Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 95 (S2)



EPISODE 95 (S2)


Salah satu daya tarik wanita ialah memasak. Tak bisa dipungkiri lagi jika wanita itu punya stereotipe harus pandai memasak, apa pun budaya yang disebutkan. Urusan dapur merupakan hal yang lumrah bagi para wanita beranjak dewasa, maupun pelajaran yang diberikan bagi para wanita yang baru saja remaja. Bukan tidak bersebab, melainkan urusan dapur sangat perlu jika beranjak membangun rumah tangga. Tidak mungkin para suami meminta makanan tetangga, atau bermain dengan wanita lain hanya demi sepiring makanan. Okelah jika memiliki uang berlebih, bisa membeli makanan apa pun dari jasa daring makanan. Sangat tidak mungkin hal itu jika sebuah keluarga yang masih pusing memikirkan esok harus makanan apa.


Baiklah, aku yakin para perempuan aliran humanis feminisme sedikit risih dengan kalimatku tersebut. Anggapanku mengenai wanita harus pandai memasak sangat ditentang atas dasar patriaki. Wanita tetap saja seperti manusia lainnya, ada yang pandai memasak ada pula yang tidak pandai memasak. Oleh karena itu, tuntutan wanita harus pandai memasak sangatlah bertentangan dengan kesetaraan gender.


Wanita merupakan manusia bebas sebagaimana para pria. Oleh karena itu, tuntutan wanita harus pandai memasak harus dilepaskan dari stereotipe masyarakat.


Sangat sensitif sekali untuk dibahas. Setelah ini aku harap tidak ada yang mencelaku sebagai sang pemikir. Aku setuju wanita tidak direndahkan hanya kerena ia tidak pandai memasak, malah aku akan mencela bagi para patriakis yang mendesak hal tersebut. Kita semua sama di kacamata humanis, bebas mengekspolaris kemampuan masing-masing. Sebagai pasangan, kita perlu pula untuk mengisi kekurangan masing-masing. Jikalau seorang istri tidak pandai memasak, maka sesekali sang suami mengajari istrinya mengolah bahan menjadi makanan.


Bukankah romantis memasak bersama dan menikmatinya di jamuan makan malam dengan lilin di tengah? Aku pun berharap bisa melakukan hal tersebut.


Aku lebih berbicara mengenai tanggung jawab, sebagai mana tanggung jawab para pria menafkahi keluarga dan menjaga mereka untuk tetap aman. Memang, tanggung jawab tidak memiliki jenis kelamin, suami maupun istri bertanggung jawab menjaga kelangsungan hidup keluarga.


Namun, di sini kita berbagi peran yang tepat. Di kala suami penat dan letih berkeringat sehabis bekerja seharian, istri dengan keistimewaan hatinya memasakkan makanan untuk perut laparnya. Peran tersebut pun saling mengisi. Di kala istri penat menjaga sang bayi yang menangis berjam-jam, dengan penuh kerendahan hatinya ia membuatkan masakan, walaupun rasanya membuat hati sang istri mengutuk. Aku rasa tak satu pun pasangan yang mengutuk masakan kekasihnya. Lain dibibir, lain pula dihati demi kemesraan hubungan. Romantis sekali jika sebuah pasangan dapat menghargai peran-peran ini. Saling mengisi kekosongan masing-masing, bagaikan dua pasang puzzle yang bersatu ketika dilekatkan dengan yang lain.


Aku membenci para feminis yang mengatakan bahwasanya kenapa sih wanita harus pandai memasak? Pertanyaan tersebut bagiku mengandung egoisme. Aku rasa yang berkata tersebut belum pernah berkeluarga dan juga belum merasakan pahit getirnya kehidupan. Sedari kecil dimanjakan dengan bergelimpangan harta, hingga tak pernah sekali pun merasakan pedihnya letupan minyak panas. Baiklah jika tidak pandai, namun wanita yang baik akan menyadari peran tersebut. Tak perlu memaksa seenak masakan ibumu, setidaknya telur ceplok dan nasi pun sudah membuat sang suami bersemangat untuk seharian.


Baiklah, jangan cela aku setelah ini. Pahami baik-baik, jangan sepenggal. Ini hanya pendapatku saja. Dan sekali lagi, para feminis garis keras yang berkoar di media sosial dengan keegoisannya, aku sarankan untuk membaca sejarah feminis dunia yang berakar dari pemikiran humanis. Humanisme mengajak kita untuk menjadi manusia seutuhnya. Dan egoisme menyingkirkan kita dari keingian menjadi manusia seutuhnya.


