
Aku coba senyum yang bergantung di ujung bibir, terasa hampar tatkala dirinya tak di sana. Meskipun ada orang lain yang menggantikan pada momen ini, tetapi momen tetap tidak akan tergantikan. Aku akui jika Abimana pria yang manis, jauh berkali-kali lebih tampan dari pada David. Wawasannya luas karena sering membawa buku pengetahuan, bukan lembaran sastra yang membuat seseorang mampu bertahan berjam-jam sembari merokok. Ada hal yang tidak seperti wajah dan rupa, melainkan sosok yang ditemukan dari inti jiwa seseorang.
Abimana menatapku, lalu menarik gelas piala bekas bibirku sendiri. Ia menciumnya seperti menghirup bunga melati nan semerbak, lalu memejamkan mata untuk mencerna setiap detail wanginya. Dahinya menyerngit padaku.
“Seperti tape singkong wanginya.”
“Ya tentu, itu kan fermentasi,” balasku singkat sembari menunjuk gelas piala. “Kalau lo mau, gue tuangkan segelas lagi.”
Bukannya melalui gelas baru, ia malah meletakkan ujung lidahnya pada permukaan wine. Seperti anak kecil yang mencoba kopi pahit bapaknya di pagi hari, seperti itulah Abimana yang aku pandang. Sepertinya ia terlalu polos untuk hal-hal seperti ini. Abimana jelas anak baik-baik yang belum terkontaminasi hedonisme pergaulan ibu kota.
“Pahit,” ucapnya.
Aku hanya menggeleng karena ia menjilati gelas milikku. “Kau ini! Kalau mau, gue tuangkan satu gelas lagi.”
“Oke boleh ….”
“Pakai aja gelas itu. Gue pakai gelas yang baru.”
Bunyi tuangan wine berbekas di telingaku. Mata Abimana bergerak perlahan tatkala aku menyicipinya. Ia tampak meniru gaya minumku. Dimulai dari memutar gelas, menciumnya perlahan, lalu menyicipinya sedikit dengan ekspresi penghormatan.
“Alkohol sebenarnya mengganggu sistem saraf. Dia menekan sarap pusat, jadi lo bisa memperlambat respon dari luar. Makanya, penglihatan seseorang bisa kabur, jalan enggak beres, sama ngomong ngawur.”
Menjelaskan sesuatu mengenai alkohol yang ia simpulkan sebagai hal negatif, tetapi ia malah mencicipinya dengan baik. Satu kontradiksi antara mulut dan perilaku. Setelah itu, kepala Abimana menggeleng dengan pipinya yang memerah. Ia mengatur napas sesaat karena aku tahu tenggorokan dan dadanya sedang hangat sekarang.
“Jangan terlalu banyak teori, minum aja kalau lo mau.”
“Ini gelas anggur pertama gue.” Ia memejamkan mata. “Aduh … cukup segelas buat seumur hidup. Sumpah ini minuman apaan, sih?!”
“Lo enggak cocok kalau gue ajak clubbing.”
Matanya menatapku. “Lo suka clubbing?”
“Wakgu SMA sering karena kawan-kawan gue, yaa memang anak-anak elit gitu. Waktu kuliah agak jarang karena temen gue anak kos, mana ada duit buat ke sana. Paling mereka minum anggur merah yang ada muka orangtuanya sambil nonton bola di kos.”
“Ternyata pergaulan lo lebih bebas dari gue.”
“Gue ini enggak menutup kesempatan buat bergaul dengan siapa aja. Mau lo atheis atau radikalis agama sekalian, anggota partai banteng atau pun partai jas kuning, miskin atau kaya, gue pernah kenalan semua.”
Abimana tersenyum mendengarkanku. “Gue … orangtua gue itu sedikit protektif. Gue dibatasi ke mana-mana waktu SMA. Waktu kuliah ini aja gue bisa nongkrong sana-sini. Tapi, gue dapat hal positif dari sikap orangtua ke gue, gue lebih menjaga diri dengan orang luar.”
Kini aku paham kenapa ia banyak tidak percaya denganku. Sudah sifat dasar dari Abimana yang bukan seorang pengikut. Ia menciptakan trend untuk dirinya sendiri.
“Sesekali lo harus lihat dunia luar. Kita cuma hidup seluas ini.” Aku mendempetkan telunjuk dan jempol, lalu melebarkan tangan seakan ingin memeluk angin laut. “Dunia bisa lebih luas dari itu. Lo bakal tahu itu kalau mencobanya sendiri. Gue udah mengalami berbagai macam hal dan gue bersyukur karena mendapatkan pengalaman-pengalaman itu.”
