Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 162 (S2)



EPISODE 162 (S2)


Adakah langkah yang menuntunku pergi?


Aku hanya berjalan tanpa tujuan di tepi trotoar sembari menitikkan air mata. Tak tahu akan ke mana diri ini pergi, tetapi cahaya bulan seakan memanggilku untuk mendekatinya, meskipun aku sama sekali tidak akan bisa untuk menyentuh. Malam tak peduli diri yang kedinginan. Aku terus ditusuk oleh rasa dingin yang hampa itu, memenuhi isi inti hati yang kosong berkat sebuah momen yang mencuat. Tangan yang selama ini menuntunku, hilang pergi dengan ribuan tanda tanya.


Apakah ini dosa? Apakah ini karma?


Pikiranku terlalu empiris untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Aku tidak percaya akan adanya karma, itu pula kesalahan yang aku perbuat karena tidak mempercayainya. Namun, kenapa ini terjadi berkali-kali lebih besar daripada yang aku lakukan? Tuhan tidak adil memperlakukan diriku. Aku tengah berada di titik yang pernah aku pijaki dahului. Aku tak tahu Tuhan tengah berada di mana.


Jika semua ini benar, kenapa wanita itu memilihku? Semua kata cinta yang pernah kami ucapkan bersama telah menuntunku untuk berpikir, semua itu sia-sia. Apinya lebih besar dari yang aku kobarkan, hingga cahayanya cukup sulit untuk ditutupi. Akhirnya, aku melihat cahaya itu, cahaya merah yang dingin penuh kebohongan. Dinginnya begitu menusuk. Ujung-ujung dingin itu seperti pedang pancung alogojo monarki Prancis yang memenggal banyak ilmuan, tajam sekali. Hatiku terhenyuk menjadi keping-kepingan kecil, lalu dibuang ke dalam palung terdalam, yaitu tempat di mana orang-orang yang terlupakan.



Tidak ada gunanya momen kami berteduh di pohon beringin besar kampus, ketika wanita itu menempelkan lutut karena kedinginan tatkala kami pertama kali bertemu. Tidak ada gunanya kenangan yang sempat selalu aku kenang ketika dirinya mengajukan tangan sebagai seorang kekasih, tepai di hadapan para pengunjung festival seni tahun lalu. Sia-sia usaha diriku tenggelam di danau kampus hanya untuk menyelamatkan topi kertas bodoh yang berawalan huruf namanya. Aku hanya menempuh neraka yang ia kemas seperti surga, lalu menaiki sebuah kapal hantu menuju Belitung. Ia menyimpan sesuatu yang besar dan aku tidak mengetahui hal tersebut.



Tidak pernah aku sangka akan menjadi begini. Ia begitu sempurna untuk aku puja, ternyata hanyalah sebuah gimik untuk mengelabuhi diriku. Ia bukanlah seorang kapten kapal yang akan membawa kami mengaruhi lautan luas. Mimpi gilanya untuk ke Antartika, laut Cina Selatan, dan Afrika itu palsu. Aku terlalu bodoh mempercayainya jika hal tersebut benar-benar terwujud, seakan ia mengemas pikiranku di dalam utopia palsu. Harapan-harapan semu itu menghancurkan diriku.



Seperti orang gila, langkah lariku terbungkam tatkala lutut ini tak sanggup lagi untuk digerakkan. Aku menunduk, dadaku sesak sekali. Napasku sudah seperti kereta api yang melaju tanpa henti. Akhirnya, tubuhku tak sanggup untu bergerak. Yang aku lakukan hanyalah terduduk di tepi trotoar, menyandarkan diri selayaknya seseorang gelandangan yang tengah mengemis, mengemis cinta dari seseorang yang aku anggap sudah tiada. Dunia terlalu menjadi setan.



Terdengar seseorang meneriaki diriku. Rambut pendek sedikit ikal itu bergerak cepat. Ia pun tertunduk tatkala sampai tepat di hadapan. Matanya menatapku seakan ingin mati. Napasnya lebih cepat dari diriku sehingga hampir tak sanggup mengendalikan diri.



“Dave, lo pernah berada di titik yang lebih parah dari ini. Semua ini cuma sebagian kecil yang pernah lo alami. Lo harus kuat, Dave. Persetan dengan cewek itu!” Candra menundukkan wajah kemudian.



“Gue salah ... gue bermain api dengan Mawar tanpa sepengetahuan Reira. Ini semua karma.”



