Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 13 (S2)



EPISODE 13 (S2)


Aku menyebutnya dengan kontradiksi dalam harmoni. Entahlah, aku bingung dari mana aku mendapatkan kata-kata itu pertama kali. Yang aku tahu hanya mencuatnya tatkala tangan Reira menggenggam erat tanganku pada setiap kami berdebat, atau menyebutkan kata manis ketika ia sedang marah. Aku rasa kontradiksi dalam harmoni itu ialah ketika hal yang dipertentangkan ternyata menyiratkan sebuah makna tarik menarik, tak ubahnya layaknya sinar rembulan pada ombak di malam purnama, menciptakan kekosongan di tepian yang terlihat begitu indah. Keindahan yang memukau setiap mata yang menatapnya.


Lalu, apa itu kontradiksi dalam harmoni?


Bisakah sesuatu yang bertabrakan atau beda haluan menciptakan sebuah keharmonian? Semua yang berseberangan, saling berbeda jalan, terkadang di dalam hatinya memelihara kerinduan. Aku masih mengingat bagaimana aku berusaha membenci Fasha yang tak ingin peduli itu, namun jauh di lubuk hatiku menyimpan rasa untuk bertemu. Adakalanya benci tak sesuai dengan perbuatan. Dikala hujatan yang dilontarkan, ternyata di sana cara tersimpan untuk berkasih sayang.


Layaknya hujan yang membenci matahari, namun ia butuh sinar untuk terus menghujami bumi. Seperti sekuntum mawar berduri, namun masih kau petik untuk kau beri kepada kekasih, walaupun kau tahu akan menggores sepasang tangan yang lembut.


Kontradiksi dalam harmoni bermain di dalam kehidupan kita. Ada sebuah defenisi yang bertolak belakang, namun tetap berusaha untuk melekat dan bersatu atas nama kasih sayang. Aku beri satu contoh lagi ketika cerocos murka seorang Ibu yang menggetarkan jiwa kesabaranmu, namun tetap kau sayangi karena ia merupakan seorang Ibu. Bagiku itulah puncak romantisme kisah. Ketika anak dan orangtua saling bertengkar, namun di dalam hati menyimpan kata maaf dan cinta. Betapa romantisnya kisah itu ketika diceritakan kepada anak-anakku kelak, melebihi romansa cinta novelis terkenal di jamanku.


Itulah yang aku alami saat ini, jauh sebelum bayang rembulan jatuh di atas permukaan lautan, ia menyebu kata sayang walaupun kesal hatinya tetap bertahan selepas perdebatan. Itulah yang lucu dari wanita itu, meninggalkan kesan. Terkadang mengandung teka-teki yang membuatku berpikir ulang.


“Kakek Syarif!!!” teriak Reira di papan dermaga.


Sontak seisi dermaga menoleh padanya. Teriakan terdengar nyaring memekakkan telinga. Aku sampai memejam mata oleh suara itu. Tidak lama kemudian secercah cahaya senter menyentuh wajah Reira. Cahaya berasal dari kapal Leon dan sudah pasti dari Kakek Syarif.


“Kapten!” panggil Kakek Syarif di sana. Diiringi dengan lambaian tangan awak kapten Reira yang sedang duduk-duduk di tepi kapal.


Pantas saja mereka sedang khidmat sekali duduk di sana. Ternyata sedang terjadi konser kecil harmonika dari bapak tua bertopi koboi. Harmonika itu masih terpasang di bibirnya tatkala memanggil kembali Reira. Panggilan itu membuat Reira berlari di papan dermaga hingga menghentaknya dengan kuat, Aku pun dibuat gamang apabila rentak kaki Reira merubuhkan dermaga ini.


Aku dan Pak Cik Milsa hanya berjalan lambat, sembari melihat ransel Reira bergoncang hebat ketika berlari.


“Dasar alien!” Razel dibuat kesal karena Reira dengan sengaja menabrak dirinya. Anak itu pun menatapku. “Dia udah gila?”


