Captain Reira

Captain Reira
44



Jakarta, 26 Desember 2016


Sungguh, pekan itu termasuk pekan terpanjang yang pernah kualami selama hidupku. Sensasinya masih kurasakan, walaupun sudah beberapa minggu yang lalu. Aku dan Reira kembali ke ibu kota menggunakan mobil Hardtop merah yang dipinjam dari saudaranya di Kota Surabaya. Kakaknya sudah pulang lebih cepat karena harus kembali ke Paris untuk urusan penting. Tinggallah aku dan Reira berkelana menyelusur jalan lintas Jawa. Ditambah lagi dengan gaya berkendara Reira yang kadang tidak mengenal lawan. Jantungku berkali-kali dibuat copot karena Reira membawa mobil terlalu kencang.


Berkali-kali kami kehabisan bahan bakar di jalan, berkali-kali pula aku menumpang kendaraan yang lewat untuk membeli bensin ke pengisian bahan bakar terdekat. Dengan jerigen yang kubeli di kedai tepi jalan, bahan bakar bisa dibawa kembali menuju tempat mogoknya mobil kami. Tentu saja aku akan menumpang lagi untuk menuju ke sana. Hal ini berkali-kali kurasakan bersamanya. Kami tidak mengenal daerah yang kami lewati, sehingga kami juga tidak tahu jarak ke pengisian bahan bakar selanjutnya.


Belum lagi berurusan dengan polisi karena menabrak seorang pengendara motor yang tidak melihat-lihat ketika menyeberang. Reira menangis karena panik setelah menabrak seseorang, ditambah lagi aku dan dirinya dimintai keterangan di kantor polisi terdekat. Akhirnya urusan ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Namun, Reira tetap membayar kerugian yang ia buat sendiri. Baginya, uang bukanlah masalah. Anak orang kaya sepertinya tidak pernah kehabisan uang. Semenjak itu, aku tidak pernah mengizinkannya mengemudi mobil.


Aku dan dirinya tertawa ketika kembali bercerita mengenai perjalanan panjang ini kepada Candra di kantin. Pembicaraan kami cukup panjang. Butuh beberapa batang tembakau dan secangkir besar kopi yang kuhabiskan untuk menceritakannya. Candra sangat antusias dengan petualangan yang sudah kualami. Terutama, pada cerita di mana aku terpaksa buang air kecil di botol minum. Saat itu tengah malam dan macet panjang melanda kami. Tidak ada tempat untuk bersinggah.


Kantin tetap ramai meskipun mahasiswa sedang berada di libur semester. Hanya ada beberapa meja yang kosong. Selebihnya, penuh dengan mahasiswa yang berkumpul untuk sekadar mengopi dan menikmati asap tembakau pagi. Pembicaraan hangat tercipta, tidak ada topik mengenai tugas-tugas yang menyesakkan. Tidak ada laptop di atas meja yang biasanya digunakan untuk menulis laporan. Tidak ada buku-buku referensi untuk menyusun makalah. Semua itu cukup untuk kami lupakan dalam dua bulan ke depan. Bebas rasanya tidak terbelenggu wajah-wajah dosen yang kadang menyeramkan.


Candra bertahan dengan cara duduknya yang menyandar. Jemarinya masih tergantung cangkir kopi yang sudah ia habiskan. Terdapat noda kopi yang masih tersisa di sela bibirnya. Tidak lama kemudian, terhapus oleh tembakau yang ia selipkan. Asap mengepul, matanya menatap ke langit-langit. Dahinya tidak bisa menolak untuk mengernyit. Pikirannya dipenuhi oleh kalimat Reira yang baru saja ia ucapkan.


"Bukannya begitu, uang gue sudah habis gara-gara pergi ke Bromo kemarin." Candra mengubah posisi duduknya.


"Tenang, uang enggak perlu dipikirkan. Lo tahu bapak gue siapa, kan?" paksa Reira dengan sedikit menyombongkan diri.


"Gue tahu lo anak pejabat, tinggal minta uang banyak. Tapi, gue tetap aja perlu bawa uang. Itu jauh, Rei," balas Candra.


Aku hanya diam. Paksa-memaksa hanya Reira ahlinya. Ia pandai mengolah kata untuk memepengaruhi pikiran lawan bicaranya. Aku sering berubah pikiran karena terbawa bujuk rayu serta wajahnya yang memelas manja. Tidak ada yang bisa menolak wajahnya yang dimanis-maniskan.


