
Sebelum aku meninggalkan kampusku untuk seminggu, Ali telah berpesan kalau mereka punya punya base camp tempat berkumpulnya orang-orang dari kampus untuk persiapan mendaki Bromo. Di sana adalah rumah salah satu anggota senior Mapala kampus yang mendedikasikan rumahnya untuk dijadikan tempat berkumpul para pendaki.
Tidak terasa kami sudah di sekitar empat jam perjalanan. Aku tidak tahu jalan, biarkan Adrian yang melakukan. Matahari telah menyambut ketika aku terbangun dari tidur dangkalku. Adrian berkata bahwa aku dan Candra tidak sempat menikmati udara pagi di Kota Probolinggo. Kami berdua tertidur ketika mobil melewati kota seribu taman tersebut.
Kami tiba di sebuah desa bernama Ngadisari. Udara dingin sangat terasa menusuk ketika Adrian membuka kaca mobil. Ia berkata bahwa jarang sekali ia merasakan udara sesejuk ini, sehingga membiarkan kami yang menggigil di bangku belakang. Rumah-rumah warga berdiri kokoh dengan dinding batu. Setiap rumah tampak terparkir sebuah sepeda motor modifikasi yang dipakai untuk ke ladang. Beberapa warung penuh dengan bapak-bapak dengan jemari yang terselipkan sebatang tembakau kretek.
Aktifnya Gunung Bromo menjadi berkah tersendiri dibalik bencana yang kapan saja bisa terjadi. Lereng-lereng gunung tampak ditanami oleh sayur-sayuran hijau. Masyarakat dengan rasa syukur yang mendalam, mengolah alam menjadi sumber rezeki utana.
Rasa kantukku hilang ketika mobil berhenti di sebuah rumah kayu bertingkat dua. Atapnya terbuat dari seng yang sudah berkarat. Beberapa sepeda motor dan sebuah mobil Hardtop terparkir di depan barisan pot bunga yang sengaja diletak untuk memperindah tampak depan rumah. Rumah itu memanjang ke belakang. Tepat di ujungnya, terdapat balkon yang langsung menghadap ke Gunung Bromo.
Tanpa basa-basi Adrian langsung memasuki rumah itu tanpa salam. Stiker yang bergambarkan kampus kami tertempel di pintu masuk utama. Rumah ini terasa sejuk karena hampir keseluruhannya terbuat dari kayu.
Adrian menyalami seorang pria tua yang sedang mengenakan sarung dan peci.
"Jajang ada, Pakde?" tanya Adrian. Ia menatap kami sesaat. "Oh iya, ini Pakde Slamet. Bapaknya Bang Jajang. Itu loh ... teman gue yang punya rumah ini."
"Jajang lagi keluar kota. Maklum, dia kan baru punya istri." Ia menyambut tangan kami untuk bersalaman. "Kalian pasti letih karena udah jauh-jauh dari Surabaya. Mari Pakde antar ke atas. Kamar bawah semuanya udah penuh. Tadi pagi baru saja datang rombongan dari kampusmu."
"Terima kasih, Pakde," jawab kami bersamaan.
Rumah ini terdapat banyak kamar-kamar kecil yang bisa dipakai sampai lima orang sekaligus. Di bawah terdapat tiga kamar, sedangkan di lantai dua terdapat lima kamar. Pantas saja rumah kayu ini terlihat besar dan memanjang ke belakang.
Menurut cerita Adrian, rumah ini dahulunya merupakan rumah terbengkalai yang di beli oleh orangtua Jajang untuk dijadikan peristirahatan Jajang dan teman-temannya ketika ingin mendaki. Jadi, mereka tidak perlu menyewa kamar warga sekitar untuk dijadikan peristirahatan. Hingga saat ini masih terpakai untuk warga kampus yang berkunjung.
"Bang, gue keluar dulu. Mau nyari angin," ucapku ketika menyampakkan tas ke atas kasur.
Jaket tebalku tidak cukup untuk menghangatkan tubuh. Gigiku masih saja menggertak oleh dingin yang menusuk. Suaranya tidak terdengar karena tertahan oleh sebatang tembakau yang kembali terselip di sela bibir. Hembusan pertama terasa menghangatkan tenggorokan, sekaligus membawaku tenang seperti awan tipis di puncak Gunung Bromo.
"Bang David?" tanya seseorang di belakangku.
Ketika aku menoleh, kudapati pria tinggi berbadan tegap yang pernah aku lihat bersama Reira ketika di café-nya. Wajahnya terlihat maskulin dengan kumis tipis di bawah hidung. Ia lebih muda dariku, tidak ada garis wajah pertanda pahitnya hidup sudah mendatangi dirinya. Masih berbau-bau manisnya masa SMA.
"Red? Temannya Reira waktu di café itu, kan?"
Sungguh, aku pernah dibuat cemburu oleh kehadiran dirinya.
"Iya, ini gue, Redi. Kak Reira ke mana? Tiba-tiba aja dia pergi tanpa memberi tahu kami. Pakde bilang, kalau kemarin ada cewek yang menginap sehari di sini. Subuh tadi, dia barusan aja pergi. Gue kira dia pergi sama Abang. Soalnya sehari sebelum Kak Reira pergi, dia ada cerita," balasnya.
"Reira pergi sendirian ke sini dan gue lagi nyusul dia." Aku mulai mencemaskan gadis laut itu kembali. "Dia cerita apa?"
"Reira memang jarang cerita soal dirinya, tapi ini udah sering terjadi, kok. Kak Reira pasti hilang tiba-tiba kalau dia lagi ada masalah." Dahinya tampak berkerut. Matanya bergerak menatap ke bawah. "Dia cerita kalau dia lagi patah hati karena orang yang dia cintai."
Seketika tubuhku bergetar oleh kalimat terakhirnya. Hatiku berteriak tanpa suara memanggil Reira. Tidak ada yang bisa kujawab, semua itu karena diriku. Teramat sangat dalam penyeselan yang kurasakan. Betulkah ia seterpukul itu karena aku? Salah besar jika rasa cemasnya melebihi rasa cemasku terhadapnya.
Maafkan aku, Rei ....
***