“Lo rasa?” tanyaku balik.


“Memang begitu,” balasnya singkat.


Setelah Razel menyambut kami, ia membawa kami kepada kerumunan Kakek Syarif yang sedang melakukan aksi melantunkan bunyi harmonika motif batiknya itu. Aku tidak tahu lagu apa yang sedang ia mainkan, namun musik itu mengajak tubuh Reira untuk menari di hadapan awak kapalnya. Ia menyentuh tangan anak-anak remaja itu, lalu diajaknya untuk menari bersama sembari tertawa.


“Bagaimana hari kalian tanpa Kapten?” tanya Reira kepada mereka.


“Sungguh asyik, kami berenang seharian dan makan ikan bakar,” jawab salah satu dari mereka.


“Ayo ikut Kapten … malam ini kita akan menunggu durian jatuh. Kita akan makan durian yang banyak sampai demam. Hahahah ….” Reria bertegak pinggang.


Wajah mereka tampak ragu untuk mengiyakan, tetapi mereka pun tidak kunjung menjawab ajakan Reira. Awak kapalnya malah menatap Kakek Syarif.


“Hmm … kami sudah berjanji untuk memancing ikan di laut malam ini. Predator malam pasti besar-besar!” Kakek Syarif menekan akhir kalimatnya.


“Wah, sayang sekali.” Reira menatapku, lalu menoleh kepada awak kapalnya kembali.


“Tapi, kalian boleh melakukan hal apa pun yang kalian suka. Silahkan tangkap ikan yang banyak, lalu kita makan esok hari. Oke?”


“Oke, Kapten!” seru mereka bersama-sama.


Razel tiba-tiba menepuk pundakku.


“Gue ikut!” Tatap matanya hati-hati melihat ayahnya yang sangar itu. “Boleh Ayah, kan?”


“Suke kaulah.” Kakek Syarif menunjuk Pak Cik Milsa. “Jage anakku, ye? Jangan biarkan dia makan lebih dari satu durian. Besoknya bisa tak keluar kamar mandi.”


“Ah, tenanglah Pak Syarif. Selagi semuenye sedang sama aku, pasti aman.”


Mobil kami berangkat menuju kebun durian milik Pak Milsa dengan perpisahan lambaian tangan Kakek Syarif dari kapal Leon. Reira meminta menyetirkan mobil, sementara itu Pak Cik Milsa duduk di sampingnya. Entahlah, anak itu sepertinya lebih suka menyetir sendiri daripada duduk menunggu sebagai penumapang. Sewaktu perjalan pulang dari Bromo di kala itu, Reira sendiri yang mengendarai kendaraah Hardtop hingga sampai di Ibu Kota.


Parahnya, kali ini kami disuruh untuk berdiri pada bak belakang. Udara yang dingin membuatku menggigil di sebalik jaket tebal. Angin darat sedang berhaluan menuju laut malam ini, momen yang tepat bagi nelayan untuk mencari ikan hingga esok fajar menjelang. Sebagai anak yang tahan banting di segala cuaca, Razel malah santai menghisap tembakau miliknya di atas sini. Ia menawariku, namun ia tidak sadar diri untuk menghidupkan mancis padaku karena tanganku yang kedinginan.


Sekitar lima belas menit perjalanan akhirnya mempertemukan kami pada batang-batang besar berlumut yang kusebut sebagai kebun durian. Gelap gulit tanpa penerangan, kulihat seperti hutan hantu terlarang untuk dipijaki. Kami tepat berhenti di tepi kebun. Terdapat pagar kawat berduri yang menjadi pembatas dengan jalan kecil beraspal. Tidak ada satu pun yang lewat, hanya cahaya mobil kami yang menerangi kegelapan. Tatkala mobil dimatikan, semua tampak gelap dan hitam. Entah makhluk apa yang sedang menyorot di balik sana, mungkin saja lelembut penunggu kebun sedang melambai pada kami.


