
EPISODE 163 (S2)
Candra tak ingin bangun. Matanya terlalu berat untuk terbuka. Akhirnya membuka sendiri gerbang itu untuk Mawar. Masih teringat betapa kasarnya diriku malam tadi, tetapi kali ini ia memandang dengan tatapan lembut. Ada secuil rasa kasihan yang melekat pada pandangan itu. Namun, aku tak butuh dikasihani oleh orang-orang yang tidak aku izinkan melakukannya. Ketika aku masih bisa berdiri, di saat itu pula aku tak membutuhkan belas kasihan orang lain. Tanpa aku duga, Mawar memelukku lambat, memasui rengkuh tangannya di samping tubuhku.
“Lo ke mana tadi malam?”
“Apa pedulinya lo?” tanyaku balik.
Ia melepaskan pelukannya itu. “Bagaimana lo bisa nyimpulin kalau semua ini rencana gue?”
“Lo benci sama dia, lo enggak suka sama Reira. Lo sendiri yang bilang sama gue!”
“Bukan berarti gue pengen ngecelakain diri lo sendiri, kan? Gue bukan orang yang begitu,” balasnya.
Aku diam sesaat. Mataku bergaris lurus tepat di tengah matanya yang sayu. Bintik cahaya matahari terantul dari lingkaran hitam matanya, cerah seperti mentari yang tengah menyinari.
“Untuk apa lo ke sini?” tanyaku.
“Gue disuruh Dika buat ngejemput lo.”
Dahiku mengernyit. “Lo bilang semuanya sama dia?”
“Enggak, kami cuma bilang kalau lo sama Candra ada urusan lain.” Ia menghela napas panjang di hadapanku. “Mulut lo bau alkohol. Kalian minum malam tadi?”
Tidak ada yang harus disembunyikan. Bau mulutu sudah menyimpulkan aroma alkohol yang khas. “Iya ....”
“Mari pulang ....” Tanpa aku duga tangannya menyentuh ujung jemariku.
Aku melepaskannya dengan segera, lalu berbalik menuju area rumah Candra. “Urus aja diri lo sendiri, gue bisa sendiri pulang.”
Mawar tidak menjawab. Ia tetap mengikuti diriku untuk masuk ke dalam. Langkahnya menuruti diriku hingga masuk ke dalam kamar Candra. Mungkin dirinya tak pernah melihat kamar seorang bujangan, hingga wajah heran tatkala keadaan rumah Candra yang berantakan. Dua botol anggur merah bekas pesta tadi malam tergeletak begitu saja di atas lantai, tanpa sempat dibersihkan. Aku lebih tepat menyebutnya sebagai kandang, daripada menganggap tempat ini dengan sebutan kamar. Mawar pun menutup mulutnya dengan ujung kerah baju dan duduk di atas ranjang berselimut kerimuk.
Aku menendang pinggul Candra yang masih tergeletak di balkon. Punggungnya memerah karena terpapar matahari siang, sementara itu ia sama sekali tak berbaju atas sehelai pun. Dirinya hanya mengenakan celana pendek dan kaos kaki, itu pun dipakai sebelah. Entah apa yang kami lakukan tadi malam sehingga dirinya bisa tidur dengan keadaan seperti itu. Kami benar-benar mabuk berat. Dua botol membuat pikiran kami melayang.
“Kalian benar-benar kacau,” ucap Mawar.
“Baru pertama kali melihat keadaan ini?” tanyaku sembari mengenakan pakaian. Sudah waktunya bagiku untuk kembali pulang.
“Dave, menyelesaikan masalah enggak kaya gini. Kalian merusak badan!”
Aku menatapnya seketika tatkala kalimatnya penuh tekanan. Ia tahu apa tentang masalah? Hidupnya tenang seperti orang-orang normal. Mungkin saja, ia baru pertama kali mendapatkan teman seperti kami.
“Lo tahu apa?”
“Kenapa sih lo enggak kaya dulu? Lo selalu lembut bicara sama gue!”
“Apa di saat begini perlu kelembutan? Semuanya udah kacau, Mawar.”
Ia menggeleng. “Kekacauan itu lo anggap salah gue? Gue enggak tahu apa-apa. Gue hanya suka sama lo dan itu aja! Gue enggak ada ngerencanain sesuatu buat kalian celaka! Lo jahat, Dave!”
