Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 6 (S2)



EPISODE 6 (S2)


Benarkah Tuhan benar-benar ada?


Ribuan tahun orang berusaha untuk mencari Tuhan melalui alam dan cahaya langit bermentari. Jika benar Tuhan merupakan eksistensi yang benar-benar ada, di manakah ia berada saat ini? Apakah ia kini sedang tertawa melihat ada seseorang yang tengah memikirkan keberadaannya? Atau menangis bahwasanya terdapat banyak hamba-Nya yang tengah keluar koridor sebagai ciptaan. Aku tidak akan membawa teori teologis yang pernah kudapati di semasa bangku sekolah agama. Perdebatan dengan dalil teologis mengenai sebuah subtansi bagiku hanyalah sia-sia bagi perdebatan. Semuanya mutlak pada kebenaran bahwa Tuhan ada di langit dan orang-orang tidak akan menggunakan akalnya untuk mencari keberadaan Tuhan.


Ilmuan menyatakan bahwa alam semesta berasal dari sebuah ketiadaan ruang dan waktu. Meledak dari titik padat yang meledak dengan dahsyat lalu berkembang menjadi jagat raya. Bahkan, ledakan itu saat ini terus terjadi dan melebar ke tujuan yang tak terbatas. Jika itu benar, ledakan akan berujung pada akhir ledakan, yang menjadi pertanda bahwasanya dunia akan dapat berakhir. Namun, siapakah awal dan akhir tersebut? Apakah Tuhan ada di sana?


Aku malam itu tatkala berpikir mengenai ini, setelah seluruh kejadian malang yang pernah menghampiri membuatku hilang kendali dan jauh dari Tuhan. Aku tidak pernah menyentuh doa yang disebut-sebut dapat menembus langit. Aku tidak pernah menyebut nama-Nya yang semua orang akan menganggapku sebagai orang-orang kafir. Namun, suatu kejadian malam itu membuatku tersadar bahwasanya aku sedang mencari arti kata Tuhan. Hal tersebut membawaku tertangis dalam tunduk pasrah dan resah akan kesalahan.


Tuhan itu benar-benar ada, kawan.


Kau menyadarinya, kah?


Sudahkah hati yang kosong itu menyebut nama Tuhan hari ini?


Aku menyadari bahwa Tuhan merupakan subtansi mutlak dari kebenaran dan keberadaan semenjak kami berdua, aku dan Dika, berpikir jika kami tidak akan bisa makan hari esok. Asal kau tahu, menghina Tuhan tidak butuh menginjakkan kakimu ke kitab suci. Berpikir jika esok hari tidak akan bisa makan, itu saja sudah menghina Tuhan. Setidaknya itu yang aku pelajari dari sosok Sudjiwotejo yang selalu menatap sangar dari teduh topi koboi dan kumis tebal, tetapi malah bisa nyinden Jawa dan main wayang.


Angsuran utang Ayah sudah lebih dari jatuh tempo. Penagih utang Ayah sudah berpesan jauh-jauh hari bahwasanya angsuran tiga bulan yang tak terbayar akan menyebabkan rumah satu-satunya kami di sita. Menunggak adalah hal yang biasa bagi kami, namun hal tersebut terdapat batasnya jika terlalu keseringan melakukannya. Tepat malam hari batas terakhir, Dika memegang kerahku dengan putus asa. Wajahnya menangis karena terpikirkan bahwasanya esok hari kami akan pindah ke rumah saudara.


“Doa bodoh! Lo enggak pernah ibadah! Kalau lo enggak bisa bantu gue dengan uang, setidaknya lo bisa bantu gue dengan doa!”


Harapan yang hanya aku butuhkan saat itu. Tuhan memberikanku jawaban atas kesusahan. Dari balik tangis selepas menarik sejadah, aku duduk sembari menghisap tembakau di depan rumah. Wajahku menadah menatap langit gelap, mencari apakah ada Tuhan di sana. Doaku mencuat dengah harapan bahwa bangunan bengkel Dika terjual malam ini. Saat itu pula aku mendapatkan jawaban bahwasanya Tuhan benar-benar ada. Dika mendapatkan telepon jika seseorang ingin membeli bangunan tersebut. Dika memelas agar mendapatkan uang itu malam itu karena hal yang darurat. Dengan wajah riang, Dika menarik sepedanya karena tidak ada lagi uang untuk membeli bahan bakar motornya yang boros.


