
EPISODE 15 (S2)
Malam semakin jauh menenggelamkan kami di dalam suasananya. Hutan bagaikan orkestra harmoni musik klasik ala serangga hutan dan mamalia malam yang masih bertahan. Bintang tak bisa aku tatap, terlalu lebat dedauan di atas menutupi indah taburan langit malam yang bersih. Padahal, hari ini aku akan bersyair di dalam hati sembari mencari arti kebijaksanaan yang berasal dari sinar rembulan. Melantunkannya dengan pelan, lalu mengirimkannya pada tabir yang tak terlihat, eksistensi yang bisa menembus langit, aku menyebutnya sebagai doa.
Namun, apalah daya aku yang sedang sibuk menepuk kaki Reira yang risih oleh nyamuk.
Reira satu jam setelah kami memasang jaring untuk menangkap Minerva, calon burung hantu peliharaan Reira. Kini anak itu tertidur pulan, berbeda dengan aku yang masih bertahan walaupun denting jam sudah menunjukkan pukul tiga subuh. Aku kasihan melihat Reira yang tidur tidak nyaman.
Terdengar suaranya yang sedang mengigau di balik jaket yang aku selimutkan pada tubuhnya. Kakinya bergerak-gerak pertanda nyamuk sedang menghinggapi. Aku pun tak bisa pula tidur melihat itu. Tanganku sibuk mengipaskan karton agar serangga-serangga penganggu itu tak dapat menyentuh orang yang aku sebut sebagai kekasih.
Cahaya senter Pak Cik Milsa terlihat setelah lima belas menit ia meninggalkanku. Ia meminta izin untuk meninggalkan kami untuk membeli rokok kretek. Sebagai orang tua, tentu saja ia mempunyai selera yang lebih dariku. Batang hidungnya tampak tatkala cahaya lampu minyak menerangi langkahnya yang lebar. Cahaya merah ujung tembakau terselip di balik remangnya suasana. Asap mengepul di sekitaran Pak Cik Milsa.
“Kau belum tidur juga?” tanya Pak Cik Milsa.
Aku tersenyum kecil seraya menggeleng.
“Masih ngejagain Reira. Kasihan dia digigit nyamuk. Padahal udah diolesi sama lotion anti nyamuk.”
Pak Cik Milsa naik ke atas pondok, lalu menepuk pahaku. “Tidurlah seperti yang lain. Biar Pak Cik yang kipaskan Reira. Kasihan juga kau tidak tidur-tidur.”
“Enggak apa-apa―“ Kalimatku terhentikan olehnya.
“Sudahlah ... Reira juga anak Pak Cik. Biar Pak Cik yang jaga.”
Aku pun menghela napas. Aku harap Reira akan cepat membangunkan aku yang sangat sulit untuk bangkit di kala pagi. Tubuhku dengan pasrah berbaring pada kerasnya lantai kayu pondok, lalu mengucapkan selamat malam kepada malam. Doa aku lantunkan kepada Tuhan sebagai benteng penjagaan terbaik hingga esok pagi. Aku rasakan kehadiran Tuhan berkat doa yang aku sampaikan di dalam hati. Tulus mataku terpejam, hingga aku benar-benar larut dalam kantukku sendiri. Semuanya benar-benar gelap hingga esok pagi.
Rentak suara panggilan sembahyang fajar berkumandang di langit Manggar. Nyaringnya suara adzan dari sebalik pengeras suara masjid membuat mataku terbuka. Sayup-sayup mataku melihat Pak Cik Milsa sudah mengikat sarung pada pinggangnya. Bapak tua itu entah tidur atau tidak, namun dari matanya ia terlihat baik-baik saja. Sementara itu, Reira dan Razel masih berkeluh di dalam mimpi. Masih dengan gerakan yang sama, gerak-gerik kaki mereka dihantui oleh nyamuk-nyamuk yang hinggap. Aku pun membangunkan mereka untuk segera mendirikan sembayang, mengingatkan mereka jika masih ada Tuhan tempat bergantung.
