
EPISODE 150 (S2)
Terakhir aku bermain lumput, mungkin saja sudah lama sekali. Itu bertahun-tahun silam lamanya tatkala singlet dan celanda pendek masih menjadi pakaian sehari-hari ketika bermain. Teman-teman yang baru beranjak remaja beradu dapas di satu lapangan, menghantam satu sama lain, aku paling belakang karena takut dipukuli. Entah apa penyebabnya saat itu kami berkelahi dengan kampung sebelah, sementara diriku hanya mengangguk ikut mereka tanpa tahu permasalahannya.
Hujan di kala bulan Juli saat itu, aku ingat sekali karena sedang liburan semester genap. Lumpur membasahi diriku, sementara itu aku sama sekali tidak mau masuk ke kerumunan. Nyaliku menciut saat teman satu per satu mundur karena kena pukul. Tubuhku kecil, tidak mungkin menang dengan tubuh mereka yang berisi. Aku hanya berdiri dengan kuda-kuda, bingung memilih lawan yang akan diserang. Hingga suatu titik aku terjatuh, terjerembab, berkepala pusing berkat sebuah hantaman seseorang tepat di telinga.
Pandanganku sontak bergoyang saat itu. Satu hal yang aku ingat ialah perkataan Rio sewaktu aku kecil, orang kuat tidak berkelahi. Ia mengatakan bahwasanya aku adalah orang yang kuat, sehingga aku semestinya tidak berkelahi. Tepat sekali pada saat itu wajahku berluka lebam membiru sehabis kena pukulan lawan.
Kau tau siapa yang memukulku di kala hujan bulan Juni pada saat itu?
Salah jika kau mengira bahwasanya lawan dari kampung sebelah yang menyerangku.
Pelakunya adalah Dika, si hitam gempal yang naik pitam setelah mendapat laporan adiknya ikut dalam sebuah tawuran remaja di lapangan bola. Akhirnya, aku diseret setelah sebelumnya ditampar-tampari olehnya. Aku hanya menangis, mengadu kepada Rio yang sedang merokok ganja di kamar. Sementara ibuku sedang ada di luar dengan maksud yang sama, mencariku yang tak pulang semenjak hujan lebat berpetir tiga jam lalu.
Entahlah kawan, sentuhan lumpur sawah di tangan ini seakan mengembalikanku ke masa lalu, di kala kamar Rio berjejak lumpur yang berasal dari kakiku. Ia tak segan memelukku yang bau, meskipun matanya merah karena ganja. Ia tertawa puas, mengejekku dengan suara rendah. Aku tahu pada saat itu ia sedang mabuk, meskipun masih bisa diajak berbicara. Hingga tidak lama kemudian ia menyuruhku keluar, sebelum Dika masuk dan mendapatinya sedang tidak normal.
Mawar tertawa melihatku yang tercebur, sementara diriku sibuk membersihkan wajah yang basah, Bau anyir sawah menyelinap masuk ke hidung, persis seperti bau tubuh Reira tadi. Samar-samar seperti bau ikan gabus yang aku tangkap di rawa-rawa. Tampak Reira lari sebentar ke rumah dan kembali dengan waktu yang cepat. Tangannya terpegang sepatu boot lain dan tangguk ikan lebar.
“Pakai itu, kita nyari keong sawah.”
“Gue baru bangun dan lo suruh gue nyebur di sawah?!” tanyaku dengan heran.
Reira melompar dengan gagah berani, tak mempedulikan bahwasanya Mawar turut terkena cipratannya.
“*Watch and learn, Newbie*!” Reira memperagakan cara menangguk di dalam air.
Keras hentakan Reira ke dalam air, aku rasa mencapai dasar karena ia turut menekannay ke bawah. Tangannya menekan kembali seakan ingin mengambil tanah yang ada di bawah. Otot pergelangannya mengeras ketika mengangkat tangguk itu ke permukaan. Tampaklah lumpur sawah yang terambil dan ia bersihkan di permukaan tanah. Aku terkejut melihat isi tangguk setelah lumpurnya luntur ke dalam air. Itu adalah keong kecil berwarna hitam pekat sebesar kerikil. Tidak hanya keong, melainkan ikan sepat, dan udang kecil.
“Kalau keong masukkan ke sini.” Reira mengambil keong-keong tersebut dan diletakkan ke wadah kecil dari daun pandan yang terletak di pinggangnya. Terdapat dua wadah daun pandan di kiri dan kanan. “Kalau ikan dan udang, letak di kanan.”
“Banyak juga, ya ...” Aku menyentuh keong tersebut. Berkedut daging dalamnya untuk segera masuk berlindung. “Bang Ali di mana?”
“Lagi bantuin bapak-bapak ngebantai kambing. Acaranya besok di rumah mempelai perempuan. Rumah Bang Ali juga masak buat nambah lauk di sana. Di sini mana ada orang pakai jasa catering.”
