
EPISODE 33 (S2)
Bagian diriku yang lelah memaksa untuk dibaringkan segera. Candra dan Razel tengah asyik bermain game di dalam kamar. Selalu saja seperti itu, game membuat mereka mengeluarkan kata-kata hujat yang dihasilkan dari kekesalan mereka terhadap yang sedang dimainkan. Entahlah ... aku tidak terlalu mengerti bagaimana euforia dalam bermain game karena aku hanya bermain game tidak terlalu serius, hanya pengisi waktu luang, itu pun jarang sekali. Kakiku mendorong Candra dari atas ranjang, lalu terjatuh tepat ke kasur tipis yang berada di bawah. Saking seriusnya bermain, anak itu tidak meresponku sama sekali. Coba saja ia sedang tidak sedang apa-apa dan aku dorong menggunakan kaki, sudah pasti tangan berbau pakan kucing itu menepuk kakiku dengan kuat.
“Kecilin suaranya, ya ... gue mau tidur.”
“Tidur aja sana! Lo yang tidur, kami yang ribet ....” Candra membalas walaupun matanya fokus ke layar handphone.
Kenapa gue yang jadi salah, ya? Ah ... bodo! Tidur aja ....
Aku merengkan tubuh ke kanan sembari mengucap doa di dalam hati, aku pejamkan mata perlahan. Ucapan harapan semoga saja tepat malam ini menembus pintu langit bahwasanya semua ini akan baik-baik saja. Rasa risau yang aku rasakan tadi diharapkan bukanlah seperti aku pikirkan. Lelah yang semakin larut, mempercepat diriku untuk jatuh ke dalam ruang mimpi.
Salah satu hal sial dari sekian kesialan yang aku miliki ialah memiliki seseorang yang selalu menganggu di tengah lelap manja tidur. Sudah aku naiki sepeda ontel Pak Cik di dalam mimpi di dalam satu kayuhan, tetapi kembali dibuat membuka mata ketika seseorang menepuk wajahku dengan keras berkali-kali. Siapa lagi kalau bukan gadis laut itu yang menduduki sebelah kakiku, kebetulan sekali tertutupi oleh sarung. Sudah berkali-kali ia membangunkan aku seperti ini, sudah pasti ada sesuatu yang ingin ia rencanakan bersamaku. Namun yang jadi pertanyaannya ialah, kenapa harus ketika gue lagi tidur? Aku tidak mengerti mengenai itu hingga saat ini.
“Woi bangun!” ucapnya dengan memencet hidungku agar aku terbangun.
Kekasih mana yang memanggil pujangganya dengan sebutan 'woi', kecuali Reira. Aku tak terlalu berharap ia memanggilku dengan sebutan 'sayang' karena hal itu sangat mustahil jika pada momen-momen yang seperti ini.
Aku menggeser jemari kecinya yang menempel pada hidungku. “Apaan sih Rei! Enggak lihat gue lagi tidur? Kebiasaan nganggu gue lagi tidur.”
“Ih ... kok jawabnya begitu, sih? Ayo bangun.” Suara Reira memelas.
“Lo baru pulang?” tanyaku. Aku baru dengan jelas melihat rona wajah Reira setelah mengucek mata.
“Iya, baru aja.”
“Mana Candra dan Razel?” tanyaku kembali.
“Gue usir dari kamar buat main di gazebo luar.” Ia kembali menepuk pipiku. “Ayo bangun, ada sesuatu yang mau gue tunjukkan.”
“Jangan bilang lo membawa kepala kambing hasil sembelihan buat acara di sana,’ balasku.
Ia menggeleng, lalu menarik tanganku untuk segera bangkit. “Pokoknya lo pasti kagum deh sama gue.”
Tangannya mengiringku ke luar kamar. Entah apa yang ingin ia tunjukkan padaku.
Tak aku hindari kemilau langit berparas terang dari bulan sabit yang melengkuh pipih di antara awan. Mataku menadah ke atas sana sembari menunggu Reira yang masuk kembali ke dalam rumah. Duduk yang aku helat di tepi meja bundar, menuntunku untuk berpangku tangan. Terdengarlah suara seru dari Candra dan Razel yang tak henti bermain game di gazebo. Aku rasa mereka menemukan kecocokan satu sama lain di dunia yang sedang mereka geluti sekarang. Apabila bertemu dan ada waktu luang, mereka selalu menyempatkan untuk bermain game bersama.
Hentak langkah Reira di atas lantai panggung dari kayu terdengar dari luar. Ia berlari hingga sampai ke hadapanku dengan tergesa-gesa. Terdapat dua buah wadah kotak plastik yang ia sajikan padaku. Senyum Reira pun berseri-seri menatapku yang sedang kebingungan dengan apa yang ia bawa. Aroma kuah sup pun keluar ketika ia membuka salah satu dari wadah plastik tersebut, lalu memberikan sebuah sendok padaku.
“Silahkan coba, gue belajar bikin sup di sana. Bukan sup biasa loh, pokoknya spesial walaupun bentuknya kaya sup yang biasa lo lihat.” Reira berpangku tangan menatapku.
“Apanya yang spesial? Ini sup biasa.” Aku mengambil alih sendok darinya.
“Karena gue yang membuatnya, itulah yang membuat sup ini spesial. Paham?” Wajahnya seakan memaksaku untuk memakannya segera.