Dinginnya air sumur beberapa meter di belakang pondok menjadi pilihan yang tidak terelakkan sebagai tempat bersuci diri. Terlalu dingin bagiku yang tidak terbiasa dengan air seperti ini. Rasanya ingin membeku darahku tatkala menyentuh air untuk pertama kali. Kami bergantian menuju sumur untuk bersuci, lalu melanjutkan langkah bersembahyang bersama di atas pondok. Pak Cik sendiri yang menjadi imam dan aku sebagai pelantun iqamah. Hal ini mengingatkan aku di masa kecil di mana selalu berebutan untuk membaca iqamah di masjid.
Bacaan takbir dikumandangkan begitu khidmat. Tangan diangkat dengan kepasrahan. Aku menghela napas, betapa tulusnya aku hari ini. Semarak dinginya embun subuh hari menyatu dengan kesejukan hari. Hatiku seperti sedang menarik napas panjang, menahannya beberapa detik, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Suasana ini membawa hatiku untuk berjeda, beristirahat memikirkan sombongnya dunia fana.
Pagi aku tunggu dengan bermenung di atas bak belakang mobil Pak Cik Milsa. Tatap mataku bersanding di hadapan Reira, melihat matanya yang masih sembab karena kantuk. Entah apa yang membuatku tidak ingin tidur kembali. Mungkin saja pagi terlalu harmoni bagi mataku untuk tertutup lagi. Reira yang duduk bersila, kini bersandar pada kotak pernyimpanan kayu itu. Matanya menadah ke langit yang masih belum sempurna terangnya. Dari balik wajah berbelai kantuk itu, masih bisa aku lihat selapis senyum tipis-tipis bergerak hingga ke masing-masing sudut.
Menunggu pagi memiliki arti tersendiri bagiku. Aku memang termasuk kaum-kaum yang susah untuk terbangun di awal pagi. Namun, aku salah satu dari kaum-kaum itu yang masih menyempatkan membersamai pagi dengan secarik kopi dan bacaan pagi.
Entah kenapa, pagi memiliki daya tarik tersendiri, walaupun bagiku belum bisa menandingi senja yang aku nantikan. Ada banyak momen di mana aku melihat cakrawala langit bersinar, memberikan harapan kepada setiap insan mencari makan. Dari balik asap kendaraan butut, tersiratkan peluh yang masih tersimpan hingga tengah hari. Dari tutup kaca gelap mobil-mobil mewah, tersembunyikan bahwa kesuksesaan itu tidak datang pada orang-orang yang diterlambati oleh pagi.
Waktu saling mengejar waktu lainnya. Layaknya mentari yang malu-malu menutup diri di kala senja, lalu dimakan dewi malam yang redup. Pagi pun kembali mengejar, mengangkat sang surya yang megah itu. Waktu mengejar waktu yang lain, tanpa menuggu orang-orang yang tidak ingin bangkit dari zona nyaman. Jangan terlalu jauh ditinggalkan oleh waktu, karena waktu terlalu hina kembali untuk orang-orang rela ditinggal olehnya.
Pagi adalah ritme kejaran waktu dalam rentang sekat cahaya gelap dan terang. Kau mungkin bingung dengan apa yang aku katakan. Beginilah aku, kawan. Aku suka merangkai kata di pagi dan senja hari. Ritme waktu per jam itu pun berpacu dengan cahaya, namun cahaya tidak akan pernah mendahului waktu. Waktu itu merupakan hal yang absolut. Tanpa waktu, cahaya pun tidak akan pernah bergerak. Begitu berharganya waktu itu, kawan. Kau harus menghargainya, terutama pagi mulai merangkak di muka bumi.
“Bagaimana dengan penelitian lo?” tanyaku untuk membuka percakapan.
Ia tertawa sejenak. “Lo mau membicarakan dengan seseorang tentang skripsi, tapi lo sendiri proposal aja masih keteteran.”
