
EPISODE 25 (S2)
Tak akan kau temui seorang wanita yang ingin menganggu tenangnya seekor buaya di malam hari, kecuali kau pergi ke Manggar sekarang juga. Tepat di belakangku, ia mencengkram kuat pundakku yang rapuh berkat hentak telapak tangannya agar aku segera menarik gas motor King tua.
Berangkatlah kami memenuhi keinginan gila yang entah sejak kapan ia rencanakan. Aku rasa ia sudah berkompromi dengan Razel dan Razel pun mau saja dibodohi oleh wanita licik ini. Tidak hanya dia, kami semua masuk ke dalam lingkar cerita haluan malam panjangnya itu. Ia ingin kami merengkuh malam bersama-sama, memacu adrenalin, mengucap hujatan, serta asam manis yang akan kami rasakan di sana.
Berbicara mengenai wanita, sebenarnya terbuat apa wanita itu?
Benarkah wanita terbuat dari tulang rusuk pria menurut dogma samawi yang selama ini kalian dengar? Atau masih kokoh pendirian tercipta dari tumpahan air kehidupan yang menjalar di bawah perut seorang Ibu di malam hari. Jika wanita tercipta dari tulang rusuk yang paling bengkok, maka wanita akan selalu di bawah langkah seorang pria yang pada dasarnya ia akan kembali ke sana. Aku melihat wajah Reira kali ini gelapnya kaca spion motor. Aku rasa ia tercipta dari tulang rusuk yang tak bersengketa mengenai kepemilikan, independen tercipta dari Tuhan, hanya untuk dirinya. Maka sebagai konsenkuensinya, ia berjalan kokoh di dalam pendirian yang ia rangkai sendiri.
Beratus tahun yang lalu dunia mencatat sejarah mengenai perempuan. Kaum humanis menyadari bahwasanya ada hal baik yang melekat pada manusia, tak melulu mengenai dosa dan pembalasan atas dosa-dosa insan manusia di bawah doktrin serta dogma gereja. Eropa memulai pergolakan pertentangan mengenai sisi keunikan humanis yang bisa dioptimalkan pada setiap orang. Hingga para perempuan pun menuntut hal yang sama, tercipta aliran pemikiran feminisme. Momentum abad ke sembilan belas pun mempopulerkan istilah ini.
Budaya ratusan tahun mengekang perempuan untuk tampil dominan di permukaan. Selalu berjalan di bawah bayang-bayang patriaki yang tak pernah usai. Bayangkan saja sudah berapa perempuan yang mati terhunus pedang di jantungnya ketika janda-janda yang sendirian di rumah dianggap sebagai penyihir di daratan Eropa. Ratusan tahun perempuan terkekang tak lebih dari lingkup ruang dapur dan berakhir dalam senggama kamar, tanpa pernah tahu betapa asyiknya pena yang berdenting di meja kelas. Namun, berkat pejuang feminisme semua itu pun berubah. Berujung kepada hidupnya semangat pergerakan keperempuanan atas dasar persamaan hak untuk dapat mengaktualisasikan diri.
Aku rasa Maslow―seorang tokoh humanis Eropa―tidak meletakkan kebutuhan dasar tingkat tertinggi pada aktualisasi diri berdasarkan ia perempuan atau tidak. Semua manusia dengan gender apa pun berhak mencapai aktualisasi diri, mengembangkan sebuah kemampuannya dengan optimal. Reira tak pernah melihat batas-batas yang mengekang pendahulunya ratusan tahun yang lalu. Ia menghancurkan batas-batas itu untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia bagian dari eksistensi. Ia ada dan nyata, tanpa mata yang tertutup, telinga yang terhambat, serta napas yang bebas menghirup udara kebebasan sejauh mungkin.
Perempuan bisa melakukan hal yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh para pria. Anatomi rangka tubuh pria tidak akan pernah mendukung kehamilan, sehingga ia akan mati apabila benar-benar bisa mengandung. Pria tak akan pernah sanggup menanggung nyeri haid tiap bulan, padahal wanita merasakannya sembari menyediakan seluruh kebutuhan pria tatkala ia pulang dari bekerja. Aku rasa perempuan pantas mendapatkan tempat tertinggi di spritualitas dunia, pencarian makna hidup yang sebenarnya. Kita harus mengingat bahwasanya kehidupan kecil di dunia ini berasal dari sentuhan lembut tangan seorang wanita.
