Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 11 (S3)



Sentuhan itu, aku mengingatnya sebagai sisa-sisa rindu yang semakin lama aku pendam, semakin meronta ingin keluar. Dirinya bagaikan variabel luar yang merusak ekosistem ketenangan berkat kenangan. Dunia memintaku untuk kembali merindu, tetapi jalanku menutupnya oleh tujuan-tujuan tertentu. Menjadi bebas bukanlah habitat alami darinya. Ia pengikut sejati, mengekor di belakangku. Atau jangan-jangan diriku saja yang merasa diikuti? Padahal selama ini aku yang tertuntun olehnya.


Gue akan ada di mana lo berada, baik itu melihat pinguin di Antartika, mencari naga  di Laut Cina Selatan, atau pun menangkap kodok sebesar kucing di daratan Afrika.


David … sudah beberapa minggu ini wajahnya hanya berupa siluet kenangan tatkala lamunanku tertuju ke sibakan cahaya mentari yang menyelinap di sela-sela kayu. Berbisik kalimat sastra filsafat yang membuatku jijik itu, tetapi diriku terlena dibawa ayunan rindu-rindu. Sesuatu yang sangat sulit aku lepaskan oleh berbagai pertimbangan. Belahan dunia mana pun aku berada, ia akan berada di satu titik di mana aku akan mengingat.


Pagi-pagi hari aku mendengar teriakan Kakek Tarab yang kembali memintaku membuatkan kopi. Razel tidak lagi berada di ranjang sampingku karena tugas yang aku berikan. Setelah menjadi pelayan pria tua itu, aku bergegas ke kediaman Borneo. Di sana dua pria bertelanjang dada sedang membereskan barang-barang dari van. Benar, Van itu tidak lagi berbunyi tatkala dihidupkan. Sudah bisa aku sebut sebagai rongsokan.


“Setelah ini aku tidur di Kapal Leon, oke?” pinta Borneo.


“Selesaikan dulu pekerjaanmu ini, baru aku beri penginapan.” Aku mendorongnya masuk ke dalam van.


Aku dan Razel mendorong van itu ke ujung tanah setapak yang di sana ada jalanan aspal. Selesainya van didorong, terdapat mobil pick up yang akan menariknya hingga ke bengkel terbaik menurut Borneo. Bengkel mobil itu berada di sepuluh kilo dari titik kami berangkat. Borneo mengatakan jika ia pernah memperbaiki van itu di sana dan pengerjaannya cukup memuaskan.


Naiklah kami ke atas pick up yang dikendarai oleh sepasang kekasih muda. Aku tidak sempat menyapa karena napas yang sudah mulai habis, sehingga tali langsung ditautkan ke depan van.


“Terima kasih banyak.” Aku menyapa pria yang mungkin berumur kisaran dua pulih lima hingga tiga puluh tahun.  Di samping pria itu tersenyum seorang wanita manis berhijab. “Ini untuk beli rokok ….”


Ia menolak uang yang aku tawarkan. “Hey, janganlah … aku ikhlas memberi bantuan. Borneo sering juga membantuku.”


“Baiklah ….” Aku memberikan tos tinju padanya. “Namaku Reira, kalau nanti butuh bantuan, beritahu aja aku. Aku tinggal di rumah Kakek Tarab.”


“Aku Huda … kalau yang ini pacarku, namanya Juni.”


“Hey Juni, sepertinya kalian pasangan serasi,” pujiku.


Huda tertawa melihat Juni yang malu-malu. “Ah enggak juga, ini kami lagi akur, belum tahu nanti sore heheh. Kau tinggal di rumah Pak Tarab ya? Aku dan Juni sering membawa Pak Tarab kalau sesak napasnya kambuh. Kebetulan Juni bekerja sebagai resepsionis di klinik dokter.”


“Oh ya? Terim kasih banyak. Dia memang ngerepotin.”


“Sedikit cerewet. Waktu kecil aku sering dimarahi sama dia waktu nyuri mangga miliknya hehehe …..”


“Oke … sekali lagi terima kasih banyak. Kami nanti pulang sendiri.”


“Borneo punya banyak kawan yang bisa ditumpangi. Bye … kami pulang dulu.”


Berlalulah perkenalan kami dengan dua pasangan serasi tersebut. Sepertinya, Huda orang yang hangat, sementara Juni sedikit pemalu.


Borneo berbicara kepada pemilik bengkel mengenai seluruh kerusakan Aku mempercayai bengkel ini setelah Borneo bilang mereka tidak akan melebih-lebihkan kerusakan yang terjadi pada van. Setelah lima belas menit aku menikmati asap rokok Razel ketika menunggu, Bornoe memintaku untuk berbicara dengan pemilik bengkel. Ia menjelaskan seluruh kerusakan yang terjadi pada van beserta kisaran harga yang ia tetapkan.


