
EPISODE 91 (S2)
Kami akhiri harmonisasi pagi ini dengan menghabiskan segelas kopi bersama. Uap tipis yang harum pekat pahitnya kopi menjadi aroma tersendiri di sekitaran kami. Buatannya sangat pas di lidahku, atau memang euforia akibat dari sosok Reira yang menghadirkan sensasi berlebih pada setiap seruputan. Aku tidak tahu, yang penting ibadah kopikku sempurna pagi ini. Tembakau pun berbincang dari asap wewangian cengkeh, menari-nari di udara, hingga lepas keluar sana. Pikiranku mengawang bagaikan pagi di surga bersama bidadari yang bisa mengemudikan kapal di laut lepas.
“Mengenai papa lo dan Kakek Kumbang, ada apa?” tanyaku seketika.
“Apa kita harus membahasnya sekarang?” tanya Reira balik.
Aku mengangguk. Memang hal ini yang sejak kemarin ingin aku ketahui darinya. “Iya, harus. Karena gue bakalan pergi dan gue enggak mau mati penasaran di sana.”
Tangan Reira mengangkat cangkir kopi dan menyeruputnya. Terdengar seruputannya yan begitu hati-hati agar bibir tidak melepuh.
“Kakek keras sekali menentang Papa buat nikah kembali waktu itu, sebelum Papa dan Mama bercerai. Bahkan, Kakek sampai memecahkan guci harga jutaan di rumah besar itu karena saking marahnya mendengar Papa ingin menikah lagi.”
“Lalu, apa hubungannya dengan Kakek Kumbang menghilang?” tanyaku dengan penasaran.
Ia menunduk menatapi garis antara keramik, menyentuhnya dengan ujung jemari. “Hanya gue yang tahu karena gue di kamar saat itu. Perkelahian fisik terjadi antara Kakek dan Papa. Gue hanya mengintip dari kamar. Tidak ada satu pun yang melerai. Satu hal yang bikin gue yakin bahwasanya Kakek punya keahlian khusus ialah ....” Ia menahan kalimatnya sesaat. “Kakek mengambil sebuah ranting halus di kantong jaketnya dan mematahkannya tepat di hadapan Papa. Lo tahu apa yang terjadi selanjutnya?”
“Apa?” Seketika bulu kudukku berdiri. Reira membawakan suaranya dengan berat.
“Papa jatuh seketika dengan merintih sakit di salah satu kakinya. Papa berteriak sekeras-kerasnya, namun seluruh orang sedang pergi saat itu. Kenapa? Karena permintaan Kakek jika ingin dibawa ke rumah ialah dengan menyuruh pergi seluruh pembantu, termasuk satpam. Hanya keluarganya saja yang boleh di dalam rumah. Satu alasannya, benci kemewahan.”
Aku berdecak kagum di dalam hati membayangkan bagaimana kuatnya dominasi Kakek Kumbang dalam memengaruhi orang lain.
“Lalu, apa yang terjdi sama papa lo?”
“Kakek mengancam jika Papa bisa mengalami hal yang lebih dari itu kalau menikah kembali. Karena Papa minta ampun berkali-kali, Kakek mengambil seutas tali dari kantung jaketnya dan mengikat ranting patah itu agar kembali menyatu. Papa kembali pulih seperti sedia kala.” Mata Reira melihatku begitu dalam. “Itulah kenapa, Dave ... gue percaya tentang keris berdiri itu. Karena gue udah pernah melihat hal yang enggak logis semenjak kecil bersama Kakek, dan itu benar-benar nyata. Kakek masih ada!”
“Ke mana akan kita cari dia?” Aku menepuk dadaku. “Gue siap pasang badan.”
Reira malah menggeleng. “Itu urusan gue. Gue enggak bakalan lo kerepotan untuk hal itu. Kalau mau ditanya kapan? Gue juga enggak tahu dan saat ini belum ada ujung pangkalnya di mana gue bisa tahu Kakek berada. Mungkin aja suatu hari nanti ....”
Kopi seruputan terakhir aku sendiri yang menghabiskannya. Selagi Reira mencuci piring di dapur, aku menghabiskan sisa tembakau yang tinggal setengah batang. Setelah ia keluar, barulah kami beranjak ke rumah Mawar.
