Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 36 (S2)



EPISODE 36 (S2)


Ada sebuah rasa yang harus aku buang jauh-jauh ketika genggaman tangan Reira melekat erat pada lenganku. Dari balik lembut garis-garis tangannya itu, tak urung merelakan rasa risau yang akhir-akhir ini membentuk lembah pertanyaan, penuh bebatuan yang menghalauku untuk menuju ujung jawaban. Aku ingin mengetahuinya, namun aku tak tahu berbuat apa. Aku tak ingin ada yang tersinggung di dalam kisah ini. Satu lagi, aku tak ingin Reira pergi. Oleh karena itu, aku simpan dalam-dalam hingga waktu mempersilahkan menyimbakkan semua. Semoga saja tidak seperti yang aku pikirkan.


Siapakah pria di dalam foto polaroid itu?


Senyumku tetap memekar tatkala kami duduk pada setiap bangku yang ada di dalam kelas. Reira menyuruh kami untuk duduk secepatnya dan mendengarkan celotehan antah berantah seakan dirinya adalah seorang guru di depan kelas. Aku duduk paling belakang bersama Candra dan Razel. Tampak sekali wanita jenius bermata sipit itu merupakan kaum-kaum penghuni bangku depan. Tanpa ragu ia langsung duduk paling muka, termasuk Zainab yang berada di bangku sampingnya.


Kontras sekali wangi kayu tua yang menyelinap masuk di dalam rongga hidung.


Dinding kelas sedikit bernoda karena tersusun oleh papan kayu tua. Sekeliling dinding di pasang gambar pahlaman, layaknya kelas ada umumnya. Meja dan bangku tersusun rapi dan berjarak jauh satu sama lain. Bangunan tua yang hendak runtuh ini sebenarnya bukanlah SD sungguhan, seperti yang diceritakan di dalam cerita. Bangunan ini hanyalah replika dari kisah tersebut. Namun, terdapat gaya magis yang aku rasakan sehingga aku benar-benar berada ada lokasi sebenarnya.


Reira berkata bahwasanya ia tak pernah benar-benar berada di situasi seperti ini. Maksudnya, dengan bangku dan meja kayu yang kadang-kadang rapuh dimakan rayap. Ia tak pernah pula merasakan bau laci yang penuh oleh sampah makanan, persis seperti laci sekolah negeri yang pernah aku masuki. Mentang-mentang sekolah gratisan, namun para muridnya kadang tidak pernah memerhatikan kebersihan. Wanita berambut terikat itu girang ketika berdiri di depan, layaknya seorang guru. Ia bahkan mengaku tak pernah berdesak-desakan mengantri mie instan di kantin yang menjadi makanan primadona di setiap tingkat sekolah.


Ya ... hal itu semua karena Reira di sekolah swasta berstandar internasional yang teman-temannya orang bule atau orang-orang sipit yang kaya. Aku tak heran juga kenapa ia bisa disekolahkan di sana karena terlahir dari keluarga yang sangat berada, walaupun Reira membenci hal itu dan bahkan ingin terlahir kembali dari kalangan yang biasa-biasa saja.


Aku tak membayangkan berapa jajan yang dihabiskan sebulan ketika itu, atau biaya satu semester sekolahnya. Bisa jadi bisa membiayakan aku hingga tamat sajana, atau bahkan tingkat magister sekali pun. Namun, anehnya tidak sekali pun ia terlihat berteman dengan kalangan-kalangan SMA. Setidaknya aku tahu jika punya teman bule yang ia kenalkan padaku. Yang lain ialah Reira malah memilih kampus negeri, bukan kampus swasta yang memiliki fasilitas bagus, atau bahkan bersekolah di luar negeri seperti kakaknya.


Aku lupa, ia adalah Reira yang lebih memilih berteman dengan anak jalanan, daripada geng mobil yang bejejeran di depan cafetaria kampus. Walaupun ia bisa meminta untuk dibelikan satu mobil dan langsung datang keesokan harinya. Jangankan itu, Reira bahkan berani menantang Pak Cik Milsa untuk menjual sepetak tanah kebun duriannya hanya untuk membawa Bang Ali dan teman-teman makan durian sepuasnya.