Suasana begitu mencekam dengan remang-remang suara serangga yang tanpa henti menyahut. Sepi yang sunyi dibalut gelap gempita ruang yang sedang kami jajaki, memaksa Pak Cik Milsa menghidupkan empat buah lampu minyak yang ia ambil pada kotak kayu di bak belakang. Barulah tampak wajah-wajah kusam mereka sedang menatap datar satu sama lain. Entahlah, aku tidak tahu Razel merasakan perasaan yang mencekam.


Aku paham jika Pak Cik pasti biasa saja karena sudah biasa. Namun, anak itu yang aku lihat tidak biasa. Ia bertegak pinggang menghadap ke kebun, seakan menantang segala makhluk yang sedang bersembunyi di sana untuk segera menemui Sang Kapten.


“Di mana pondoknya, Pak Cik?” tanya Reira. Suaranya terdengar keras.


“Woi, sstt!” Telunjukku menempel pada bibir. “Lo bisa bicara dengan pelan?”


Cahaya lampu minyak mendekat pada wajah Reira. Aku bisa dengan jelas menata dahinya yang mengernyit olek kalimatku. “Emangnya kenapa? Lagian isinya cuma kita.”


“Eh … lo enggak ngerti!” Aku menggeleng kepala.


“Dasar penakut!” sindir Reira.


Kami melanjutkan langkah hingga Pak Cik berhenti di sebuah simpang jalan setapak, lalu berbelok ke arah kanan. Kondisi jalan setapak sedikit becek. Aku merasakan cipratan air melekat pada kakiku. Sekitar sepuluh menter di depan, Pak Cik kembali berhenti dan menggantungkan lampu minyaknya di atas sebuah papan. Ternyata kami sudah tiba pada pondok yang Pak Cik maksud. Tangannya menyambut lampu minyak milik Reira untuk menggantungkannya pada tempat lain.


Terdapat pohon-pohon kecil yang mengelilingi pondok tersebut. Di sana sudah terdapat lampu minyak sebelumnya yang belum diambil. Pak Cik menghidupakan semuanya hingga aku bisa melihat keadaan sekitar yang ditumbuhi oleh pohon-pohon tanpa semak.


Reira langsung berbaring di pondok kayu beratapkan daun rumbia kering. Cukup besar sebagai satu-satunya tempat bernaung di kegelapan ini, hampir seluas empat kali empat meter dengan dua meja persegi panjang di sisi kiri dan kanan. Empat tiang utama menjadi tonggak berdiri pondok hingga dua setengah meter ke atas. Tidak ada sambungan listrik di sini. Aku mengurungi niat mengajak Razel untuk bermain game. Pondok dibatasi oleh kayu-kayu untuk bersandar. Masih terdapat sampah minuman botol dan kulit kacang yang berada di atas meja tersebut. Reira menuruti permintaan Pak Cik untuk memasukkan sampah-sampah itu di tong sampah. Sementara semuanya bekerja, aku dan Razel malah duduk santai sembari bergidik ngeri akan kegelapan. Lantai papan yang Reira pijaki terasa kokoh. Tidak ada bunyi decit tatkala aku melangkah di atasnya. Bahkan, rentak langkah Reira yang terdengar berat pun tidak menggoyahkan lantai kayu ini.


Reira melompat ke bawah pondok, lalu meraba-raba tanah. Ternyata anak itu sedang memunguti dedaunan kering. Dedaunan kering ia angkat pada tempat yang lebih terang.


“Woi, anak laut!” panggil Reira pada Razel.


“Sini lo bakar sampah-sampah ini. Lo punya mancis, kan?”


“Bar-bar banget kek emak-emak kehilangan Tupperware.” Razel beranjak dari duduknya.


“Buat apa bakar sampah?” tanyaku.


“Lo mau diangkat nyamuk?” tanya balik Reira.


“Oke … deh. Bener juga.”


