Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 138 (S2)



EPISODE 138 (S2)


Sudah empat hari aku berkubur di semenanjung sepi yang merundungi setiap gelapnya malam. Rinduku tergantung di atas bintang, tak bisa aku gapai dengan kedua tangan. Ia jauh tersembunyi di salah satu dari seluruh bintang di langit, melihat diriku dari kejauhan yang sedang menantikan ketuk jemarinya di ujung pintu. Belum ada sama sekali tanda-tanda dari Reira akan datang. Ia masih di suatu tempat entah di mana, entah dengan siapa. Tidak ada satu pun dari kami yang mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Setiap detik aktifitas yang aku lakukan selalu memikirkan bagaimana dirinya saat ini. Ingin aku melupakan hal tersebut dengan menangguh harapan di akhir bahwasanya ia akan kembali. Namun, semakin aku melupakan sesautu, semakin keras aku memikirkannya. Meluakan merupakan proses berpikir. Kita tidak akan pernah lupa akan sesuatu. Meskipun itu terlupakan, suatu momen akan selalu tersimpan pada satu tempat di pikiran, yaitu pikiran bawah sadar.


Menurut Freud, permasalahan yang yang terjadi akan terus direpress ke pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, kita bisa menjadi lupa akan sesuatu permasalahn yang terjadi.


Namun, percayalah bahwasanya permasalahan itu sama sekali belum dilupakan. Ia hanya dipendam dan meronta ingin keluar dari pikiran bawah sadar. Dengan jelas kita melihat impuls-impuls itu ketika mimpi di malam hari. Terkadang kita bermimpi dikejar oleh beruang besar dan lari kepada ibumu. Bisa jadi bahwasanya engkau sedang ingin bercurhat kepada sosok terdekat, tetapi ada banyak hal yang menghalangi untuk melakukannya.


Hal tersebut pula yang terjadi padaku. Anak itu terngiang di dalam mimpi malamku serta mimpi sadar. Mimpi sadar terwujud dalam lamunan yang aku helat dari tatap kosong kepada pengunjung cafe, hingga tak sadar Mawar sudah menepuk pundakku agar tidak terus melamun. Aku tak sadar juga ketika Zulqarnain berkali-kali memanggilku untuk membantunya mengangkat meja-meja. Hentak waktu yang masuk ke dalam ruang realita akhirnya menyadarkanku untuk bergerak membantu mereka. Aku ditikam oleh pikiran ini.


“Lo selalu melamun.” Mawar menutup jendela container.


“Kayanya gue terlalu capek,” balasku sembari mengunci pintu container dengan gembok.


“Tadi malam gue begadang abis.”


“Lo ngapain semalaman?”


“Biasa ... bikin revisi ....”


“Revisi kelar, hidup lo kelar juga,” sindir Mawar.


Jujur, aku tak bisa tidur karena memikirkan Reira selalu. Kecemasanku memuncak tatkala sadar ketika hari ini merupakan hari ke empat Reira menghilang tanpa kabar darinya.


“Gue mau nyusul Candra. Gue enggak mau lama di fakultas. Bentar lagi lo juga sidang skripsi.”


Ia menoleh padaku. “Emangnya gue begadang buat ngerevisi semua itu? Itu tergantung pribadi masing-masing.”


“Iya, sih ... salah gue.”


Kami sama-sama melangkah keluar cafe. Tak ada lagi kendaraan yang parkir, kecuali vespa butut milikku. Di atasnya ada dua helm klasik untuk kami berdua. Merayap tangan Mawar untuk memasangi helmnya, lalu memberikan sweater milikku yang sedari tadi ia pegang.


“Gue bakalan nunggu kalian kalau kalian mau.”


“Nunggu apa?”


“Nunggu lulus sama-sama.”


Aku berhenti mengengkol motor. “Lo gila, ya? Capek-capek lo nyusun skripsi malah nunggu orang yang enggak penting kaya kami, terutama gue.”


Kepalanya naik mendengarku. “Lo penting bagi gue.”


Berkedip mataku melihatnya yang mengatakan hal tersebut, lalu dilanjutkan untuk kembali menghidupkan motor yang susah sekali untuk dihidupkan.


“Apa defenisi dari penting?” tanyaku balik.


“Sesuatu yang harus lo prioritaskan karena ada sebab dan akibat di dalamnya. Lo ngerubah hidup gue perlahan. Seperti Reira yang merubah hidup lo, seperti lo yang merubah hidup gue.”


Aku menatap wajahnya. “Setiap orang akan berubah, itu kata Reira. Karena kita adalah lautan yang sedang berguncang karena ombak. Suatu saat akan jadi tenang, lalu kembali berbadai. Itulah kenapa sesuatu yang belum ada belum berarti enggak ada. Sesuatu yang sudah ada belum tentu menjadi.”


“Cara bicara lo kaya Reira.” Ia naik di belakangku


“Ya ... karena kita awak kapalnya.”


Kami pun berangkat pulang. Tujuan pertama tentu adalah rumah Mawar. Sunyi sekali suasana pukul tengah malam, tak ada siapa-siapa di jalanan rumahnya. Hanya ada suara serangga yang menyambut motor bututku datang dan ucapan terima kasih dari Mawar ketika ia turun. Tersenyum wanita itu di balik gelap yang membelai wajahnya. Untaian gelaknya memuji ucapan terakhirku padanya.


“Maksudnya apa itu?” Aku mengunci tali helm darinya untuk digantung di depanku.


“Mungkin aja lo suatu saat kehilangan perasaan terhadap Reira jika selalu berpikiran negatif sama dia kaya sekarang. Gue saranin, tetaplah berpikir positif.”


