
EPISODE 168 (S2)
Reira kembali menghilang setelah menunjukkan eksistensinya di dalam berita nasional. Statusnya kini sebagai saksi atas kasus narkoba Nauren karena dirinya tidak terbukti memakai narkoba. Ia hanya didapati berduaan di kamar hotel sewaktu pemeriksaan. Anehnya di negeri ini perzinahan bukanlah sebuah kriminalitas, apabila dilakukan atas dasar suka sama suka. Oleh karena itu, konteks ditemukan sepasang kekasih non-menikah di hotel tidak pernah dibawa dalam ranah hukum, kecuali terjadi unsur-unsur pemerkosaan di dalamnya. Setelah dirinya membuat geger, Reira kabur dari rumah dengan meninggalkan sebuah surat.
Hobinya memang menghilang. Entahlah, jikalau kau menyebutkan ada sebuah hobi yang aneh, maka aku prioritaskan hobi menghilang di jajaran pertama. Sudah berapa kali di dalam hidupnya menghilang tiba-tiba, lalu kembali lagi ketika momen tidak terduga menjamah realitas. Namun, kini masih belum jelas ujung pangkalnya. Yang jelas, Reira sudah memutuskan untuk pergi dari rumah, tanpa ada jelas tujuannya.
Jika aku menebak, ia hanya ingin melarikan diri dari semua masalah ini. Mungkin semuanya paham bahwasanya Reira merupakan seseorang yang berorientasi menghadapi masalah, percayalah semua itu ada batasnya. Ini bukanlah kasus yang ringan, meskipun dirinya turun menjadi status saksi, alias tidak akan disentuh oleh pidana.
Aku tidak tahu apakah dirinya berperan dalam mendapatkan narkoba, dari penjabaran Kak Reina bahwasanya Reira sama sekali tidak mengetahui Nauren membawa narkoba di sana. Reira pun tak bisa melarang kekasih barunya itu, oh maaf ... kekasih lamanya itu untuk menikmati sepaket sabu di malam itu.
Hatinya memang tegar, tetapi sudah banyak faktor yang mungkin saja membuatnya tertekan. Siapa yang tidak malu ketika wajahnya bertebaran dalam portal berita online maupun cetak. Semua orang di kampus tahu tentang berita itu dan pasti tidak menyangka subjek yang terlibat merupakan Reira sendiri. Warga kampus hanya tahu wanita itu sebagai mahasiswa yang kritis, tanpa pernah ada embel-embel yang menjerumuskan. Meskipun ia pernah terlibat dalam masalah hukum, hal itu masih dalam konteks mempertahankan pikiran kritisnya itu. Tak pernah dirinya terlibat dalam kriminalitas untuk mementikan diri sendiri.
Tekanan tentu saja didapati dari figur orang yang ada di belakangnya. Pak Bernardo dan orangtua lelaki Nauren merupakan bakal pasangan calon gubernur. Tak ada satu pun warga di provinsi ini tidak tahu wajah mereka karena bertebaran di baleho-baleho tepi jalan, diusung oleh partai paling banyak korupsi. Berita politik pun ikut membicarakan tentang mereka berdua atas kasus anak-anaknya.
Entahlah nanti malam akan terjadi pembahasan itu di berita tv, berdebat satu sama lain bahwasanya tidak ada urusan antara kasus pribadi anak dan popularitas publik mereka. Menurut pribadiku, tentu saja sangat berpengaruh untuk mereka berdua.
“Reira memang sering menghilang, dan ini udah Kakak pastikan sekarang ini Reira benar-benar kabur?” tanyaku sembari menyetir.
“Iya ... surat Reira itu tertuliskan kalau dia minta maaf karena memalukan keluarga. Dia enggak mau jadi beban atas keluarganya sendiri. Pada akhirnya, Reira kabur dari rumah.” Ia menoleh padaku kemudian. “Lo mau bawa gue ke mana?”
“Ke rumah kalian, maksud gue rumah Bu Fany.”
“Kenapa?” tanya Kak Reina.
“Lo enggak tahu Reira punya pistol revolver milik Kakek Kumbang? Gue khawatir dengan pistol itu.”
Wajahnya berubah ekspresi. Matanya membesar dengan pupil yang tegang. “Apa?! Apa gue enggak salah dengar?!”
