Captain Reira

Captain Reira
42



Dia adalah Reira. Perjalanannya penuh akan petualangan yang tidak akan pernah kita duga sebelumnya. Masih banyak momen yang ingin ia tunjukkan padaku, namun ia masih menyembuyikan untuk dijadikan sebuah misteri. Ia menyeretku untuk masuk ke dalamnya. Mara bahaya bukanlah penghalang selagi masih ada label Kapten di awal namanya.


Gue Reira, orang yang menjadi tujuan kalian untuk berada di sini. Kali ini, gue menculik seseorang yang bernama David. Memang, dia sering menjadi beban dalam setiap perjalanan gue. Namun, itulah daya tariknya. Jangan cemaskan anak manja itu ketika dia masih di sisi gue.


Trims ...


Kapten Reira


Sepucuk surat itu menempel di kening Candra yang tengah berselimut tebal di keluh kesah mimpi malamnya. Tidak ada satu orang pun yang tahu jika aku pergi, setidaknya sampai esok pagi ketika semua membaca sepucuk surat Reira yang mereka baca.


"Lo bawa mobil. Tangan gue mau membeku." Ia menghembuskan tangannya yang kedinginan.


Sebuah kunci mobil ia selipkan di dalam genggamanku. Di depan penginapan Pakde, terparkir sebuah mobil Hardtop merah yang asing bagiku. Setahuku, di sini hanya terparkir dua mobil. Satu mobil Adrian dan satunya lagi mobil rombongan Redi.


"Mobil siapa ini?" tanyaku.


Ia masuk ke dalam mobil.


"Kakak minjam mobil saudara di Surabaya buat nyari tanaman kantung semar yang masih tumbuh di hutan sekitaran Bromo. Dia tertarik sama tanaman langka. Kakak khawatir gara-gara gue hilang tiba-tiba pagi itu, makanya dia ke sini. Selain itu, Kakak sekalian buat menekuni hobi gilanya. Makanya, kita enggak ketemu waktu lo datang ke sini. Kami seharian mencari tanaman kantung semar."


"Kalian enggak jauh beda. Lo malah tertarik sama serangga." Kembali aku ingat hiasan mumi serangga yang ia koleksi di dinding kamarnya. Aku merogoh kantung celanaku. Terdapat sebuah ikat rmabut merah yang aku temukan ketika terbangun tadi pagi. "Pakai ini, lo cantik kalau rambut lo terikat."


Senyumnya tipis dan dingin ketika mendengar pujian itu. Ia menoleh ke depan seolah mengabaikan perkataanku.


"Gue senang kalau lo puji."


Reira menunjukkan jalan menuju ke sederhana villa sederhana. Kami di sambut oleh gerbang dengan corak rumah ibadah umat Hindu. Di dalamnya terdapat empat villa kecil dengan lampu reduh di depan teras. Sunyi, hanya terdengar suara serangga yang saling bersahutan. Ia memintaku masuk dan mengikutinya ke dalam sebuah kamar.


"Kakak gue ada di kamar sebelah, lagi tidur," ucapnya sembari membuka sebuah lemari tua.


Ia memberiku sebuah topi coklat dengan lambang huruf R di depannya. Sementara itu, ia memakai topi koboi coklat usang yang terlihat sedikit berdebu. Wajahnya memereng ketika berkaca di depan cermin.


"Ternyata topi Kakek muat sama gue. Dulu, topi ini masih longgar," katanya.


"Kenapa setiap topi yang lo kasih ke gue, selalu ada lambang dari huruf awal nama lo?" tanyaku. Kami saling bertatap melalui bayangan kami di cermin.


"Karena lo itu awak kapal gue. Sementara itu, Kapten selalu punya topi yang berbeda." Ia mengambil sebuah spidol di dalam laci lemari. Tangannya menuliskan huruf awal namanya di depan topi tersebut. "Ini gue tulis biar kita ada kesamaan."


"Terselah lo, deh."


Petualangan kami kembali dimulai. Ini merupakan rute yang kami lalui kemarin. Tidak perlu petunjuk jalan dari gadis petualang itu, aku masih mengingatnya. Jalanan. Beberapa Jeep lainnya terlihat mengikuti kami dari belakang. Tidak salah lagi, itu adalah rombongan pendaki yang ingin mengejar terbitnya mentari.


"Kadang, gue heran kenapa orang bisa candu dengan racun yang membunuh seperti rokok." Ia mengambil sebatang dari kotaknya. "Boleh gue coba?"


Kemudiku sedikit bergoyang ketika berusaha mengambil tembakau yang ingin dicoba oleh Reira. "Bodoh! lo boleh ngelakuin segala hal di dunia ini. Tetapi, jangan mencoba rokok."


"Entahlah, gue cuma penasaran. Kata temen gue, rasanya pahit," jawabnya. Bahunya dengan ekspresif naik untuk menandakan ketidaktahuannya.


"Sejak kapan lo merokok?" Reira memperbaiki posisi duduknya.


"Semenjak Dika ketahuan sama Mama merokok di kamar mandi. Waktu itu gue masih SMA. Gue sering curi rokok dia," balasku.


Ia mengangguk. Tidak ada pembicaraan yang tercipta dalam perjalanan. Rasanya bosan hanya mendengar deru ban mobil yang menapak di jalan berpasir. Bunyi angin malam terasa mencekam, ditambah lagi dengan dingin dan gelap yang kuhadapi.


Pos pemberhentian Jeep terahir sudah terlihat dari kejauhan. Banyak mobil yang terparkir di sana. Beberapa orang sudah mulai berjalan menuju ke gunung.


"Kita sampai," ucapku.


Ia tidak menyahut. Di saat aku menyentuhnya, ia telah tertidur.


Ternyata lo butuh tidur juga ....


Aku tidak ingin membangunkannya. Wajahnya terlalu manis ketika tertidur, sehingga sayang untuk dilewatkan. Matanya terpejam penuh hingga merebahkan bulu matanya yang lentik. Sesekali bibirnya bergerak pelan tatkala posisi kepalanya berpindah. Sungguh, ia memang cantik. Hanya saja aku yang terlambat mengakuinya.


Kusentuh pipinya menggunakan telunjukku. Dulu, raut wajah inilah yang selalu aku hindari. Pertemuan kami yang tidak mengenakkan serta setiap momen yang menjadi sebuah perkenalan, selalu membawa dampak buruk padaku. Ada kekuatan yang begitu kuat untuk membolak-balikkan hati. Tuhan membawa hatiku ke kutub yang berlawanan arah, sehingga pada akhirnya setiap momen spesial yang ia tunjukkan begitu berharga.


Ia terbangun. Aku dengan sigap menarik jemariku yang menentuhnya.


"Maaf, gue ketiduran. Ayo, kita mulai perjalanan," katanya sembari menarik gagang pintu mobil.


Aku menahan tangannya. "Rei, lo terlalu memaksakan diri. Mata lo terlihat lelah. Dua hari enggak tidur, lo yakin buat mendaki?"


Ia melepaskan genggaman tanganku. "Lo juga enggak tidur dua hari, ditambah pingsan satu kali. Namun, semangat gue melebihi dari yang lo punya. Gue ini Reira, bukan wanita manja yang sering berkeluh kesah tentang beratnya belanjaan di Mall. Paham?"


"Oke, lo kan Kapten," ucapku sembari mengangguk. Reira selalu punya kalimat yang mematahkan perkataanku.


"Nah, lo tahu."


***