“Enam juta itu buat sebulan pengerjaan? Lama banget,” balasku.


“Ya mau bagaimana lagi.” Ia menoleh ke tengah-tengah bengkel yang terpampang mobil rusak. “Mobil yang diperbaiki bukan cuma ini aja.”


“Dua minggu, aku tambah uangnya jadi delapan, bagaimana?” tawarku.


Borneo tampak heran melihatku yang menaikkan harga. Ia seperti merasa tidak percaya.


“Mustahil, itu pasti ga selesai ….”


“Ah kau ini … sepuluh juta, tapi kau juga bersihkan karat-karat dan dicat baru. Bisa?”


“Hah? Kau mau cat baru tapi cuma segitu? Biaya cat full body itu paling murah di sini enam juta. Mesin dan body itu totalnya dua belas juta di harga normal paling murah. Kami juga nambah personil kalau buat itu.”


Aku menarik tangannya untuk bersalaman. “Lima belas juta, mesin aman, tampilan luar oke, kerjakan selama dua minggu.”


“Rei!” Borneo memperingatiku, tetapi tidak aku hiraukan.


“Setuju, datang lagi dua minggu lagi tepat di hari yang sama. Semuanya pasti beres.” Ia melepaskan tanganku, lalu menoleh kepada karyawannya yang sedang sibuk memperbaiki salah satu mobil. “Woy, yang ini dulu! Proyek besar!”


Aku berulang kali menaik-turunkan alisku pada Borneo yang menatap tidak percaya. Ia masih mengomel padaku ketika sampai di hadapan mengenai harga yang terlalu tinggi. Menurutku, itu harga yang normal kalau sudah mencakup mesin dan tampilan luar.


“Berapa?” tanya Razel.


“Lima belas juta, ambil di berangkas nanti,” pintaku kepada Razel, lalu menoleh kepada Borneo. “Van itu jadi punya aku sekarang.”


“Apa? Itu punyaku!”


“Oke … ceritanya aku minjam. Tapi nanti kalau dikembalikan, aku rusak mesinnya dulu dan aku gores dulu body-nya. Harganya mahal loh? Bagaimana?”


Ia diam saja mendengar itu. Tidak lama kemudian, ia memberikan kunci mobil van itu kepadaku. “Dasar kau ini! Kalau kau enggak cucu Kakek Kumbang, udah aku pukuli setelah kau bilang itu.”


“Hahah … Razel lebih jago berkelahi.” Aku memamerkan kunci itu di hadapan wajahnya. “Aku kasih dulu kunci ini ke yang punya bengkel.”


Tatkala ia aku pergi, sempat terdengar ucapan Borneo kepada Razel. “Sekaya apa anak itu?”


“Kau kira aja kakeknya sekaya apa, baru kau lihat dia,” pungkas Razel.


Kami pulang dengan mobil pick up pengangkut ikan yang kami temukan di salah satu pasar terdekat. Pemiliknya merupakan rekan Borneo di pelabuhan. Sebelum itu, aku membelikan Borneo beberapa setelan pakaian di pasar untuk ia pakai. Terkadang aku prihatin melihatnya yang hanya memakai baju itu-itu saja. Wajahnya berubah senang tatkala aku pakaikan baju baru secara paksa, seperti anak berumur lima tahun yang dibelikan baju bermotif kartun. Ia tampak lupa akan rasa kesalnya berkat mobil yang sudah aku sabotase menjadi hak milik.


Sesampainya di kawasan dermaga, kami memindahkan seluruh barang-barang milik Razel. Mulai siang ini, aku resmikan dia sebagai awak Kapal Leon. Seperti biasa, selalu ada prosesi sakral yang aku ciptakan sendiri. Borneo merasa jijik tatkala aku pasangkan topi dari kertas, padahal aku dan Razel juga memakainya. Pedang antik milik Kakek Kumbang menyentuh bagian pundak kiri Borneo.


“Apa ini? Prosesi ritual penyembahan setan?!” protes Borneo.


“Jangan banyak protes.” Razel memaksanya untuk menundukkan kepala. “Ikuti apa yang dikatakan Kak Reira.”


“Aku mulai ya.” Aku menarik napas sesaat. “AKU BERJANJI SETIA KEPADA KAPTEN REIRA UNTUK SELALU BERSAMANYA. BERLAYAR KE SELATAN UNTUK MEMBERI MAKAN PINGUIN DI ANTARTIKA. BERUBAH HALUAN KE BENUA HITAM UNTUK MENCARI PELIHARAAN KODOK AFRIKA.”


“Bodoh! Apa ini?”