“Lo cewek yang luar biasa, Rei. Tapi, kita semua punya prinsipnya masing-masing.” Ia mendempetkan telunjuk dan jempolnya. “Hidup gue memang mobilitasnya hanya segini. Tapi, perubahan selalu dari yang kecil dan minoritas. Gue memandang dunia yang luas ini dari tempat yang kecil, di sana gue mengeksplorasi diri, meneliti, membuat jurnal, sesuai dengan minat gue.”
Baru kali ini ada yang bisa mematahkan teori telunjuk-jempol itu. Selama ini, semua orang mengangguk ketika aku jelaskan, termasuk David sendiri.
“Pada akhirnya kita tetap bergerak.” Aku mengangguk paham mengenai penjelasannya. “Oke … gue paham. Lo cerdas.”
Aku tersenyum. Pandangan itu membuka mataku mengenai dunia ini ternyata tidak hanya dari satu pandang saja. Di saat keluar dari rumah merupakan jalan terbaik untuk mengembangkan diri, tetapi berdiam diri di rumah juga bukan hal yang buruk. Sebagai contoh Alfian, pria mana yang seumurannya yang menolak untuk diajak nongkrong bersama wanita, padahal ia mungkin bisa membeli tempat tongkrongan itu sekaligus dengan harta dari orangtuanya. Alfian lebih memilih tidur di kamar setelah pulang sekolah dulu atau pulang bekerja seperti sekarang, kalau tidak sedang membawa buku dan menulis jurnal, maka ia akan tidur. Lihatlah sekarang, betapa luar biasanya Alfian. Ia seorang dokter berprestasi, calon penerus dari rumah sakit milik papanya.
“Biasanya gue bergaul dengan pria goblok yang kerjaannya cuma merokok, tapi sekarang gue ketemu cowok yang cerdas seperti lo,” pujiku.
“Hahaha … gue enggak secerdas yang lo kira.”
“Enggak … gue tahu mana orang yang benar-benar cerdas dan mana orang Cuma kelihatan cerdas.”
“Thanks ….” Abiman tersenyum sembari meminum seluruh anggut yang ada di gelasnya.
Kami menepi segera karena awan berpetir sudah mulai mendekat. Aku biarkan pria itu untuk memutar kapal sesuai arahan dariku, lalu aku menggantikannya tatkala menyenderkannya pada tepian. Setelah pamit kepada Kakek Syarif, kami berangkat untuk pulang. Abimana bersedia mengantarkanku hingga ke rumah.
Aku disambut oleh Semara yang membukakan gerbang pagar untukku.
“Anjir … petirnya gede banget ….” Abimana menundukkan kepalanya tatkala petir menyambar dengan keras.
“Iya sih … ini kayanya elo enggak selamat sampe rumah. Lihat aja tuh awannya kaya mau makan orang.” Aku menunjuk awan mendung besar berwarna hitam pekat. Angin kencang kini seakan ingin menerbangkan tubuhku dan Semara.
“Kamu bisa singgah sebentar dulu kok di sini. Borneo ada di belakang,” sambung Semara.
“Oh ya? Kalian bertiga tinggal serumah?” tanya Abimana.
Aku mengangguk. “Iya … bertahun-tahun kami memang tinggal serumah. Sebenarnya ada satu lagi, tapi Razel lagi ada di Pekanbaru. Kalau elo mau singgah dulu … ga apa kok.”
“Enggak apa-apa, gue tancap gas aja. Sama hujan kok takut.”
“Ya udah … hati-hati,” balasku.
“Bye, Abimana ….” Semara melambai.
Pria itu langsung tancap gas, sementara aku dan Semara pergi ke belakag karena Borneo baru saja membuat minuman jahe. Kata Borneo, tenggorokannya sedang sakit. Aku sudah menduga karena Borneo selalu saja merokok tanpa henti.
Baru saja beberapa langkah dari pagar, hujan lebat mengguyur kepala. Aku dan Semara berlari sambil berpegangan tangan ke teras belakang. Terlihat Borneo yang langsung menyambut Semara dengan handuk, sementara aku dibiarkan kedinginan. Dasar Borneo, dia memang tahu siapa yang lebih cantik.
“Hei itu siapa?” tanya Borneo sembari melihat ke lebatnya hujan. Muncul lampu motor yang berbercak di garasi kayu, lalu berbelok ke teras belakang.
“Abimana!” panggilku dengan panik.
Abimana tampak basah kuyup. Hujan sungguh ingin memakannya saat ini.
“Kan udah gue bilang, awannya udah kaya mau makan orang. Lo enggak mau dengerin sih!” protesku.
“Eh, kau Abimana. Beruntung aku lagi bikin air jahe. Ayo masuk, keringkan tubuhmu,” sambung Borneo.
Kaki Abimana masuk selangkah ke teras. Aku senang ada kawan baru yang berkunjung ke rumah. Dirinyalah Abimana, sekarang aku juluki Abimana Si Pintar.
***