Mulutnya tak sanggup untuk berkata-kata tatkala aku menyebutkan hal tersebut. Ia perbaiki posisi duduknya untuk menghadap padaku.



“Gue enggak peduli cerita lo dengan Mawar, yang penting sekarang lo harus kuat. Lo orang terkuat yang pernah gue temui Dave. Masalah lo lebih berat daripada orang yang pernah gue kenal.” Ia mengambil napas panjang sesaat. “Karma itu enggak ada, lo yang bilang sendiri, kan?”



“Karma itu ada, gue yang ngerasain sendiri!”




Aku menggeleng tak percaya. “Lo tahu apa buat kembali bangkit?”



“Memang masalah gue enggak seberat yang pernah lo alami, tapi gue adalah teman lo, \*\*\*\*\*\*\*! Pernah gue ngeninggalin waktu lo lagi di bawah? Gue yang pertama kali datang, bukan Fasha yang lo suka, bukan Reira, bahkan bukan Dika!”



“Gue enggak tahu mau ke mana lagi,” balasku singkat. “Pikiran gue benar-benar kacau. Gue baru ketemu dengan seorang penipu ulung, yang menipi gue, menipu lo sendiri, kita semua!”



Ia menarik tanganku untuk berdiri. “Rumah gue kosong, mari kita minum. Jangan bawa ganja, gue enggak mau ada polisi. Gue traktir malam ini.”



“Sejak kapan lo minum?” tanyaku padanya.



“Lo kira gue anak kemarin sore?” pungkasnya tanpa menoleh.



Entah di mana barang-barang kami berada. Yang pasti, tertinggal di terminal bandara. Aku harap Razel akan mengurusi untuk di antara ke muka rumahku sembari merahasiakannya dari Dika. Sebagai seorang teman, Candra cukup beringas mengajakku untuk minum malam ini. Setahuku, dirinya tak pernah aku lihat sekali pun menyentuh air intisari. Tidak tahu jika di luar karena bukan hanya diriku teman yang ia punyai. Ia memesan taxi online untuk kami pulang dan mampir ke warung gelap yang biasa menjual alkohol. Sebagai mahasiswa yang uangnya pas-pasan, sudah pasti pilihannya tidak perlu aku tebak lagi. Botol anggur pun dibawa hingga ke rumah, di tuang ke gelas sloki untuk dinikmati bersama.


Setan ternyata lebih baik kepada diriku. Ia membelai wajahku hingga tak kusadar bibir ini tersenyum. Gelak tawa kami ucapkan masing-masing, terkadang menangis tersedu-sedu sembari mengucapkan kata-kata kotor kepada wanita itu. Ya, begitulah realita miris para pria-pria muda yang patah hati. Mereka mempunyai cara sendiri untuk menyelesaikan masalah sementara, melalui lekat dan pahitnya aroma anggur berwarna merah pada tangan. Kami saling bersulang, menertawai diri sendiri yang telah bodoh. Tak sadar sudah sebotol lebih membuat pikiran ini mengawang ke mana-mana. Tubuh kami oleng dengan menyisakan air mata yang sebelumnya juga disertai dengan tawa. Kami tertidur di lantai balkon rumah Candra.


Tak terasa waktu berjalan cukup lama. Cahaya mentari yang hampir tegak sempurna seperti tiang sudah membakar kami di atas balkon ini. Kepalaku pusing sekali, mataku belum normal untuk melihat dengan jelas. Cahaya mentari terlalu silau untuk aku tatap. Hanya samar-samar objek berbayang yang aku lihat di ujung mata. Candra masih terkulai lemas di atas lantai panas itu. Air liurnya menetes ke bawah. Kami benar-benar seperti orang gila yang tak terurus. Mulut sudah berbau sampah berkat alkohol tadi malam.


Suara klakson mobil berbunyi di bawah. Aku lihat mobil berwarna merah terparkir tepat di depan gerbang pagar rumah Candra.


“Can ... Can ... lo punya mobil warna merah?”


“Ha? Mobil gue warna hitam. Warna putih itu mobil van petshop.”


“Gue nanya mobil warna merah.” Aku terus menepuk pipi Candra dengan keras. Pria itu tak ingin bangun.


“Mungkin tadi malam papa gue beli mobil baru,” balasnya dengan ringan. Entahlah ... mungkin ia masih dalam pengaruh alkohol tadi malam.


Seorang wanita keluar dari mobil itu. Terlihat Mawar yang melipat tangan di dada sembari melihat ke atas balkon kamar Candra.


***