“Seru juga, nih!” Aku menggasak lumpur di bawah dengan tangguk milikku. Setelah merasa cukup, aku mengangkatnya ke atas. Lumpur ditiriskan perlahan, barulah tampak isi yang kami harapkan. Kurang lebih hampir sama dengan yang di dapat Reira, tetapi aku tidak menemukan ikan. Bibirku tersenyum melihat Reira.
“Lumayan, tapi tetap aja lo masih *newbie*. Lihat gue!”
Reira mengambil tanah lebih banyak. Berbangga dirinya karena hasil yang didapat melebihi diriku.
“Yang paling dikit telur busuk!”
Berlomba kami mengambil sebanyak mungkin. Berletih ria di dalam lumpur ternyata menyenangkan. Cipratan air kami ciptakan untuk menyerang satu sama lain, membuat heran orang penduduk desa yang turut memburu keong sawah di sini. Bahasa yang tak kami mengerti aku tafsirkan bahwasaya ia sedang membicarakan kami yang terlalu kampungan. Ya memang, orang kota itu memang kampungan. Sawah seperti ini saja jika di buat di kota, mungkin sudah jadi tempat wisata. Seperti kami yang bersenang-senang di sini, padahal kami akan ditertawai oleh anak-anak kecil desa yang sudah puas sejak lahir bermain di sawah.
Lelah menuntunku untuk di atas rerumputan tepi sawah. Tingginya landai, apabila celana licin, mungkin saja akan meluncur. Reira permisi sebentar untuk mengambil minuman di dalam rumah. Ia seakan sudah menjadi warga desa, setiap orang ia akrabi ketika melangkahl. Sementara itu, aku duduk bersampingan dengan Mawar. Sejuk dan teduh tempat kami duduk, pepohonan durian yang tinggi melindungi kami dari sengatan matahari. Pepohonan durian itu tepat di belakang rumah panggung, dipagari oleh kawat berduri agar tidak ada pencuri durian yang masuk ketika musim berbuah.
“Indah tempatnya, ga panas kaya di Manggar,” ucap Mawar. Senyumnya tak luntur menatapi sawah.
“Gue kira lo ngelakuin sesuatu gitu sama ibu-ibu.” Aku mengusap kakiku dengan jari. Lumpur jatuh ke atas daun rumput di bawah.
“Hmm ... enggak kayanya.”
Aku menoleh padanya. “Kenapa? Biasanya lo rajin?”
Tatap wajahnya turun. Tampak ragu dirinya menjawab pertanyaanku. Aku baru paham ketika tangannya memetik daun rumput di bawah. Ia malu, bukan tak ingin. Aku tak pernah ragu dengan etos kerja seorang Mawar. Ia lebih rajin daripda Reira, terutama di pekerjaan yang biasa dilakukan oleh wanita. Aku kini benar-benar melihat Mawar sebagaimana aku bertemu denganya di Manggar. Sifat tertutupnya itu keluar ketika di lingkungan baru.
“Gue malu.” Mawar mengungkapnya.
Aku tak perlu menyimpulkan perasaan itu. Ia sudah memberitahukannya padaku.
“Sini gue anterin,” ucapku.
Ia menggeleng ragu. “Enggak kayanya, deh.”
“Hmmm ... ayo.” Aku berdiri.
Tak ingin ditinggalkan, Mawar mengikutiku dari belakang. Aku senang ia tak menolak pergi. Kini, kami beranjak menuju belakang rumah yang mengepul asap bakaran kayu tungku. Terdengar suara ibu-ibu serta nenek-nenek dengan bahasa setempat yang tidak aku mengerti. Tatkala mendongak di jendela, aku mencari wajah adik Bang Ali. Ia duduk sedang memotong bawang bersama ibu-ibu lainnya. Isyaratku ternyata ia tangkap. Aisyah pergi keluar untuk menghampiri.
“Kak Mawar ini pengen ikut, tapi segan bilangnya.”
Persis seperti anak kecil yang malu bertemu dengan orang baru, Mawar menyentuh ujung bajuku di belakang.
“Wah, pacarnya Abang David pemalu ternyata. Hahaha.”
Wajahku memereng mendengar kalimat itu. *Pacar? Kenapa bisa*?
“Eh?” Mawar tutur membalas heran. Aku melihat ke belakang. Ia yang berkulit putih tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Lah, emangnya kenapa?” tanya Aisyah padaku. Ia diam sejenak karen aku tak kunjung menjawab.
“Siapa yang bilang kalau abang pacarnya Mawar?” tanyaku curiga.
“Kak Reira, waktu tadi malam. Dia bilang kalau kakak yang lagi tidur itu adalah pacar David, abang yang matanya kaya panda.”
*REI! AWAS LO*!
Senyum datarku bersemayam berbarengan dengan izinku untuk pergi segera. Aku tebak ia pasti sedang tertawa lepas sekarang.
\*\*\*