Tidak apa-apa, aku juga senang jika Reira seperti itu. Aku juga bingung jika berpacaran dengan mengikuti selera anak orang kaya. Ia pasti tidak akan mau aku bawa dengan vespa butut tahun lima puluhan milik Dika itu, atau motor rakit modifikasi yang selalu dibawa oleh Dika untuk balap liar. Aku beruntung karena Reira merupakan tipe orang yang sudah sangat senang apabila aku bawa makan nasi goreng di tepi jalan.


“Kalian tahu Antartika itu ada di mana?” tanya Reira dengan bersuara seperti ibu guru. “Eh, David dan Candra di belakang jangan meribut.”


Aku dan Candra memasang wajah heran satu sama lain. Padahal kami sama-sama tidak ada mengerjakan apa pun, kecuali memerhatikan setiap kalimat yang ia ucapkan.


“Kami tidak ada melakukan apa pun, Bu,” balasku sembari mengangkat tangan.


“Jangan melawan kamu, David!” Ia menunjukku, lalu melangkah ke arah kami bertiga. “Kalian tiru Zainab dan Mawar ini.”


“Di mana-mana murid cowok memang enggak ada benarnya, ya,” sambung Candra.


Sorot mata tajam Reira mengarah pada Candra. “Lo ... eh ... kamu satu lagi! Coba kamu ucapkan kelima butir Pancasila dengan berurutan.”


Candra menghela napas karena mendengar permintaan Reira itu. Tatkala Reira menghentak meja dengan ujung handphone mahalnya itu―ia tidak peduli handphone itu akan pecah―barulah Candra mengucapkan kelima butir Pancasila dengan lancar.


“Bisa kan saya, Bu.” Candra menunjuk dirinya sendiri. “Udah jelas gue petugas ngantarin kertas Pancasila ke pembina upacara setiap senin.”


“Apa hubungannya lo lancar atau enggaknya dengan ngantarin kertas doang.” Suara Reira kembali seperti biasa. Kemudian, ia berlagak seperti guru lagi dengan melangkah ke arah depan kelas. “Untuk apa hapal Pancasila tapi tidak bersifat sesuai dengan Pancasila. Sebutkan contoh yang seperti itu, Mawar.”


Kepala Mawar berdiri setelah dicecar oleh pertanyaan. “Ada banyak orang sok pancasilais tapi tetangganya sendiri enggak tahu jika sedang kelaparan.”


“Iya, seperti papa gue!” Reira mengangguk paham. Tangannya menghantam papan tulis hitam, meskipun pelan. “Gue benci orang-orang yang katanya wakil rakyat, tapi masih dengan sombong berkendara pakai duit rakyat, parahnya lagi di tengah masyarakat yang melarat.”


“Jadi solusinya apa dong, Bu?” tanyaku.


“Revolusi habis-habisan negeri ini! Perbaiki keadan mental bangsa yang bobrok, seperti anggota-anggota dewan busuk yang katanya wakil rakyat, tapi malah bikin kita melarat. Kalian lihat kaum-kaum Razel yang tiap hari melaut menangkap ikan buat mereka, tapi mereka tetap hidup di garis kemiskinan. Apakah mereka kehabisan ikan untuk dijual? Tidak ... selalu melimpah. Namun, ada banyak beban-beban lain yang mereka harus tanggung akibat ulah mereka itu!”


Aku tertawa pelan. “Sumpah lo bilangnya kaya orang lagi demo.”


“Oh, iya ... kalian harus ikut demo lain kali biar ngerasain perjuangan kami membela kebenaran. Jangan hanya di rumah dengan protes lewat sosmed. Tapi, turun ke lapangan. Di sanalah sejatinya mahasiswa berada.”


“Enggak, gue lebih milih di rumah baca buku,” balas Mawar dengan tersenyum. Tidak biasanya ia memulai percakapan.


“Untuk lo enggak apa, gue enggak mau kulit lo gelap gara-gara panas. Ada orang yang harus gue persiapkan―” Kalimat Reira terhenti tiba-tiba.


“Jangan bilang lo ngejodohin Mawar dengan orang lain? Hahahah.” Tawa Candra menggelegar ke penjuru kelas.


“Ah ... jangan sembarangan.” Ia berbalik melangkah ke pintu. “Ayo kita ke pantai!”


