
EPISODE 37 (S2)
Mobil tanpa pendingin udara―karena in mobil tua faforit bapak-bapak―melaju di jalanan yang kiri dan kanan merupakan pemandangan savana yang khas. Semak-semak kuning setinggi dada bergoyang tatkala angin dari kendaraan menerpa. Kami semakin harmoni di perjalanan dua jam lebih ini berkat musik indie nan lembut terputar dari speaker. Selain itu, aku semakin nyaman karena tidak ada yang mempermasalahkan aku untuk merokok di depan. Seluruh jendela terbuka agar udara di dalam tidak panas. Oleh karena itu aku leluasa menyantung tembakau, walaupun dengan hati-hati aku hembuskan perlahan ke luar.
Ada hal menarik di dalam mobil. Aku berkali-kali melihat Candra sedang mencuri pandang kepada Zainab, tatkala ia sandarkan dagunya di atas bagian belakang bangku barisan Reira. Semakin dalam lirikan matanya itu oleh buaian musik yang bercerita tentang risalah hati, kenapa hati ini tak kunjung mengungkap hal yang sebenarnya. Helaan napasku pun mengira-ngira sampai kapan anak itu akan terus menyimpan rasa, mendekamnya pada hati yang terdalam atas dasar malu yang kecut, hingga hilang ditelan waktu dan realita.
Terlalu tajam cinta ini mungkin bersemayam di dalam diri Candra, hingga ia seakan tak mampu mengalihkan mata. Dari tutur kata yang menceritakan mengenai isi hatinya padaku tatkala waktu luang, sudah menjadi pertanda ia tak ingin cepat-cepat pergi dari sini. Bisa jadi ia ingin jadi warga Manggar sekali pun dengan membuat rumah kayu kecil di tepi pantai, sembari berkopi berdua menanti matahari terbenam. Wah, aku sudah gila memikirkan hal itu. Candra bukanlah orang yang sesederhana demikian.
Denting musik masih terdengar hingga aku dengan jelas melihat garis pantai setelah menempuh dua jam perjalanan lebih. Wangi lelautan aku rasakan dari semerbak angin yang menyelinap melalui jendela mobil. Suasana di dalam mobil sedikit lebih tenang karena Candra dan Reira sudah sedari tadi tertidur setelah menjalani perdebatan hebat. Mereka berdebat mengenai bumi itu bulat atau datar. Reira bersikeras kalau bumi itu datar. Kadang aku pun aneh mendengar pemikiran anak itu.
Arah tangan Zainab mengarahkanku ke parkiran mobil. Kondisi pantai sepertinya tidak terlalu ramai. Aku melihatnya dari tidak banyaknya mobil yang terparkir di sini. Sebuah keberuntungan jika pantai kami dapati dalam keadaan tidak ramai. Namun, mungkin saja hanya bertahan hingga siang ini. Tidak tahu jika nanti sore. Tentu saja orang-orang sangat ingin melihat senja di tepi laut.
Reira terbangun tatkala aku hentikan mobil. Ia langsung mendongak keluar jendela menatap rimbunnya pepohonan yang menaungi parkiran mobil. Belum sempat aku mematikan mesin, Reira sudah membuka pintu dan keluar dengan melebarkan tangan, lalu berteriak sembari meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah tertidur. Berbeda dengan yang lain, kami tidak akan seberlebihan itu.
Tak ubah layaknya seorang kapten kapal, ia langsung menyuruh untuk mengeluarkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Sementara itu, ia berbincang dengan tukang parkir yang barus saja datang menghamipiri. Lagi-lagi, seakan seluruh orang sudah ia kenali, Reira menghantam logat ibu kotanya itu kepada tukang parkir. Lugas, penuh pembawaan ringan, serta sedikit memengaruhi.
“Makasih bang, yak!” Reira melambaikan tangan padanya. “Kami bakalan sampai besok nih mobil baru pulang. Jagain jangan sampai lecet.”
Senyum tukang parkir tersebut mekar dengan memberikan seutas jempol pada Reira.
Aku menyenggol bahu Reira. “Dimintain berapa?”
“Cuma sepuluh ribu.” Ia mengambil salah satu beban yang setang aku angkat. “Tapi, gue kasih tiga puluh karena kita sampai besok."
