Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 5 (S3)



Kakek Tarab hanya tinggal sendirian. Istrinya sudah lama meninggal tatkala bangsa ini memasuki krisis moneter tahun 1998. Anaknya ada dua, sudah mapan semua di Ibu Kota Jakarta. Tidak ada satu pun penerusnya sebagai penguasa pelabuhan, melainkan terjun ke dunia pendidikan. Menurutnya, malah bagus tidak ada anak laki-lakinya itu yang besar menjadi preman seperti dirinya. Menjadi preman itu tidak baik, meskipun anaknya dibesarkan dari uang kutipan yang ia terapkan kepada warga pelabuhan pada saat itu.


Jejak-jejak premanisme terlihat jelas dari sosok Kakek Tarab. Ia memiliki tato di sekujur tubuh belakangnya, meskipun sebenarnya tato bukan menjadi patokan seseorang itu preman atau tidak. Namun, Kakek Tarab menyatakan jika tato ini menjadi tanda jika ia penguasa pelabuhan tatkala itu karena ada simbol-simbol tertentu. Tato pula yang membuatnya banyak berpindah tempat karena menjadi incaran para penembak misterius pada zaman Orde Baru karena dianggap simbol premanisme.


Pria tua itu pindah ke Teluk Ratai karena istrinya berasal dari daerah ini. Meninggalkan profesi sebagai preman dan beralih sebagai pelaut memberikannya banyak pengalaman bersama Kakek Kumbang. Kakek Kumbang banyak memberikannya pelajaran melaut sehingga ia sendiri mampu menjadi nelayan yang mengarungi lautan. Akhirnya, ia menetap di sini hingga waktu yang telah ditentukan, yaitu kematian. Ia ingin mati di tepi laut di mana seluruh kebutuhan tersedia untuk ia nikmati.


Aku berada di kapal untuk bersantai menikmati anggur peninggalan Kakek Kumbang. Razel sibuk di atas untuk melakukan apa saja yang ia inginkan. Tebakku, ia hanya bermain harmonika yang selama ini ia pelajari dari ayahnya sendiri. Di laci meja, terdapat sejumlah berkas-berkas lama mengenai laporan keuangan Kapal Leon semasa kepemimpinan Kakek Kumbang. Surat-surat darinya juga tersimpan di dalam laci itu. Ponsel Razel aku tahan agar ia tidak bermain media sosial, aku takut ia akan mengunggah sesuatu mengenai kegiatan selama ini. Mengenai ponsel dan kartu SIM milikku, sudah aku hilangkan ke dalam laut. Ya … aku tidak lagi memiliki ponsel saat ini. Reina saja tidak akan pernah tahu aku berada di mana, meskipun aku tetap menghubunginya dengan ponsel milik Razel.


Tanganku menyentuh selembar kertas yang sudah menguning. Tertuliskan sepuluh larangan Kapal Leon ketika aku baca. Sesegera mungkin aku menghampiri Razel untuk memberitahukannya.


Sepuluh Larangan Kapal Leon


Peraturan dibuat untuk dilanggar, tidak ada yang memintamu untuk menaatinya, kecuali tidak ingin dicampakkan ke dalam laut. Setiap larangan disahkan oleh cap darah Kapten Kumbang, Syarif Harmonika, serta Erasmus Kompeni. Silahkan dilanggar:


1. Dilarang menyembah paus lautan


2. Membantah Tabrani itu sebuah dosa


3. Laut bukan tempat membuang donat


4. Dilarang membunuh pemilik burung hantu, pemilik burung kakak tua, atau orang-orang yang ingin memiliki burung hantu dan kakak tua


5. Cinta tidak dilarang, kami hanya melarang bercinta


6. Berjudi rokok boleh, tetapi tidak di hari jumat, sabtu, dan minggu


7. Siapa yang mengambil makanan Catalonia, berakhir di loker Davy Jones


8. Memotong jari kelingking itu dosa


9. Jujurlah ketika buang air tidak disiram


10. Menolak belajar membaca dan berhitung dengan Syarif


Tulisan pada surat itu sudah memudar, tetapi masih bisa aku baca dengan baik. Sama sekali tidak aku mengerti apa yang sedang dituliskan oleh Kakek Kumbang. Setiap dalil berbunyi konyol, hingga Razel tertawa, aku pun tertawa sembari membacanya. Hanya satu dalil yang bisa aku mengerti dengan lugas, yaitu Cinta tidak dilarang, kami hanya melarang bercinta. Aku rasa dalil ini yang sudah dilanggar oleh Borneo hingga dicampakkan ke laut sendirian oleh kakekku sendiri.


“Apa-apan itu? Siapa yang pengen memotong jari kelingkingnya sendiri?” tanya Razel sembari menutup wajahnya yang tidak sanggup menyembunyikan tawa.


“Hahaha … Gue pun enggak ngerti apa yang sedang dituliskan di sini. “ Aku menyentuh tulisan terakhir pada kertas itu. “Ternyata bapak lo orang yang suka mengajar membaca dan berhitung.”


“Asa lo tahu Kak, gue pernah hampir dicampakkan ke laut karena terus aja bilang dua kali dua itu sama dengan enam. Aku dikejar sama Bapak karena enggak mau belajar lagi.”


