
Aku penasaran apa yang terjadi jika Kakek bertemu dengan Papa. Akankah dua balok es yang bertemu bisa saling mencairkan? Aku rasa akan terasa aneh jika Kakek masih menyimpan pistol di pinggangnya, lalu menodongkan tepat di kepala Papa karena kesalahan-kesalahan masa lalunya. Tidak lama kemudian, gigi palsu Kakek tanggal dengan tangan besar penjaga pribadi Papa yang sigap untuk menghantam pria tua.
Aku hanya duduk bersantai dengan gelas wine di kepalan tanganku, tertawa betapa bodohnya kedua pria itu. Tidak lupa pula aku mengajak Razel untuk membersamaiku dan Kakek Syarif datang sebagai pelerai. Kakek Kumbang mana mau jika diberhentikan begitu saja. Kepala Kakek Syarif sudah pasti benjol dengan ujung pistol yang dihantamkan ke kening. Tiga orang itu pun ikut dalam satu perkelahian bodoh, yang disaksikan oleh dua orang penerusnya.
Namun, semua itu hanyalah khayalan bodoh ketika aku tahu masa lalu bukanlah seperti itu. Jika Kakek Kumbang berseteru dengan Papaku, nyawa bukanlah sesuatu hal yang mahal baginya. Jika ia tidak memikirkan diriku dan Bunda, aku sudah pasti tidak lagi memiliki orangtua lelaki. Aku dan Reina selalu mengurung diri di dalam kamar ketika Kakek menodongkan pistol dan Papa mengeluarkan parangnya dari dapur. Dua orang itu tidak akan berhenti sebelum Bunda mengeluarkan carut marutnya dengan Bahasa Melayu.
Kini, cukup masuk akal jika Papa tidak ingin naik ke Kapal Leon. Bayang-bayang Kakek masih membekas di setiap suara langkah lantai kayu kapal tersebut.
“Antarkan dia ke helipad, jangan biarkan dia masuk ke kamar mayat,” ucap Alfian kepada security di lantai satu.
“Siap Bapak!” balasnya dengan sigap.
Alfian menunjukku. “Jangan aneh-aneh di atas sana. Jika papaku tahu, gue yang dibikin mampus.”
“Siapa yang mau masuk ke kamar mayat, sih!” Aku menenteng tas mendaki.
“Lo ga ingat?!” Ia menutup matanya. “Ah … cepet naik ke atas. Pak Bernardo udah di sana sedari tadi.”
“Ini baru jam sepuluh malam.”
“Dia di sana sejak pukul delapan, bodoh!”
Baiklah, ia pasti kesal dengan diriku yang menyelinap masuk ke kamar mayat waktu itu. Aku penasaran saja dengan apa yang dilakukan oleh tim forensik di dalam sana.
Security mengantarkan aku ke helipad yang berada di puncak gedung. Tampaklah Bapak Bernardo sudah menunggu dengan kopi kalengan dan rokok mild di tangannya. Ia menoleh ke belakang tatkala tangga besi bergoncang. Matanya berbinar seperti cerahnya malam ini.
“Aku ke sini langsung di antar oleh direktur rumah sakit.”
“Sepertinya aku kalah orang dalam di sini.”
Ternyata pemilik rumah sakit sudah mengetahuinya. Bagaimana tidak, Papa tinggal berjalan saja dari rumah ke kediaman beliau.
“Alfian sebenarnya takut kita berada di sini. Kalau orangtuanya tahu, jadi enggak masalah lagi.”
Ucapan terima kasih dan uang rokok aku berikan kepada security. Bisa jadi nanti ia akan kembali lagi ke sini jika kami memesan makanan secara online. Beliau pun pamit setelah menunduk kepada Papa, bukan kepadaku yang yang memberikannya uang rokok. Lagi-lagi, siapa yang tidak tahu dengan wajah Bernardo?
“Bantu aku mendirikan tenda kemah.”
“Kau ini seperti bicara dengan teman sendiri,” sindir Papa.
“Baik, Papa. Bantu Reira mendirikan tenda kemah,” ulangku.
Ia langsung membuka resleting pembungkus tenda kemah. Setelah ia keluarkan apa saja yang di dalamnya, kini Papa bingung karena tidak tahu apa yang akan dilakukan. Aku pun menjelaskan bagian-bagian tenda kemah yang pertama kali harus persiapkan. Beruntung tenda kemahku tidak perlu pengait yang harus ditanam ke tanah. Jika tidak, security secepatnya mengeluarkan kami dari sini karena aku menancapkan paku ke dasar helipad.