Setelah dahinya aku tepuk keras, ia kembali memasang topi kertas tersebut. “Ikut aja apa yang aku bilang.”


Dengan wajah pasrah, Borneo mengikuti bimbingan kalimat dariku. Sempurnalah ikrar janji setia tersebut. Resmilah Borneo menjadi awak Kapal Leon setelah kedua pundak Borneo aku sentuhkan pedang antik milik Kakek Kumbang.


“Sekarang apa?” Borneo bingung tatkala aku diam.


Razel memberikanku pel lantai.


“APA?!”


“Ikuti aja jangan banyak protes!” Razel memaksanya.


Aku dan Razel meninggalkan Borneo sendirian di atas kapal. Sembari memakan kerang rebus yang dibeli, kami menyaksikan Borneo dari tepian dermaga sembari tertawa licik.


“Kak … gue kok ga digituin?”


“Udah kok, lo mungkin enggak ingat.”


“Kapan?” tanya Razel penasaran.


“Gue bodohin lo waktu umur empat tahun waktu kita main di atas Kapal Leon.”


“Oh gitu ya?”


Razel memandangi kapal yang sudah seperti taman bermain baginya semenjak masa kecil. Mungkin sekarang ia membayangkan seberapa konyol dirinya dahulu.


Aku meminta Borneo untuk tidak lagi menjadi kuli angkut barang kapal. Ia aku tugaskan untuk berkutat di Kapal Leon, seperti satpam yang kerjaannya hanya merokok saja. Tentu saja ia senang karena tidak harus berkeringat dan bersusah payah menahan panasnya terik mentari. Mengenai makan dan uang rokok, aku mengatakan jika Razel akan mengurusi semuanya. Aku sudah menjanjikan sejumlah uang yang akan aku berikan setiap bulan sebagai gaji.


Namun, ada peraturan mendasar yang tidak boleh dilakukan dilakukan selain Sepuluh Larangan Kapal Leon. Borneo paham setelah aku membuang ponsel jadulnya itu ke dalam laut. Aku memastikan ia tidak akan lagi butuh ponsel itu setelah berada di kapal. Nanti, aku janjikan ponsel yang lebih mahal setelah tugas ini berakhir.


“Aku enggak mengira kau sekaya itu, Kapten.”


Kalimat Borneo membuatku berpikir di ruangan pribadi Kakek Kumbang sembari mencoba arak bali yang aku beli dua bulan lalu. Aku membelinya dua botol, satu sudah aku habiskan bersama David tatkala malam terakhir kami bertemu.


Mungkin aku salah satu orang paling beruntung karena terlahir sebagai orang kaya. Namun, aku tidak pernah menginginkannya dilahirkan dengan kekayaan, oleh karena itu aku menyebutnya sebagai keberuntungan. Aku tidak pernah menjadi susah mengenai finansial. Mau berapa pun harga barang yang dimiliki teman-temanku, aku hanya tinggal memilih saja. Apa pun makanan yang aku inginkan hari ini, aku pun tinggal mengatakannya saja. Namun, tidak semua kekayaan itu menjadi kenikmatan tatkala aku gunakan sebagai sarana berfoya-foya.


Aku tidak pernah merasakan berjuang dari nol karena aku memiliki pijakan besar untuk melangkah. Papa sebagai politisi dan Bunda yang merupakan seorang pengusaha telah memberikanku privilege lebih. Oleh karena itu, aku tahu bagaimana rasanya disokong oleh berbagai pihak. Satu kebencianku turun tatkala anak orang kaya di luar sana dengan sombongnya menyatakan ia telah berjuang dari nol. Bukankah ia tidak pernah terlambat pergi sekolah tatkala hujan karena memakai mobil? Bukankah ia menjadi pintar karena dimasukkan ke lembaga les ini itu dengan biaya mahal? Usaha yang bangkrut pun tidak akan mengguncang isi dapurnya.


Kursi putar membalikkan tubuhku ke belakang. Di sana ada lukisan besar Gunung Fuji yang indah. Benda itu milik Kakek Syarif yang sudah dihibahkan sebagai properti Kapal Leon. Mungkin lukisan itu pula yang membuat Mawar mengiraku seperti hantu tatkala terakhir kami bertemu. Aku harap saat itu ia tidak kabur terbirit-birit karena aku kelihatan menghilang dan aku pun berharap agar kalian tidak mengiraku sebagai penggiat ilmu batin.


Di belakang lukisan itu terdapat area yang bisa dibuka dengan sebuah kunci. Aku bisa menyelinap ke dalam sana dan menemukan tangga menuju ke atas. Tangga itu akan mengantarkanku langsung menuju anjungan kapal. Kakek Syarif memberitahukanku jalan rahasia tatkala aku heran kenapa ada sepetak area kayu aneh di lantai anjungan kapal. Ternyata lorong itu menjadi jalan pintas menuju ruangan pribadi Kakek Kumbang. Kakekku sengaja membuatnya karena tidak harus jalan memutar menuju ke sana.


