Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 50 (S2)



EPISODE 50 (S2)


Membicarakan tentang bintang, akan ada satu bintang yang akan jatuh ke bumi dan memberikan cahaya yang begitu terang, hingga mengibaskan kegelapan yang selama ini menyelimuti planet. Mungkin saja bintang itu tak seperti bintang yang berada di langit sana, melainkan berupa sosok ratu adil yang sangat berbeda jika diperbandingkan dari masing-masing kebudayaan. Bintang yang kembali membimbing seluruh manusia-manusia tersesat dalam pencarian jalan hidup.


Memang .... bintang pernah mengajari bagaimana untuk menjadi orang yang rendah diri. Lagi-lagi seseorang yang penuh filosofis itu kembali mengajarkanku hal itu, bukan Reira melainkan Rio. Begitulah Rio dengan segala pemikirannya yang unik, walaupun jalan hidup yang ia tempuh sangat bertolak belakang dengan perkataannya. Tidak salah Dika hingga sampai saat ini menaruh rasa benci terhadap pria itu, walaupun ia tetap menghormatinya dengan selalu berziarah di waktu-waktu tertentu.


Bintang akan terus bertaburan dan tak akan berhenti memancarkan cahayanya, selagi zat pembakar di sana masih bisa untuk disulut sepanjang zaman. Lambat laun, cahaya itu meredup dan meledak menjadi sebuah supernova yang menakjubkan. Setidaknya itu yang aku baca dari sebuah buku sains masa kecil. Bintang memang terlihat kecil dan berkelap-kelip seperti seekor kunang-kunang yang terbang di malam hari. Namun, tak ada satu pun orang yang mencela bahwasanya bintang itu besar. Bintang itu sangatlah besar, bahkan lebih besar daripada bintang satu-satunya di tata surya kita.


Sesuatu yang besar tak selalu harus menunjukkan bahwasanya dirinya besar, ucap Rio tatkala ia menunjuk rasi bintang scorpio di malam ulangtahunku sewaktu kecil. Setelah kami bercerita panjang dengan bau ganja yang khas, ia memintaku masuk ke dalam rumah. Ia diam-diam menyelinap ke kamarku untuk memberikan kecupan tepat pada kening ketika aku tertidur, walaupun aku sebenarnya tidak benar-benar terlelap.


Aku sangat ingat sekali momen itu, tidak mungkin aku lupakan. Rasanya, hanya aku yang diberi wejangan darinya. Dika sama sekali tidak pernah diperlakukan seperti itu. Selain ia yang keras kepala, ia memang selalu berjarak dengan kedua saudaranya sewaktu kecil.


Cahaya redup yang dinyalakan pada tepi halaman masih bisa mempelihatkan bulir senyum yang masing-masing kami tunjukkan. Ia berdiri di hadapanku untuk memperbaiki letak tegaknya telekop tersebut. Setelah memicing beberapa kali untuk memastikan sorot teleskop pada keadaan yang tepat, ia permisi sebentar dan membawakan aku secangkir kopi seduhannya.


Napasku terhenti sesaat ketika ia membuka jaket tipisnya itu, hingga memperlihatkan lengan mulus bening. Lalu, kembali aku sulut tembakau untuk menenangkan pikiran.


“Lo di mana-mana memang terus merokok, ya ....” Ia menyeruput kopi. Posisi kami persis bersamping-sampingan. Sorot mata yang kami pasang satu tujuan ke teleskop yang berdiri tegak di depan. “Rokok menyimpan ribuan racun yang membunuhmu.”


“Oh, ya? Gue belum mati hingga sekarang. Kakek Syarif masih melaut hari ini. Bagaimana?” tanyaku balik.


“Hahaha ... itu hanya alibi perokok yang selalu gue denger. Tunggu udah sakit aja baru terasa,” balas Mawar.


“Perokok selalu didiskiriminasi di dalam dunia kesehatan. Orang kena kanker yang tak merokok, rokok pun disalahkan. Padahal, polusi udara lebih meracuni. Tidak ada yang menyalahkan kendaraan, pabrik perusahaan, gerai junkfood.”


Ia memandangiku. “Lo gue saranin berhenti merokok sebelum terlambat.”


“Cara berhenti itu mudah kok. Begini ....” Aku mematikan api rokok di rerumputan, lalu kembali menyulut ujungnya dengan api. “Nah, begitu cara gue berhenti merokok.”


“Hahahah ... berhenti macam apa itu?” Mawar tertawa.