Aku menyentuh dada, berteriak di dalam hati bahwa Tuhan benar-benar ada.


Hari ini pun aku melihat keberadaan Tuhan dari balik lukisan bentang alam yang benar-benar nyata. Birunya langit selayaknya pantulan lautan yang luas. Awan-awan bergugus terang di sana, bersanding dengan matahari yang tersenyum riang memberi kehidupan kepada makhluk bumi. Tidak hanya burung yang berkicau, anak-anak nelayan berteriak sembari mengejar truk kami yang berjalan lambat. Sebuah kolaborasi harmoni dari banyak subtansi keindahan yang memanjakan. Aku tertegun melihat semuanya benar-benar bersih tanpa hambatan di langit sana. Siapa gerangan yang bisa menciptakan segala keindahan ini selain diri-Nya? Aku tersenyum dari balik tersibaknya rambut Reira yang terhembus angin hingga mengenai wajahku.


Sedari tadi Reira tertidur di pundakku. Desah napasnya mengenai dada, terasa hangat karena ia terlalu menempel kali ini. Sesekali ia menggigit bibir dalam tidurnya, namun aku merasa tak sanggup melihat hal itu. Terlalu menggoda, ingin kusentuh dan kukecup segera. Yang aku lakukan ialah dengan mengusap rambutnya agar tak menghalangiku melihat pemandangan.


Namun, satu tangan saja tak bisa melakukannya dengan sempurna. Sebelah tanganku diapit erat oleh genggaman Reira.


Tidak terlalu jauh perjalanan kami. Setelah sepeluh menit menunggangi tumpukan goni besar ini, akhirnya kami sampai di sebuah rumah tingkat dua yang bagian belakangnya terbuat dari kayu. Rumah ini besar dan memanjang ke belakang. Bagian depan seperti rumah panggung khas Melayu, tangganya landai hingga sampai ke teras rumah yang terdapat kursi-kursi dan sebuah meja untuk bersantai. Berbeda dengan bagian belakang yang murni terbuat dari dinding kayu.


Truk berhenti tepat di depan sebuah pondok atap daun aren yang dibelakanya tumbuh subur sayur-mayur. Kedatangan kami disambut oleh gonggongan anjing yang entah dari mana asalnya. Yang pasti, gonggongan itu tidak berkesempatan untuk membangunkan Reira kali ini. Tidur wanita itu tampak semakin dalam saja di pundakku. Lama kelamaan, rasanya pegal juga dan tanganku terasa berkeringat sekali karena terus digenggam olehnya.


“Ayo kita angkut ke gudang.” Pak Milsa menutup pintu truk.


“Banyak nih, Pak. Mana sanggup kita,” balas Candra di bawah sana.


“Tenanglah kau, Can. Kau kira aku tak punya anggota di sini.”


Terdengar hentakan ketika Pak Milsa membuka bak truk. Wajahnya tertegun melihat Reira yang tertidur pulas di pundak.


“Reira penat tampaknya,” ucap Pak Milsa. “Angkat saja ke dalam. Nanti ada Mak Cik kalian yang menyambut.”


Setengah ragu aku mengiyakan karena segan memasuki rumah panggung yang sama sekali belum pernah aku kunjungi. Namun, aku tidak tega membangunkan Reira yang tertidur pulas. Terpaksa aku mengangkat Reira dengan berjalan pelan di atas tumpukan karung goni. Tubuh anak ini pun tidak terlalu berat, cukup ringan untuk ukuran wanita. Ia mengerang di dalam tidurnya, mungkin saja tidak merasa nyaman ketika aku angkat.


