
EPISODE 120 (S2)
Tak keluar kamar aku hingga malam menanti. Retak hatiku berkat kejadian tersebut, biru jemariku karena dihantam ujung kursi oleh Kakek Syarif. Penuh penyesalan hati ini yang berharap tak aku bayangkan, tetapi terus berbayag di belakangku. Otakku kosong tak tahu berbuat apa. Tidur yang panjang hanya berubah menjadi sia-sia. Setelah itu hanya duduk meringkuk di ujung ranjang, menatapi jam yang berbunyi detik demi detik.
Kamar gelap, hanya berterangkan lampu tidur serta pencahayaan dari luar. Mawar menelponku berkali-kali, sudah pasti ia bertanya-tanya kenapa aku tak datang ke cafe. Ia memiliki salah satu kunci yang aku bekali untuknya, sehingga ia bisa membuka cafe terlebih dahulu. Aku pun beralasan jika sangat tanggung menghentikan revisian proposal dengan berjanji akan menyusul nantinya. Tetapi, pukul tujuh pun sudah lewat. Kerjaku hanya menatap kosong jam dinding.
Sekali lagi Mawar menelponku. Ragu hati berkelabu bimbang merima panggilan itu. Telunjuk biruku bergetar tatkala menyentuh layar handphone yang terpampang wajah Mawar. Sama sekali belum ia hentikan panggilan tersebut. Kepalaku semakin bersemak dibuatnya.
“Iya, Mawar. Gue lagi on the way,” ucapku. Lalu, mematikan secara tiba-tiba.
Formalitas sekali jawabanku tersebut. Daripada anak itu marah kepadaku, lebih baik aku segera bergegas ke sana. Orang yang aku maksud ialah Reira. Mawar pasti akan memberitahukan hal ini kepada Reira apabila aku tidak datang. Jangan sampai Reira datang ke rumah membawa Minerva untuk dipinta mematuk kepalaku yang gila kali ini.
Tak mandi, hanya cuci muka dan menggosok gigi. Tangaku tergerak untuk membilas rambut kemudian agar tidak terlihat kusut. Setelah seluruh badan harum, lebih tepatnya dipaksakan untuk harum, aku pergi ke lokasi menggunakan vespa kesayangan. Untung saja mataku tidak terlihat sembab, tetapi aku takut Mawar bisa melihat guratan wajahku yang sedang kacau. Sangat teliti kemampuannya mengobservasi seseorang, suatu hal yang tak mungkin bagiku menyembunyikan sesuatu.
Benar saja, sesampainya di cafe Mawar langsung menyemprotku dengan pembersih meja. Panci ia hantam ke kepalaku, walaupun itu pelan. Sangat sulit sekali menyembunyikan hati yang tengah luka, sangat mendera perasaan, menghujat idealisme kejujuran. Semakin tersenyum wajahku, semakin berderai air mata pada hatiku. Sebegitu abu-abunya di dunia ini, seakan konsep ada dan tiada itu benar-benar ada. Aku ada di dunia ini, tetapi seakan tidak ada. Aku hanya serpihan kayu yang dihembus untuk dibuang.
Tak ada rasa curiga sedikit pun dari wajah Mawar. Aku bersyukur hingga akhir jam tutupnya cafe. Penat yang kurasakan masih bisa aku bawa untuk mengikuti sifat asliku padanya. Ia terlihat lebih bersemangat hari ini kurasan, mungkin saja karena kemarin hari ia tak masuk kerja karena aku biarkan untuk menghabiskan masa cuti.
Kami pun pulang, ia terlebih dahulu aku antar ke rumahnya. Ia seperti biasa tak membawa kendaraan, sehingga Mawar memesan jasa ojek daring untuk ke sana. Aku rasa ia perlu kendaraan pribadi karena mobilitas yang cepat itu sangat penting. Tak cukup bagi seseorang ini hanya memiliki sebuah sepeda keranjang yang selalu ia pakai untuk ke kampus. Memang, Mawar punya sebuah mobil yang bisa ia pakai, tetapi tidak setiap saat karena harus menunggu saudara perempuannya tidak sedang memakai mobil tersebut.
“Reira lagi bahagia katanya,” ucap Mawar.
“Oh, ya? Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Itu karena lo, tapi dia enggak bilang alasannya apa.” Kepalanya memereng.
