Captain Reira

Captain Reira
46 ( T A M A T)



 Pagi menjemputku dengan cahaya mentari cerah dengan sedikit kicauan burung peliharaan tetangga sebelah. Semangatku bangkit karena mengingat bahwa hari ini jadwal keberangkatanku untuk petualangan baru, meskipun mataku masih terasa kantuk karena bergadang bersama Dika tadi malam. Aku tidak habis pikir untuk menonton bola bersama seluruh pegawainya. Seharusnya, malam tadi aku habiskan untuk tertidur pulas, mengingat kami akan lama bertahan di sana.


Koperku penuh dengan pakaian untuk di sana. Dika memaksaku untuk membawa pakaian lebih, namun aku menolak. Hal itu hanya menambah beban bawaan saja. Ia juga memintaku untuk membawa makanan untuk perbekalan di sana. Sekali lagi aku jelaskan padanya, Reira sudah menjamin urusan perut kami selama berpergian.


Hiruk pikuk bengkel Dika sudah dimulai semenjak dua jam yang lalu. Para pegawai bengkel dibiarkan untuk melakukan tugasnya terlebih dahulu. Sementara itu, Dika duduk di teras sembari mengisap tembakau paginya. Rambutnya masih acak-acakan karena tidak mandi, begitu pula wajahnya yang masih kusam akibat kekalahan tim bola kesayangannya tadi malam.


Aku menyalaminya. Dika akan kutinggalkan kira-kira selama seminggu lebih. Tidak ada lagi yang ia layani untuk makan malam sementara ini. Terpaksa dirinya berdiam diri di depan TV untuk menikmati makan malam sendirian.


"Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur. Gigi lo sering sakit," cemas Dika padaku. Dika menatapku sedih ketika menenteng koper menuju mobil Reira yang terparkir di depan rumah.


"Gue pergi dulu. Jaga rumah baik-baik.," balasku.


Reira mengambil koperku untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Sementara itu, Candra tetap bertahan pada stir mobil sembari berkaca melihat rambutnya yang keriting.


"Dika, kami pergi dulu, Gue bakal telpon kalau terjadi apa-apa." Reira melambai kepada Dika. Ia hanya memanggil nama, mengikuti kebiasaanku kepada Dika.


Candra membawa mobil menuju perkampungan nelayan yang pernah aku kunjung sebelumnya. Ia sudah termakan bujukan Reira sehingga terpaksa ikut dalam petualangan yang Reira rancang sendiri. Mobil berhenti di sebuah rumah nelayan kenalan Reira. Untuk sementara waktu, mobil akan dititipkan di sini.


Kapal-kapal bersender di dermaga kecil yang terbuat dari kayu. Para anak kecil berlarian mengejar satu sama lain untuk mencari kesenangan. Dentuman langkah mereka begitu riuh terhempas di jalan kayu yang setinggi dua meter dari air laut. Merekalah yang kulihat kemarin sewaktu mengejar layangan putus. Hilir mudik kendaraan bermotor membuat kami menepi. Bau ikan yang amis tercium dari ikan-ikan yang mereka angkut menuju pengepul.


Semua telah menunggu di dermaga. Beberapa anak remaja yang dianggap sebagai awak kapal Reira turut ikut dalam perjalanan ini. Hanya mereka yang bisa dibawa dari sekian banyak anak-anak jalanan yang dianggap sebagai adik sendiri oleh Reira. Reira berkata bahwa mereka akan ia paksa menyikat kapal, seperti adegan-adegan film bajak laut yang pernah ia tonton. Pria tua berkaca mata hitam itu sudah siap dengan harmonika di tanganya. Kakek syarif akan membimbing Reira selama perjalanan. Anaknya yang bernama Razel sudah berada di atas kapal Leon, kapal milik kakeknya Reira.


Aku belum memberitahukan perjalanan ini kepada kalian. Kini akan kuberitahu. Kami akan melakukan perjalanan menuju Pulau Belitung untuk mengangkut barang-barang harian dari Ibu Kota. Ini merupakan pekerjaan anak buah Kakek Syarif sebelumnya, tapi ia memercayakan ini kepada Reira untuk ikut berkecimpung mengangkut barang antar pulau. Reira sudah lama ingin berkelana di lautan. Keinginan itu akhirnya tercapai setelah mendengar rencana Kakek Syarif untuk mengirim barang ke Pulau Belitung.