Dua tenda kemah pun didirikan. Sepaket peralatan masak portable sudah berada di hadapan kami. Aku menyerakkan makanan khas anak gunung yang tiada lain dan bukan ialah mie instan. Tidak lupa pula cerutu kuba milik Razel aku bawa ke sini, mana tahu Papa seorang penikmat cerutu.
“Kau makan mie instan sebanyak ini?”
Ucapannya persis seperti Bunda yang terkejut jika di dalam kamar selalu ada stok mie instan.
“Emangnya kenapa⸺”
Kalimatku terhenti ketika Papa membuka kotak koper. Ada bahan makanan mentah khas makanan korea yang pernah membuat Borneo hampir muntah karena aku memanggang daging terlalu mentah, anak kampungan ini mengatakan jika aku ingin meracuninya dengan makanan mentah. Dua potong steak sirloin lalu Papa letakkan di lantai helipad. Sementara itu, aku menyingkirkan mie instan khas anak kos tersebut.
“Kita makan ini saja. Kalau suasana begini kan paling identik dengan barbekyu.”
“Oke ….” Tentu saja aku tidak ingin menolak. “Berarti mie instannya masih bisa aku stok di rumah lagi.”
Bunyi berdesis terdengar ketika aku memanggang daging sirloin di atas wajan. Sementara Papa sibuk dengan sayur mayur serta daging irisan tipis faforitnya. Sayang sekali aku tidak membawa nasi untuk jadi teman makan malam ini. Merasa sayang dengan mie instan yang mubazir, aku pun menyeduh sebungkus hanya untuk diriku sendiri.
Sengaja aku tidak makan dari pukul tujuh agar bisa makan puas kali ini. Dengan suap besar, aku menyantap apa saja yang ada di depan. Papa masih saja dengan wibawa bapak-bapak tua elit meskipun sudah aku pinta untuk makan lebih banyak lagi. Tetap saja ia menolak daging sirloin karena takut tekanan darahnya naik.
“Ceritakan masa kecil Papa,” ucapku ketika membolak-balikkan gelas besar pembuat teh tarik. Aku belajar cara membuatnya dari Borneo langsung.
“Masa kecil?” Papa membakar ujung rokoknya. “Papa besar di Surabaya, lahir di Yogyakarta. Seperti anak-anak pada umumnya, Papa juga main sepertimu.”
“Yogyakarta ya?”
“Papa anak bungsu dari tiga bersaudara. Kami semua laki-laki, jadi sudah terbiasa keras sejak kecil. Seperti Kakek Kumbang, kakekmu juga hampir sama kerasnya. Jika kami bandel, alamat pasti ikat pinggang membekas di punggung kami.”
“Apa Papa sudah kaya dari kecil?”
“Nenekmu anak dari tuan tanah di Jawa Tengah, punya kebun kopi yang luas. Sementara kakekmu itu seorang dokter senior di UGM, satu angkatan dengan kakek dari Alfian. Kami pun pindah ke Surabaya karena kakekmu menerima tawaran jadi dokter rumah sakit di Surabaya berkat relasinya dengan kakek Alfian. Di sana aku besar dengan papanya Alfian. Jadi jangan heran kenapa sampai sekarang keluarga kita dekat sekali dengan keluarga Alfian.”
“Oh begitu, sepertinya aku paham kenapa direktur utama rumah sakit ini ngantarin Papa langsung ke sin.” Aku menuangkan teh tarik jadi ke dua buah cangkir. “Sangat membosankan besar langsung jadi kaya. Gerakku sangat dibatasi.”
“Bersyukurlah lahir dari keluarga kaya karena jika kau lahir dari keluarga miskin, gerakmu lebih sangat terbatas. Camkan itu,” tekan Papa padaku.
“Setidaknya aku juga harus diberikan kebebasan bergaul dengan siapa saja.” Aku menoleh kepada Papa. “Lalu, kenapa Papa enggak terlalu dekat dengan kedua saudara Papa?”
“Lahir dari keluarga kaya bisa jadi kesempatan yang bagus, bukan berarti itu awal dari titik kehancuran kalian. Kakekmu akhirnya meninggal. Selang lima tahun kemudian, nakekmu meninggal. Paman-pamanmu yang serakah, berseteru dengan masalah warisan. Kami pun pecah kemudian.”
“Masalah klasik persaudaraan,” balasku.
“Memang, itu masalah klasik tapi sangat merugikan.”