“Reira yang nunjukin itu sama gue. Gue khawatir karena ... waktu itu Reira pernah bilang kalau salah satu peluru di sana untuk papanya, lalu yang terakhir untuk dirinya sendiri. Gue enggak tahu apa Reira lagi bercanda karena Reira selalu bercandanya kelewatan.”
“Adek gue enggak mungkin menembak orang lain, atau dirinya sendiri!” Kak Reina menghentak dashboard.
“Lo bilang dulu kalau jangan anggap setiap kata Reira itu merupakan hal sepele bukan? Gue masih berpegang teguh dengan itu.”
“Sialan! Dasar!” kesal Kak Reina.
Sesampainya di halaman belakang rumah Bu Fany, kami bergegas masuk ke dalam rumah. Rumah ini sudah sebulan tidak ditinggali olehnya karena Kak Reina sendiri berpindah-pindah kota untuk pegelaran fashion. Produk bentukannya itu terpilih sebagai peserta pegelaran fashion. Oleh karena itu, ia sama sekali tidak tahu kejadian antara diriku dan Reira. Puncaknya, Kak Reina bergegas meninggalkan pekerjaannya itu untuk melihat keadaan adiknya di kantor polisi.
Seakan tidak punya pemilik, aku masuk menyelonong sembari berlari ke lantai dua. Kamar Reira aku dobrak karena dikunci. Namun, tubuhku terlalu mungil untuk menghantamnya.
“Reira kabur di rumah ini atau di rumah yang satu lagi?” tanyaku sembari memegangi bahu yang nyeri.
“Kami di rumah Pak Bernardo. Gue sama sekali enggak ada nginjak rumah ini. Untuk pertama kalinya semenjak bertahun-tahun gue bisa tidur di sana.”
“Ambilkan sesuatu yang bisa ngancurin kuncinya.”
Kak Reina ke bawah terburu-buru, lalu balik dengan membawa linggis besar berkarat. Aku segera menancapkan linggis itu di gagang pintu Reira. Dengan berusaha penuh, akhirnya gagang pintu itu tanggal. Aku tinggal menghancurkan bagian dalamnya.
“Terbuka juga,” balasku.
“Ini bukan waktunya becanda!” Aku membuka pintu kamar.
Satu tempat pertama yang aku lihat ialah laci meja Reira yang biasa ia gunakan untuk menyimpan pistol tersebut. Sungguh yang aku khawatirkan terjadi, pistol revolver itu tak lagi ada di dalam sana. Laci itu kosong melompong, hanya alur kayu laci yang bisa aku tatap. Aku pun terduduk di atas ranjang sembari memegang kepala. Rasa frustasiku pun muncul. Ini benar-benar gila jika Reira mengiyakan kalimatnya waktu itu. Aku tak ingin satu peluru di antaranya menembus tengkorak Reira.
Kak Reina lemah menatapku. Ia duduk di sampingku, lalu membelai rambutku dengan lembut.
“Lo masih cinta sama Reira?”
Pertanyaan yang paling memuakkan aku dengar pada saat ini. Tapi, aku tak bisa menafikkan pertanyaan itu sebagai fakta yang terselubung. Pikiran bawah sadarku sudah berusaha keras untuk menenggelamkan ingatan-ingatan yang selama ini terjadi. Terlalu banyak momen yang dilewati, tak mungkin bisa dilupakan begitu saja. Butuh waktu lama untuk memupuk luka untuk sembuh kembali. Mungkin saja berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau tidak sama sekali karena saking besarnya rasa yang perah tumbuh di hati ini.
Ribuan kalimat gilanya itu masih terbayang di ujung tidurku, berputar menghantuiku dalam mimpi-mimpi buruk. Ia mengerikan, sekaligus memberikanku kesegaran. Kesegaran apabila ia menunjukkan senyum itu kembali padaku.
“Gue enggak tahu,” balasku.
“Ketidaktahuan pertanda pikiran lo masih bingung untuk menjawabnya, antara iya dan tidak. Lo masih suka sama dia.”
“Bagaimana bisa gue masih suka dengan orang yang nyakitin gue kaya gini?!” Aku berteriak pada diri sendiri.
