Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 34 (S2)



EPISODE 34 (S2)


Keesokan harinya setelah makan siang yang khidmat, aku bersama Pak Cik Milsa dan Candra duduk di meja bundar. Kami dibuatkan kopi oleh Zainab untuk teman berbincang kami siang ini. Razel belum selesai makan, anak itu baru saja makan karena keasikan main game di kamar. Aku rasa ia tak akan berani merokok di depan Pak Cik Milsa karena takut untuk dikadukan kepada bapaknya yang seram itu.


Tembakau kami sulut dan menggumpal dalam satu bulatan asap di tengah-tengah kami. Satu asbak untuk bersama, saling bergantian memetik ujung tembakau yang telah menjadi abu. Pak Cik memberikan saran-sarannya untuk berhati-hati di perjalanan dan ketika malam kemah nanti. Selain itu, kami di sini juga sembari menunggu Mawar untuk ke sini. Anak itu tak kunjung juga datang sedari tadi, padahal seluruh perlengkapan sudah dimasukkan ke dalam mobil. Tinggal dibawa pergi saja.


Aku penasaran apa yang akan aku dapati dari pemikiran Pak Cik Milsa yang tak biasa itu. Dari gerak bibirnya yang manyun, sepertinya ia akan berkata sesuatu.


“Kalian anak kota pasti sering ke tempat tunasusila,” ucap Pak Cik Milsa tiba-tiba.


Kami sontak saling menatap berdua. Tiba-tiba saja Pak Cik Milsa berbicara sesuatu yang aneh untuk dibicarakan.


“Wah, kami enggak pernah ke sana, Pak Cik. Cuma lewat aja pernah sih, tapi enggak sampai masuk,” balasku sambil senyam-senyum.


Ada-ada saja pembicaraan hari ini.


Pak Cik tertawa pelan. Giginya terlihat noda hitam serbuk kopi yang menempel. Setelah itu, ia menghembuskan asap rokok ke arah kami.


“Hahaha ... apa yang kalian pikirkan tentang PSK?” tanya Pak Cik sekali lagi. Ia memandangi kami berdua yang tak kunjung menjawab. “Kau dulu Candra.”


Wajah Candra tak bisa menghindari ekspresi terkejut yang ditunjukkan. Ia memetikkan ujung tembakau di asbak sebelum berbicara.


“Hmm ... bagaimana ya. Cantik, tapi berdosa karena mereka memilih pekerjaan yang salah.”


Pak Cik mengarah padaku. Ia menunjukku dengan ujung batang tembakau lintingannya itu. “Kalau kau, David?”


Aku dibuat tersenyum. “Sebuah pekerjaan tertua di muka bumi, selain bertani dan berternak. Sudah ada ribuan tahun yang lalu para wanita mulai ada yang berpikir buat menjajakan kehormatannya.”


“Bagimu kehormatan bisa dijualbelikan?” Pak Cik menaikkan alisnya.


“Menurutku bisa ... ya seperti para PSK. Kehormatannya tergadai karena tuntutan ekonomi. Padahal kan ada pekerjaan yang lebih baik di luar sana.”


“Berarti kau menilai kehormatan hanya dari seiris daging selaput dara? Jika laki-kali yang menjajakan diri, kehormatan yang seperti apa yang bakal diperjualbelikan?”


Pertanyaan beruntun itu memaksa miliaran syaraf di otakku untuk bekerja cepat. Orang secara umum sudah tahu apa yang akan direlakan oleh para wanita yang tega menjatuhkan diri dalam dunia itu, tetapi bagaimana dengan para pria dengan posisi yang sama? Apa yang akan mereka relakan untuk ditukar oleh sejumlah uang? Aku mengigit bibir memikirkan hal itu.


“Bisa jadi menukar dosa dengan sejumlah uang,” balasku singkat.


“Dosa bukanlah kehormatan,” jawab Pak Cik.


Aku memicing mendengarnya. “Kalau dosa bukanlah kehormatan, berarti dia menukar untuk dikurangi pahalanya dengan sejumlah uang. Pahala berarti sebuah kehormatan, kan?”