Aku merasa puas dengan jawaban yang telah ia berikan. Tanda tanya yang melambung di atas kepalaku kini telah hilang ditelan oleh kemertianku dengan hal yang terjadi. Barulah diriku paham, ternyata ada sedikit retak antara hubungan mantu dan mertua itu, hingga menyebabkan perkelahian. Bahkan, perkelahian yang disebutkan oleh Reira sangat tidak masuk akal sekali, namun hal itu benar-benar terjadi. Kakek Kumbang bukanlah manusia biasa. Entah ilmu apa yang perna ia tuntun sewaktu muda. Aku harap ia nanti mati dengan leluasa, tanpa beban yang dilaluinya.
Kami dibukakan gerbang oleh wanita berparas oriental tersebut. Rambutnya sedikit berbeda, teruntai dijalin seperti tali tambang kapal ke belakang. Kami hanya biasa menemukan Mawar dengan rambut panjang tergerai berbelah tengah. Seperti yang dikatakan Reira, ia anggun dengan gaya seperti itu. Namun, lebih manis sedikit ketika kami melihatnya dengan gaya baru. Tidak salah Reira langsung memuji model rambut barunya tersebut.
“Lo seperti putri raja Eropa yang bertarung melawan nenek sihir.” Reira menyentuh rambut Mawar.
“Jadi, gue boleh minjam David untuk dua sampai tiga hari ini?” tanya Mawar.
“Boleh saja, asal bawakan gue jambu tiga warna.”
“Hahaha ... mana ada jambu tiga warna!” Mawar mengangkat kopernya dan mulai melangkah menuju mobil. Sesampainya di samping mobil, aku menyambut barang bawaannya tersebut untuk dimasukkan ke dalam mobil.
“Yang enggak ada belum tentu benar-benar enggak ada. Bisa jadi lo hanya belum melihatnya,” balas Reira.
Aku meletakkan telunjukku melintang di depan dahi, menyisyaratkan bahwasanya perkatan Reira itu benar-benar gila.
“Akan gue tanyakan ke orang-orang tentang jambu tiga warna, gue harap gue enggak kena ketawain.” Mawar menyentuh lengan Reira. Kemudian, mereka saling menempelkan pipi satu sama lain. “Gue pergi dulu. Doain lancar dan gue dapat banyak informasi buat penelitian.”
Reira memberikan tangan hormatnya pada Mawar. “Siap! Kapten akan selalu mendoakan hal terbaik buat kalian.”
“Jangan lupa ngurusin cafe gue,” sanggahku.
“Apa perlu gue ngundang band indie Ibu Kota ke sana biar ramai?” tantang Reira dengan bertegak pinggang. “Jangan khawatirkan gue. Jagain Mawar, jangan sampai lecet. Kalau lecet, elo yang gue amplas.”
“Hahah ... emang Mawar itu mobil, apa?” Aku masuk ke dalam mobil Jazz milik Kakak Mawar.
Candaanku menghasilkan pukulan ringan pada lenganku. Mawar sudah masuk ke dalam mobil, kini aku melempar senyum panjang kepada Reira. Sudahlah ... aku serahkan urusan bisnisku itu kepada yang sudah lebih dulu mencemplung ke dalamnya. Reira tidak aku ragukan lagi untuk hal tersebut. Lagi pula, sudah pasti ia akan membawa banyak temannya ke sana. Mereka mana mau datang ke cafe-nya yang ada di mall dan mahal itu. Sudah jelas lebih tertarik ke tongkronganku yang lebih murah di kantong ukuran mahasiswa.
Mawar menunjukkan jalannya padaku melalui peta elektronik di handphone. Flashdisk Reira aku bawa karena banyak diisi oleh musik-musik terkini, tetapi tentu saja lebih dominan ke genre pop rock yang ia sukai. Aku berharap Mawar menyukainya juga.
Tanganku dipukul pada telungkup oleh Mawar. Terhentilah jemariku memencet tombol next di DVD player mobilnya ini.
“Itu aja lagunya, gue suka.”
Bergema suara indah Adele dalam lagunya yang bertajuk Someone Love You. Gadis di sampingku sama sekali tidak bereskpresi, hanya matanya yang menoleh ke samping kiri. Aku rasa ia tak ingin menatapku, begitu pula diriku yang sedikit merasa canggung di sini. Tidak ada perasaan yang lebih aku rasakan daripada canggung. Canggung mengucap sesuatu atau pun canggung melihat kepad wanita itu. Sikapku bertahan hingga kami keluar di perbatasan Ibu Kota, menusuri ramainya jalanan tol tanpa percakapan sedikit pun.
Aku tidk tahu akan ia bawa ke mana, kecuali mengikuti ucapan bibirnya yang meenunjukkan aku jalan yang akan dituju. Setidaknya kami sudah berperjalanan kurang lebih dua jam di dalam mobil. Udara pun semakin sejuk aku rasakan, memasuki kawasan yang jauh dari kata gedung-gedung yang menyesakkan. Hingga mataku menatap takjub tatkala melihat sepucuk ujung gunung yang menjulang menggapai langit.