Begitu pula dengan pria. Pendapat ini pun berlaku pula bagi mereka, termasuk diriku.


Mawar selesai dari aktivitas memasaknya, lalu membawa kepiting tumis tersebut ke gazebo yang terletak tepat di samping lapangan basket. Aku membantu wanita itu untuk mengangkat bawaan. Inilah yang aku sebut untuk tetap menyadari peran. Tidak mungkin aku berkata bahwasanya kenapa tidak ia sendiri yang mengangkat barang-barang, padahalkan mengangkat barang pun bisa dilakukan oleh pria dan wanita. Aku di sini menyadari peranku sebagai pria yang memiliki massa otot melebihi wanita. Oleh karena itu, aku mengangkatkan barang untuknya. Aku rasa nanti malam aku ingin memasak untuknya demi menghargai Mawar yang lelah melakukan wawancara.


“Gue jarang sekali makan kepiting.” Aku menyentuh kepala kepiting itu.


“Inilah saatnya lo harus mencoba masakan kepiting, asli pemasak dari pesisir yang sehari-hari makannya hasil laut.”


“Lo itu lama di Jakarta, tapi masih bisa masak-masak yang beginian.”


“Gue ini bukan kacang lupa sama kulit. Gue dibesarkan oleh seorang Ibu yang sehari-hari memasak untuk orang lain. Oleh karena itu, gue belajar untuk bisa memasak dengan harapan masakan gue bisa dinikmati oleh orang-orang terdekat.”


“Baiklah, gue akan coba ....”


Aku mengambil penjepit yang digunakan untuk memecah kulit kepiting yang keras. Barulah aku mengambil dagingnya dan menyendoknya ke dalam kuah tumisan. Tidak aku campuri dengan nasi demi cita rasa yang asli. Dari sendokan yang pertama, aku pun berjanji tidak akan meremehkan masakan darinya. Lezat sekali dilidahku, mungkin saja di lidah pengunjung warung kopi mamanya di Manggar.


“Jangan bilang lezat.”


“Dengan kata-kata yang lain,” pancingnya sembari menyendokkan nasi ke piringku.


Aku diam sejenak untuk mendapatkan ide. Setelah itu, aku mengangguk.


“Rasanya indah.”


Ia memandangiku dengan aneh. “Apakah kepiting ini seperti sebuah lukisan bagi lo? Atau petikan jemari Fasha di gitarnya?”


“Rasanya itu estetik.” Aku mencoba mengecap kembali kuah tumisannya tersebut. “Rasanya pengen meninggal.”


Intonasiku persis seperti vlogger situs tonton video yang sedang me-review sebuah makanan. Aku sering sekali mendengar kata-kata itu ketika Dika melihat video-video review makanan.


“Hahah ... boleh juga istilahnya.”


“Begini ....” Aku menegapkan badang. “Masakan itu adalah seni, dan hasil dari seni adalah keindahan. Rasa dari makanan itu bisa saja disebut dengan istilah indah atau pun estetik. Lezat, nikmat, atau apalah itu cuma masalah pemilihan kata.”


“Gue baru dengar seseorang yang bilang masakan gue rasanya indah,” balas Mawar dengan tersenyum malu.


“Gue juga baru pertama ini nyebutin kaya gitu. Hahah ... sumpah, ini enak banget. Besok-besok, masakin kita yang beginian.”


“Kita?” tanya Mawar.


Aku terdiam sejenak. “Lo, gue, Reira, Candra, Zainab, Razel, Bang Ali, atau Kakek Syarif itu kalau mau. Siapa lagi?”


“Oh, begitu ....” Ia memecahkan kulit kepiting tersebut. “Baiklah, boleh juga sesekali.”


Siang ini terasa sejuk dengan angin lambat yang berhilir ke tempat kami duduk. Bukit di belakang menyajikan pemandangan yang asri dengan pohon-pohon rindang. Tidak jarang aku melihat primata yang saling berloncatan di sana dan Mawar pun terkejut sembari menunjukkannya padaku. Aku menyadari primata itu sejak sedari pertama kali kami duduk. Namun, sepertinya Mawar sangat tertarik dengan primata berekor tersebut.


“Begitu lucu dan manis,” ucapnya.


Namun, ia malah memandang padaku.


***