Entah kenapa, untuk beberapa waktu yang kosong, aku kembali menangisi hal yang terjadi. Telah aku kuras air mata untuk tak lagi dijatuhkan, untuk tak lagi diisakkan. Air mata itu keluar menyadari bahwasanya aku tak akan pernah benar-benar lepas untuk berdamai dengan masa lalu. Tidak akan mungkin berdamai dengan masa lalu. Mendekati kata rela saja butuh usaha keras bagiku. Semua ini tidak adil, kenapa hati ini terlalu sering dihantam oleh realita yang tidak berpihak. Sudah sekian lama aku hidup, mengapa realita sangat membenci diriku. Aku hanya sampah yang dibuang, lalu diinjak-injak oleh ruang dan waktu. Tak ada tempat bagiku untuk hidup di dunia ini, kecuali tenggelam dan berenang bersama tragedi.
“Gue ceritakan sedikit masa lalu Reira.” Ia mengambil rokok elektrik yang tergantuk di leher, lalu menghembuskannya ke depan.
“Dari kecil, Reira enggak pernah terlalu mendapatkan banyak teman karena ia selalu mendapatkan musuh. Dari mencari musuh, ia diketahui banyak orang di sekolahnya. Dari sana gue menduga salah satu faktor Reira enggak punya hubungan romantis dengan orang lain. Jujur, gue sama sekali enggak tahu siapa yang Reira pacarin atau ia sukai. Memang, pernah beberapa bunga nyampai ke rumah sewaktu masa SMA, tapi dia selalu bilang kalau masih belum menemukan orang yang tepat untuk ia sukai.”
“Ia pacaran sama Nauren, sejak lama,” balasku lemah.
“Apakah pacaran juga harus berdasarkan cinta? Lo bisa aja pacaran sama gue sekarang juga, tanpa cinta. Okelah dia memang punya hubungan dengan Nauren, tapi sama sekali dia enggak pernah bilang lagi suka sama orang. Lalu, suatu saat dia cerita kalau ada orang bodoh yang selalu nempelin kertas puisi di fakultasnya ... dia bilang cowok itu menarik. Dia bodoh, jelek, tubuhnya bahkan bisa diangkat angin, itu katanya.”
Aku menoleh padanya. “Itu enggak bakalan bisa ngerubah kalau Reira udah ngebohongin kami semua. Lalu, apa maksudnya dia kembali dengan Nauren?”
“Tunggu dulu, Dave ... lo harus ngelihat semua ini sebagai fenomena, jangan dari sudut pandang sempit. Di saat dia masih pacaran dengan Nauren, kenapa dia enggak pernah bilang suka sama orang lain? Lalu kenapa dia bilang ada cowok bodoh yang bikin dia tertarik? Temukan perbedaaannya. Lo memang orang yang dia pilih, gue yakin. Reira itu bukan anak bodoh, dia cerdas.”
“Saking cerdasnya dia, dia bisa ngebuat cerita ini semulus mungkin untuk dirinya sendiri.”
Kak Reina menarik wajahku. Kedua tangannya menekan pipiku dengan keras. “Sesuatu yang enggak pernah ia ceritakan adalah soal cinta, tapi dia cuma cerita tentang cinta, orangnya itu lo! Gue enggak tahu sesuatu di balik ini, yang gue yakini adalah Reira itu cinta sama elo, begitu pula sebaliknya.”
Aku menarik napas panjang, terlalu sulit untuk aku terima dengan logika. Kak Reina meninggalkanku sendirian untuk menangis sendirian, demi diriku tenang. Terus aku tangisi diri sendiri, mengapa aku terlalu bodoh dan lemah. Namun, tangisan tak akan menyesaikan masalah. Aku ke bawah mengejar Kak Reina dengan sebuah tekad yang aku bawa. Tekad itu telah ditanam dan dipupuk sebegitu besar hingga membuahkan semangat seorang asisten kapten kapal yang dipilih langsung oleh Reira.
Kak Reina sedang berdiri di dapur. Tangannya memegang sebotol wine dan gelas piala yang ia putar sebelum diminum. Aku menghampirinya dan mengambil alih botol wine tersebut. Seakan tidak punya hidung dan tenggorokan, aku menenggaknya langsung dari botol seakan botol itu adalah teh botolan yang biasa aku beli di minimarket. Dadaku seketika panas oleh sensasi wine premium, hingga pandanganku sedikit kabur untuk menunggu efek itu hilang. Nikmat rasanya, sekaligus pahit yang melekat cukup lama. Setelah itu, aku menghentak pangkal botol itu di atas meja.
“Ayo, kita cari Reira!”
***
Besok adalah episode terakhir dari Reira ....