Reira menuntun jalan pikiranku ke sana tatkala ia kembali mengajariku tentang kebebasan itu. Ia tak akan pernah padam, walaupun seringai buaya nanti menanti untuk menerkamnya.
Malam hari kota Manggar masih ramai di jalanan. Toko yang tak pernah mati hanya itu, yaitu kedai kopi dan hentak tawa bapak-bapak yang masih bertahan hingga tengah malam. Di jalanan yang gelap, mataku mengikuti arah jalan yang ditunjukkan dari Razel. Anak itu yang membawa motor. Candra mana bisa membawa motor kopling. Aku pun tak ingin mereka terjungkang akibat Candra memaksa untuk membawanya.
Terlintas ban motor kami pada sebuah jembatang besi yang gelap. Sekitar sepuluh meter setelah melewati jembatan, motor Razel bergerak ke arah kiri. Kami pun turun menuju jalan tanah yang di kiri dan kanannya terdapat semak setinggi lutut. Gelapnya jalan masih bisa kami hadang berkat pencahayaan motor, walaupun tanah dihiasi oleh cekungan becek yang memercik tatkala kami lewati.
Kami berhenti pada sebuah rumah kayu kecil di ujung jalan tanah ini, tepat belasan meter dari tepian sungai.
“Rumah siapa, Razel?” tanyaku tatkala ia mematikan mesin motor.
“Kenalan bapak, kita harus menyewa pondok kayu di tepi sungai biar bisa baring-baring,” balasnya. Anak itu turun dari motor dengan mengangkang.
“Berapa biaya sewanya?” tanya Reira.
“Cukup uang rokok sebungkus pun enggak apa, Kak. Bapak tua itu pun enggak mematok harga.” Ia mulai melangkah ke depan pintu.
Beberapa kali ia ketuk pintu rumah sembari menyebutkan kata 'Pak Cik'. Kami cukup beruntung, tidak lama kemudian berbunyi gagang pintu yang dibuka dari dalam. Terlihat bapak tua bersinglet dengan bawahan masih bersarung yang menghembuskan asap rokok tepat pada wajah Razel. Anak itu pun mengibaskan tangannya untuk melihat wajah orang yang dipanggil tersebut.
“Siape ni?” tanya bapak itu.
“Pak Cik ... ini aku Razel, anak Pak Syarif.”
Matanya memicing melihat Razel yang lebih tinggi darinya. “Tunggu sekejap, ye ... macam hantu aku lihat muka kau jike tak pakai kacamate. Datar ....”
Mendengar Razel dikatai mirip hantu, membuat kami menahan tawa di luar pekarangan. Aku menepuk lengan Reira yang suara tawanya hampir menggelegar.
Bapak tua itu pun kembali di muka pintu.
“Wah, kau Razel ... aku kira siape? Kapan kalian di sini? Mane bapak kau?”
“Oh ... Bapak di dermaga Pak Cik. Kami mau memancing. Pinjam pondok dululah,” ucap Razel.
Gerakan tangannya seperti bergerak seakan mengusir kami. “Ah ... pergi saje. Hidupkan lampu, mancinglah selame yang kalian mampu.”
“Berape, Pak Cik?” tanya Razel.
Bapak tua itu tertawa, suaranya terdengar berat. “Hahah ... ape maksud kau ni? Macam orang baru kenal saje. Pakai sajelah, bawakan aku ikan yang cukup buat makan kami besok siang.”
“Wah, segan aku Pak Cik. Berape harage rokok Pak Cik, tu?” tanya Razel kembali.
Ia memutar balik tubuh Razel dan mendorongnya keluar teras. “Dah, pergi mancing sana! Syarif itu dah aku anggap adek aku.”
“Waduh ... yaudahlah, Pak Cik. Selesai memancing, kami bawakan ikan untuk Pak Cik.”
“Iye ... hati-hati, kemaren dah nampak buaye. Jangan main ke dalam air kalau malam-malam. Kalau nak buang air, pergi ke kamar kecil kayu di sana.”
“Baik, Pak Cik. Kami ingat itu.”
Kami tersenyum kepada bapak tua itu tatkala ia mengantarkan Razel keluar pekarangan. Sembari menyapa, kami pun turut mengucapkan terima kasih atas kebaikannya malam hari ini. Kami pun bisa memancing dengan nyaman di sana dengan sebuah pondok peristirahatan untuk berbaring. Mumpung di dalam kantung celanaku masih terdapat sebungkus rokok yang segelnya belum dibuka, aku menyelipkannya di tangan Razel.