“Haduuh ... lama-lama gue pengen punya pacar karena sering ngelihat ke-uwu-an kalian berdua.”
Wajahku datar. “Makanya jangan banyak milih.”
“Memilih itu perlu untuk masa depan karena tidak ada tombol ke masa lalu,” balas Mawar.
“Iya, deh ... tetaplah konsisten dengan idealisme lo itu.” Aku mengengkol vespa dan berbunyi meletup-letup ketika hidup. “Gue pulang dulu.”
“Gue bakalan nyari pacar sebelum wisuda.”
“Wah, pede sekali anda mentang-mentang incaran orang, terus sudah pasti dapat pacar dengan cepat,” sindirku.
“Udah gue bilang, kalau gue mau ... gue bisa dapat pacar. Hahaha ....,” tawanya ringan.
“Suka-suka lo deh mau gimana. Yang penting, fokus aja sama skripsi lo itu.”
Ia tepuk helm belakangku hingga berbunyi keras. “Harusnya gue yang bilang begitu. Udah, pulang sana!”
“Daah ....”
Baru sepuluh meter kira-kira aku pergi, dirinya berteriak padaku, “Gue terima jasa skirpsi!”
*******!
Angin yang kuterpa menjadi sarana untuk berpikir. Berbicara malam yang sunyi padaku, merujuk pada risalah hati yang sedang aku rasakan. Renungan itu membuatku terhenti pada sebuah rumah mewah berpijar lampu terang dari jauh, paling besar di antara rumah-rumah yang ada di sekitar. Vespaku mati di hadapan gerbang, sementara itu aku sentuh gerbang dingin rumah itu.
Tatapan aneh keluar dari security yang menyenterku dari kejauhan. Tatkala ia mulai mengenali wajahku, ia tersenyum lebar sembari berlari mendekat.
“David, ke mane aje lo kaga pernah ke sini lagi?” Logat betawi itu kental sekali di telinganya.
“Biasa, Bang ... semedi. Fasha ada?” tanyaku.
“Fasha ada di dalam. Masuk aja, kaya pertama kali masuk ke sini.”
Beliau membukakan gerbang untukku. Sementara itu, vespa butut itu diparkirkan di samping pos security. Abang security tersebut sangat mengenali diriku karena sejak SMA aku sudah sering ke rumah Fasha untuk mengerjakan tugas bersama-sama. Tidak luput pula diriku yang diterima oleh kedua orangtua Fasha sebagai teman anak kandungnya itu, walaupun aku tidak sering bertemu dengan mereka. Setidaknya, mereka tahu bahwasanya aku adalah teman dekat dari Fasha sendiri.
Jalanku lambat menuju pintu rumah perwira polisi pangkat tinggi ini. Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Terakhir kali aku ke sini ialah tatkala memberitahukan Fasha bahwasnaya aku dan rombongan akan berlayar ke Manggar. Di saat itu pula aku mendengar kabar bahwasanya Fasha yang sedang mengandung.
Pesan singkat sudah aku kirim semenjak aku di muka gerbang. Beruntung wanita itu membacanya dengan cepat. Fasha berdiri di teras rumah, menantiku yang penat sehabis bekerja. Jikalau jalan kami lurus bersama-sama, akan setiap malam akan aku jemput dia seperti ini. Namun, Fasha sudah lebih dahulu bersama orang yang tepat untuknya.
Riang wajah Fasha menatapku. Gempal tubuhnya yang berdiri itu, pipinya melebar daripada yang aku lihat sebelumnya di cafe.
Tanpa diduga, Fasha melebarkan tangannya.
“Peluk gue,” ucap Fasha.
Memang, sebelum semuanya biasa-biasa saja, aku tak pernah ragu ketika Fasha tiba-tiba meminta untuk dipeluk. Namun, kali ini aku ragu dan bimbang untuk melakukannya.
“Papa lo bakal nembak gue jika gue lakuin itu,” balasku sembari tersenyum. Aku ganti pelukan itu dengan sentuhan lembut pada perutnya.
“Kenapa ke mari?” tanya Fasha.
Dahiku mengernyit. “Apakah itu aneh?”
Fasha tersenyum seraya mengacak rambutku. Momen ini seakan menyedotku ke masa lalu.
***