Sementara itu, ini bukanlah rencanaku. Aku hanya mengikuti saja apa yang dipintanya. Janjiku untuk menemani petualangannya akan terus aku genggam. Hal-hal gila kembali akan tercipta. Skenario cerita kembali ia rancang untuk menyeret kami dalam momen-momen spesialnya. Pengalaman yang tidak terduga kembali ia ciptakan dalam lika-liku pemikiran yang penuh rahasia.


"Lo enggak perlu memikirkan uang. Kita akan menghasilkan uang. Selama dua minggu itu, kita akan habiskan untuk menjual barang." Suara Reira terdengar membara. Tangannya mengepal di atas meja.


"Lo ikut?" tanya Candra padaku.


"Kata Reira, perintah kapten tidak bisa ditolak," jawabku dengan singkat.


"Kekasih atau kapten?" rayu Candra.


Tembakaunya bergerak di antara kedua bibirnya yang membentuk senyum kepada kami berdua. Jemarinya menyibakkan rambut keritingnya yang hampir menyerupai mie instan kantin. Kami tersudutkan oleh tatap matanya yang licik.


Aku dan Reira saling bertatap malu. Tidak bisa aku hindari pipiku yang memanas. Aku tidak mau kalah. Kembali kusorot wajah Candra.


Senyum Candra padam. "Besok gue tanya Mama untuk kepastiannya."


"Izin lo udah gue dapatkan dari mama lo. Dia suntuk sama lo yang cuma diam di pet shop," tambah Reira.


Candra mengehembuskan asap tembakau yang tertahan. "Kapan lo tanya mama gue?"


Kedua alis Reira naik ketika membuang wajah dari Candra. "Waktu gue bawa jalan-jalan anjing di pet shop dua hari yang lalu.


"Sudah gue bilang, jangan pernah bawa jalan-jalan anjing titipan orang!" pungkasnya.


Paksaan dari Reira membuahkan hasil. Di akhir percakapan, Candra menyetujui dengan syarat ia tidak ingin mengeluarkan biaya sepeser pun. Reira menyambut baik persyaratan yang diberikan oleh Candra. Ia tidak memedulikan besaran biaya, namun ia lebih condong kepada pengalaman yang akan ia rasakan.


Hari telah berlalu. Tidak terasa, besok merupakan jadwal kami berangkat menuju petualangan baru. Persiapan demi persiapan sudah kami lakukan. Kurasa tidak perlu banyak yang harus dibawa. Aku hanya membawa beberapa helai pakaian untuk dipakai. Selebihnya, Reira sudah menjamin kenyamanan kami nantinya, termasuk urusan perut. Lain dengan Candra, ia pemasok tembakau utama. Candra membawa belasan bungkus tembakau dari hasil uang patungan. Setengah dari uang patungan merupakan dana dari Reira. Kadang, Reira terlalu baik karena telah rela menyumbang untuk itu.


Handphone-ku berdering ketika aku menyeruput kopi pagi. Sepenggal nama Fasha membuatku bergeming. Tidak sedetik pun selama ini terlintas nama itu lagi. Tepat di pagi hari ini, semua masa lalu seakan kembali masuk. Lembah hati yang dulu pernah ia ukir kembali berdenyut pedih. Sudah kupaksa inti jiwaku untuk tidak berkata benci dan memendam dendam. Sakit itu akan terus terasa entah sampai kapan. Pedih rasanya ketika mengingat lagi detik-detik ucapan Fasha untuk tetap memilih pria yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya.


Kudengar suara merdunya dari balik handphone. Nadanya selalu rendah, menjaga agar tidak melebihi suaraku.


"Bisa kamu datang ke rumahku?" tanya Fasha.


Aku diam sejenak. Canggung rasanya setelah berminggu-minggu tidak berbicara denganya.


"Aku ada kerjaan hari ini, Fasha." Tanganku menjentik abu rokok yang sudah memanjang di ujungnya.


"Tolonglah. Beri aku kesempatan untuk bicara sama kamu. Ada hal yang ingin aku sampaikan. Bukannya kamu mau pergi, kan? Aku ingin ketemu sebelum kamu pergi." Nadanya sedikit memelas.


"Bukannya kamu yang dulu ngelarang aku buat ketemu? Sekarang malah kamu yang minta," balasku.


"Mohon, akan aku jelaskan semuanya, David. Setelah itu, semua tergantung keputusanmu jika tetap tidak ingin─"


Telingaku berdengung ketika pangilan kupaksa untuk dimatikan.


***