“Anak yang baik.”
Ia mulai melangkah. “Gue ngelakuinnya bukan karena kebaikan.
“Trus apa, dong?” tanyaku.
“Kemanusiaan ... kebaikan belum tentu atas dasar kemanusiaan.”
Hanya sedetik itu, Reira berubah total menjadi seorang yang sangat filosofis. Entah dari mana yang mendapati kata-kata itu, padahal sedari tadi ia tidur dengan sedikit mendengkur. Berulang kali ia menghantam tangannya kepada Mawar, namun Mawar hanya membalasnya dengan elusan lembut pada rambutnya ketika ia tertidur. Seharusnya Reira masih di dalam keadaan kantuk yang tidak mungkin memikirkan hal-hal yang seperti itu.
“Kata-kata dari siapa itu?” tanyaku.
“Reira tahun dua ribu enam belas, halaman kosong.”
“Lo kira ini makalah pakai begituan.”
“Ya ... hidup ini merupakan sebuah makalah yang harus diselesaikan hingga bab III. Lalu dipresentasikan berupa perilakumu pada dunia.”
“Rei!!!” Aku mengelus rambutnya hingga ia kesal sendiri. Lalu, tangan kami saling bersambut berdia, tanpa memedulikan mereka yang mengikuti kami dari belakang.
“Gue udah cocok jadi penulis?” tanya Reira tanpa menatapku.
“Lo cocok jadi apa aja, kecuali jadi orang kaya.”
“Gue suka pemikiran lo.”
Kami letak barang-barang kami pada sebuah titik yang sedikit menjorok ke kanan, tepat di samping batu besar yang hampir sebesar sebuah toko. Ya ... daya tarik pantai Tanjung Tinggi ialah batu-batu granit yang berdampingan satu sama lain, tempat orang-orang mengambil spot terbaik di atasnya. Lalu, diiringi pula oleh desir pasir putih yang bermain manja dengan air laut biru. Ombak menyulut setiap beberapa detik, memberikan harmonisasi suara yang memanjakan telinga. Tak akan pernah hilang paduan suara itu hingga akhir dunia ini, terus sambung menyambung tanpa henti memberikan keindahan.
Air pantai berombak tenang karena area pantai ini berbentuk sebuah teluk yang indah. Para wisatawan bebas menikmati panoraman alam yang sangat memanjakan mata. Air selain menyajikan pemandangan alami, tetapi juga terdapat wahana-wahana air yang disediakan untuk dimainkan oleh para wisatawan. Terdapat keseruan orang-orang yang sedang bermain sampan kecil di tengah teluk ini, terdapat pula yang sedang menikmati pemandangan bawah laut dengan ber-snorkling bersama.
“Wah, gue bakalan keling kalau panas beginian!” Reria mencoba meneduhkan pandangan dengan tangannya.
“Kulit lo memang cokelat, kan? Apa yang mau dikelingin lagi?” tanya Candra.
“Setidaknya gue enggak sekeling lo sama David!” sinisnya pada Candra. Lalu, ia mencolek Mawar. “Mana sunblock lo?”
Mawar membuka resleting tas satu talinya itu, lalu mengambil barang kecil yang diminta oleh Reira. “Ini ... bagi ke yang lain juga.”
“Iya ... lo jangan lupa juga pakai ini banyak-banyak juga, ya.” Ia kembali memberikanitu pada Mawar setelah menuangkan isinya di atas telapak tangan. “Gue enggak mau kulit putih mulus lo itu jadi kaya gue.”
“Yaelah ... biasa aja kali!” sindir Candra. “Ayo kita mandi! Gue udah gerah.”
Tanpa malu, David langsung membuka baju kaos yang ia kenakan, lalu menurunkan celana panjang hingga hanya menyisakn boxer yang ia kenakan. Razel yang tak sudah tak sabar turut melakukan hal yang sama. Ia pun menarikku untuk mandi di air asin, namun aku tidak terlalu tertarik untuk menceburkan diri. Aku ke sini untuk mencari ketengangan bersama pasir putih yang lembut ini, lalu duduk senyaman mungkin sembari menatap langit yang cerah. Hanya itu, tidak lebih. Kecuali Reira yang memaksaku untuk menceburkan diri nantinya.
