
EPISODE 137 (S2)
Benarkah Reira pergi berlibur ke Bali bersama keluarga Nauren? Jika itu benar, aku ingin sekali tahu alasannya. Aku ingin tahu mengapa ia melakukan hal tersebut karena aku mengerti sekali Reira tidak akan pernah mau melakukan sesuatu tanpa dari keinginannya sendiri. Reira adalah wanita yang independen, berdiri dengan dua kakinya sendiri ke tujuan yang ia suka. Terenyuh diriku mendengar kalimat dari Pak Bernardo. Bergemuruh perasaan ini digoncang inti kecemasan.
Alasan lain yang ingin aku ketahui ialah mengapa ia tidak ingin memberitahukan hal ini kepada kami. Keadaan telah menunjukkan ada sesuatu yang harus disembunyikan dan tidak boleh ada seeorang yang mengetahuinya. Memang, beberapa hari yang lalu kami ada membicarakan mengenai privasi. Aku mengatakan bahwasanya tidak seharusnya seseorang memasuki diri ke privasi orang lain.
Apakah ini termasuk dari privasinya hingga ia menutup rapat-rapat rencana ini? Aku rasa jika menyangkut hubungan dengan orang lain, tidaklah termasuk privasi. Ini bukanlah menyangkut pribadi sendiri, melainkan terdapat keterlibatan antara banyak pribadi sehingga itu tak cukup untuk dikatakan sebagai privasi.
Aku kecewa? Jujur jika hal ini benar. Seharusnya ia bercerita ia akan pergi dan sama sekali aku tidak akan melarangnya karena aku sangat percaya dengan Reira. Namun, ia sama sekali menutup rapat-rapat cerita ini seakan aku tidak dapat dipercaya.
Sudahlah, aku tidak diterima di rumah itu. Beranjak diriku ke persinggahan selanjutnya sebagaimana janjiku sebelumnya. Tidak ingin kehilangan helm dua kali, aku memasukkan motor ke dalam area rumah Mawar. Rumah seperti biasa, sunyi dan hanya dihuni oleh dua orang perempuan. Yang satu jarang di rumah karena sibuk sebagai tenaga dosen di salah satu universitas swasta, sementara adiknya sibuk di dalam kamar membaca buku tanpa ingin melihat keadaan luar. Mawar ingin keluar kalau sedang bimbingan atau bekerja di cafe malam hari. Ia tidak akan pergi kecuali diajak oleh orang lain, seperti berkunjung ke rumahku atau ke rumah Reira.
Lama-lama, bau tubuh anak itu sudah seperti buku baru. Ia selalu berkurung diri di ruangan penuh buku, dikhususkan baginya untuk membaca. Sama hal dengan kakaknya, mereka berdua memiliki ruangan perpustakaan yang berbeda. Tentu saja mereka tidak ingin bercampur referensi buku. Minat baca mereka berbeda haluan, meskipun sama di keilmuan Psikologi yang mereka dalami.
Benar saja. Mawar muncul di balkon atas tatkala aku turun dari vespa. Kacamatanya menatap lurus padaku sembari menatap datar tak tersenyum. Ia tutup buku dengan menyelipkan jemari ke dalamnya sebagai tanda untuk selanjutnya dibaca.
“Naiklah ...,” panggilnya.
“Kalau gue masuk ke dalam untuk membaca buku, lebih baik kita di rumput sambil main dengan kelinci.”
“Naik dan gue bikinin kopi.” Ia menghilang dari balkon.
Mau tidak mau, aku harus naik ke atas. Sepertinya ia terlalu segan untuk memijak bumi yang hijau ini. Ia lebih suka duduk di atas karpet halus dengan buku-buku di sekitarnya. Seperti pertama kali aku bertemu dengan Mawar, anak itu dengan santai berbaring di lantai perpustakaan tanpa malu. Parahnya lagi, dirinya membawa kopi dan gilanya ia menawari kopi itu padaku.
Kami berselisih jalan di anak tangga. Mawar memintaku untuk duluan ke perpustakaanya itu agar ia sendiri yang membuat kopi. Tidak ingin sibuk, aku pun segera menuju ke atas.
Pintu perpustakaan gilanya itu aku buka. Menyeruak bau buku seperti ketika kau sibakkan lembaran buku baru didepan hidungmu. Sekeliling ruangan merupakan rak-rak buku yang ditandai judul-judul jenis buku. Sebelah kanan didominasi dengan buku-buku Psikologi. Sementara di kiri terdapat beragam jenis buku seperti sosial, ekonomi, filsafat, politik, dan sastra yang paling aku sukai. Ruangan ber-AC ini pasti tidak akan bisa digunakan sebagai tempat merokok. Jikalau aku melakukan hal tersebut, Mawar yang pendiam itu bisa jadi segarang Reira yang liar. Oleh karena itu, aku pergi ke balkon di depan yang lumayan lebar. Ada sebuah bantal besar di atas karpet lembut yang bisa dijadikan tempat sandaran hingga lima orang. Lengkap sekali rumah ini. Tak seperti rumahku yang kalau ingin buat kopi selalu berkelahi satu sama lain karena tidak ingat membeli gas.