“Astaga … aku kira siapa!”


Borneo ternyata sedang duduk di atas anjungan. Tentu saja ia terkejut karena terdengar grasak-grusuk di belakangnya, terutama di malam hari.


“Jangan coba-coba masuk ke sini karena kau juga enggak akan bisa masuk ke sana.”


“Iya, aku juga paham jangan masuk ke ruang pribadi Kapal Leon. Waktu di Kapal Tigris pun juga begitu.”


“Oh iya. Kau bisa antarkan aku ke klinik di mana Juni berada?” tanyaku.


“Bisa, cuma kita butuh kendaraan. Kenapa kau mau ke sana? Kau sakit?” tanya Borneo balik.


“Hmm … rahasia.” Aku keluar dari anjungan kemudi kapal. “Kau punya kenalan biar bisa kita pinjami kendaraan?”


“Huda bisa kok, mobil pick up itu pasti nganggur,” balas Borneo.


“Oke … antarkan aku ke sana.”


Kami berdua pergi menuju kediaman orangtua Huda. Sementara itu, Razel ingin menunggu saja di atas kapal, lagi pula ia tidak mau aku suruh di rumah Kakek Tarab sendirian. Beruntung Huda ikut bersama kami karena ia sekalian menjemput pacarnya yang sudah di akhir jam kerja. Tatkala kami sampai di sana, klinik ternyata sudah berangsur-angsur tutup. Tidak ada lagi pasien yang menunggu. Salah satu rekan resepsionis Juni tampak meninggalkan tempat kerja.


“Kau bisa bilang ke Juni kalau aku mau bicara dulu sebentar?” pintaku kepada Huda.


“Oh iya bisa … sebentar ya ….”


Huda kelihatan berbicang dengan Juni yang sudah bergegas mengangkat tasnya. Juni menghampiriku setelah diberitahu oleh pacarnya.


“Ada Reira?” tanya Juni.


“Aku bisa lihat catatan medis dari Kakek Tarab? Kalian pasti mencatatnya.”


“Sebenarnya itu rahasia, ga boleh dilihat sama orang lain. Emangnya untuk apa?”


“Hmm … aku mau lihat aja karena aku bakalan tinggal lama dengan dia. Kau tahu kan Kakek Tarab udah tua banget. Jadi, aku butuh informasi mengenai pantangannya.”


Juni semulanya tampak ragu, tetapi karena Huda menggodanya untuk mencari catatan medis Kakek Tarab, ia pun mengiyakan permintaanku. Pergilah aku dan dirinya menuju ruang penyimpanan catatan medis. Tidak lama ia mencari map catatan milik Kakek Tarab. Map warna biru itu mendarat di atas meja. Tampaklah tulis bernama Abdul Rahman.


“Nama asli Pak Tarab itu Abdul Rahman. Tarab itu cuma panggilan,” ucap Huda.


“Oh ya? Nama yang bagus.”


Aku mencoba membaca seluruh catatan medis yang terekam di kertas. Kakek Tarab memang relatif jarang sakit, tetapi catatan medisnya selalu menuliskan gejala yang sama. Kakek Tarab menderita sesak napas yang disebabkan oleh alergi terhadap benda tertentu. Ia tidak bisa memakan udang laut, kacang-kacangan, serta telur. Selain sesak napas, gejala lain yang timbul berupa ruam-ruam bentol di tubuhnya. Ada pun penyakit lain hanya berupa flu biasa.


“Pak Tarab terakhir kali sesak napas karena makan kacang. Dia paling alergi dengan itu,” ucap Juni.


“Iya, waktu itu Borneo panik dan beritahu aku kalau Pak Tarab sedang sesak napas. Dia harus diberi uap biar sesak napasnya hilang, Entah uap apa itu, cuma Juni yang tahu,” sambung Huda.


Aku menutup map catatan medis karena sudah jelas mengenai informasi catatan medis. Terima kasih aku ucapkan kepada Juni yang sudah membeberkannya. Setelah, aku dan Borneo kembali diantar ke dermaga.


“Ada perlu apa dengan catatan medis Pak Tarab?” tanya Borneo padaku setelah sampai di atas kapal.


“Aku rasa perlu meracun Kakek Tarab dengan kacang.”


“Buat apa? Kau gila?!” protes Borneo.


“Lihat aja kalau sudah terjadi.”


Aku menyeret Razel yang sedang tidur di atas kursi agar segera kembali ke rumah Kakek Tarab.


***