semasa mereka masih bersama. Mungkin itu pula yang menjadi sifat bawaanku hingga sering membuat Razel kesal.


Cerita Borneo tentu saja menambah wawasan mengenai kapal yang sekarang menjadi milikku. Sepuluh Larangan Kapal Leon kini sudah bisa dijadikan untuk pegangan para awak kapal, meskipun secara resmi untuk saat ini aku hanya memiliki satu awak kapal. Itu pun, ia sering melawan padaku apabila diminta mengepel lantai kayu kapal yang sering dihinggapi kotoran burung.


Borneo tampak memerhatikan langkah Razel yang menjauh menuju kekegalapan malam. Baru saja dirinya memberitahu di mana lokasi yang cocok untuk buang air. Tidak lama kemudian, tangan Borneo memberikanku sebuah amplop.


“Apa ini?” tanyaku.


“Surat pribadi Kakek Kumbang untukmu, Reira.”


Aku memerhatikan amplop kosong tanpa alamat tersebut. Tidak aku sangka kakekku mengirimkan surat khusus untukku, setelah sekian lama menghilang. Selama ini, ia hanya mengirimi surat untuk Bunda. Itu pun Bunda tidak ingin memberitahukannya padaku.


“Apa? Yang benar aja?”


“Kalau kau enggak percaya, sini aku bakar.” Ia sempat menarik ujung amplop, tetapi aku menahannya. “Kakek Kumbang minta kalau surat ini diberikan kepada gadis pembawa Kapal Leon. Itu berarti dirimu. Aku dilarang buat membukanya.”


“Baiklah … ini berarti rahasia. Aku nanti baca kalau udah di rumah Kakek Tarab.”


“Sekali lagi, aku minta kau hati-hati dengan Kakek Tarab. Dia orang yang kurang bisa ditebak. Bisa-bisa pistol menodong ke kepalamu.”


“Aku bisa dua kali lebih cepat menembak kepala Kakek Tarab, percayalah ….”


Setelah Razel siap dengan hajat buang air kecilnya, aku pamit kepada Borneo untuk pulang. Kakek Tarab mungkin sedang menunggu kami untuk mengunci pintu depan dan belakang. Beruntung Kakek Tarab sudah tertidur tatkala kami datang karena aku takut jika ia mengomeli kami yang pulang pukul dua dini hari.


Razel langsung menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Suhu udara menjelang subuh di tepi laut memang sangat dingin. Sementara itu menyembunyikan diri di sana, aku membuka surat dari Kakek Kumbang yang diperuntukkan untukku.


Reira ….


Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah bertemu dengan Borneo, pemuda rambut panjang yang kaku itu. Aku sudah tahu jika ia melanggar saru dari Sepuluh Larangan Kapal Tigris. Membawa wanita bayaran ke kapalku? Syarif saja hampir aku gergaji giginya ketika ia membawa wanita Campa di usia kami yang menginjak dua puluh lima tahun. Aku harap kau menemukan pula kertas mengenai Sepuluh Larangan Kapal Leon di ruangan pribadiku. Aku menulisnya dengan disahkan oleh cap darah dari tiga orang penting perintis Kapal Leon.


Pengasingan Borneo di Teluk Ratai bukanlah satu-satunya dampak dari pelanggaran bodohnya. Aku ingin ia menemukanmu ketika kau sedang mencariku. Mohon jadikan ia awak kapal, beri makan dia dengan layak, dan minta dia sikat gigi minimal satu kali sehari. Namun, ada hal besar lain dari alasanku mengasingkan Borneo ke sana.


Sudahkah kau bertemu dengan Tarab? Oh iya, belikan dia juga susu kalsium dan minta dia minum setiap hari. Ia merupakan pria bertato di sekujur tubuhnya. Terakhir kali aku bertemu dengan Tarab, ia menggunakan tongkat kayu mahoni karena tulangnya yang sudah keropos. Aku harap kau bersabar menghadapi Tarab yang tempramen, mengingat masa mudanya dihabiskan dengan emosian sebagai preman.


Ia orang yang baik dan penurut. Namun, ia mengambil sesuatu dariku. Sesuatu yang berharga melebihi harga dirinya. Aku mengetahuinya tatkala Tarab melantur karena mabuk tuak, lalu bercerita mengenai benda yang pernah ia curi dariku. Benda itu ialah emas batangan berat 1 kg yang ia curi secara diam-diam. Jangan kau tanya bagaimana aku mendapatkan emas itu. Aku dan Syarif berkelana sebulan di hutan Sumatera untuk mencari dua ekor harimau, lalu menjualnya ke kolekor Belanda. Aku dan Syarif bertaruh nyawa untuk emas itu.


Berhati-hatilah dengan Tarab. Orang suruhanku sebelumnya tidak pernah kembali sampai saat ini. Aku akan mengirimkan satu orang lagi di masa pengasingan Borneo, tetapi jika ia tidak kembali juga, silahkan emas itu kau ambil!


Aku menahan napas tatkala membaca surat tersebut, Kakek Tarab telah mencuri emas batangan seberat 1 kg dari kakekku. Kemungkinan harga emas itu mencapai delapan ratus juta Rupiah pada kurs zaman sekarang. Tidak peduli dengan apa yang terjadi, aku segera berlari menuju Van House milik Borneo untuk memberitahu apa yang tertulis di surat itu. Aku tidak ingin menunggu hingga esok hari karena takut Kakek Tarab malah mengetahuinya.


“BORNEO!” panggilku dengan keras.


Lampur Van tampak hidup setelah panggilanku ia dengar. Borneo keluar dengan kupluk tidur seperti kupluk kurcaci. Matanya masih dalam keadaan kantuk berat, tetapi harus tiba-tiba terbangun oleh kehadiranku.


“Hey! Jam berapa ini? Kau malah teriak-teriak!” protes Borneo.


Aku menarikknya masuk ke dalam van tersebut, lalu menutup pintu, jendela, dan semua yang bisa melihat kami berada di dalam sini. Ia tampak melindungi tubuhnya dengan bantal seperti takut aku akan menyambarnya segera.


“Kau harus dengar ini ….” Aku meletakkan surat itu di atas kasur kapasnya. “Itu surat dari kakekku.”


“Ada apa dengan surat itu?” Ia membacanya segera, hingga sampai di bagian yang krusial, matanya melebar telak.


“Kakek Tarab menyimpan emas seberat 1 kg yang dia curi dari kakekku. Kakekku minta kita mencurinya kembali.” Aku memegang kedua pundaknya. “Emas itu seharga delapan ratus juta Rupiah. Kau bisa beli apa aja dengan itu!”


“Delapan ratus juta Rupiah? Aku belum pernah lihat uang sebanyak itu.” Wajahnya terlihat mati rasa.


“Kita harus menyusun rencana untuk ini!”


“Tapi, Rei ….” Ia memalingkan wajah. “Aku ingat sesuatu, maling terakhir di rumah itu memang ingin mencuri emas batangan dari rumah Pak Tarab. Hal itu berarti, mayat maling yang aku bereskan adalah orang suruhan dari Kakek Kumbang sendiri. Jika ia pernah mengirimkan satu orang lain sebelumnya, berarti dua orang suruhan itu sudah mati di tangan Pak Tarab.”


“Kau takut?! Ini uang yang besar, Borneo! Lagi pula, benda itu punya sejarah bagiku.”


“Kita bisa dibunuh oleh Tarab, Bodoh!” Ia memelankan suaranya.


“Kita bunuh dia sebelum dia membunuh kita!”


Matanya memandang tidak percaya padaku.


***