Terdengar suara Pak Cik Milsa menghela napas panjang karena lampu minyak yang ia hidupkan tidak kunjung berhasil. Suasana di sekitar kami sudah cukup terang, setidaknya kami sudah bisa melihat orang dari jarak beberapa meter ke sekitar. Ketika duduk, Pak Cik Milsa mengambil bungkus rokok milikku. Suatu kehormatan bagiku jika bungkus itu disentuh oleh orang yang lebih tua, lalu menghisapnya dengan penuh khidmat. Biasanya, Pak Cik lebih suka tembakau lintingan sebagai faforitnya para orang tua.


“Luas juga kebun duriannya, Pak Cik,” pujiku.


“Oh, enggak juga. Ini kebanyakan pohon rimba. Paling batang durian tak sampai delapan batang,” balasnya.


“Cukup banyaklah, lumayang kenyang buat makan durian.”


Tercium bau asap dari bakaran sampah yang ditumpuk oleh Reira, beradu dengan asap tembakau yang kami kepulkan. Kami pun duduk membentuk sebuah lingkaran. Reira membuka semua makan ringan yang dibawa oleh Pak Milsa sebagai jaminan kenyamanan yang ia sebutkan tadi di rumah. Sebenarnya, tanpa itu pun tidak apa-apa bagiku. Namun, Pak Cik Milsa berbaik hati menjadi fasilitator pengisi perut kami yang selalu keroncongan ini, apalagi Razel.


“Kok banyak sampah tadi, Pak Cik?” tanya Reira. Ia sedikit mundur ke belakang karena terganggu asap tembakau. Namun, sebenarnya ia pun sudah terbiasa dan tidak terlalu merasa risih oleh kebiasaan buruk kami. Sudah aku bilang, ia seharusnya tidak ikut.


“Biasanya ada sanak saudara yang selalu menunggu durian yang jatuh. Kadang, pemuda di sini juga melakukannya. Malam ini aku khususkan untuk kalian, para anak kota yang bahkan mungkin tak pernah melihat batang durian,” jawab Pak Cik. Ia menghembuskan asap tembakaunya. “Yaa … sampah-sampah itu sisa tadi malam atau tadi siang. Biasanya mereka main domino di sore hari. Di sini tempatnya nyaman, selain itu bisa dapat durian.”


“Enak banget mereka yang dapat, padahal kebunnya Pak Cik,” sambung Razel.


“Tak apeelah … sedekah. Lagi pula, mereka selalu lapor sama Pak Cik berape yang mereka dapat. Setelah itu, suke-suke akulah mau kasih berape.”


“Pasti Kakek dulu suka durian,” ucap Reira.


Pak Cik Milsa mengangguk sembari menunjuknya. “Kau benar … Pak Kumbang sama Pak Syarif suka sekali durian. Kalau dulu mereka singgah ke sini sehabis berlayar, mereka selalu makan durian di rumah.”


“Haaa … jadi semakin rindu sama kakek gue. Andai saja dia masih hidup.” Reira membaringkan tubuhnya di lantai kayu. Bunyi hentak tubuhnya terdengar jelas.


“Pak Cik terkejut juga mendengar berita jika kapal Pak Kumbang karam. Seumur-umur kenal dengan jiwa pelaut Pak Kumbang, belum pernah ia kalah melawan ombak. Kadang, Tuhan sudah menggariskan semuanya. Coba kau tanya sama Pak Syarif, pasti ada beberapa barang peninggalannya yang masih dia simpan. Kau berhak memilikinya,” jawab Pak Cik.


“Reira enggak punya banyak barang peninggalan─” Seketika Reira terdiam.


Sebuah suara jatuhan dari atas terdengar hingga ke pondok. Kami saling bertatap satu sama lain. Belum sempat Pak Cik bergerak mengambil senter, Reira sudah melompat ke luar podok, persis seperti tupai yang ingin ia lihat malam ini. Durian telah menunggu kami di kegelepan sana.


***