Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 94 (S2)



EPISODE 94 (S2)


Aku rasa Kakek Kumbang telah membesarkan anaknya dengan cara tidak biasa. Ia tak beribu semenjak kecil, meninggal ketika melahirkan Bu Fany. Hidupnya semenjak kecil yang susah itu pun tak berasal dari ****** susu ibu kandung, melainkan dari adik dari Kakek Syarif yang bersedia menyumbangkan air susu kehidupan itu dengan harapan Fany kecil bisa besar dengan baik. Ternyata tantangan semenjak kecil pun tak berhenti di situ. Beliau menghabiskan sebagian besar kehidupannya untuk mengarungi laut bersama ayahnya sendiri, menyelami badai di kegelapan, serta jerih lapar yang ditahan melalui tawa ketika hidup miskin harus dijadikan teman.


Tidak pernah tahu aku apakah Bu Fany menyelesaikan bangku sekolahnya, karena lembaran cerita masa lalu itu hanya diceritakan hingga Bu Fany beranjak SMP di Manggar. Kisah hati Pak Milsa bersama gadis kumal yang tak ingin diam itu pula yang membawaku mengetahui cerita tersebut. Namun, Kakek Syarif berkata bahwasanya tak perlu sekolah untuk bisa mengelilingi dunia. Sekolah hanyalah ilmu sebatas buku, menurutnya. Jika kita melihat lebih luaslagi, alam ternyata melebihi dari lembaran-lembaran halaman pada buku itu. Hanya saja, ia tetap menekankan kami untuk melanjutkan sekolah.


Percaya tidak percaya, apa yang dikatakannya pun benar. Ada banyak orang yang bersekolah, ternyata tidak mendapatkan apa-apa selain menghabiskan harta orangtua yang didapat dari menjual kebun demi anaknya sekolah. Maka, yang dapat aku simpulkan ialah jadilah orang yang belajar di mana saja. Alam dan buku sangat berguna disandingkan berdua sebagai media pembelajaran. Oh, jangan lupa pula tentang pengalaman. Reira menekankan sekali hal tersebut.


Aku melihat tersebut dari sossok Bu Fany yang mempelajari banyak hal. Orang sekarang hanya melihat Bu Fany sebagai sosok cantik yang kaya raya, tanpa pernah tahu bahwasanya ada serangkaian proses pelik yang pernah dirasakan. Jikalau proses itu diibaratkan sebagai lintasan, maka bisa aku bilang lintasan tersebut penuh dengan duri-duri yang menusuk. Namun, itu pula yang membawa Bu Fany ke masa sekolah, melahirkan dua anak yang sama luar biasanya.


Percakapan kami bersama Pak Dadang berlanjut. Ia berkata bahwasanya masa bekerjanya bersama keluarga Pak Bernardo itu hanya bertahan hingga mereka bercerai. Sangat sedih dikatakan oleh Pak Dadang mendengar berita terdapat rencana perceraian antara Pak Bernardo dan Bu Fany, mengingat ia selama ini bisa hidup bersama mereka berdua. Ia seakan kehilangan arah lagi dan tidak ingin membayangkan bagaimana hidup ia dan keluarganya setelah itu.


Hal yang dikhawatirkan pun tiba. Sepesang suami istri tersebut resmi bercerai. Pak Bernardo melepaskan apa saja yang berasal dari Bu Fany, termasuk supir pribadinya yaitu Pak Dadang itu sendiri. Yang tidak ia lepas hanyalah kedua anaknya yang berharga. Ia memenangkan hak asuh atas Reina dan Reira.


Pak Dadang diminta pulang kampung oleh Bu Fany. Sangat sedih Pak Dadang mendengar berita tersebut. Ia meminta dipekerjakan apa saja oleh Bu Fany, asal masih bersama dirinya. Namun, di sana pula letak sifat kemandirian Bu Fany yang tak ingin memiliki pembantu maupun seorang supir. Bu Fany berjanji memberikan modal uang untuk membuat sebuah kolam ikan yang dijadikan oleh Pak Dadang sebagai penyambung hidup hingga saat ini. Permintaan maaf lainnya ialah dengan menyekolahkan kedua anak Pak Dadang hingga selesai dari perguruan tinggi.


Berkat kebaikan hati Bu Fany, ia pun mengelola kolam ikan itu hingga sekarang.


Kedua anaknya pun sudah lepas darinya, memiliki pekerjaan tetap, dan sudah berkeluarga. Satu anaknya bekerja sebagai guru PNS di Kota Bandung, dan anak bungsunya kini merupakan PNS di Departemen Agama Kota Jakarta. Tak ada beban lagi bagi dirinya. Ia pun tak berharap kedua anaknya itu memberikan uang bulanan setiap bulan. Ia lebih memilih hidup sederhana di rumah lama itu―direnovasi oleh kedua anaknya―lalu sepiring berdua dengan kekasih setia yang selalu menemaninya.


“Nah begitulah kira-kira cerita saya bersama Bu Fany. Itulah kenapa sampai saat ini saya masih memilih bekerja untuk Bu Fany, walaupun sebagai penjaga villa-villa.” Pak Dadang menghabiskan sisa kopi hitamnya.