Sebagai ketua yang tidak akan pernah ketinggalan momen, Reira pun turut mengganti celananya dengan celana pendek pada sebalik batu besar, diikuti oleh Zainab yang hanya berganti baju ke bahan kaos. Karpet pandan dari rumah Pak Cik dibentang di atas pasir, Mawar duduk memanjangkan kaki sembari memainkan pasir yang ada di sampingnya. Kesendirian anak itu tidak aku anggap sebagai hal aneh, memang ada orang-orang yang lebih suka menyendiri seperti itu, termasuk diriku. Namun, aku rasa kadar penyendiri dari seorang Mawar melebihi dari yang aku lakukan.
Mau tidak mau, aku mengikuti keinginan mereka untuk mengajakku bermain air. Reira meloncat dari salah satu batu yang tak terlalu tinggi, lalu menceburkan diri sebagai pembuka keseruan ini. Air terangkat hingga dua meter ke atas ketika ia berhasil jatuh dengan sempurna. Razel yang sudah biasa dengan air asin langsung membelah pantai sebisanya. Candra mengikuti anak laut itu dari belakang dengan berkali-kali mengucek mata karena pedih terkena air asin. Ya ... yang aku lakukan ialah hanya bermain di tepian sembari menikmati cipratan Reira yang menggodaku untuk masuk lebih dalam. Merendam air hingga selurut bagiku sudah cukup.
“Ayo masuk!” teriak Reira.
“Enggak ... gue mau ditepian aja. Males basah-basahan,” balasku.
Tanpa diduga, sebagai hal yang tak biasa, Candra pun membalas ajakan tos tersebut.
Kali ini mereka bekerja sama untuk menyindirku. Akibat itu, aku pun tak sabar untuk menceburkan Candra nanti malam seperti yang sudah direncanakan oleh Reira sebelumnya.
“Udah ... main aja sana. Gue anak rumahan,” balasku.
“Mending lo duduk di sana ... lautan hanya untuk orang-orang yang pemberani!” balas teriak Reira lagi. Ia menyentuh wajahnya yang kecut karena mata yang pedih. “Oh, ya ... daripada lo tegak bermenung di sana, mending pesan kelapa muda. Ambil uang di dompet gue.”
“Awas lo, ya ... hahaha. Gue cuma males aja,” balasku sembari berbalik arah. “Oke, tunggu kelapa mudanya, ya.”
Mereka asyik-asyik bermain, sementara aku harus menuruti permintaan Reira untuk dibelikan kelapa muda. Tatkala sampai di tikar pandan, Mawar memperbaiki posisi duduknya.
“Enggak berenang kaya mereka?” tanya Mawar.
“Ah, enggak ... gue enggak mau demam kalau berenang panas-panas begini. Fisik gue enggak kaya mereka,” balasku padanya.
“Ya ... sayang banget, deh.”
“Sayang banget? Lah, lo malah duduk di sini.”
Ia tersenyum tipis. “Gue memang enggak pandai berenang. Gue enggak mau Reira panik gara-gara gue kebawa ombak.”
Aku mengangguk memahaminya. Aku pun tahu, ia tidak terlalu suka keseruan yang seperti itu. Sepatutnya ia duduk di sini sembari menikmati kesendirian.
Tanganku mengambil sejumlah uang patunganku bersama Candra sebagai penambah uang beli kelapa muda. Terkadang, kami pun merasa tidak enak diri karena harus bergantung kepada Reira, walaupun dirinya sudah menjamin seluruh keperluan kami semasa perjalanan ini. Sebagai orang tahu diri, aku dan Candra pun sudah mendiskusikan untuk keperluan jajan pribadi biarlah kami sendiri yang memenuhi.
Tepat jarak seangin sebelum jemariku menyentuh dompet Reira yang berada di dalam tas gunungnya, aku seakan menjadi batu yang tak bisa digerakkan. Teringat sebuah foto polaroid yang menghantui pikiranku tatkala sunyi menghampiri. Namun, tetap aku beranikan diri membuka dompet itu. Setelah mengambil sejumlah uang yang aku rasa cukup, rasa penasaranku pun semakin mencuat tatkala ujung foto itu tampak dari tempat selipannya. Dengan mata memandang Mawar untuk memastikan tak lagi memerhatikanku, aku ambil foto itu sembari berjongkok membelakangi Mawar.
