
Aku ... apa itu aku?
Kepingan hatimu yang terbuang?
Jemari menari di atas kertas putih tempat diriku menyusun untaian kalimat yang sempat terlintas. Baris demi baris tertulis seiring napas yang kuhela. Lekuk kalimat yang kutulis tampak landai karena posisi kertas yang miring. Kabut yang menyemak di dalam pikiranku, perlahan-lahan hilang dengan dituangkannya dalam bentuk tulisan. Pemandangan senja yang terbentang jika aku melihat ke luar kelas, menambah warna dalam imajinasiku. Aku biarkan ia tertuang begitu saja melalui bayang-bayang pohon yang jatuh melalui jendela.
Jam kuliah sudah berakhir setengah jam yang lalu. Teman sekelasku masih bertahan dalam kesibukannya masing-masing, kecuali Candra. Pria berambut keriting gondrong itu selalu datang lebih lambat dan ia pula manusia yang pulangnya paling cepat. Banyak hal yang harus ia kerjakan di pet shop keluarganya. Ada belasan peliharaan titipan yang harus diurus dengan baik.
Wajah mereka lusuh tatkala menghampiri tugas yang diberikan seminggu yang lalu, sembari berharap tidak aka nada tugas untuk seminggu yang akan datang. Tapi, itu sangat mustahil. Dosen tahu apa yang dipikirkan mahasiswanya. Buku tidak akan pernah disentuh jika tidak ada tugas dan ujian.
Sungguh, aku tidak sepenuhnya sanggup untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Fasha sewaktu itu. Ucapanku hanya mengandung kata dusta yang membuatku menjadi orang paling munafik sedunia. Enggak, lo itu sahabat gue, ucapku sewaktu itu. Tidak ada ekspresi yang berarti dari wajahnya, hanya tangannya yang menyerahkan sebuah undangan ulang tahun dirinya. Ia hanya memintaku untuk datang dan langsung berlari pergi meninggalkanku.
Aku sempat larut dalam kalimat yang mendiskusikan perasaan hari ini, namun sesuatu yang bergerak di jendela membuatku salah fokus. Daun-daun pohon yang menyentuh dinding gedung tampak bergerak. Suara langkah terdengar pelan dari balkon yang berisikan bunga-bunga dalam pot. Aku melepaskan penaku dari genggaman untuk membuka gorden jendela kelas.
Tahukah kau? Hanya satu orang yang berani melakukan ini di kampusku. Ia berkemeja lengan panjang dengan kancing yang terbuka. Tampaklah kaos hitam bermotif telapak kucing yang ia kenakan. Rambut dengan ikatan warna merah itu bergoyang tatkala sampai ke atas balkon jendela. Peluhnya menyucur beberapa butir hingga mengalir menuju pipi. Tangannya masih sempat menghapus garis peluhnya. Mataku terbelalak oleh kehadirannya. Aku lihat teman-teman yang lain masih sibuk dengan tugasnya masing-masing, sehingga tidak ada yang sadar kehadiran wanita yang satu ini.
Itu adalah Reira, wanita dengan segala kejutan yang ia bawakan padaku.
"Lo ngapain manjat ke lantai dua fakultas gue?" tanyaku dengan pelan sembari mendekatkan wajah ke jendela.
Ia jongkok di depan jendela dengan napas terengah-engah. Setelah ia puas menghirup udara, ia membuka jendela sedikit.
Aku menggeleng. Dahiku mengernyit. "Rei, lo itu cewek, sadarlah. Cewek itu enggak manjat-manjat beginian. Pintu yang lain kan banyak."
"Pintu cuma buat yang lemah. Lagian pintu yang lain itu ditutup. Sekarang kan hari Sabtu." Ia menunjuk buku catatanku. "Minjam buku lo."
"Buat apa?" tanyaku.
"Udah, jangan banyak tanya. cepat!" paksanya sembari menjulurkan tangan.
Ia membolak-balikkan kertas catatan kuliah yang bercampur dengan bait puisi hasil dari kesuntukan di kelas. Senyumnya terpancar ketika sampai di salah satu halaman. Kepalanya miring ke kanan.
"Lo buat puisi buat gue? Terima kasih." Ia menyobekkan halaman itu, lalu menuliskan sesuatu di halaman yang lainnya. "Datang ke alamat ini jam empat sore. Jangan terlambat. Senja membunuh orang yang terlambat menjemputya."
Tanganya terjulur untuk memberikan buku catatanku kembali.
"Jangan sobek buku orang sembarangan!" protesku. Aku lihat sebait puisiku telah lenyap dari tempatnya.
"Gue kapten di sini, lo enggak boleh protes." Ia menaikkan kaki ke pembatas balkon dan turun entah dengan apa.
***