
EPISODE 73 (S2)
Umur menentukan banyak pengalaman yang ditempuh di sepanjang kehidupan. Semakin panjang umur yang dilalui, tentu saja banyak hal yang dilihat dan dirasakan. Namun, tak semua orang yang melalui umur panjang bisa memiliki banyak pengalaman. Maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya kualitas umur seseorang ditentukan apakah terdapat pengalaman-pengalaman yang dilewati, sehingga terjadi dinamika hidup yang membawa seorang insan mengenyam makna-makna. Aku rasa itulah yang telah dilalui oleh Kakek Syarif selama ini.
Aku kagum dengan pengalamannya bersama Kakek Kumbang yang berani keluar dari sekolah dasar hanya untuk mencari uang daripada belajar di buku-buku. Bagi mereka, alam sudah lebih dari lembaran halaman dan ribuan baris tulisan yang hendak dibaca. Dari tubuh kecil menapaki jalanan panas itu pula mereka bisa berkeliling ke berbagai negara dengan kapal milik sendiri. Ia mengajariku bahwasanya untuk memutari dunia tidak perlu harus sekolah yang tinggi, asal kau seseorang mau berusaha keluar dan berkeringat, semua orang bisa keliling dunia. Hanya saja, selagi masih bisa sekolah, maka lanjutkan saja sekolah itu.
Kekagumanku tak hanya sampai di situ. Masih banyak lagi pengalaman-pengalaman yang pernah ia katakan padaku. Kemudian, kekaguman itu pun berubah menjadi keanehan. Dari banyak hal yang Kakek Syarif ceritakan, terdapat satu sisi yang membuatku harus berputar otak berkali-kali untuk mencernanya. Tidak ada nalar sudah. Semuanya seakan palsu dan tidak nyata, tapi benar-benar ada. Ia pernah mengatakan padaku bahwasanya terdapat sebuah dimensi yang di mana mereka melihat kita, namun kita sama sekali buta akan ekstensinya.
“Benar ....” Kakek Syarif menenggak anggur merahnya. “Selalu ada kejadian setelah mimpi bertemu Kumbang.”
Kalimat tersebut membuatku menarik kursi sesegera mungkin,. Wajah Kakek yang padam sedikit membuatku merinding, sama halnya ketika aku dan Reira pertama kali memasuki ruangan misterus ini. Apalagi Kakek Syarif menceritakan hal-hal yang seram pada saat itu.
“Kejadian aneh?” Aku memasukkan tangan ke kantung sweater milikku. Ruangan ini bukannya panas, tapi malah dingin. Padahal, hanya sedikit celah udara yang bisa masuk.
“Apa yang terjadi, Kakek?” tanya Reira dengan penasaran.
Kakek Syarif menarik napasnya panjang-panjang. “Setiap kali aku bermimpi Kumbang, angin selalu masuk ke dalam kamar. Padahal, cuaca sama sekali tidak ada menunjukkan badai. Aku kembali tidur lagi dan Kumbang kembali aku mimpikan mengenai pendapatnya jika kapal sudah kotor. Sebenarnya, tak hanya aku bermimpi seperti itu. Terkadang Razel mengigau hal yang sama.”
“Lalu?” sambungku,.
“Karena kembali bermimpi, aku berlari menuju kapal bersama Razel di jam dua malam. Bulatnya bulan terang sekali, kapal yang tak ada lampu bahkan tampak terang. Aku pintalah Razel untuk menunggu di ruang kemudi, sementara itu aku masuk ke bagian kabin. Sebelum aku membuka pintu menuju koridor, aku mendengar suara langkah seseorang. Aku sempat menarik keris Melayu yang selalu aku bawa kalau berjalan malam. Ketika aku membuka pintu ....” Kakek menggeleng sesaat. “Tak ada siapa-siapa.”
Terdengar napas kami yang menarik berat di tengah sunyinya ruangan. Bahkan, pergerakan sedikit saja bisa kami dengar, Tak ada yang berani berbicara di antara ketiga tamu ini. Mawar mengepalkan tangan, aku dan Reira saling menyorot pandangan. Sudah pasti kini pikiran kami tertuju kepada suara langkah yang sudah didengar oleh Kakek Syarif tadi malam.
“Baiklah ... ini mulai menyeramkan.” Mawar mengusap tangannya yang dingin.
Reira meresponnya dengan mengangkat bahu. Lalu, sorotnya kembali kepada Kakek Syarif. “Apa Kakek enggak dengar?”
Senyum Kakek Syarif tampak kecut. “Tak mungkin aku salah karena sudah berpuluh tahun aku di kapal ini. Setiap orang yang berjalan di koridor, bahkan tak pakai sendal sekali pun, selalu terdengar suara langkahnya. Aku tak tahu siapa itu, namun aku lanjutkan jalanku ke ruangan Kumbang ini karena aku takut ada orang yang masuk untuk mencuri barang di dalam sini. Karena dulu meman pernah kejadian tongkat golf Kumbang hilang di sini.”