“Kalau pahala merupakan kehormatan, ada banyak orang diluar sana yang meninggalkan ibadah, atau meninggalkan saudara yang membutuhkan demi sebuah pekerjaan dan uang. Tapi sangat enggak adil karena mereka tidak disebut sebagai PSK. Padahal, sama-sama menjual kehormatan.”


“Wah, pembicaraan ini sangat dalam.” Candra menghembuskan tembakaunya.


Helaan napasku semakin berat mencerna kalimat Pak Cik, Si Bapak Filsafat Manggar yang menghisap rokok lintingan itu.


“Jadi, kehormatan yang Pak Cik Maksud seperti apa?” tanyaku penasaran.


Ia memajukan posisi duduknya, lalu meletakkan sebelah tangannya di atas meja.


“PSK atau tunasusila enggak pernah menjual kehormatan. Mereka hanya menjajakan sebagian kecil dari tubuhnya untuk dinikmati oleh orang lain, hanya itu, tidak lebih. Sedangkan kehormatan, mereka tetap memiliki kehormatan karena PSK jugalah manusia seutuhnya. Tuhan enggak pernah mengurangi kehormatan para hambanya, bahkan PSK sekali pun.”


“Dosakah yang ia kerjakan? Sucikah mereka yang datang?” Candra menyebutkan sebuah lirik lagu kupu-kupu malam.


“Kadang dia tersenyum dalam tangis, kadang dia menangis di dalam senyuman,” sambungku.


Pak Cik menangguk setelah mendengar lirik lagi yang saling kami sambung. “Iya, begitu. Mereka tetap memiliki kehormatan yang sejati. Jadi, pantang sekali bagi seseorang buat mencela para PSK, bisa jadi dia enggak kalah baik sama mereka.”


“Aku rasa ada benarnya juga, Pak. Mereka kadang hanya terpaksa.”


“Iya, benar. Enggak ada para PSK ... maksud aku PSK yang ada di lokalisasi kumuh itu, yang tulus karena pekerjaan. Ada beban yang mereka tanggung, bisa jadi ada dua anak yang mereka sekolahkan, atau paksaan suami yang tidak tahu diri, dan lain sebagainya.”


“Tapi kan mereka tetap berdosa, Pak. Itu kan dilarang agama,” sanggah Candra.


“Caranya bagaimana?” tanyaku.


“Menurutmu?” tanya balik Pak Cik.


Aku menadahkan pandanganku ke atas untuk berpikir. “Hmmm ... mungkin aja penutupan lokalisasi dan mengalihin pekerjaan mereka ke pekerjaan yang lebih baik, mungkin melalui pelatihan. Tapi ... menurutku ajaran agama sangat efektif.”


“Betul ... apa yang kau sebutkan itu betul. Tapi, seefektifnya ajaran agama jika penyampaiannya tidak benar ... mereka hanya anggap itu sebuah penghinaan.”


“Tapi ajaran agama itu benar, Pak. Mereka aja yang menganggap salah.”


“Iya, agama itu mutlak benarnya ... tapi yang menyampaikan itu yang salah. Contohnya ....” Ia menghembuskan asap rokoknya sebentar. “Mereka langsung dihakimi kalau pekerjaan mereka akan dibalas di neraka, digantungkan sebuah kail panas tepat di dadanya. Atau pendeta langsung bilang kalau mereka telah mencoreng kebaikan Yesus dan Bunda Maria.”


“Tapi kan benar adanya, Pak.”


Ia mengangguk. “Benar, tapi orang sekarang enggak bakalan mau diceramahi dengan ketakutan seperti itu, akan dianggap menghina oleh orang lain. Ada cara yang lebih baik lagi.”


“Maksud bapak dengan memperlihatkan agama dengan keindahan?” tanya Candra.


“Nah, itu kau benar. Mereka diajak dengan memperlihatkan keindahan agama. Tuhan itu tidak melulu tentang menghukumi, tetapi juga mengampuni. Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Itu yang harus ditanami oleh pemuka agama sekarang ini.” Ia menggeleng sesaat. “Kadang aku aneh melihat ceramah sekarang yang isinya teriak-teriak menghakimi.”


