
Razel seperti orang kehilangan orangtua tatkala menemukanku yang sedang tidur di anjungan kemudi kapal. Wajahnya cemas sembari memegangi kedua pundakku dengan erat. Aku yang terbangun pun hampir sama cemasnya karena wajah Razel yang jelek itu. Aku kira ada seseorang yang berusaha memperkosaku tatkala sendirian di dalam kapal.
“Kak, lo dari mana aja?!” tanya Razel dengan panik.
“Lo sudah sikat gigi?!” Aku menutup mulut.
Ia pun turut menutup mulut. “Belum sih … tapi bukan itu intinya. Kakak dari mana aja?! Dari malam enggak ada, bahkan sampai pagi.”
Aku mengingat kejadian tadi malam karena Kakek Tarab hampir saja menemukanku yang sedang menguntit dirinya secara diam-diam. Aku membalas memegangi kedua pundak Razel.
“Kakek Tarab tadi malam berlaku aneh di dapur. Dia mengetuk-ngetuk area lantai kayu dengan ujung tongkatnya. Menurut gue, ada sesuatu di dalam sana.”
“Kakak juga belum sikat gigi!” Ia malah menyidirku.
“Jangan pedulikan itu,” balasku sembari melihat keadaan dermaga yang sudah sibuk di pagi hari. “Kita harus melihat apa yang ada di dalam lantai kayu dapur itu.”
Tidak ingin kehilangan momen, kami segera kembali ke rumah Kakek Tarab. Jam-jam segini biasanya kakek pemalas itu memintaku untuk membuatkan kopi sekaligus makan lontong sayur yang dibelikan oleh Razel. Jelas ternyata ia sudah menunggu kami di depan rumah dengan rokok kretek di tangannya. Wajahnya tampak tidak suka karena keterlambatan kami.
“Kalian ke mana saja?” tanya Kakek Tarab dengan nada yang tidak mengenakkan.
“Itu … hmm … mengecek kapal. Tadi malam hujan.”
Untung saja aku tahu tadi malam memang turun hujan sehingga bisa dijadikan alasan.
“Aduh … cepat belikan aku lontong.” Tongkat kayu mahoni Kakek Tarab menepuk bokong Razel. Lalu, arah matanya mengarah padaku. “Kau si Cucu Kumbang, buatkan kopi hitam. Jangan banyak gulanya, kemarin terlalu manis.”
“Baik Tuan,” sindirku.
Hari-hari di rumah ini tidak lebih sebagai pelayan pribadi Kakek Tarab. Untung saja ia memberikan kami tempat tinggal dan makanan gratis selama kami tinggal di sini. Itu pun akhir-akhir ini ia bertanya kapan kami pergi. Apakah ia tidak suka kami di sini atau malah ingin menjadikan kami pelayan lebih lama lagi, kami tidak tahu.
Sementara Kakek Tarab mendengarkan radio di luar sana, aku memanaskan air agar kopinya cepat terhidangkan. Sembari menunggu air mendidih, aku mencoba mencari area yang diketuk oleh Kakek Tarab menggunakan tongkat kayu mahoni tadi malam. Jemariku menyentuh setiap bilah kayu yang dijadikan sebagai lantai. Tatkala jemariku menyentuh dua bilah kayu, aku merasakan perbedaannya dari bilah-bilah yang lain.Ada perbedaan warna dan tekstur, sepertinya dua bilah ini bukanlah kayu yang serupa sewaktu pemasangan. Ada kemungkinan diganti atau pernah dilepaskan sebelumnya.
“Reira … cepat!” Kakek Tarab kembali memerintah.
“Tunggu dulu Kakek!” balasku sembari menghidupkan cahaya senter yang aku ambil di laci dapur. “Dasar kakek bodoh! Pandainya berteriak saja.”
Celah di antara dua bilah kayu lantai itu memperlihatkan area kosong yang ada di bawahnya. Aku pun mencoba mengetuk pelan untuk membedakan dari bilah-bilah lainnya. Ternyata memang benar, area tersebut berbeda bunyi layaknya ubin keramik kekurangan semen. Dengan sebisanya aku melihat isi di dalamnya, terlihatlah sebuah kotak di dalam sepetak kecil area kosong lantai kayu dapur.
“Entahlah apa ini emas atau enggak, yang jelas gue mau membukanya.”
Aku segera mengantarkan kopi itu sembari dimarahi oleh Kakek Tarab karena lama. Ia langsung menyeruput kopi dengan nikmat. Tidak lama kemudian, Razel datang dengan tiga porsi lontong sayur untuk sarapan pagi ini. Duduklah kami bertiga di meja samping rumah sembari mendengar radio berita pagi.
“Sudah tahu kalian di mana Kumbang?”
“Tenang Kakek, kami akan segera pergi dari sini,” sindirku.
“Apa yang kalian kerjakan selama ini? Kok masih belum dapat petunjuk?”
Kakek Tarab entah kenapa terlihat peduli dengan misi kami. Wajahnya berubah dari kesal menjadi penasaran.
