Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 43 (S3)



Kakek Kumbang menuntunku ke sebuah kuburan yang tidak jauh dari pusat keramaian. Kami pertama melewati sebuah rumah adat tua dari kayu yang mulai menghitam. Rumah adat tersebut merupakan rumah panggung yang ditopang oleh empat pilar utama. Di tengah-tengah terdapat tangga batu menuju pintu. Kakek Kumbang tanpa basa-basi menyebutkan jika ia semasa kecil besar di sana, diasuh oleh bibi-bibi hingga remaja. Tatkala remaja, ia mulai jarang di rumah adat karena lebih banyak menghabiskan waktu di surau. Sebagai anak laki-laki, mereka memang diminta untuk menghabiskan waktu di surai.


Mereka menyebutnya sebagai Rumah Godang. Rumah Gadang dari Minang dan Rumah Godang di Kuantan Singingi ini memang memiliki padanan kata yang sama karena memang memiliki budaya hampir serupa. Terdapat tiga buah Rumah Godang yang masih dalam satu suku kecil, dipimpin oleh seseorang dengan gelar Datuk. Rumah Godang biasanya diisi oleh para perempuan untuk mengatur kebutuhan rumah tangga seperti memasak dan mengasuh. Sebagai budaya bersistem matrilineal, keberadaan perempuan sangatlah diutamakan di sini.


“Berarti Reira sejatinya bukan berasal dari suku ini?” tanyaku pada Kakek Kumbang.


Diriya mengangguk. “Secara keturunan memang kau berasal dari sini. Tapi, secara budaya hak kesukuan enggak turun kepadamu. Nenekmu bukan orang Kuantan, melainkan orang Suku Laut dari Kepulauan Riau. Bundamu cuma dapat gelar Raja karena kakek buyutmu bergelar Raja. Sejatinya kau juga keturunan bangsawan Melayu dari Lingga.”


Kami sampai di perkuburan tua di mana makam orang-orang dari leluhurku berada. Kakek Kumbang menuntun kami ke salah satu kubur yang merupakan makam dari nenek buyutku yang notabene ibu dari Kakek Kumbang. Makam tersebut sangatlah tua, bahkan aku tidak bisa melihat tulisan yang ada di batu nisan yang sudah berlumut tebal.


“Ini makam nenek buyutmu. Dia meninggal waktu melahirkan Kakek, tepat di Sungai Kuantan waktu kami berpergian ke Kepulauan Riau lewat jalur sungai.”


“Kakek Syarif pernah cerita kalau Kakek dilahirkan di atas rakit.”


Ia tertawa kecil. “Itu berlebihan … aku lahir di atas sampan. Orang gila mana mau pergi sejauh itu pakai rakit?”


“Kenapa Kakek ajak aku ke sini?” tanyaku.


“Biar kau tahu siapa leluhurmu. Sesuatu yang enggak sempat Kakek sampaikan ke Fany. Semua ini biar kau sadar kalau ada tempat untuk pulang.”


“Jalur didayung pada pancang terakhir.” Aku mengulangi kalimat ciptaan dari Datu Dalil. “Reira paham maksudnya. Datuk Bilal udah ngejelasinnya ke Reira.”


Ia terkejut mendengar itu. “Sejak kapan kau ketemu dengan dia?”


“Ceritanya panjang. Hamzah memberi aku foto Kakek bersama Datuk Bilal. Bang Andalas beritahu kalau Datuk Bilal itu seorang Bupati. Jadi, aku memaksa masuk ke rumah beliau.”


Ia menutup matanya setelah sadar jika cucunya ini tidak seperti anak muda lainnya.


“Satu kesialan kau ketutunan dari Fany adalah kalian berdua sama-sama nekat. Tapi beruntung kalau sifat tamak dari Benardo enggak menurun.”


“Kak Reina lebih mirip Papa. Mereka sama-sama tamak. Gila bekerja buat uang.”


“Reira, Kakek enggak mau balik ke Jakarta. Kalau kau memaksa, aku lebih mudah kabur nanti malam.”


Aku menepuk tanah. “Kakek udah janji sama aku. Kakek harus balik.”


“Jangan pernah ke Jakarta. Terlalu ramai dan sesak. Kake ingin mati di tempat yang damai.”


“Baiklah, Kakek mau ke mana? Akan aku turuti.”


“Aku mau kau ada di masa muda sebagaimana anak yang lain. Bukan ikut Kakek!” jelasnya.


“Kakek bukan pelaut, melanggar janji itu tertulis di Sepuluh Larangan Kapal Leon. Aku hapal semua dalilnya,” balasku.


“Kakek bukan orang yang mudah untuk kau begitukan, percayalah …..”


“Kita tinggal di Pekanbaru. Aku mengelola perusahaan Bunda. Kakek hidup tenang di sana bersama aku.”


“Kakek beri garansi kalau kau akan tahu di mana Kakek berada.”