Aku mengangkat bahu. “Ya ... kan gue cuma nanya tentang skirpsi lo itu. Tenang aja, gue pasti bisa kok nyelesaiin proposal gue semester ini.”
“Hmm ... lo harus lebih rajin lagi. Atau gue yang terlalu cepat, ya? Belum semester delapan tapi sudah mengambil data skripsi. Hahaha ....” Ia menatapku setelah tawanya bergulir. “Mengambil data bukan hal yang susah. Gue udah ada link ke salah satu divisi keuangan rumah sakit milik temannya Papa. Hmm ... mungkin setelah liburan ini gue bakalan wisuda.”
“Jadi, lo udah ada niatan buat ninggalin gue, begitu?” Aku memancingnya.
“Bukan begitu, ya ... itu salah lo kali! Siapa suruh malas-malasan. Lo harus tiru Candra, walaupun dia sibuk di pet shop, tapi dia udah mendaftar buat seminar proposal.”
“Tenang aja ... gue kuliah bukan buat cepet-cepetan. Gue kuliah buat nyari ilmu.”
Reira menjulurkan lidahnya untuk mengejekku. “Emangnya gue kuliah enggak nyari ilmu?”
“Iya, lo cepet banget.” Aku memelas.
“Asal lo tahu, kawan.” Ia berlagak paling bijaksana di sini. Tangannya melebar menyentuh kedua lutut. “Ilmu itu tidak sebatas di kelas. Namun, ilmu itu semua yang lo lihat. Seperti kakek yang sedang memegang cangkul di sana.”
“Iya, gue tahu itu. Jangan ajari gue tentang hal yang bersifat filosofis.”
“Gue lebih filsuf daripada lo, tahu!” Ia menekan akhir kalimatnya. “Gue belajar dari apa pun. Semua hal yang gue lihat adalah ilmu. Lo adalah ilmu bagi gue, dan gue adalah ilmu bagi lo. Tidak ada sistem murid yang sejati di alam nyata. Semuanya saling menjadi guru, dan guru pun menjadi murid bagi anak-anak didiknya.”
“Gue rasa lo udah cukup kuat mendengar kalimat-kalimat dari Pak Cik Milsa,” balasku.
Ia mengangguk sombong. Jujur, terkadang ingin aku elus ubun-ubunnya ketika ia berlagak menyombongkan diri. Namun, hal itu pula bagian menarik dari seorang Reira.
“Tentu saja, kami punya guru yang sama, Pak Kumbang. Hahaha ....”
Kami berhasil melakukan ritual menunggu pagi yang sakral akan makna hidup. Begitu pula dengan percakapan kecil kami yang turut menyentuh arti-arti itu. Cahaya mentari pun menyeruak ke segala penjuru langit, memenuhi cakrawala yang mulai tampak terang. Sinarnya masih belum teras hangat, namun harmoninya yang aku rasakan bagai sebuah kehangatan. Tampaknya, burung-burung hutan senang akan hal itu. Mereka bersiul memanggil satu sama lain, termasuk memanggil Reira untuk terus bergerak selagi burung masih bersiul, bukan mengaum.
Reira berdiri di atas bak belakang, lalu meloncat bebas ke bawah tanah.
Ia menatapku sesaat. “Mari kita lihat Minerva. Gue yakin Minerva sudah didapat.”
“Hanya orang gila yang mengandai-andai menangkap seorang Dewi Yunani yang bernama Minerva itu.”
“Hahah ... gue orang gila itu!” Ia mengayunkan tangan tatkala melangkah.
Kami kembali masuk ke lahan kebun durian milik Pak Cik. Jalan setapak yang tadi malam berhasil membuatku bergidik ngerti karena gelap, kini hanya berupa jalan berbecek dengan serangga yang masih berjalan di tepinya. Rumput hanya setinggi mata kaki, padahal aku kira tingginya hampir bisa menutupi makhluk bunian di sini. Termasuk pula pondok tempat kami tidur tadi malam, barulah aku melihat arsitektur sederhana dari otak kreatif pada pemuda sini yang membangunnya sebagai tempat tongkrongan tatkala mengambil durian jatuh.