“Hahah ... kami jarang lihat ceramah, Pak.” Candra memukul pundakku. Aku pun tertawa menyarinya.


“Ya kadang juga kasihan melihat mereka yang terpaksa melakukan hal itu,” balasku sembari tersenyum karena masih mengingat kalimat Candra tadi.


“Hmm ... ada sepucuk doa untuk para tunasusila dari sebutir nasi yang kita makan. Itu kata Sudjiwotejo, Presiden Jancukers itu.”


“Wah, gila ... masa?” tanya Candra.


“Kata Mbah Sudjiwotejo begitu. Kita sama-sama tahu, udah rahasia umum kalau PSK tepi jalan itu mainan para supir truk, enggak semuanya ya tentu aja banyak yang baik, hanya oknum. Tanpa para PSK-PSK itu belum tentu truk-truk beras itu sampai di tempat tujuan, lalu beras itu sampai ke rumah kita, karena bisa jadi supirnya enggak lagi semangat mengemudi truk. Para PSK itu yang menghiburi supir-supir untuk lebih semangat sampai ke tujuan. Jadi, ada sebuah doa yang kalian sampaikan dari sebutir nasi yang dimakan. Hahahah ... itu kata Sudjiwotejo.”


“Mbah Tejo memang gila, Pak Cik. Tapi, pemikirannya aku suka. Out of the box ....”


“Wah, pelajaran yang bagus banget nih ...,” puji Candra.


“Jadi, kesimpulannya ... kita jangan semarangan merendahakan para tunasusila. Mereka tetap memiliki kehormatan karena mereka masih tetap manusia.”


Langkah berat dari seseorang membuat kami mengalihkan pandangan. Reira berlari di dalam rumah menuju muka sehingga menggetarkan rumah panggung kayu ini. Aku ingat sekali Pak Cik dimarahi oleh Mak Cik ketika melakukan hal yang sama. Namun, kali ini Reira seperti rumah ini merupakan miliknya sendiri.


“Eh, lo lambat-lambat kenapa ... kaya gempa ini rumah!” sindirku ketika ia tiba.


Reira menghela napas panjang. “Lo jemput Mawar di rumahnya. Ternyata dia enggak ada kendaraan buat ke sini.”


Dahiku mengernyit mendengarnya. “Kenapa harus gue? Kenapa enggak lo atau Candra atau Razel?”


“Gue maunya elo!” Ia memberikan sebuah kunci motor King tua milik Pak Cik. Entah kenapa kunci motor itu ada padanya. “Lo tahu sendiri Mawar itu orangnya pemalu. Kalau sama Candra dan Razel, dia kan enggak terlalu akrab. Dia lebih kenal sama lo.”


“Ya kan lo bisa ....” Aku mengembalikan kunci motor itu padanya kembali.


Wanita itu malah menyelipkannya ke saku baju polo milikku. “Gue lagi belajar make up sama Zainab. Lagi seru-serunya, jangan ganggu gue.”


“Alaah ... kok gue sih. Enggak apa-apa emang gue boncengan sama dia?”


“Mawar mana mau sama lo!” Ia mengangkat tubuhku agar aku tak lagi nyaman duduk di sini. “Udah ... pergi sana. Jangan buat Mawar menunggu lagi!”


“Iya ... iya ....” Aku beranjak dari kursi. “Gue pergi dulu. Assalamualaikum semuanya ....”


“Waalaikumsalam ...,” balas mereka bersamaan.


Sial sekali hari ini. Padahal aku masih ingin mendengar wejangan Pak Cik Milsa yang seperti kuliah dua SKS itu. Aku ingin menggali ilmu lebih banyak lagi darinya. Namun, Reira malah menyuruhku untuk menjemput Mawar.


Aku hidupkan motor King Tua itu sembari berharap Mawar tidak akan terlalu menempel denganku ketika berboncengan nanti.


***