“Kakek main golf? Aku kira dia suka bermain layang-layang di laut.” Reira memerengkan wajahnya. “Tapi, bukan itu intinya. Jadi, Kakek benar-benar enggak ngelihat orang itu?”
Kakek Syarif mengangguk. “Benar ... bahkan sampai aku lihat ke dapur. Aku berbalik kembali ke belakang karena mendengar suara harmonika dari ruangan Kumbang.”
Tanganya merogoh laci dan mengeluarkan sebuah harmonika berbahan metal dari sana. Tergeletaklah benda itu di atas meja, sebelum Reira meraihnya dan memutarnya di tangan.
“Ini milik siapa?” tanya Reira.
“Itu milik Kumbang yang ia dapati dari seorang kakek tua di kota Tokyo. Kumbang dengan bodohnya menukar jam tangan hanya untuk sebuah harmonika. Lagu pertama ia pelajari ialah Kimigayo, lagu kebangsaan negara Jepang. Dan kau tahu apa yang aku dengar dari harmonika tadi malam?” Sorot mata Kakek Syarif tertuju padaku.
“Aku mendengar lagu Kimigayo yang selalu dimainkan oleh Kumbang, sebagaimana yang pernah diajarkan oleh pemilik harmonika itu sebelumnya.” Ia terbatuk sesaat setelah menghembuskan asap cerutu ke tengah-tengah kami. “Harmonika itu tergeletak di atas meja setelah aku buka pintu ruangan ini. Padahal, aku tak pernah mengeluarkannya dari laci, memakainya pun tidak.”
“Aku boleh memiliknya?” tanya Reira.
Kalimatnya itu seakan ia sedang tidak mendengar apa-apa dari Kakek Syarif. Padahal, aku dan Mawar sudah tegang mendengar cerita itu. Padahal, ia seakrang sedang menggenggam benda yang diceritakan.
“Ambil aja kalau kau mau,” balas Kakek Syarif.
“Yeay!” seru Reira tanpa beban.
“Kau mau tahu apa yang membuat aku menangis?” tanya Kakek Syarif.
Mata Reira yang awalnya tertuju kepada mulusnya pemukaan harmonika itu, kini tegang menyorot Kakek Syarif. “Apa singa itu bergerak?”
Kini aura desenden dari seorang Kakek Syarif tengah berada di puncaknya. Ia memicingkan mata dan mengeluarkan garis air mata. Kami benar-benar tersentak dari tangisnya kali ini. Seseorang yang terlihat sangat kuat, walaupun sudah tua, namun kini menangis tanpa suara. Bibirnya bergetar sembari mengapit cerutu untuk dihisap berkali-kali.
“Entahlah, Reira ... aku berada di titik merindukan Kumbang. Sahabat terbaik yang aku punya. Kami pernah satu atap bersama, satu piring, satu tangis lapar, satu selimut kedinginan, dan dia bisa-bisanya hilang di telan laut. Padahal, si bodoh itu yang bilang kalau laut tak akan bisa mengalahkannya selagi ada Tuhan membersamai. Bodoh!”
Kakek Syarif menundukkan wajahnya.
Tangan Reira melepas topi koboi milik Kakek Syarif, lalu mengelus helai rambut panjangnya yang beruban. Kontras sekali kakek itu mengolesi rambutnya dengan minyak kemiri, tercium harum sekali.
“Sudahlah, Kakek ... Kakek Kumbang udah tenang di sana. Memang, laut enggak akan bisa mengalahkan kakekku kalau Tuhan masih membersamai. Tuhan membersamai Kakek Kumbang di kapal waktu itu, hanya saja Tuhan membawa takdir kematian yang enggak bakal bisa dihindari.”
Kakek Syarif menegakkan kepalanya. “Kakekmu masih hidup dan aku yakin akan hal itu. Aku benar-benar melihat keris di dalam lemari itu berdiri dengan jelas, sempurna, tak jatuh dalam waktu yang lama. Kumbang tak mungkin bohong.”
Baru kali ini aku mendengar kalimat Reira yang menyatakan bahwa ia tidak akan melakukannya. Reira menolak untuk itu.
“Jika Kakek memintaku mencari orang yang sudah mati, aku enggak akan bisa. Dan aku ... enggak terlalu percaya dengan hal mistis seperti itu. Jika aku tampak mahluk yang sudah menegakkan keris itu, akan aku tusuk dirinya!” sentak Reira tanpa ragu.
“Bawa dia pulang, kau akan membuktikannya sendiri,” tantang Kakek Syarif.
Reira berdiri tanpa ragu. Ia buka lemari tersebut satu tangan dan mengambil keris panjang yang ada di dalamnya. Seperti seorang pendekar berpedang, ia pangku keris itu di atas pundak.
“Senjata tetaplah senjata, mau magis atau tidak.”
***