“Ada doa-doa para petani tembakau dengan anak-anak yang ia sekolahkan, pada setiap orang yang menghisap hasil buminya. Ada doa-doa para orang sakit dari setiap hisapan ini, karena sebagian besar pajak dialihkan ke asuransi kesehatan negara.”


Ia menggeleng. “Gue tetap berprinsip, merokok itu membunuh. Terutama membunuh orang-orang seperti gue yang duduk di dekat perokok.”


“Lo menyindir gue? Hahaha."


“Oh, lo ngerokok aja ... gue enggak masalah, kok.”


Ia berdiri setelah meletakkan cangkir kopinya, lalu melangkah menuju teleskop. Ia tundukkan kepala untuk memicing tepat di hadapan optik dan tangannya mengisyaratkanku untuk mendekat.


“Ke sinilah ... lo bakalan takjub dengan ini.”


Aku berdiri sesegera mungkin dan menggeletakkan tembakauku di atas rerumputan. “Ada alien yang lewat?"


“Alien itu enggak ada. Itu hanyalah dari cerita fiksi.” Ia kembali menoleh ke optik teleskop. “Lihat ini.”


Ia menutunku untuk melihat ke cermin optik teleskop untuk melihat apa yang sedang didapati. Terdapat sebuah bola menyala redup yang bergaris-garis di bagian tubuhnya. Sedikit pudar, namun masih bisa terlihat dengan jelas dari teleskop ini. Itu bukan bintang yang berkelap-kelip, bukan pula bulan pipih yang katanya terbuat dari keju, atau Reira bilang terdapat mesin konspirasi di dalamnya. Itu adalah sebuah planet. Baru pertama kali aku melihat planet di luar sana dan nyata oleh bola mataku sendiri.


“Jupiter ... planet paling besar di tata surya,” ucap Mawar di sampingku.


Aku memandanginya, senyumku melebar karena kagum. “Beneran ini Jupiter?”


“Beneran ... itu adalah Jupiter. Lihat saja bentuknya, persis seperti di buku-buku sains bagian antariksa.”


“Wow ... ini benar-benar nyata. Gue kira cuma bentuk perkiraan para ilmuan.” Aku kembali memerhatikannya dengan seksama.


Ia menarik kepalaku untuk tidak memicing melihatnya. Lalu, ia gerakkan tonggak teleskop sedikit ke kanan. Ia kembali menunduk dan mencari sesuatu di langit sana. Tatkala tangannya berjentik karena sesuatu keberhasilan, barulah ia memintaku untuk melihatnya kembali.


“Ini semakin membuat lo takjub,” ucap Mawar sembari memutar sesuatu pada teleskop. Mungkin saja itu sebagai pengatur fokus teleskop itu.


Rasa penaranku semakin dituntut tatkala tangan Mawar lagi-lagi mendorong kepalaku karena posisinya tidak terlalu tepat untuk melihat ke arah optik teleskop.


Terlihat sebuah planet bulat yang sangat familiar. Cincin pipih memutari objek yang sedang aku lihat. Aku tidak hanya terkagum dengan planet itu, terdapat pula beberapa objek bulat yang lebih kecil berposisikan satu garis lurus dengan planet itu.


“Ini Saturnus?” Aku menoleh ke Mawar.


“Iya, itu Saturnus. Cincinnya indah bukan?” tanya Mawar.


“Ini hal terindah yang pernah gue lihat di langit, selain cahaya senja di atas laut Manggar.” Aku tersenyum menyaksikan kebesaran Tuhan yang satu ini. Saturnus ternyata memiliki sebuah cincin pipih yang memutarinya. Buku-buku sains itu benar adanya, tidak berbohong atau pun mengarang-ngarang. “Lalu, benda bulat di sampingnya ini apa?”


“Itulah satelit alami dari Saturnus. Kalau di kita namanya bulan. Setiap planet selalu ditemani oleh satelit alami.”


Aku menarik kepalaku. “Ini menakjubkan ... bagaimana lo bisa tahu letak-letak planet ini?”


“Semua hal di dunia ini hampir bisa dibuat secara digital. Ada aplikasinya untuk melihat itu.” Ia kembali duduk di posisi semula. “Selain itu, gue tergabung di group medsos untuk penggemar antariksa. Makanya gue tahu kalau hari ini Jupiter dan Saturnus bisa dilihat dengan jelas.”


“Lo seharusnya mengambil jurusan perbintangan.”


“Hahaha ... ini hanya minat, enggak perlu diseriusin. Sama dengan lo. Lo anak sastra, tapi enggak ngambil jurusan sastra.”


