Captain Reira

Captain Reira
33



Seseorang pernah mengatakan padaku mengenai arti sebuah menunggu. Kalimatnya begitu manis mengusap hatiku hingga luluh dalam alunan yang ia mainkan. Ia tak memberikanku sela untuk berkata, kadang ia lupa jika aku juga butuh bicara. Aku lelah untuk terus mendengar, sesekali juga ingin untuk didengar. Ucapannya saling menyambung, hanya aku yang bersabar mendengar semua ocehan. Tapi, aku suka itu.


Tidak perlu kamu tunggu, cinta akan datang seperti hujan yang turun. Tidak perlu terlalu berharap, ucapnya saat itu.


Ia tidak pernah menanti hujan datang. Hujan musiman selalu datang ketika bel pulang berbunyi. Hanya aku yang terlalu berharap hujan untuk turun. Selalu aku lihat pucuk pepohonan yang mulai mengamuk, pertanda hujan akan mulai datang. Momen itu selalu tercipta di kala udara dingin berhembus di halte simpang empat sekolah. Aku akan berlama-lama di sampingnya, hingga ia mendekat ketika hujan memercik. Percakapan hangat tercipta dari Fasha, dirinya selalu yang memulai. Aku sangat ingat memori yang tercipta ketika bersama Fasha di halte yang diguyur hujan.


Namun, ia juga yang mengajariku untuk membenci hujan yang turun. Titik balik tercipta hingga aku tidak ingin rinai datang. Fasha tidak lagi memilihku untuk menemaninya di kala hujan.


Petir bercahaya di langit utara kota di saat aku menanti Reira keluar dari rumahnya. Berkali-kali ia berteriak memintaku untuk bertahan di luar sedikit lagi. Aku tidak tahan jika berlama-lama di teras yang gelap. Bunyi serangga membuat suasana semakin senyap. Aku tahu, wanita selalu membutuhkan waktu yang lebih untuk bersiap-siap ke sebuah pesta. Terlalu banyak hal yang mereka butuhkan untuk terlihat sempurna.


Gagang pintu berbunyi. Aku merapikan kemeja lengan panjangku ketika berdiri menyambutnya. Reira keluar dengan berbalutkan dress mahal yang ia beli malam kemarin. Mata Reira memicing di balik senyum yang lempar. Wangi parfum yang sama menyeruak dalam penciumanku. Garis wajahnya menyimpulkan suatu keinginan untuk dipuji. Tidak ada ikatan merah yang menyatukan helaian rambut indahnya, dibiarkan tergerai bebas saat Reira bergerak. Ia menarik dress bagian bawahnya hingga mengembang, lalu melangkah ke arahku.


"Lo terlihat sempurna malam ini," pujiku. Tidak perlu banyak riasan untuk membuatnya terlihat sempurna. Menurutku, riasan tipis seperti itu cukup untuk menarik perhatian para lelaki di pesta itu.


"Terima kasih. Lo juga." Tidak perlu dipinta. Ia langsung melingkarkan tangannya pada lenganku.


Kubawa dirinya melangkah ke Vespa 50 milikku yang parkir di depan teras rumah Reira.


"Maaf, gue cuma bisa jemput lo pakai ini," kataku merendah.


Sepanjang jalan Reira berpegangan dengan pinggulku, walaupun tidak sampai memeluk. Rasanya nyaman saja jika disentuhnya. Perasaan yang sangat sulit aku tebak. Memaklumi semua yang terjadi, menyimpulkan semua arti senyum yang ia berikan, di antara dua perasaan kepada dua insan yang berbeda.


Apa aku aku menyimpan rasa padanya? Salahkah jika aku benar-benar menaruh hati padanya? Semua petualangan yang ia ajarkan sangatlah berarti. Cinta bisa menghancurkan semuanya. Kenangan yang telah kami bangun akan hilang seketika di saat kami bermain hati. Tidak ada lagi guna keringat yang pernah bercucuran di tengah laut itu. Tidak ada lagi semangat yang ia kobarkan di saat menobatkaku sebagai awak kapalnya di danau kampus. Tidak akan ada lagi senyum gembira yang kulihat dari anak-anak jalanan yang Reira sayangi seperti adiknya sendiri.


Baru saja kami tiba lima belas menit yang lalu, halaman rumah Fasha sudah seramai ini. Teman-teman fakultas hingga lintas fakultas berkumpul dalam satu titik. Fasha memang punya banyak teman yang bisa ia undang. Berkat pergaulannya dengan sesama musisi kampus, ia dikenal oleh banyak orang.


Senyum Fasha tebarkan di atas panggung bertuliskan nama dan umurnya yang menginjak dua puluh tahun. Silih berganti para undangan memberikan pelukannya dibarengi meletakkan kado di meja dengan kue ulang tahun itu. Ia terlihat begitu kontras malam ini. Aku maklumi itu, bukankah ia tokoh utamanya malam ini? Tidak ada satu pun orang yang akan bisa menandingi kebahagiaan yang terpancar.


Langkahku terhenti ketika menggeser penglihatanku ke samping Fasha. Bagas dengan bangga memamerkan hubungan mereka berdua. Rasa sakit itu kembali berdenyut di sudut hati, sama seperti mendengar berita itu ketika di biang lala pasar malam bersama Fasha.


"Ayo, kita buat mereka cemburu!" Reira menggenggam tanganku erat. Ia bawa aku melangkah ke atas panggung kecil itu.


"Gue enggak bisa ke sana," balasku saat ditarik Reira. Aku tidak ingin lagi berurusan dengan hubungan mereka, ditambah dengan Bagas yang sedang bersanding berdua bersama Fasha.


"Ini perintah Kapten!" paksanya sekali lagi.              


***