Aku diam sesaat. Wajahnya menunjukkan ekspresi berang kepadaku. Tatkala itu juga, aku membuka tangannya dan berjongkok di hadapannya. Mata Mawar berkaca-kaca menyoroti diriku.
“Beginilah gue yang sebenarnya. Gue enggak dibesarkan dengan kelembutan. Gue dibesarkan dengan keras, di lingkungan yang keras, dan keadaan yang keras.”
“Kenapa? Kenapa lo nyalahin gue buat semua ini? Lo enggak percaya gue?” tanya Mawar.
Ia menampar diriku dengan keras hingga aku berpaling ke arah yang lain. Memanas pipiku setelah itu hingga aku menutup mata.
“Ide hanya diuji dalam konsitensi. Lo hanya berbual dengan semua teori perasaan lo itu. Cinta bukan seperti kapal di tengah laut. Lo bukan penyair, Dave. Lo cuma berbual.” Ia berdiri dari duduknya. Lalu pergi meninggalkan diriku.
Hela napasku begitu panjang untuk mencerna kata-kata yang aku ucapkan. Memang menusuk perkataan itu hingga menyakiti hati Mawar yang selembut kapas. Tertunduk wajahku di antara lutut, aku benar-benar menjadi orang berbeda. Aku bukanlah diriku yang biasa ditunjukkan. Semuanya telah menjadi kacau balau tanpa ada titik terang. Titik terang itu hanya kebohongan dan titik terang itu telah hilang malam kemarin.
Padam sudah menjadi gelap sehingga langkahku terombang-ambing tanpa tujuan. Yang pasti, aku hanya berjalan dengan diriku sendiri, menyelesaikan tugas-tugas yang selama ini aku tinggalkan.
Hari-hari berjalan tanpa makna sama sekali. Reira tidak bisa dihubungi, begitu pula kakaknya. Aku rasa mereka berdua bersekongkol untuk menolak panggilanku. Mereka sama saja, bukan? Mereka sama-sama gila. Rumah Bu Fany kosong, hanya panggilan anjing tetangganya yang menyahutku. Sempat aku masuk untuk memberi makan ayam-ayam Reira yang kelaparan dan berkeliaran tanpa masuk ke kandang. Minerva sudah hilang di garasi kayu. Tak ada lagi suara burung hantu senyap tatkala aku masuk. Kerjaku hanya mengenang yang terjadi, tanpa ada yang menjawab kenangan itu. Entah ke mana orang-orang ini, semua tenggelam di dalam realita.
Aku mencarinya ke mana-mana, termasuk di gedung terbengkalai itu. Tetap ada anak-anak yang bermain, tetapi tanpa tahu keberadaan Reira sama sekali. Ia berkata bahwasanya ia datang sekali, tepat satu hari setelah kepulanga ke sini. Setelah itu, Reira tak lagi muncul untuk berbagi cerita dengan mereka. Aku pun pergi menuju rumah Pak Bernardo.
Sekali lagi dihadang oleh security-nya itu. Aku memang salah menerobos masuk ke rumah orang penting. Beliau juga berkata Reira tak ada di sini. Begitu pula Dokter Alfian berkata yang sama. Aku mengunjungi dirinya ketika sela-sela istirahat siang. Reira sama sekali hilang kontak. Ia tak lagi berkunjung bersama dirinya ke gedung usang itu untuk berbagi ilmu.
Kakek Syarif sudah tahu kejadian itu berkat informasi dari Razel. Aku sempat ke sana untuk bertanya mengenai Reira. Sudah seminggu ini Reira tak ada mengunjungi kampung nelayan. Biasanya Reira selalu menyendiri di atas kapal Leon sembari minum wine bersama Kakek Syarif. Hanya saja, ia tak lagi timbul seperti buih lautan. Ia hilang tenggelam entah ke mana. Kakek Syarif juga berkata bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui siapa Nauren. Ia hanya tahu Reira yang selalu sendiri tanpa status romansa, bebas berkeluyuran di mana-mana untuk menambah teman. Permintaan maaf pun ia ucapkan padaku atas kesalahan keponakannya tersebut.