“Jadi, villa Bu Fany enggak cuma ini, dong?” tanyaku.


“Iya, benar. Ada tiga buah terletak di tempat yang berbeda. Enggak terlalu jauh. Kalau ketiganya dipakai, saya ngajak pemuda yang nganggur buat ikut jagain. Lumayan buat uang rokok mereka. Tapi, kalau lagi kosong villa-nya, saya yang setiap sore ngecekin atau bersih-bersih.” Ia berdiri dari sofa tersebut.


“Semuanya udah tersedia. Di kulkas sudah ada bahan makanan yang cukup buat tiga hari. Ada ayam, ikan dari kolam saya, kepiting, kerang, apa pun ... terserah kalian mau masak apa. Kalian bisa juga bilang ke saya kalau enggak bisa masak, istri saya akan ke sini.”


Aku menepuk pundak Mawar. “Tenang, Pak. Ada koki muda terhandal satu Kota Manggar.”


“Haha ... apaan, sih?” Ia mengalihkan pandangannya.”Baik, Pak. Saya akan masak sendiri. Nanti, saya masakin juga buat bapak.”


“Terima kasih, tapi saya siang ini makan di rumah. Nanti malam saya nginap di sini, nah saya mau nyobain makanan kamu,” balas Pak Dadang. Beliau memasang kembali jaket kulit hitam miliknya. ”Saya pergi dulu mau ngurusin kolam. Selamat menikmati fasilitas villa. Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam,” balas aku dan Mawar bersamaan.


Pak Dadang pergi dengan motor ladang miliknya tersebut. Tinggallah aku dan Mawar yang menyuntuk di villa besar ini. Aku hanya menghabiskan waktu dengan memainkan game yang aku unduh ulang melalui wifi yang tersedia. Tak rugi pula aku menyetok berbungkus-bungkus rokok untuk dihabiskan dua hari ini. Aku rasa libur seperti ini sangat cocok untuk menikmati suasana dengan sebatang candu.


Telingaku berdiri. Bunyi alat-alat masak terdengar dari dapur. Tepat sekali aku menyelesaikan satu babak permainan perang ini, lalu melangkah ke dapur. Terlihatlah Mawar sedang memakai celemek masak, bertarung di hadapan wajan penggorengan. Tangannya lihat memegang spatula dan mencoba menimbulkan api yang menyambar di atas panci, persis seperti aksi spektakuler koki-koki di televisi. Ia sama sekali tidak menatapku yang duduk di meja makan, terlalu fokus dengan aktivitas yang sedang dilakukan.


Wanita itu berganti kostum rumahan dengan kaos tipi dan hotpant di atas setengah paha. Tersingkaplah jenjang kaki Mawar yang panjang lagi bening itu. Jikalau aku bawa Candra ke sini, aku sudah tahu arah pembicaraan kami. Aku pun begitu, sejenak aku tak mengalihkan pandangan dari kemolekan tubuh Mawar. Namun, perhatianku teralihkan oleh sambungan telepon dari Reira.


“Bagaimana? Kalian udah ketemu Pak Dadang?” tanya Reira.


“Sudah ... sekarang kami udah di dalam villa. Sumpah, ini villa gede banget. Lo enggak pernah bilang kalau mama lo punya villa segini kerennya,” balasku.


“Buat apa juga gue ngasih tahu. Lo itu orang yang lebih memilih tinggal digubuk kayu, daripada rumah bertingkat. Jadi, kalian lagi ngapain?”


Aku memandang Mawar yang tengah menoleh padaku. Ia pasti penasaran dengan percakapan yang kami lakukan.


“Gue abis main game, sekarang duduk di dapur sambil ngelihatin Mawar masak.”


“Jangan jelalatan, ya! Gue tahu Mawar lebih sexy daripada gue.” Suaranya meninggi di akhir. Terdengar pula beberapa orang yang sedang bercakap di sekitarnya.


“Apaan, sih? Iri banget!” Aku tersenyum. “Jadi, lo lagi di mana? Ramai tuh di sana.”


“Bengkel Dika,” balas Reira singkat.


“Ngapain?” tanyaku.


“Main domino, dong. Di sini ada Bang Ali juga. Mereka enggak pernah menang lawan gue sama Bang Ali. Cemen ah Dika sama karyawannya. Besok-besok lo sama Dika harus bisa menang lawan gue sama Bang Ali!”


“Hahah ... satu orang cewek yang gue kenal pandai main domino. Lawannya yang udah berpengalaman pula. Parah!”


“Hahaha ... sampai nanti, ya. Gue enggak sabar Dika kalah taruhan. Love you ....”


“Jangan berjudi―”


Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh wanita itu. Parah sekali Dika mengajak Reira bermain judi domino. Tentu saja Reira merasa tertantang jika Dika mengajaknya begitu. Anak itu sangat pantang diremehkan, selalu punya ambisi mengalahkan.


“Lo pandai main basket?” tanya Mawar tiba-tiba.


“Sedikit, sih. Waktu SMA pernah main basket, walaupun cadangan buat tim kelas. Gue terlalu pendek buat main basket. Tapi, jangan remehin gue kalau main futsal.”


“Ajarin ....”


Ia meminta diajarkan oleh orang yang salah.


***