“Di mana itu?”


“Lahir di air, besar di laut, mati pun untuk laut. Kakek akan tinggal di Bengkalis. Kapal Tigris ada di sana. Kakek akan jadi nelayan untuk belasan orang awak kapal. Di sana juga banyak sanak saudaramu yang menetap.”


“Ombak besar membuatmu semakin berani melawannya. Itulah hidup, Reira.” Ia menoleh pada Borneo. “Borneo, kau ikut aku. Akan aku antar kau ke Pontianak. Tanggung jawab aku itu buat mengembalikanmu ke kedua orangtuamu.”


“Aku enggak mau ke sana, Kakek.”


“Borneo awak kapalku, bukan awak kapal Kakek. Masa depannya akan aku jamin.”


“Enggak semua hal bisa kau jamin, termasuk masa depan orang lain.”


“Aku enggak mau tahu!”


Ia memejamkan mata. “Aku seperti berhadapan dengan Fany. Terserahlah …!!!”


Kakek Kumbang berdiri. Ia merangkul tubuh kami berdua. Kami berdua kembali berjalan menuju tepian Sungai Kuantan. Lambaian tangan Kakek Kumbang mengarah ke tribun Bupati tatkala kami menyebrang melalui jembatan gantung. Sebelum memasukinya, aku ajak Razel dan Semara yang aku temukan seperti orang berpacaran di salah satu tribun penonton. Kami pun bersama-sama melihat final yang meriah dari dua desa di tribun berisikan pejabat daerah.


Ya benar, kini aku bersama Kakek Kumbang. Ia sudah sepenuhnya aku temukan. Aku pun sadar selama ini aku tidak sendiri, ada teman-teman dan sanak saudara kandung yang luar biasa. Kakek Kumbang mengajariku mengenai arti sebuah perjalanan, serta makna pentingnya tanah kelahiran. Ada tempat untuk diriku pergi, ada pula tempat untuk diriku kembali. Namun, kata kembali masih sulit untuk aku temukan. Semua yang aku tinggalkan sudah memiliki kehidupannya masing-masing.


David … ia musuh terbesarku saat ini. Ia sangat mudah aku cari dan aku sentuh, tetapi mengembalikannya terlalu mustahil bagiku. Janji pelaut tetaplah sebuah janji. Ia telah memilih Mawar.


Kak Reina sudah mengetahui berita itu tatkala aku hubungi menggunakan ponsel Semara. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Kakek Kumbang sesegera mungkin. Meskipun ia tidak terlalu dekat dengan Kakek Kumbang, tetapi masa kecilnya pernah dihabiskan dalam pangkuan asuh beliau. Esok hari yang cerah, kami dilepas oleh Datuk Bilal tepat di rumah pribadinya. Kini aku tahu tempat untuk mengadu, aku memiliki satu kerabat dengan posisi yang luar biasa.


“Kakek, kita setelah ini menetap di Pekanbaru. Kakek tinggallah sementara waktu sampai memutuskan kembali ke Bengkalis.”


Aku menekan pedal gas van merah muda untuk melanjutkan perjalanan.


“Iya,  Kakek juga pengen menghabiskan waktu dengan kalian lebih dulu. Tapi, Kapal Leon enggak bisa ditinggal sendirian di Bengkulu. Aku, Borneo, dan Razel akan mengembalikanya kepada Syarif lagi.”


Aku menganguk setuju. Kakek Syarif lebih membutuhkan Kapal Leon untuk saat ini.


“Baiklah … aku setuju. Kita mulai hidup yang baru.”


Kami berangkat ke Pekanbaru menuju rumah Reina yang ia beli untuk tempat tinggal sementara selama menjadi pimpinan perusahaan milik Bunda. Ia sungguh haru melihat Kakek Kumbang kembali dalam pelukan, ia tidak akan lagi memikirkan bagaiman diriku yang tuntang-lantang menghadapi ombak demi mencari kakek itu.


Ponselku berdering. Aku sudah mulai menghidupkan kontak pribadi.


“Reira, Reina bilang kalau kau sudah berhasil,” ucap Alfian.


“Iya, aku berhasil nemuin Kakek Kumbang. Tapi aku masih enggak bisa kembali. Masa depanku ada di Pekanbaru. Aku tinggal di sini untuk waktu yang enggak bisa ditentukan.”


“David bagaimana? Lo nyerah?” tanya Alfian.


“Adukan dia ke BNN. Aku senang direhabilitasi daripada mencoba narkoba jenis lain.”


“Lo yakin?”


Aku mengangguk. “Iya … lagi pula Mawar akan pergi lama, kan?”


“Baiklah … tunggu berita penangkapan dari aku.”


Harapan besarku ialah agar David berubah. Ia aku selamatkan dari patah hati, kini aku bebaskan darinya yang terjebak dari masa lalu.


***