“Kasih ke bapak itu. Ini rokok gue. Candra bawa banyak tuh, kalau habis tinggal beli nanti,” ucapku pada Razel.
“Oke, Bang.”
Razel kembali melangkah ke arah bapak itu yang mulai melangkah kembali ke rumah. Tampak wajah terkejutnya yang masih menolak pemberian dari kami. Namun, Razel memaksanya untuk mengambil rokok tersebut.
“Terime kasih ... lumayan untuk ke ladang besok,” ucapnya.
Motor kembali kami bawa di tanah setapak berbecek. Terpaksa Reira dan Candra berjalan hingga sampai tempat tujuan. Ternyata tidak terlalu jauh, sebentar saja kami tiba pada pondok kayu yang dimaksud oleh Razel. Tepat berada di tepian sungai yang berbatas sebuah tepian pasir. Ban kami berjejak pada butiran pasir itu, hingga berhenti di samping pondok. Sementara itu, Reira dan Candra masih berjalan di belakang. Aku harap Reira tidak mengerjai anak itu.
Seluruh peralatan pancing diletakkan di atas pondok, lalu Razel berusaha menciptakan cahaya api dari bongkahan kayu bakar yang masih tersisa. Api tersebut bisa kami gunakan untuk memasak air, menyeduh mie instan, dan berkopi ria. Untung saja Razel cermat dengan kebiasaan mengopi kami, sehingga ia mencuri setoples kopi serta gula dari kapal Leon. Tentu saja Kakek Syarif akan kebingungan di dapur utama tatkala melihat tidak ada lagi kopi untuk menikmati malam.
Cemas aku lihat dari tenangnya air muara sungai yang gelap gempita. Hanya sesekali terdengar riak air dari sentuh mulut ikan ke permukaan. Aku was-was apabila terdengar riak air yang lebih besar, apalagi timbul seperti sebongkah papan yang mengapung, lalu hilang tiba-tiba. Sudah dipastikan itulah makhluk yang diincar oleh Reira sekarang.
Aku rasa makhluk prasejarah itu sebenarnya tidak ingin diganggu, namun Reira malah melakukannya. Alasannya hanya untuk membuktikan bahwasanya buaya itu ada.
Gemeretak kayu bakar yang disulut api menghiasi suasana redup. Razel masih bertahan berjongkok untuk memastikan api telah berkobar dengan sempurna.
Aku lihat sekelilingku, ternyata ada aliran cok sambung listrik yang tertempel pada kayu penyangga. Reira lebih dahulu bergerak dan menyambar salah satu lubang cok untuk mengecas handphone, sekaligus menyambungkan aliran lampu. Teranglah sekitaran kami, termasuk dengan jelas melihat wajah Candra yang mulai mengantuk. Padahal, hari belum terlalu jauh menyentuh tengah malam.
“Nah, begini kan terang. Tinggal lempar umpan dan tunggu di sini sambil baring-baring,” ucap Razel sembari meluruskan punggungnya di atas permukaan kayu.
“Serem banget malam-malam di sini,” sambung Candra. Ia melihat ke sekitar.
Benar adanya, tidak ada satu pun bangunan kecuali pepohonan gelap dan remang semak yang mengelilingi. Cahaya hanya dia, dari pondok ini dan lampu rumah Pak Cik yang mengizinkan kami untuk menggunakan pondok. Namun, hal itu tidak menjadi halangan bagi Reira untuk menjalankan aksinya.
“Kalau mau rame, di kolam pancing aja, Bang. Hahaha ...,” sindir Razel. Tangannya menyambar rokok di hadapan Candra. Tanpa ragu dan tanpa bimbang―selagi tidak lagi bersama Kakek Syarif―ia langsung menyulutnya.
“Hai anak muda, jangan remehkan skill memancingku.” Candra berlagak sombong.
“Tapi beneran ada buaya di sungai ini?” tanyaku pada Razel.
Anak itu pun mengangguk. “Benar, udah beberapa kali dilihat warga.”
“Kalau tiba-tiba dia naik bagaimana?” tanyaku balik.
“Ah, lo penakut banget. Buaya enggak akan nyerang kalau kita enggak ganggu. Bismillah aja dulu,” jawab Reira spontan.
“Lo itu kenapa bisa-bisanya bawa ayam, trus pengen mancing buaya, sih?” Candra menoleh pada Reira.
“Hahah ... masa gue kalah sama Mama yang pernah ngeganggu buaya.”