“Baik, biar gue coba, ya ....”
Aku menyendokkan kuah sup itu untuk pertama kali, lalu berlanju dengan seiris daging ayang bersamaan dengan kentang dan wortel. Mataku memicing untuk merasakan kespesialan yang dikatakan oleh Reira. Rasanya seperti sup pada umumnya. Dikatakan enak, sejujurnya cukup lezat. Apalagi disajikan di malam-malam dingin seperti ini. Tidak ada kata lain selain memuji wanita itu, walaupun makanan ini tidak enak sekali pun. Kekasih mana yang ingin mencela masakan perempuannya? Lebih baik berbohong dengan cara yang halus daripada menyakiti hati kecilnya itu.
“Enak ... lo pandai juga bikin sup, ya?” Aku memujinya. Ini pujian yang jujur. Sama sekali aku tidak berbohong.
“Tentu saja, dong! Gue ini kan calon istri yang pandai,” balas Reira.
“Oh, begitu ....” Wajahku sepertinya memerah mendengar kalimat itu. Setelah itu, pandanganku berlanjut ke wadah selanjutnya. “Lalu itu?”
“Oh, iya ... ini harus lo cobain.” Tangan Reira membuka wadah yang satu lagi. “Ini kue brownies ala Reira. Agak asin karena gue dengan keringat bikinnya.”
“Hahah ... ya kali lo campurin ini pake keringat.” Aku memerhatikan lembutnya brownies tersebut, lalu mencuil sebagian kecilnya.
Enak juga, ya ....
Gigitan brownies tersebut seakan mengulang ingatanku pada setahun lalu, tepat pada satu malam di ayunan besi depan ruman, Fasha datang membawakan kue ulang tahun untukku. Wanita itu aku akui serba bisa daripada Reira, apalagi soal masak-memasak. Duduklah kami di sana sembari tertawa bersama berbagi pengalaman lucu masing-masing. Ya ... di saat itu semuanya masih baik-baik saja. Aku dan Fasha masih selalu bersama hingga merenggang secara perlahan. Tentu saja aku belum mengenal Reira pada saat itu. Apabila aku mengenalnya di malam ulang tahun pada saat itu, sudah dipastikan aku tidak akan berada di rumah. Bisa jadi di atas sebuah gedung tertinggi di kota dengan menyogok petugas pengamanan, lalu bersantai ria dengan sebotol anggur yang ia bawa.
“Bagaimana?” tanya Reira. Tampangnya begitu penasaran.
Aku tunjukkan jempolku, lalu menggeseknya tepat di hidung Reira. “Ini baru brownies terbaik yang pernah ada. Gue ingin dibuatkan lagi.”
“Terima kasih ... lain kali gue bikinin lo lebih banyak lagi. Dika yang kampungan itu kayanya enggak tahu brownies, kan? Hahah ....”
Aku tertawa pelan. Ada-ada saja Reira menyebut Dika sebagai orang yang kampungan. Tapi ada benarnya juga. Terkadang ia menjadi bodoh kalau soal komputer atau handphone.
“Gue rasa ada benarnya. Hahaha ....”
“Jadi, udah dibeli semua keperluannya itu?” tanya Reira. Tangannya turut mencuil brownies buatannnya sendiri.
Aku mengangguk. “Udah, kok. Tapi ngomong-ngomong dua terpal itu cukup bikin dua tenda?”
“Tenang aja, kita juga ada terpal dari Pak Cik, kok. Pokoknya, besok malam bakalan jadi malam yang asyik.”
“Iya, gue enggak pernah kemah soalnya. Jadi, gue penasaran gimana sensasinya.”
Ia menepuk pundakku dua kali. “Hey, Kawan. Apalagi engkau belum pernah kemah di tepi pantai. Seru banget. Apalagi gue berencana buat nyeburin Candra ke pantai kalau lagi tidur. Lo bantuin gue buat ngangkatin dia, ya?”
“Hahaha ... lo ini gila. Candra mau diceburin segala.”
“Entah kenapa gue suka ngejahilin Candra. Anaknya lucu kaya anjing-anjing peliharan di petshop. Pengen gue grooming rambut keritingnya itu."
“Yaelah ... Candra disamain dengan Anjing. Parah lo ....”
Reira terlihat berdiri. “Oke, deh. Jangan lupa dihabisin supnya. Gue mau tidur dulu. Selamat malam.”
“Ciumnya mana?” rayuku.
“Minta sama Candra sana.” Ia berbalik dengan sinis.
Aku tertawa di dalam hati melihat respon kakunya tersebut. Gombalan bodoh dan receh yang aku lontarkan padanya selalu saja dianggap sebagai angin lalu yang tak berguna. Mana mempan kepada Reira yang berhati seperti kayu laut, keras sekali bagi kalimat-kalimat receh seperti itu. Namun, ia selalu tertarik dengan kalimat-kalimat puitisku. Ia salah satu penggemar bait puisiku yang selalu ditempelkan di berbagai mading fakultas, termasuk fakultasnya sendiri. Dari untaian kata pada kertas tempelan itu pula yang membawa Reira mengenalku, menjumpaiku di malam perhelatan puisi kampus, hingga ia mengaku menjadi pacaraku tiba-tiba pada saat itu.
***