Layaknya seorang pemimpin, kami serentak bangkit dari duduk dan mengikuti langkahnya keluar. Seakan tidak sabar, langkahnya bahkan lebih cepat dariku yang akan menjadi supir nantinya.


Semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Reira menjatuhkan kepalanya ke paha Mawar, lalu mengangkat kakinya hingga hampir keluar melalui jendela yang terbuka. Berkat ia memperlihatkan sisi manja yang sama sekali jarang ia tunjukkan, Mawar pun mengelus rambut Reira hingga membuatku tertawa sendiri melihatnya. Persis seperti seoang adik yang tengah menjatuhkan kepala ke pangkuan seorang kaka. Mawar pun cocok sekali dengan pembawaan yang lebih dewasa daripada kami semua.


“Sumpah kalian kaya adik-kakak kalian,” pujiku. Pedal gas pun aku pijak pelan-pelan hingga bergerak perlahan.


“Gue lebih tua dari dia, mungkin juga dari kalian semua walaupun kita semua sama-sama naik semester 7,” balas Reira.


Aku menoleh ke belakang sementara. “Oh, ya? Sok tahu lo.”


“Gue pernah tinggal setahun sewaktu SD.”


Kalimatnya menghentak kami semua yang ada di dalam mobil, apalagi orang yang paling jenius di antara kami, yaitu Mawar. Sudah pasti ia sangat terkejut mendengar kata 'tinggal kelas' karena dirinya mungkin saja murid terbaik di kelasnya pada saat itu.


“Tunggu, apa gue enggak salah dengar?” tanyaku meminta kepastian. “Seorang Reira tinggal kelas?”


“Gue kira lo anak yang pintar.” Tiba-tiba Candra memunculkan suara dari belakang.


Tepat sekali jemari Reira menarik rambut keriting anak itu hingga Candra berteriak untuk dilepaskan. “Eh, gue pernah jadi wakil olimpiade eksperimen sains se-nasional, kami mendapatkan medali silver. Enggak hanya itu, tim sekolah kami juga direkomendasikan untuk bertanding di Bangkok untuk Asia Tengara. Walaupun kami enggak dapat apa-apa, gue ini bukan anak yang bodoh. Bentuk gue aja yang dekil.”


Aku tersenyum mendengarnya yang tengah meninggikan diri setelah sempat dicoreng oleh Candra. Reira punya segala hal untuk menjatuhkan lawan bicaranya, apalagi anak itu.


Tanganku memutar stir mobil ke kanan setelah Zainab memintaku untuk berbelok.


“Coba ceritakan bagaimana seorang Reira bisa tinggal kelas sewaktu SD.”


Ia memajukan tubuh ke depan, tepat di antara aku dan Zainab di depan. “Gue pernah sekolah di SD negeri selama dua tahun. Nah, gue tinggal kelas di kelas dua gara-gara gue sendiri yang minta enggak mau sekolah.”


“Parah ni anak minta enggak mau disekolahin!” sambungku frontal.


“Dan parahnya lagi diizinin sama orangtuanya.” Candra menambah panas sindirianku


Reira tertawa mendengar itu. “Ya gue ini anaknya agak beda dengan yang lain. Gue enggak mau disuruh ini itu, kalau enggak ya enggak. Jadi, suatu hari gue merasa bosan gara-gara sadar kalau setiap hari guru di kelas itu-itu aja. Lo tahu sendiri kan kalau wali kelas SD memegang banyak mata pelajaran sekaligus.”


“Jadi, cuma itu yang bikin lo enggak mau sekolah?” Mawar mengikuti percakapan.


‘Iya, gara-gara itu gue enggak mau sekolah dan gue enggak mau pergi ujian.” Reira mengangguk pelan. “Hebat, kan?”


“Itu gila, bukan hebat. Kalau gue kaya gitu, udah kena ikat pinggang Ayah. Ayah gue serem, sumpah!” balasku.


“Lo kira Papa enggak marah besar apa? Gue dibawa ke klinik Psikolog Anak buat nyari masalah gue. Papa gue curiga gue ada gangguan atau dapat bullying di sekolah. Gue kira gue waktu itu sedang demam. Gue dengernya cuma klinik.”


“Trus, bagaimana kelanjutannya?” tanya Mawar.