“Lokasinya ada di kaki Gunung Salak,” ucap Mawar.
“Lalu, kita akan tinggal di mana?” tanyaku.
“Salah satu Villa milik Bu Fany,” balas Mawar singkat.
Aku baru tahu bahwasanya Bu Fany memiliki villa di kaki Gunung Salak. Aku hanya tahu janda dua anak itu hanya sebagai pemilik sebuah cafe yang cukup terkenal, walaupun Reira pernah berkata bahwasa mamanya tersebut masih memiliki banyak usaha yang sering sekali membuatnya jatuh sakit.
“Wow ... gue memacari anak sultan yang hanya memakai kaos oblong dan sendal jepit.” Aku menambah kecepatan mobilku.
“Lo merasa memacari orang yang benar?”
Aku menoleh. “Gue rasa benar. Gue enggak pernah memandang Reira dari status sosialnya. Dan suatu hari nanti jika kami berjodoh, gue enggak bakalan ingin hidup dari harta warisan orangtuanya. Kami punya visi yang sama, hidup sederhana.”
“Oh, ya? Reira tadi bilang kalau ketidakadaan itu sebenarnya tidak ada, hanya saja lo belum melihatnya. Bisa jadi lo memilih orang yang salah, hanya saja lo belum melihatnya.”
Aku mengutuk di dalam hati. Diam-diam begini, Mawar ternyata punya mulut yang menusuk. Entahlah, mungkin saja ingin membuatku memutar otak untuk menyesapi segala hal dengan memunculkan kebingungan.
“Kita ingin berdebat?” tanyaku.
“Jangan anggap serius, tapi jangan anggap juga angin lalu. Kita hidup di antara hitam dan putih, antara kiri dan kanan, antara basah dan kering.”
Tawaku berucap di dalam mobil. “Hahah ... lo pandai merangkai kata. Baik, gue paham maksud lo. Tidak semua orang itu benar-benar putih, selalu ada hitam, walaupun setitik kecil sekali pun.”
Ia menjentikkan jemari. “Nah, lo dapat poinnya.”
“Gue mempercayainya, meskipun gue tahu Reira tetap punya sifat yang buruk. Setidaknya gue mempercayai apa yang sedang gue lihat sekarang, yaitu Reira orang yang tepat. Persetan dengan masa depan di mana gue belum melihat apa yang lo bilang 'sesuatu yang belum dilihat'. Kita manusia ini bukan cenayang, bukan? Tapi, enggak berarti kita putus asa begitu aja.”
“Singkat dan padat. Lo dapat A kalau gue dosennya,” balas Mawar.
“Mawar, udah gue bilang ... carilah sesuatu yang baru itu. Kalau lo udah tahu apa yang baru itu, lo enggak bakalan nanya lagi ke gue mengenai jawabannya,” balasku untuk mengingatkan padanya kembali mengenai apa yang pernah kami bicarakan.
“Cinta? Cinta itu hanya satu diciptakan oleh Tuhan, tergantung dipergunakan untuk siapa. Bisa jadi ke orangtua, sahabat, dan lawan jenis. Namun ....” Ia melebarkan jendela mobil agar angin segar masuk ke dalam. “Gue belum menemukan cinta yang lo maksud itu.”
Aku tertegun mendengar kalimat tersebut. Secarik puisi itu pernah aku tulis tatkala di malam suntuk bergelimang pada sudut kamar, menuntun jemariku memenggenggam pena untuk bercerita mengenai risalah hati hari ini. Tepat lima menit yang panjang di kala itu, aku mengarahkan secari kertas tulisan itu ke langit dan melantunkannya kepada bulan dengan harapan langit akan mendengar.
Cinta hanya satu diciptakan Tuhan untuk hambanya. Ia limpahkan cinta-Nya kepada hamba, agar insan mampu mempergunakan hati dengan segala anugerah yang dititipkan. Manusia memilih sendiri cinta tersebut akan dipergunakan untuk apa. Apakah ia membangun atau menjerumus, itu terserah manusia sebagai otoritas diri.
“Itu puisi gue. Dari mana lo tahu?”
“Siapa yang enggak tahu pria kurus yang masih selalu menempelkan puisi di mading fakultas. Padahal dia tahu ada teknologi bernama media sosial saat ini.”
Hatiku berterima kasih, karyaku dibaca oleh orang lain.
***