“Kakek Kumbang pernah bilang Puncak Indrapura, kami mau ke sana,” ucapku.
Ia tertawa keras mendengar kalimat tersebut. “Mana bisa orang tua seperti Kumbang ke Puncak Indrapura. Kau ini mengada-ngada saja.”
“Emangnya apa itu Puncak Indrapura, Kakek?” tanya Razel.
“Kalian belum tahu? Ke mana saja kalian akhir-akhir ini? Aduh ….” Ia menggelengkan kepala, lalu menunjuk ke suatu arah. “Itu adalah julukan dari Gunung Kerinci yang ada di Jambi. Puncak Gunung Kerinci itu termasuk tertinggi di negeri ini. Hanya pendaki pengalaman yang bisa ke sana.”
Jelas kami kurang informasi mengenai hal tersebut karena fokus dengan pencarian emas batangan. Baru aku ingat untuk menanyakannya pagi ini. Aku kira Puncak Indrapura itu seperti istilah buatan Kakek Kumbang saja, ternyata sudah menjadi istilah umum.
“Aku orang yang kurang suka dingin, jadi enggak pernah mendaki gunung. Aku terbiasa di tepi pantai yang hangat,” jawabnya.
“Razel … sepertinya kita tahu ke mana kita selanjutnya ….”
“Mendaki gunung, sepertinya gue suka, Kak.”
Informasi ini segera aku sampaikan kepada Borneo. Aku tidak tahu kenapa anak itu enggan ditemui tatkala matahari masih bergantung di langit, melainkan diizinkan malam hari ketika ia setuju. Setelah memastikan ia tidak lagi bercinta seperti malam lalu, kami mengunjunginya. Beruntung Razel baru saja menjerat burung ruak-ruak sebanyak lima ekor. Tiga ekornya setuju untuk dipanggang setelah dikuliti, sementara dua ekornya lagi ia masukkan ke dalam kandang kecil menjadi persediaan makan esok hari.
Sembari menunggu burung panggang itu matang, aku memberitahu maksud kedatangan kali ini.
“Sudah saatnya kau jadi awak Kapal Leon ….”
“Apa hebatnya kau sehingga jadii kapten?” tanya Borneo.
“Akan aku temukan kau kepada Kakek Kumbang lagi. Bukannya kau mau keluar dari tempat ini, kan? Ingat, menjadi awak kapalku tetap digaji.”
Ia menghela napas sesaat. “Baiklah, memang itu tujuan Kakek Kumbang menyuruhku dua tahun lebih di sini.”
“Tapi sebelum itu ….” Aku menunjuk van milik Borneo. “Itu masih bisa dipakai, kan?”
Ia tertawa keras. “Hahah … ya mana bisa, kan udah rusak. Tapi, bisa diperbaiki. Mungkin lebih mahal.”
“Jangan bilang yang mahal-mahal sama Kak Reira,” ucap Razel sembari tersenyum.
“Berapa pun itu, aku tanggung semuanya, asalkan van itu bisa jalan lagi. Kau tahu tempat membengkel mobil di sini?” tanyaku.
“Tunggu, kita mau ke mana? Pakai van atau pakai kapal?”
“Keduanya karena aku juga butuh kendaraan darat ke mana-mana. Aku juga enggak bisa meninggalkan Kapal Leon ke sini.” Aku membalikkan ayam ruak-ruak di atas panggangan. Wanginya sudah mulai tercium lezat. “Ke Puncak Indrapura. Tempat itu adalah Gunung Kerinci. Kita akan mendakinya, Borneo.”
“Aku kurang yakin orang-orang kota kaya kalian bisa mendaki Gunung Kerinci,” balasnya dengan tampang tidak percaya.
Ujung telapak tanganku menempuk dahinya.
“Kau jangan remehkan aku dan Razel.” Tanganku beralih ke panggangan yang sudah siap diangkat. “Kita pergi setelah dapat emas itu. Aku tahu di mana emas itu berada, bukan pasti, tetapi kemungkinan di sana.”
“Emangnya di mana?” tanya Borneo penasaran.
“Di bawah lantai dapur. Aku melihat sebuah kotak di sebalik bilah kayu lantai. Ada atau enggaknya, kita harus membuka lantai itu. Tapi, aku bingung bagaimana cara membuat Kakek Tarab enggak ada di rumah seharian.”
Ia tersenyum. “Dia enggak akan pernah meninggalkan rumah.”
“Kita suruh orang menculiknya atau yang lain. Setelah itu kita langsung kabur kok.” Baalasku.
“Hahah … penculiknya akan duluan mati karena ditembak Kakek Tarab.”
“Jadi bagaimana caranya? Kau tahu?” tanya Razel.
“Minum … Kakek Tarab suka minum-minum. Beri dia minum sampai mabuk berat dan pingsan, lalu kita buka lantai kayu dapur itu. Barulah kita pergi menghilang …..”
Aku menjentikkan jari karena setuju.
“Baiklah, aku setuju. Perbaiki van ini secepatnya. Bekerja sama dengan Razel untuk itu …..”
Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba. Emas batangan satu kilo akan menjadi milik kami.
***