Pemandangan pekarangan rumput Mawar menjadi sorotan yang langsung aku nikmati. Kelinci Mawar berlari-lari di bawah salah satu gazebo yang ada. Kucing berbulu lebat miliknya memilih untuk tidur di atasnya. Sangat tenang dengan hunian seperti ini, tetapi bagiku terlalu besar untuk ditempati dua orang. Tembok pagar terlalu tinggi sebagai manifestasi bahwasanya privasi rumah itu sangat penting. Ya ... aku tahu sekali komplek rumah Mawar pasti jarang sekali terjadi sosialisasi antar tetangga. Jikalau bertemu, hanya ketika pagi hari sewaktu pergi kerja dengan hanya membunyikan klakson. Tidak akan ada para pemuda yang bermain gitar di warung yang menjadi aparat pengamanan pertama ketika ada maling masuk rumah.
“Langit mendung. Sebaiknya lo pulang cepat,” ucap Mawar ketika baru tiba di sini.
Tangannya bergantung dua cangkir kopi hitam yang beruap ke atas. Seperti biasa kalau di rumah ia selalu memakai kaos tipis rumahan dan hot pant yang menyingkap kaki jenjangnya.
“Gue benci hujan, tapi gue suka senja.”
“Senja enggak bakalan bisa lo nikmati kalau ada hujan.”
Ia bersandar pada bantal empuk yang sama, tepat di sampingku. Aku urungkan niat untuk membakar tembakau karena jarak kami terlalu dekat.
“Senja tetaplah senja, meski hujan turun,” balasku.
Mawar tersenyum tipis. “Gue ada buku baru. Cocok buat lo.”
“Buku apa?” Aku menoleh sembari menyeruput kopi hitam pekat tanpa ampas.
“Das Capital dan The Manifesto of Communism.” Ia benar-benar sempurna tersenyum ketika mengatakan dua judul buku itu.
“Ada hantu sedang merayap di Eropa, hantu komunisme.” Kalimatku ternyata diikuti oleh Mawar.
“Apa kita benar aman di sini?” tanyaku dengan nada bercanda.
“Ini bukan Orde Lama. Tapi, sepertinya sama dengan yang sekarang. Buku-buku disita untuk memberantas ideologi yang dianggap salah. Padahal, subtansi orang membaca buku adalah ilmu. Apa bedanya dengan mereka yang memperlajari ilmu pasar bebas Adam Smith?”
“Hahah ... Sosialis dilarang sedangkan pemikiran liberal tidak dilarang. Kita ini benar-benar anggota Non-Blok.”
Non-Blok merupakan persekutuan negara-negara yang tidak akan terlibat di dalam blok kiri (Pakta Warsawa) dan blok kanan (NATO). Pada saat itu terjadi konferensi di Bandung, tepatnya di jalan Asia Afrika. Ya ... pada saat itu terdapat dua aliran yang selalu bertentangan dan selalu ingin menebar ideologi, yaitu sosialis dan liberal.
“Ah ... kita pengen diksusi serius atau sekadar bincang ringan?” tanya Mawar.
“Hmm ... gue kepengennya bincang ringan, sih. Tapi lo yang malah bawa gue ke diskusi serius.”
"Oke, bicaralah."
“Pak Bernardo bilang kalau Reira sedang berlibur dengan keluarga Nauren ke Bali.” Aku menoleh padanya. “Lo percaya itu?”
“Berlibur ke Bali? Maksudnya apaan?” tanya Mawar balik.
“Gue juga enggak tahu. Gue masih ada pemikiran kalau Pak Bernardo berbohong dengan gue soalnya hubungan gue dengannya masih bertentangan.”
Mawar diam sejenak. Ia mengangkat cangkir kopi untuk diseruput. Terpejam matanya yang kecil itu ketika sensasi pekat dari kopi sedang menghanui langit-langit mulutnya.
“Ada kemungkinan Pak Bernardo berbohong tapi gue enggak bisa ngirain berapa persen kemungkinannya. Bisa jadi Pak Bernardo benar,” jawab Mawar.
“Kita berharap ke kemungkinan pertama.”
Mawar mengangguk pelan. “Jika itu benar, lo harus apa?”
Masih berputar jawaban di otakku selama beberapa detik hingga hening mengantui di antara kami.
“Gue bertanya ke Reira kenapa dia enggak bilang ke kita, terutama gue.” Aku menarik napas panjang. “Tapi, selama gue kenal dengan Reira, anak itu memang sering ngilang kalau ada masalah.”
“Iya, sih ... kali aja dia ada alasan sendiri buat enggak ngasih tahu ke elo. Kita enggak bisa nge-judge mentah-mentah kalau itu semua tanpa alasan.”
“Gue takut, Mawar. Jikalau Reira ada hubungan dengan Nauren. Atau ada kaya pemaksaan hubungan antara Reira dan Nauren.”
“Gue pastiin Reira bakalan nolak,” balas Mawar dengan lantang. “Hey ... dia itu Reira bukan Fasha.”
“Karena perkataan Pak Bernardo, gue ngerasa dibohongin sama Reira. Apa benar Reira bohong sama gue? Gue enggak ngerti kenapa Reira nyembunyiin ini kalau dia benar-benar ke sana. Kecewa sih gue.”
“Jangan cepat mengambil kesimpulan,” saran Mawar.
Tatapnya lebih dalam dari biasanya. Tiada aku sangka tangan Mawar merayap ke pahaku. Ia masuki salah satu kantung celana untuk menarik sebuah benda di dalam. Mawar buka kotak rokok itu dan ia ambil sebatang. Sungguh, ini momen sempurna di hari ini. Siapa sangka seorang Mawar menyelipkan sendiri batang tembakau itu ke bibirku lalu membantuku untuk menyulut api.
“Udah, jangan nangis ...” Jemari Mawar mengusap segaris air mata yang sempat aku keluarkan. “Semuanya akan baik-baik saja.”
***