Captain Reira

Captain Reira
45



Vespa 50 milikku kembali hidup setelah beberapa hari ini berada di bengkel Dika untuk perawatan lebih lanjut. Suaranya terbatuk-batuk ketika dihidupkan, maklum sudah termakan oleh usia. Asap hitam keluar pertanda sudah lama tidak dihidupkan, bukan berarti mesinnya sudah tidak bagus. Dika selalu merawat mesin Vespa 50 milikku. Ia ahlinya.


Aku tiba di komplek perumahan mewah tempat Fasha bertempat tinggal. Rumahnya bahkan lebih besar dan halamannya lebih luar daripada rumah milik Reira. Warna coklat muda mendominasi rumah yang memanjang ke belakang itu. Terdiri dari dua lantai dengan atap berbahan genting berwarna merah. Dua tiang besar besar menyangga teras depan rumah yang berhiaskan air mancur di hadapanya. Beberapa petugas kebun mondar-mandir dengan untuk menjaga halaman tertata rapi. Sementara itu, seorang security tampak menghampiriku yang tiba di depan gerbang.


Prosedur penjagaan tetap dilaksanakan. Kawasan yang sedang kumasuki merupakan salah satu rumah perwira polisi berpangkat tinggi.


Kadang, aku beruntung berkenalan dengan orang-orang dari kalangan elit. Dua di antaranya ialah Fasha dan Reira. Fasha merupakan anak dari perwira polisi, sementara Reira anak dari seorang politisi. Hanya saja, penampilan Reira tidak pernah mencerminkan dirinya berasal dari kalangan elit. Tidak ada anak dari kalangan elit yang berani memanjat gedung fakultas hanya untuk bertemu denganku. Harusnya ia menjaga image sebagai orang yang terpandang.


"David?" tanya security itu ketika aku membuka kaca helm. "Sudah lama enggak ke sini."


Pria lima puluhan itu tersenyum ketika menyadari aku datang. Riang matanya tidak surut oleh usia yang mulai senja. Dulu, kami sering berbagi rokok setiap kali aku berkunjung ke sini.


"Fasha meminta saya ke sini, Pak." Aku membalas senyumnya.


"Silahkan ... kalau enggak salah, Nona Fasha lagi di taman sendirian," balasnya.


Aku mengangguk sembari mengancungkan jempolku padanya.


Seorang gadis berambut pendek setelinga sedang berayun lambat pada ayunan taman. Ia masih memakai baju tidur rumahan berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil. Ada yang berubah dengan ukuran tubuhnya yang sedikit melebar dari biasanya. Pipinya tidak setirus dahulu. Terdapat tumpukan lemak yang membuat tubuhnya sedikit menggempal. Ekspresinya datar ketika menyorot gerak langkah kakiku menuju ke tempatnya. Wajah Fasha tampak pucat tidak bersemangat, tidak mencerminkan semangat pagi yang pernah ia ajarkan padaku. Sebuah lambaian tangan menyambutku yang telah datang, serta memberiku ruang pada ayunan besar itu untuk duduk.


"Sepertinya kamu tambah gemuk. Dan sejak kapan ...." Aku menunjuk rambutnya. "Rambut kamu pendekan."


"Iya, aku mau ganti model gaya rambut. Kalau begini, lebih keliatan fresh," balasnya. Senyumnya tampak tipis.


Aku duduk di sampingnya. Tercium wangi tubuhnya yang begitu khas. Aku ingat sekali itu.


"Ada apa, Fasha?" tanyaku.


Ia menyerahkan sebuah undangan yang masih lengkap dengan plastik pelindungnya. Cukup besar, kira-kira selebar dua telapak tanganku. Terlihat mewah dengan pita-pita yang membentuk bunga sebagai hiasan. Tampaknya ini baru dicetak, wangi tintanya masih tercium segar.


"Minggu depan aku akan menikah dengan Bagas." Air matanya mengalir deras. Wajahnya tidak sanggup untuk menatapku. "Maaf ... sekali lagi aku minta maaf."


"Kenapa minta maaf, Fasha? Setiap hati punya pilihannya masing-masing. Aku telah memilih Reira, sementara kamu dengan Bagas. Harusnya kamu bahagia." Tanganku mendekatkan tubuhnya padaku.


"Aku berdosa karena mengabaikan kamu, Dave. Cinta membuat aku buta. Setelah itu, semua menjadi terpaksa," jawabnya sembari tersedu-sedu dalam pelukanku.


"Kamu enggak pernah salah. Aku yang salah karena sudah pernah berharap lebih sama kamu. Harusnya kita tetap bersahabat," balasku.


Ia menggeleng. Air mata terus mengalir hingga menyesap pada pakaianku. "Akhirnya, aku sadar kalau aku punya rasa sama kamu. Aku cemburu kalau kamu dekat sama Reira. Tapi, aku sudah terlambat, Dave."


"Terlambat?"


"Aku harus menghindar selama ini karena─" Ia berhenti pada kalimatnya. "Aku sedang berbadan dua, bukan karena hubunganmu dengan Reira. Pernikahan ini enggak sebahagia yang kamu kira."


Tanganku melepaskan peluk yang direngkuh Fasha. Hina rasanya jika terus menyentuh wanita yang akan mutlak dimiliki oleh seseorang. Hatiku setengah tidak percaya ini akan terjadi. Aku hanya mengenalnya sebagai wanita suci dengan gitar yang ia tenteng ke mana-mana, setelah itu ia akan mentraktirku dengan uang hasil manggung di café-cefe. Riang bersama menertawai diri sendiri. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa isi hati seseorang. Fasha terlena dengan rayuan masa muda. Ia terjebak dan dipaksa untuk menjalani semuanya.


Dari kejauhan tampak masuk sebuah mobil yang pernah kulihat sebelumnya. Itu merupakan mobil Bagas yang biasa ia pakai ke kampus. Aku segera berdiri. Tidak pantas berdekatan dengan orang yang akan menjadi istri orang lain.


"Waktu memang berubah, namun aku tetaplah sahabatmu, sampai kapan pun itu. Ikuti saja kata hatimu. Jalani jika kamu mampu, berhentilah ketika kamu berada di ujung yang pelik. Seseorang pasti akan berubah. Ia bakal menjadi suami yang baik. Kelahiran anak pertamamu menjadi titik balik dari kesadarannya. Percayalah ...."


Aku meminta izin untuk pergi. Air mataku mengalir saat berjalan menuju motor. Satu hal yang aku sesalkan, mengapa aku tidak mengatakan perasaan yang pernah ada, jauh di saat pertama kali aku merasakannya. Andai saja aku bisa memutar waktu, akan kulakukan itu dan menyelamatkan Fasha dari lubang keterpurukan.


Aku merenung. Sebentar lagi ada yang akan memanggilku sebagai paman.


***