“Urusan pikiran, biar gue urusi. Lo enggak perlu mikirin gue,” balasku.


“Wah, sinis sekali ....” Mawar tersenyum.


“Udah gue bilang, carilah seseorang yang bikin lo ngerti tentang perasaan. Kalau saat itu tiba, lo enggak perlu tanya tentang jawabannya sama gue.”


“Hahah ... kita selalu berdebat.”


Aku mengangguk. “Maka, gue akhiri perdebatan kali ini. Gue pergi dulu. Sampai jumpa besok.”


Lambaian tangan dari Mawar mengakhiri pertemuan kali ini. Mawar selalu tertarik dengan hal-hal yang bersifat filosofis. Ia sebenarnya bukan orang yang filosofis, tetapi pandai menyimpulkan maksud dari filosofi seseorang. Ia logis sekali, tidak ingin sesuatu yang abstrak seperti kalimay-kalimat filosofi. Jika ia berkaya sesuatu, cenderung akan menjelaskan dengan jelas dan tepat sebab-akibatnya. Ya ... begitulah wanita yang pertama kali aku temui di perpustakaan itu. Aku beruntung berteman dengan orang-orang unik, terutama Candra yang datang ke rumah kalau sedang lapar.


Tidak sengaja aku melihat gapura kawasan rumah Reira. Melambat motorku ke tepian, berhara Reira sedang melangkah pulang dan berselisih jalan. Tidak cukup bagiku untuk mengenang jalanan ini hanya dengan memperlambat kecepatan. Aku pun membelokkan motor ke sana. Bersiasat hatiku menimbulkan jejak-jejak imajinasi bahwasnya Reira akan berteriak di depan rumah. Namun, yang aku temukan hanyalah seburat cahaya minim dari lampu depan sert gesekan antar daun di pekarangan. Sunyi melanda rumah itu, senyap menyasar ke suasananya.


Entah aku yang kurang ajar atau aku yang sedang gila. Tanpa izin, aku memasuki rumah Reira yang bukanlah milikku sama sekali. Aku tahu tempat penyimpanan kunci rumah karena aku dan Mawar yang meletakkannya di sana. Berdecit pintu kayu garasi yang tersimpan mobil sedang hitam milik mendian Bu Fany serta Minerva yang mengepakkan sayap setelah kedatanganku. Bersuara sedikit burung itu, tidak diberi makan seharian sejak terakhir kali aku datang hari kemarin. Ia pasti kelaparan.


Aku menghidupkan lampu garasi. Mataku melebar melihat ke kandang Minerva.


“Mangkuknya diisi makanan!” ucapku terkejut.


Tidak mungkin ada seseorang yang memberi makan Minerva selain diriku dan Mawar.


Menyadari hal tersebut, segera aku mengambil kunci rumah yang ada di belakang kandang dari berlari menuju rumah.


Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Begitu sunyi dan gelap. Berbunyi lubang kunci ketika aku buka. Bergegas aku menuju kamar Reira yang tidak terkunci sama sekali. Namun, tidak aku temukan siapa-siapa di dalamnya.


Siapa yang sedang ke sini? Aku menutup wajah sembari terduduk di atas ranjang. Ribuan tanda tanya mencuat setelah ada seseorang yang mengisi mangkuk makanan Minerva.


Seketika berbunyi suara tembakan yang sangat keras dari luar. Jantungku kini terasa ingin copot. Mataku tertuju ke laci meja yang sedari tadi tidak aku perhatikan sudah terbuka tanpa ada suatu objek yang selama ini aku sembunyikan. Kecemasanku mencuat. Kini aku seakang di dalam dunia tanpa realita, mendengar suara tembakan yang sangat keras dari pekarangan belakang. Terdengar gelak suara seorang wanita yang kegirangan ketika berhasil menembak sesuatu.


“Lo gila, Rei!”


Itu suara Reria ... aku jelas sekali mengingat suara itu. Lariku tertatih dengan napas tidak beraturan menuruni anak tangan rumahnya, hingg aku terjerembab di anak tangga terakhir. Berbunyi tulangku yang berhantam dengan lantai. Aku merasakan kakiku kebas sekali ketika digerakkan, namun sakit tatkala aku langkahkan menuju lantai. Tak peduli aku mengenai keadaan kaki, aku berjalan tertatih menuju pintu.


Tatkala aku membuka pintu, tampak sosok pria tua tegap tinggi yang sedang memakai kacamata hita,. Ia menatap padaku dengan ekspresi datar. Tampak ia sedang memakai jaket jeans, bertopi hitam, dan celana bahan kain. Ia menyingkap ujung lengan jaketnya. Terdapat tato ornamen yang khas sekali berupa kumbang hitam. Tato itu seketika bercahaya menyasar mataku. Namun, sebelah tangannya lagi membuat darahku tersirat. Keris panjang itu ia pegang sebelah tangan.


Seketika ia menusukku tepat pada dada.


....


....


....


....


Rasa sakit yang begitu sangat membuatku seluruh logika terbangun dalam satu waktu. Detik demi detik realita bersatu di iringan denting jam pukul dua malam. Mataku tersentak seketika mengarah ke lembar tanggal di dinding yang aku silang sejak dari pertama kali Reira menghilang, yaitu seminggu yang lalu. Mimpi buruk ini membangunkanku di hari ke tujuh Reira yang pergi. Terduduk aku dengan jantung yang masih berdetak kencang.


Aku mendengar sesuatu kemudian. Pintu balkon telah diketuk oleh seseorang. Bayang-bayang tubuh yang hitam tampak dari samar-samar gerak gorden.


***