“Papa juga ikut berebut warisan, kan?”
“Masa bodoh dengan tanah, kebun, dan aset. Papa membawa buku-buku kakekmu dan sebagian kecil persenan dari warisan. Papa pergi dari Surabaya ke Jakarta untuk kuliah. Beruntung punya sahabat seperti papanya Alfian, aku tinggal di rumah pemberian orangtunya di Jakarta dan kami tinggal bersama semasa kuliah. Aku kuliah jurusan politik di UI, sedangkan papanya Alfian tertarik dengan dunai kedokteran.”
Aku tertegun dengan penjelasan masalah tersebut. Suatu alasan yang masuk akal kenapa sampai sekarang aku tidak terlalu mengenal keluarga sebelah bapak.
“Membawa buku-buku? Sepertinya Papa orang pintar dari dulu.”
“Harta cuma meninggalkan perpecahan di keluarga kami, sementara buku jadi teman seumur hidupmu. Lalu, aku berikan semua buku-buku kedokteran milik kakekmu ke papanya Alfian. Sementara aku berburu buku politik ke pasar buku-buku second biar menghemat uang.”
Munafik, ia sungguh munafik. Bukannya ia juga menjadi serakah ketika punya harta? Suatu kontradiksi di dalam penjelasannya.
“Aku tidak percaya jika Papa semiskin itu sampai beli buku-buku second.” Aku menggeleng.
“Itulah fakta yang terjadi. Ketika dua orangtuamu meninggal dan tidak ada saudara yang peduli, menghemat adalah cara satu-satunya karena tidak akan ada tempat mengadu.”
“Bagaimana Papa ketemu dengan Bunda?”
Aku menggeleng ketika Papa menawarkan aku rokok. Sungguh Papa yang bodoh!
“Fany anak jurusan bisnis di UI. Perempuan aneh dengan penampilan nyentrik dan bau ikan di tangannya. Dia pernah di investigasi kampus karena keterlibatannya dengan komunitas diskusi sosialis dari pemikiran Tan Malaka, pada orde baru pergerakan sosialis-komunis sangat diantisipasi. Pertama kali kami bertemu ketika kami ada pergerakan pemberantasan KKN orde baru di kampus. Ibumu jadi orator perempuan pertama di fakultas bisnis. Sementara Papa hanya notulen ketika pertemuan diskusi.”
“Mama seorang sosialis? Aku terkejut dengan itu.”
“Orang Sumatera pasti mengagungkan Tan Malaka saat itu, jadi wajar saja. Papa pun berkenalan dengan Fany sehabis demo karena Papa harus mencatatat argumennya untuk disebarluaskan di koran. Tangannya bau ikan!”
“Bau ikan?”
“Papa tidak bohong, Fany itu tangannya bau ikan. Perkenalan kami semakin jauh. Papa dibawa ke tepian dermaga nelayan. Usut punya usut, sebelum kuliah bundamu membantu Kakek Kumbang mengangkut ikan untuk dikirim ke Pulau Sumatera. Dia bukan anak manja sedari dulu.”
“Hahaha … ibuku tangannya bau ikan. Padahal, setahuku dia wanita anggun.”
“Masa muda kalian tidak jauh beda, Merasa paling bebas, unik, dan liar. Kakek Kumbang saja pusing melihat Fany. Jadi, aku harap maklum kenapa kau begini. Fany menurunkan sifat-sifatnya kepadamu, sementara Papa menurunan ketertarikan akademis ke Reina.”
“Benar, Reina lebih mirip dengan Papa. Dia suka dunia akademis dan bisnis. Sementara aku lebih suka berkelana dan memberontak daripada buku-buku dan mengurus bisnis.”
“Akhirnya bekal itu yang bikin kalian jadi orang besar. Papa punya dua anak gadis yang luar biasa. Satu anak perempuan cantik cerdas dan relasi bisnis di mana-mana, satu anak perempuan manis tangguh yang diincar kampus dan berani mengarungi lautan.”
Entah kenapa air mataku tiba-tiba saja keluar. Kalimatnya sungguh menyentuh hatiku. Rasa bersalah dan kesal menjadi satu membentuk satu garis tangis pada raut wajahku. Aku pun memeluknya dengan erat tanpa mempedulikan jika cangkir teh tarik racikanku sudah jatuh.
Satu hal yang aku sadari ialah ….
Ia sudah kembali … aku pun sudah berada di tepian setelah terlalu jauh mengarungi lautan yang luas.
***