“Itu karena lo menolak belajar menghitung dengan Kakek Syarif ….” Aku melipat kertas itu kembali seperti semula. Tatkala itu, mataku melihat seseorang yang berlari ke arah kapalku. Lalu, papan penyambung kapal dan tepian bergetar tatkala ia berlari. “Borneo?”


“Jangan bilang aku di sini!” Ia berlari langsung ke dalam anjungan kapal untuk bersembunyi.


Terdapat pula beberapa orang yang mengejar Borneo hingga mereka berhenti di tepian dermaga. Razel memasang badan agar mereka tidak segera masuk karena ia tahu kalau aku tidak menyukai orang asing masuk ke dalam kapal tanpa izin.


“Kalian mau apa?!”


Celurit terpasang di tangan mereka sembari menodongkannya kepada Razel. Razel tidak ingin kalah, ia mengambil parang bapaknya yang berada di kotak penyimpanan. Aku bersiap-siap dengan pistol yang terselipkan di celah dalam celana. Pistol itu penuh dengan peluru yang mampu membolongkan kepala empat orang tersebut.


“Kami tahu anak itu ke sini. Serahkan mereka ke kami, bangsat!” teriak orang yang kelihatan seperti pemimpin.


“Kau jangan macam-macam! Ngomong apa kau barusan!” Razel malah maju ke depan.


“Kalian ada urusan apa dengan Borneo?” tanyaku baik-baik. Aku rasa Borneo sudah cemas karena aku sebut namanya.


“Borneo berhutang satu juta rupiah kepada bos kami. Kami ke sini untuk menagihnya.”


“Selain itu ada lagi yang jadi masalah?” tanyaku kembali untuk memastikan.


“Jangan banyak omong!” Ia menadahkan celurit ke arahku. “Serahkan bajingan itu!”


Aku mengkode kepada Razel untuk mengambil sesuatu di ruangan pribadi Kakek Kumbang. Ia sudah mengerti maksudku agar mengambil sejumlah uang yang akan dibayarkan kepada mereka. Lima menit aku mendengar sumpah serapah mereka yang menghujat diriku dan Borneo, tidak lama kemudian Razel datang menyampakkan uang yang ada di dalam amplop.


“Satu juta dibayar kontan. Jangan pernah kejar Borneo lagi!” Aku meludah ke bawah laut.


“Anggap aja dia beruntung kali ini.” Tampak ia menghitung uang di dalam amplop tersebut. Setelah memastikan uangnya sudah sesaui, ia mengangguk kepada teman-temannya. “Ayo pulang.”


Memang, uang satu juta rupiah sangatlah kecil bagiku. Namun, hujatan-hujatan preman itu sungguh membuatku terhina. Aku menerima hinaan dari orang bodoh seperti mereka demi melindungi informan terbaik untuk kali ini. Sesegera mungkin aku menarik tubuh Borneo, lalu mendudukkannya di atas meja anjungan kapal.


“Kau tahu apa ini?!” tanyaku.


Pistol revolver berpeluru penuh terhempas di atas meja untuk aku tunjukkan padanya. Ia terkejut melihatku yang memiliki itu.


“Akan aku ganti uangmu nanti!”


Merasa tidak puas, aku mengambil alih parang dari tangan Razel dan menancapkannya ke atas meja kayu. “Kau berhutang nyawa dengan ini. Demi Tuhan, ada masalah apa kau dengan preman-preman itu?!”


“Aku kalah judi,” jawabnya pelan.


“Mau aku apakan anak ini?!” Tanganku menarik kerah bajunya. “Sekali lagi gue lihat lo terlibat dengan preman-preman itu, sumpah lo bakalan gue campakkan ke laut.”


Logat sehari-hariku keluar untuk berbicara padanya kali ini. Ia tampak memicingkan mata dan tidak sanggup melawan. Jika ia melawan atau bersumpah serapah padaku, sungguh parang ini akan bergores ke tubuhnya.


“Maafkan aku Rei, utang itu masalah lama. Aku hanya kuli angkut kapal. Terkadang aku memutar uang dari judi untuk bertahan hidup.”


Mendengarnya memelas, aku tidak lagi memegang kerahnya.


“Jangan pernah berjudi lagi,” pintaku.


Ia mengangguk paham, hanya saja ia tidak sanggup memandangku karena utangnya sudah aku bayar keseluruhan.


“Kau sudah makan?” tanyaku.


“Sudah … bosku tadi ngasih nasi bungkus.”


“Nanti malam, datanglah ke rumah Kakek Tarab. Kita makan malam di sana.” Aku berbalik diri sembari memberikan parang itu kembali kepada Razel.


“Enggak … aku enggak akan ke sana lagi.” Ia menggeser pistol revolver itu kepadaku. “Datanglah ke gubukku, nanti akan aku buatkan makanan. Tapi, makanan sederhana. Anggap aja aku lagi berterima kasih.”


“Baiklah … kami bakalan ke gubukmu nanti. Jemput kami di gerbang dermaga pukul sembilan malam. Ada hal yang pengen aku tanyakan.”


Tentu saja aku ingin menanyakan mengenai Sepuluh Larangan Kapal Leon. Dalil-dalil itu membuatku penasaran bagaimana Kakek Kumbang membuatnya.


***