Aku kembali duduk di sampingnya. “Lain kali tunjukkan ini kepada Reira. Ia pasti langsung membeli teleskop.”


“Memang ... gue ingin nunjukin dia tentang hal ini. Pasti dia senang banget.”


Kembali aku bakar tembakau yang apinya sudah padam disapu angin. Tidak ada percakapan yangt terjadi selain kami mendengar irama angin bermain pada pucuk-pucuk daun. Daun pun berbicara dari setiap gesekannya pada daun lain untuk mengatakan bahwasanya angin ini bukanlah badai yang harus ditakutkan. Kembali aku tatap dirinya itu dengan segala ilmu pengetahuan yang ia miliki. Sangat berbeda dengan Reira yang kaya akan pengalaman, Mawar pun punya sisi uniknya sendiri. Kebiasaannya yang terkatung di hadapan buku tampaknya sudah membentuk dirinya hingga saat ini.


“Kenapa?” tanya Mawar.


Aku kembali menoleh ke depan. “Entahlah ... gue kagum aja dengan lo.”


“Wow ... apa maksudnya itu.” Mawar tersenyum.


“Hey ... pandailah mendefenisikan kata. Sama dengan gue kagum dengan Bang Ali yang dihormati oleh teman-temannya, sama dengan gue kagum dengan abang gue Dika yang penuh kasih sayang. Dan begitu pula elo.”


“Haruskah kita punya rasa kagum kepada orang lain?” tanya Mawar kembali.


Aku belum bisa menggambarkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan. Angin yang berhembus tak kunjung membisikkan jawaban. Asap yang mengepul belum juga merangkai kata-kata. Aku memejamkan mata sejenak untuk berpikir mengenai inti makna. Tentang rasa kagum yang dirasakan oleh manusia, apakah harus dimiliki pula pada setiap insan.


Aku menemukan jawaban yang tepat.


“Begini ... manusia itu cenderung tertarik dengan hal yang tidak pernah ia lihat. Lalu, saat pertama kali ia melihat hal itu, maka timbullah rasa tertarik. Ketertarikan ini menimbulkan rasa kagum. Dan kagum, menumbuhkan rasa percaya. Rasaku begitu, salah satu menumbuhkan rasa percaya kepada orang lain ialah rasa kagum. “


“Singkat, padat, dan jelas. Lo enggak seperti Candra kalau ngejelasin materi presentasi,” balas Mawar.


“Hmm ... gue di kelas cenderung diam. Kecuali ada yang nantangin debat,” jawabku.


“Hmm ... rasa kagum, ya ....” Ia mengapit kedua lutunya dengan tangan. “Berarti gue harus punya rasa kagum, dong.”


“Manusia itu makhluk yang estetik, kadang tidak terlalu etik. Rasa kagum selalu ada. Entahlah kalau lo bukan manusia. Hahahah ....”


“Mungkin saja Reira dan lo.”


Aku memandanginya. “Apa yang lo kagumi dari gue?”


“Kesendirian di tengah keramaian. Lo pandai mengambil makna hidup. Spiritualitas lo bagus, tetapi enggak dengan religiusitas.”


“Hahah ... gue ini hanya penyendiri yang bergerak dalam bayang-bayang. Tidak terlalu suka timbul di permukaan, cenderung memilih bergerak di bawah langkah orang dominan.”


Kepala Mawar menggeleng, seakan tidak yakin dengan apa yang aku katakan. “Naif selalu lebih memilih melangkah di bawah langkah orang dominan, lo selalu diintervensi oleh orang lain.”


Aku hembuskan asap di akhir-akhir hisapan penghabisan tembakau, lalu menyeruput sedikit kopi buatan Mawar. “Di bawah belum tentu di belakang. Layaknya orang dominan ada di atas permukaan air, gue yang melangkah tepat di bawahnya. Sama-sama satu tujuan, hanya saja beda cara.”


Ia memicing menatapku. Jemarinya menyenggol ujung lututku. “Baiklah ... udah tengah malam. Lo harus pulang sebelum kakak gue bangun, trus ngelihat kita berdua di sini.”


Aku berdiri tegak. “Terima kasih buat semuanya.”


“Sama-sama ... hati-hati di jalan.”