Kembali aku lihat foto tersebut yang menumbuhkan tunas-tunas rasa penasaran mengenai pria tersebut. Jika sebuah foto tersimpan di dalam dompet, sudah dipastikan bahwasanya ia memilik hubungan erat dengan Reira. Tidak mungkin seseoran yang tak memilik tempat di sisi Reira, tiba-tiba aja ia masukkan sebagai koleksi di dalam dompetnya. Memang, fotoku masih tetap ada di bagian muka isi dompet tersebut, walaupun hanya berupa pas foto mahasiswa ketika aku pertama kali mendaftar ke universitas.
Namun, foto yang membuat tanganku kaku itu tersimpan dalam lipatan yang dirahasiakan.
Nauren? Tahun 2014?
Foto ini sudah dua tahun yang lalu, ucapku di dalam hati ketika aku dapati sebaris tulisan yang aku tahu sudah pasti ini bukan tulisan Reira. Aku tahu bagaimana persis tulisan Reira karena wanita itu sering mencoret buku catatan kuliahku sebagaimana anak kecil yang memegang secarik kertas, penuh dengan coretan tidak jelas, walaupun masih berupa kata-kata yang mengikuti irama diksi puisi ala dirinya. Reira tidak pernah menulis dengan gaya tulisan tegak bersambung. Tulisannya seperti tulisan anak SMA yang kaku tanpa gaya lekukan seperti itu.
Jika aku menduga jika pria di dalam foto itu merupakan Alfian, maka dugaanku telah salah. Sudah jelas terpampang sepenggal nama yang tidak aku ketahui sebelumnya, tepat di belakang foto polaroid itu.
“Lama banget ngambil uangnya?” tanya Mawar tiba-tiba.
Sontak aku langsung menyelipkan foto itu kembali ke dalam tempatnya, lalu memandang kepada Mawar. “Gue lagi ngelihatin foto Kartu Tanda Pelajar anak itu sewaktu SMA.”
“Oh, begitu ....”
Aku berdiri tegak setelah memasukkan dompet itu kembali ke dalam tas gunung Reira. “Lo mau ikut?”
Mawar menggeleng. “Enggak, lo aja ke sana.”
“Oh, baiklah ... gue tinggal dulu.”
Belum beberapa meter aku meninggalkan tikar pandan itu, terdengar suara langkah yang berjejak di atas pasir putih. Aku pun menoleh ke belakang dan melihat Mawar yang terperogoh memasang sendalnya sembari berjalan.
“Lah, katanya enggak mau ikut.”
“Kayanya, lo butuh orang buat bawain kelapa mudanya,” balasnya tanpa memandang. “Enggak boleh?”
“Siapa yang ngelarang? Pasang dulu sendal lo dulu. Terbalik itu ... Hahahah.” Aku tertawa pelan setelah menyadari jika sendal yang ia pasang itu terbalik.
Malu wajahnya yang memerah tak bisa dihindari. Gigi depannya bahkan tak ingin menampakkan diri. Ia tundukkan kepala untuk melihat posisi sendalnya yang sudah terbalik, lalu memperbaiki kembali posisi sendalnya.
“Hahah ... makasih ....” Ia menyamai langkahku.
Aku yang tersenyum tanpa bisa diduga olehnya bahwasnya aku sedang menyiman risau di dalam hati. Masih aku berusaha untuk menebak pria yang ditunjukkan pada foto itu, sembari menenangkan hati bahwasanya semuanya akan baik-baik saja. Namun, ketenangan itu tak kunjung juga aku capai. Bahkan, senyum langka Mawar yang rupawan itu tak bisa mengalihkan pikiranku.
“David,” panggil Mawar seketika.
“Kenapa?” tanyaku.
“Rasanya gue mau berterima kasih kepada Reira yang udah ngajakin gue masuk ke tengah-tengah kalian.”
Hatiku pun tersentak mendengar itu. Sebuah hal langka ketika anak itu secara frontal membuka hati untuk bercerita.
***