Tangga batu aku lewati satu per satu sebelum aku tiba di sebuah teras panggung dengan pagar batas yang menglilingnya. Bagian kanan teras diisi oleh sebuah meja dan empat buah kursi yang tersusun membentuk lingkaran. Masih bersisa beberapa cangkir dan puntung rokok di atas asbak yang menjadi pertanda jika telah terjadi perkumpulan di sini. Tepat di tepi, tersusun rapi sepatu dan sandal pada rak merah empat tingkat. Beberapa di antaranya merupakan merk kekinian anak muda yang menjadi sinyal kebenaran jika Pak Milsa memiliki seorang anak gadis di sini. Tidak mungkin bapak sederhana itu memakai sepatu-sepatu merk zaman kini, ia lebih memilih sandal kulit yang mungkin saja ia beli pada sebuah pasar di dekat sini. Sebuah pintu utama sudah terbuka sedari tadi tanpa aku pinta kepada pemilik rumah. Dengan sedikit mengetok, aku masuk melangkah.


“Assalaumualikum,” ucapku penuh hormat.


Berdiri seorang wanita dewasa bekerudung dengan renda di tepinya. Sedikit poni Ibu itu tampak di bagian depan tatkala ia menoleh padaku. Kedatanganku ternyata menganggu waktunya yang sedang serius menginjakkan kaki pada pedal mesin jahit tradisional. Berhentilah suara hentak jarum pada mesin jahit itu, berganti dengan suara gerak kursinya yang ia geser. Ia bisa jadi wanita yang Pak Milsa sebut sebagai Mak Cik kepadaku, dan sudah pasti itu istrinya.


“Walaikumsalam,” balasnya pelan beriringan dengan gerak tipis ujung bibirnya yang melebar.


“Hmm …” Aku agak bingung untuk mengatakan apa. “Mak Cik, ini teman saya ketiduran. Pak Cik Milsa sebut jika dia diantar ke kamar.”


Aku berusaha untuk berlogat Melayu semampuku. Mungkin saja terdengar aneh, tapi semoga saja ia memahamiku.


“Oh, kalian orang Pak Syarif?” Ia berdiri dari tempat duduknya. “Zainab … Zainab … sini kau bentar. Antar tamu ni ke kamar dulu.”


Tidak lama kemudian, seorang wanita muda datang tanpa menjawab. Wajahnya yang kebingungan merujuk melihatku yang sedang memangku seorang wanita.


“Iye, Mak? Ada apa?” tanya wanita muda itu.


“Ini ada tamu dari dermaga. Bapak kau baru mengambil barang tadi di sana.” Mak Cik beralih pandangan kepadaku. “Ha … Zainab antar kalian ke kamar. Kasian gadis tu tidur macam tu. Mak Cik sedang menjahit ni.”


“Baiklah Mak Cik. Terima kasih banyak,” balasku.


Wanita bernama Zainab itu memberikan isyarat dari gerak kepalanya yang memintaku untuk mengikuti. Masuklah kami ke sebuah kamar berpintu kayu dengan sebuah tirai manik-manik yang berbunyi ketika Zainab menyibakkannya. Sebisa mungkin tirai itu tidak mengenai wajah Reira yang sedang tertidur pulas. Zainab berbaik hati merapikan bantal untuk posisi tidur nyaman Reira. Akhirnya, rasa legaku terbalas dengan memanjangkan tanganku ke depan karena pegal yang aku rasakan sehabis mengangkat wanita itu.


“Terima kasih, Zainab.” Aku mengelap tanganku ke baju bagian belakang dan mengulurkan tangan padanya untuk bersalaman. “Aku David dan cewek ini Reira.”


Ia tampak ragu untuk menyambut isyarat perkenalanku. Namun, tidak lama kemudian setelah ia memandang tidak pasti ke arah tanganku yang menjulur, Zainab meraihnya seiring dengan salam yang berguncang tiga kali.


“Aku Zainab … hmm … ingin aku buatkan kopi atau minuman lain?” tanya Zainab.


Dari suaranya, ia tidak terdengar berlogat melayu. Hampir sama dengan dialek yang biasa aku gunakan.


Aku menggeleng sebentar. “Oh, thanks … aku harus mengangkat barang dengan Bapak di luar.”


“Berapa orang?” tanya Zainab.


“Hmm … cuma tiga orang.”