Di akhir percakapan ini aku kembali memetik banyak hal dari wanita itu. Senyumnya yang terakhir itu ternyata menyiratkan sesautu. Sisi pendiam dari seorang Mawar bukanlah jati diri yang sebenarnya. Bisa saja itu hanyalah cara untuknya yang tak terlalu pandai berinteraksi di tengah keramaian. Namun, tatkala aku berdua dengannya, seluruh percakapan itu merangkum banyak ide dan banyak makna, seakan ia lebih terbuka daripada siapa pun. Ia menyingkap tabir-tabir itu dan menghancurkan hipotesis bahwasanya ia merupakan wanita yang pendiam. Inilah jati diri dari Mawar yang sebenarnya.


Aku berhenti dan berbalik diri. Terlihat Mawar sedang membawa teleskopnya kembali ke dalam rumah. Tepat ketika ia melewati sebuah parit kecil yang membatasi jalanan plavin box dan halaman berumput, ia menoleh padaku. Sorot mata kecil itu berbinar dihantam cahaya dari lampu. Seketika ia tersenyum padaku.


“Tetaplah seperti ini!” teriakku di ujung gerbang, walaupun sedikit aku kondisikan nada suaranya karena sudah terlalu larut malam.


Ia hanya menggeleng dan melangkah menuju garasi. Tak ada lagi wujud dari seorang Mawar di lurusnya pandangan ini, ia hilang tanpa kata-kata. Mungkin saja ia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Setelah itu aku berbalik. Tatap tak percaya aku sorot pada kedua bola mataku. Memang, sejenak aku berpikir ada keanehan yang tampak dari motor tersebut. Setelah aku sadar bahwanya terdapat yang kurang, aku pun menutup wajah dengan telapak tangan. Motor itu tidak lagi berhelm, lenyap di malam yang gelap ini.


“Ya Tuhan ... siapa sih tengah malam maling helm? Enggak ada kerjaan banget!” ucapku memelas dengan wajah berkerut. Bisa-bisanya helmku hilang di tengah malam ini.


Ya sudahlah, aku engkol kembali motorku menuju rumah. Untungsaja motor vespa tahun lima puluh ini tidak hilang pula bersama-sama helmnya. Apabila itu terjadi, Dika sudah pasti akan menggorengku bersamaan dengan lauk makan siang, lalu diberi makan ke anjing liar yang berkeliaran di jalanan muka rumah.


Sesampainya di rumah, aku memarkirkan motor ke dalam garasi bengkel Dika. Masih terdapat banyak orang, walaupun bukanlah para pelanggan. Sebagian besar ialah pegawainya Dika yang masih bersantai untuk bermain domino dan minum kopi. Entahlah jika mereka ingin begadang atau tidur di sini karena mereka sudah terbiasa melakukan hal itu. Selain Dika ada teman untuk begadang, bengkelnya jadi aman dari para penyelinap yang ingin mengambil onderdil. Sudah berapa kali maling masuk ke dalam bengkelnya. Banyak pula yang kabur, banyak pula yang bonyok dihantam tangan Dika yang tak mengenal ampun itu.


“Datang-datang malam ngembat rokok orang!” protes Dika yang sedang menyusun batu dominonya sebelum memulai permainan.


“Dik, apes banget gue malam ini.” Aku meletakkan jaketku di atas meja mereka untuk mengambil posisi bermain domino.


“Widih ... parfum bau cewek, nih,” ucap salah satu pegawa Dika yang ikut bermain bersama kami. Wangi itu tercium dari bagian belakang jaketku yang tadi berdempetan dengan tubuh Mawar. Bagaimana tidak, jok motor vespa milikku termasuk kecil.


“Ini bukan parfum Reira. Gue tahu banget, nih,” balas Dika. “Wah, lo selingkuh ya ... tobat, Dek. Dajjal mau keluar, lo masih aja ngelunjak.”


“Ih, apaan sih lu?” Wajahku sedikit menantang. “Sembarang ... itu temen kami. Temen Reira juga. Reira yang nyuruh gue buat nganter dia sekalian.”


“Jadi, lo apes kenapa? Enggak dapat jatah dari cewek itu? Hahahahah ....” Dika mulai otaknya sedikit mereng, perlu sekali aku keraskan kembali baut-baut di dalam kepalanya.


“Helm gue hilang, ***!”


Dika menghela napas. “Preman daerah mana, tuh? Biar gue samperin.”


“Ah ... mana bisa tahu lo pelakunya siapa,” balasku.


“Yaudahlah ... relain aja, berarti bukan rejeki lo.” Ia memulai mengeluarkan balak kosong batu domino. “Mending main domino!”


Kami pun melanjutkan permainan domino hingga pukul setengah tiga subuh hari dan tidur dengan berpangku meja.


***