“Aku tahu semua rahasia Reira, tetapi tidak untuk yang satu ini. Kalau kau mau tahu rahasia Reira, berarti keinginan kau salah. Aku orang yang menjaga rahasia orang lain, termasuk dirimu.” Kakek Syarif menghisap tembakau lintingannya. Asap terbang dibawa angin laut, tepat di atas kapal leon.
“Menurut Kakek, apa memang ada hati yang seperti itu? Kami udah ngelewatin semuanya bersama, ternyata selama ini dia berbohong.”
Aku menarik pemantik api Kakek Syarif yang ada di papan pembatas kapal, lalu menyulutnya pada tembakauku.
“Sesuatu yang tak kau lihat atau belum, bukan berarti tak ada. Dunia ini terlalu luas untuk kau pahami semuanya. Meskipun aku belum menemui orang seperti itu atau kisah teman-teman dahulu, aku yakin ada hati yang seperti itu. Hanya saja, masalah waktu yang menentukan kapan kau bertemu dengan orang-orang seperti itu.”
“Entahlah, Kakek ... aku kehilangan separuh diri. Aku udah menaruh harapan besar dengan Reira.”
“Jangan kau terlalu suka dengan sesuatu hal, barangkali itu tak baik untuk kau. Itu kan yang diajarkan agama? Meski aku kurang agamis, tapi aku paham makna itu. Tuhan punya makna lain, bisa jadi Reira buruk untukmu. Dia sayang sama kau dengan memisahkan kalian.”
“Aku enggak ingin berpisah. Aku udah terlalu cinta, Kakek.”
Kakek Syarif tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha ... hey, anak muda. Tahu apa kau tentang cinta dengan umur kau yang baru sebesar jagung? Aku pernah mendengar kata-kata itu dari Kumbang. Akhirnya Kumbang cinta juga dengan orang lain. Lalu, cinta juga dengan orang lain selanjutnya. Karena apa? Cinta itu tak perlu kau pahami segitu dalam, cukup kau jalani saja. Cinta itu pisau, kalau kau gunakan pada yang tepat, maka kau bahagia. Begitu pula sebaliknya.”
Aku mengenal napas panjang. Kalimatnya penuh dengan makna untuk aku serapi pelan-pelan. Wajahku memandang dirinya kemudian, “Menurut Kakek, apa yang harus aku lakukan?”
“Hmm ... aku memang menyalahkan Reira. Setahuku, dia orang yang bukan begitu. Tapi, setiap manusia punya sisi jahatnya masing-masing yang mungkin aja dia sembunyikan. Sekarang ini, kau cukup menjadi dirimu sendiri. Urusan cinta? Ah .. di luar sana masih banyak wanita, kau masih terlalu muda untuk mati karena cinta.”
“Menjadi diri sendiri?” Aku bertanya balik.
Kakek Syarif menangguk. “Iya ... nikmati saja hidupmu sekarang. Kau ingin jatuh ke lubang yang sama? Silahkan kau kejar Reira bodoh itu. Sudah jelas kau dikhianati begitu ganas sama dia.”
“Baik, aku paham sekarang.
Tangan Kakek Syarif memegang sebelah bahuku. Ia remas begitu kuat hingga tulangku sedikit bergemeretak. Ia hanya ingin berpangku kepada diriku untuk menikmati angin sore di tepi laut.
“Yang ingin aku tekankan adalah ... Reira itu orang yang sulit ditebak. Aku sudah berusaha mungkin untuk tidak percaya pada setiap perkataannya, termasuk yang jujur atau pun kebohongan. Ia sama dengan Fany, Fany juga begitu dulu. Mungkin saja, ada hal tersembunyi dari yang dia sembunyikan. Kita enggak pernah tahu. Tunggu saja waktunya. Jika waktu udah membuktikan, di sana kau sadar bahwasanya Reira itu benar-benar jahat dan khianat, atau ia sedang melakukan sesuatu yang lain.”
Setelah itu, Kakek Syarif menggodaku dengan menunjuk seorang gadis nelayan yang tengah melintas di tepi jalan dermaga. Ia menantangku untuk segera berkenalan dengannya. Namun, aku tidak mungkin melakukan hal itu. Kakek Syarif pun bersiul untuk memanggilnya dan wanita itu pun tersipu malu tatkala Kakek menunjukku. Candaan sore ini benar-benar bercampur dengan risalah hati.
***