“Nah, kita menganggu buaya. Bisa aja dia naik dan narik Candra ke sungai,” balasku sambil menyinggung siku Candra.
Reira mendorong Candra seraya tertawa.
“Kalau anak ini, silahkan ... gue rela, kok. Hahaha.”
“Anak set―”
Kalimatnya dibuat berhenti tatkala aku menepuk dahinya.
“Jaga mulut kalau di tepi sungai. Terkadang ada hal-hal yang harus dihormati di sini.”
“Oh, iya ... maap.” Candra mengelus dadanya.
Tangan kami mulai memilin umpan pada kail pancing. Sebagai orang yang jarang memancing, aku pun meniru teknik yang sedang dilakukan oleh Razel. Memang, aku punya satu set alat pancing lengkap sepeninggalan Rio yang sangat hobi memancing, tetapi sayangnya aku tidak pernah menyentuhnya dan dibiarkan berdebu di gudang. Hanya sesekali digunakan Dika apabila sesekali memancing bersama teman-temannya.
Reira tidak perlu diajari lagi, anak itu sudah seperti anak sungai yang besar di perkampungan. Tentu saja bukan hal asing lagi baginya tentang yang seperti ini. Bahkan, ia membantuku untuk meletakkan umpan yang benar.
“Kalau kaya begini, umpan lo langsung lepas kalau nyemplung di air,” kritik Reira. Ia mengambil alih kail pancingku dan membantu memperbaiki letak umpan yang kubuat tidak beraturan.
“Namanya gue cuma mancing di game. Mana pernah kaya begini,” balasku.
“Hmm ... lo harus sering-sering pergi sama gue setelah pulang ini.” Reira memberi ujung kail padaku.
“Terserah lo mau bawa gue ke mana, asalkan jangan ke bulan karena itu mustahil.”
“Oke, besok gue daftarin kita berdua ke peserta seleksi astronot.”
Aku lihat Candra yang kesal memasang wajah datar mendengar kalimat itu.
Setelah masing-masing dari kail pancing diberi umpan, sudah waktunya kami untuk melemparkan kail itu ke permukaan sungai. Reira maju duluan dengan segenap tenaga memasang ancang-ancang agar kailnya melaju jauh ke sana. Aku ambil giliran terakhir agar melihat cara mereka melemparkan kail pancing. Kail aku pun melaju ke depan dan mengambil posisi di antara punya mereka. Sengaja untuk mengambil jarak yang jauh pada masing-masing kail yang kami kendalikan agar tidak saling bersentuhan satu sama lain nantinya.
“Lah, kalau kita enggak tungguin di sini, bagaimana kita tahu kailnya dimakan ikan?” tanyaku.
“Hahah ... kan dipangkal pancing yang Abang pegang ada lonceng. Kalau dimakan ikan umpannya, loncengnya bakalan bunyi. Ini bukan pancing kayu buat anak SD mancing di comberan.” Razel mengambil kayu untuk menyangga pancing.
Aku lihat di bawah sana, Terdapat hampir satu meter ke bawah hingga kami menyentuh permukaan air. Sedikit saja aku terpeleset ke bawa, basah sudahlah badanku tenggelam di sana.
“Oh, begitu, ya. Oke, kita tunggu aja di pondok.”
Reira bergerak mengambil ayam yang ia bawa, lalu aku lihat tali yang cukup tebal ia bawa menuju tepian. Tangannya lihai mengikat ayam tersebut agar tidak lepas ketika dijadikan umpan. Reira sedang mode gilanya kali ini. Hanya saja kegilaannya ia limpahkan padaku.
“Lemparkan ayam ini ke sana, sejauh mungkin! Gue mau menancapkan penahannya.”
Terdapat sebuah kayu tancapan yang sedang Reira pegang. Perlahan tangannya pun mengikat tali tersebut ke sana.
“Buat apa kayu sanggahan?” tanyaku.
“Oke, lo yang megang tali ini hingga buaya menerkam umpan. Trus lo diseret ke sungai,” balasnya dengan sinis.
“Gue paham. Sini gue lempar.”
Ayam melayang ke sungai cukup jauh. Berbunyi cemplungan ayam di sana dengan jelas. Sementara itu, Reira sekuat tenaga menancapkan kayu agar menjadi tanda apabila buaya telah mengambul umpan tersebut.
Akankah kami melihat buaya malam ini?
Aku harap ia tersenyum dengan tenang, lalu pergi menjauhi tepian.
***