“Nanti aku antarkan kopi.” Ia tersenyum sebentar, lalu pergi meninggalkanku.


“Permisi.”


Hanya itu kalimat yang diucapkan oleh Zainab, beserta wangi tubuh yang satu frekuensi dengan khasnya aroma rumah ini. Satu belaian lembut aku usapkan ke rambut Reira, lalu aku melangkah pergi melewati jalan yang sama. Mak Cik kembali tersenyum padaku tatkala aku memasuki area ruang tamu yang berdampingan dengan ruang keluarga. Sempat aku meluaskan pandanganku, terdapat foto-foto tua yang terpajang di dinding. Tidak hanya foto-foto tua itu, tetai foto-foto Zainab dan keluarga terpampang manis di sebuah foto keluarga yang cukup besar.


Ternyata, Pak Cik Milsa memiliki dua orang anak perempuan, salah satunya ialah Zainab. Namun, aku belum melihat anak perempuannya yang lain. Kurasa ia adalah anak yang paling tua. Terlihat lebih dewasa daripada Zainab jika aku pandang dari foto keluarga tersebut.


Orang-orang sudah lalu lalang mengangkat goni-goni besar itu. Pak Cik Milsa berdiri bersama Candra yang sedang bersandar di salah satu dari empat goni besar. Mereka memandangiku tatkala sampai menghampiri mereka.


“Ini bagian kita, ayo kita angkat.” Candra menepuk goni tersebut.


“Hmm … Candra menolak goninya untuk diangkatkan sama orangnya Bapak,” ucap Pak Milsa.


Aku tersenyum. Kurasa apa yang diminta oleh Candra sudah tepat. Biar kami saja yang mengangkat barang-barang ini.


“Eh, enggak apa-apa, Pak.” Aku menepuk tangan Candra untuk mulai mengangkat goni-goni ini. “Biar kami aja.”


Aku lihat para bawahan Pak Milsa sedang mengangkat barang-barang itu ke sebuah gudang yang tepat di belakang rumah. Mobil truk tidak memungkinkan masuk karena terhalangi oleh kolam dua kolam ikan yang melintang.


“Hmm .. Aku suka anak muda macam kalian. Semangat selalu!” Pak Milsa menunjuk ke atas teras. “Kalian letak aja goni ini di teras bagian kiri sana. Kalian mau jualan, bukan? Di sana aja biar mudah mengambilnya.”


“Baik, Pak.” Candra mengangguk.


Kami berdua mengangkat goni-goni tersebut satu per satu. Di tengah langkah kami mengangkatnya, kami pun mendengarkan kalimat dari Pak Milsa yang bercerita tentang bisnis miliknya. Baru aku tahu jika ia merupakan pegiat bisnis penjual kedua dari berbagai barang. Ia menyediakan barang grosiran dengan memasoknya dari Ibu Kota, salah satunya dengan jasa Kakek Syarif.


Kakek Syarif banyak memiliki relasi pamasok dari pabrik konveksi, peralatan rumah, bahkan beras. Tentu saja Kakek Syarif mengambil keuntungan dari hubungan timbal balik ini. Selain ia mendapatkan upah pemesanan di sana, ia turut mengantarkan barang tersebut ke sini. Namun, hal itu hanya berlaku jika Pak Milsa menggunakan jasa dari bapak tua berharmonika tersebut.


Pak Milsa mengajak kami duduk di teras rumah setelah mengangkat goni-goni itu. Ia meminta kepada Mak Cik untuk membawakan makanan ringan kepada kami. Asap pun mengepul di tengah pembicaraan. Namun, ada yang lebih menarik yang datang di tengah pembicaraan, yaitu Zainab yang sedang memakai kerudung sembari menuangkan kopi ke dalam cangkir.


“Perkenalkan, ini adalah anak Pak Cik.” Ia menyentuh tangan anaknya tersebut. “Namanya Zainab.”


Tanpa kuduga, Candra lebih dahulu mengulurkan tangan.


Ingin sekali aku tepuk tangan bau pakan kucing itu.


***


Selamat beraktifitas malam di rumah


Jangan lupa menyentuh tombol like :)