Asap mengepul di sebelah pondok karena Pak Cik Milsa tengah membakar sesutu di sana. Bapak tua itu berjongkok sembari mengisap rokok pagi yang ia beli sewaktu jam masih berdenting pukul tiga. Aku pun dibuat tersenyum, perutku tak memprotes untuk terus melakukan orkestra musik keroncong lambung. Beberapa bungkus mie instan kuah tengah ia persiapkan untuk kami semua. Panci perebus air berdiri kokoh di atas susunan kayu bakar. Walaupun giginya terlihat serbuk kopi, Pak Cik yang masih belum menggosok gigi, tersenyum kepada kami seraya mengucapkan selamat pagi.
“Selamat pagi di hari yang cerah. Hari ini kalian berjualan, bukan?” tanya Pak Cik Milsa.
“Tentu saja, Pak Cik.” Reira pun ikut berjongkok di hadapan bakaran kayu bakar. Melihatnya yang keasikan tak lagi merengkuh dingin, aku pun melakukan hal yang sama.
“Kalian harus sarapan banyak-banyak, walaupun cuma mie instan.”
“Hahah ... enggak apa-apa. Yang penting bisa makan,” balas Reira.
“Urusan barang-barang kalian, aku sudah minta urus dengan Zainab dan Candra di rumah. Ada orang gudang Pak Cik yang bantu kalian untuk membawanya,” kata Pak Cik Milsa.
“Wah, terima kasih banget, Pak Cik. Kerjaan kami jadi terbantu gara-gara Pak Cik.”
“Hmm ... tak apeelah. Kapan lagi bantu kalian jualan, kan?” Pak Cik memperbaiki letak kayu bakar dengan sebilah tongkat. “Razel tak mau bangun itu, pergilah kau bangunkan dia.”
Aku pun menoleh ke pondok. Razel masih hanyut dalam sambungan tidurnya sejak subuh tadi. Tawaku keluar karena ia masih menepuk-nepuk kaki karena nyamuk yang hinggap.
“Tenang aja, Pak Cik. Kita tempelkan aja wangi mie instan. Nanti dia bangun sendiri. Hahaha.”
Reira menyentuh pundak Pak Cik Milsa. “Pak Cik, kami pergi mengambil Minerva dulu. Terima kasih atas penamanannya.”
“Hahah ... semoga saja satu Minerva menyangkut di jaring,” balasnya.
Kami kembali melangkah ke tempat di mana kami menancapkan bambu berjaring itu. Langkah Reira cepat tidak sabaran. Hingga ia berteriak sembari menunjuk-nunjuk sesuatu.
Aku pun dibuat antusias dengan apa yang sedang ia lihat. Bambu yang kami tancapkan ternyata telah tumbang. Mungkin saja kami tidak terlalu kuat ketika memasangnya tanah. Jaring pun hanya menangka rerumputan di bawah, tanpa menyimpulkan hasil yang diharapkan. Namun, sesuatu tengah bergerak-gerak di di antara rumpuk semak yang agak tebal. Suara khas seekor burung malam terdengar jelas bermain di balik jaring yang jatuh.
Reira langsung menapaki jaring tersebut dan menggapai bagian rerumputan yang bergerak. Jaring pada bagian itu tampak kusut. Tatkala Reira menyentunya, Reira langsung menarik tangan karena terkejut. Sentak tangannya pun membuatku mendekat. Barang kali ada ular yang sedang ia gapai. Namun, penglihatanku berkata lain. Seekor burung yang bisa memutar kepala satu lingkaran penuh tengah berusaha keluar dari jerat jaring. Tubuhnya mungil, hingga tidak sanggup memotong jaring rapat yang cukup kuat.
“Minerva berwarna putih!” teriak Reira dengan semangat.
Akhirnya, kapten kapalku memiliki peliharaan yang bisa dipamerkan.
***