“Hahaha ... gue mengaku kalau gue malas buat sekolah gara-gara itu. Akhirnya gue dipindahin ke sekolah internasional sama papa. Tapi, gue makin enggak mau sekolah.”


“Lah, ini kenapa lagi? Lo memang dasarnya enggak mau sekolah bilang aja!” Candra terdengar kesal dari belakang. “Iya, kan? Ngaku aja.”


“Ih, kok maksa, sih!” Tangan Reira mendorong wajah Candra untuk menjauh. “Dengar dulu cerita gue. Belum selesai udah lo potong!”


“Jadi, ini gara-gara apa lagi?” tanyaku.


Reira tertawa keras kali ini. Tubuhnya ia sandarkan sembari memegang perut. ”Itu cuma gara-gara teman gue enggak ikut pindah. Gue maunya dia juga pindah ke sana. Anak itu udah kelas lima waktu gue kelas dua. Akhirnya, dia juga dipindahin ke sana di tahun ajaran selanjutnya gara-gara orangtuanya berteman dekat sama papa gue. Ya ... gue enggak mau aja pisah sama dia karena dia teman baik gue waktu itu. Pergi dan pulang selalu sama supirnya dia.“


“Anak orang kaya mah gitu. SD aja udah disupirin. Lah, gue ngayuh sepeda. Sampai di sekolah, seragam udah kusut. Pulang sekolah badan udah bau comberan gara-gara dibawa nangkapin ikan ****** di parit.” sambungku.


“Gue jalan kaki satu kilo sama teman-teman.” Candra mengangkat tangan.


“Aku diantar Bapak, sih. Tapi kalau pulang, aku jalan sama teman-teman,” balas Zainab.


“Jangan tanya gue deh anak nelayan mana ada yang pake mobil,” sambung Razel.


Hanya Mawar yang tak menjelaskan pengalamannya. Ia hanya tersenyum melihat kami yang mengenang masa-masa SD.


“Selama sebulan penuh gue akhirnya dibawa melaut sama kakek buat ngantar minyak mentah ke Laut Cina Selatan. Di sana ada kapal induk minyak, jadi ada banyak kapal-kapal kecil yang ngantarin minyak mentah ke sana. Ya ... ada banyak pengalaman yang sangat gue ingat waktu itu. Gue ngepelin lantai kapal walaupun hanya sanggup sepetak kecil, membantu dapur umum buat masak walaupun cuma ngupas bawang sebiji, dan banyak lagi. Itulah titik balik gue hingga jadi kaya gini.”


“Di umur sekecil itu lo udah pergi melaut, Kak?” Razel antusias dengan kalimat itu karena bersangkut paut dengan hal lautan.


Reira mengangguk. “Iya, gue melaut sebulan penuh sama Kakek. Di sana gue banyak dengar nasihat dari Kakek. Gue dibuat sadar kalau jadi anak orang kaya itu bukanlah sebuah keberuntungan, beruntunglah lahir dari keluarga susah. Jadi anak orang kaya, lo enggak bakalan tahu susahnya berjuang dari nol, beda sama anak-anak dari kalangan bawah. Makanya gue sebisa mungkin untuk terlihat biasa-biasa aja.”


“Pengalaman lo menyentuh gue,” puji Mawar.


Reira memeluk Mawar. “Iya ... kecantikan lo menyentuh gue. Kapan sih gue jadi secantik lo biar David matanya enggak jelalatan ke mana-mana.”


“Reira ... mulai,” sindirku sembari melihatnya dari sepetak cermin yang terletak di atas.


“Bener itu, Rei. David memang begitu dia.” Candra semakin semangat memanaskan suasana.


“Lo satu lagi!” balasku pada Candra.


“Itu cewek yang nge-chat tadi malam siapa, Bang?” Razel malah ikut-ikutan.


Aku pun menghela napas berkat kedua teman yang tidak tahu diri ini. Mereka tertawa bersama-sama dengan menyindiriku seolah-olah aku merupakan pria hidung belang yang suka selingkuh. Namun, itu pula yang mencairkan suasana di perjalanan yang seru ini. Tawa yang digelakkan begitu tulus, bercampur dengan cerita menyentuh Reira yang tak ada habisnya. Belum lagi mengenai kakeknya itu.


Hanya satu yang aku kutip dari ceritanya itu.


Aku beruntung terlahir di tengah-tengah keluargaku.


***