Banyak yang akan kami lakukan di sana. Kami akan menyuplai barang-barang harian yang sudah dipesan sebelumnya kepada para pembeli di Pulau Belitung. Tentu saja kami harus membawa banyak orang, terutama beberapa anak buah Kakek Syarif dan awak kapal milik Reira yang turut ikut membantu. Selain itu, Reira membeli banyak pakaian anak-anak yang akan ia jual di sana. Dari uang upah angkut barang dari Kakek Syarif dan penjualan pakaian anak-anak, akan kami gunakan sebagai biaya makan di sana.


Kadang, aku tidak menyangka apa yang akan direncakan wanita itu Untuk apa bekerja keras seperti ini hanya untuk mendapatkan uang. Sementara, ia telah bergelimpangan uang dari orangtuanya. Ia hanya cukup melaut ke sana untuk melampiaskan keinginannya selama ini dan berliburan di Pulau Belitung. Namun, ia punya rencana lain. Liburan ini ia habiskan bekerja untuk Kakek Syarif.


Aku tidak sabar melakukannya. Kapal berbunyi ketika bergerak menuju lautan. Semua awak kapal sudah memasuki kapal dan melakukan tugas-tugasnya, termasuk Reira. Ia merupakan kapten kapal pada perjalanan kali ini. Kakek Syarif bahkan menjadi bawahannya. Padahal pria tua berharmonika itu sudah melaut selama puluhan tahun bersama kakek Reira. Ia sudah lebih dahulu berlayar ke Laut Cina Selatan, pesisir Antartika, dan Samudera Hindia bersama kakeknya Reira. Semua hal yang diimpikan oleh Reira selama ini sudah menjadi makanan oleh Kakek Syarif.


Kakek Syarif masih terlihat tangguh ketika berdiri di ruang kemudi. Reira tersenyum ketika menyorot semangat pria tua itu.


"Akhirnya lo bisa melaut juga," pujiku.


Rambutnya tersibak oleh angin laut yang menghantam. Wajahnya tersipu malu oleh pujianku tadi.


"Sepertinya kita bisa pulang lebih dahulu. Gue udah bilang ke Kakek Syarif kalau kita cuma punya waktu seminggu. Kita akan pulang dengan salah satu kapal milik nelayan di sini yang juga pulang ke Jakarta."


"Kenapa?" tanyaku dengan heran. "Jualan lo itu bahkan belum habis selama seminggu, mungkin."


Ia tertawa. "Lo harus mengawani gue beli baju buat acara pernikahan Fasha. Mana mungkin sahabatnya enggak datang, kan?"


Gadis laut itu berbalik. Ia pasang topi berhurufkan awal dari namanya. Langkahnya bergerak meninggalkanku menuju ruang kemudi. Rasanya ia sudah tidak sabar mengambil alih kapal untuk dikemudikan menuju Pulau Belitung. Memang, ia sudah bisa mengemudikan kapal, buktinya ia pernah membawaku memancing di laut sekitaran perkampungan nelayan. Namun, yang akan ia hadapi merupakan hal yang berbeda. Lawannya laut yang tidak bertuan. Laut bisa saja mengamuk kapan saja ketika ia menghendaki, mengombang-ambingkan kapal besar yang sedang Reira kemudikan. Jangan khawatir, Kakek Syarif akan selalu ada disampingnya sebagai pelaut handal.


Tangannya tampak memegang stir kemudi. Ia perbaiki letak topinya yang berubah akibat angin laut. Aku menemukan satu hal. Ia begitu percaya diri jika berhadapan dengan laut. Semangatnya melambungkan harga dirinya untuk sebuah mimpi.


Aku akan tetap menemaninya untuk mewujudkan mimpi gilanya itu, memberi makan pinguin di Antartika, melihat naga di Laut Cina Selatan, lalu mencari kodok sebesar kucing di daratan Afrika. Meskipun itu terdengarnya mustahil, akan kumulai dari yang terkecil sekali pun. Contohnya saja yang sedang aku jalani.


Akhirnya aku menemukan cinta dari seluk beluk petualangan yang kualami. Momen-momen spesial yang Reira bawa, menumbuhkan perasaan yang merekah perlahan mengelabuhi hati. Aku bahkan lupa bagaimana cara kami bertemu, hingga aku hanya mengingat cara kami menjadi satu.


"Hei, kau yang sedang berdiri! Sikat kapal ini, pemalas!!!" Ia berteriak memerintah padaku.


Itulah gadis laut yang kutemukan dengan segala ide-ide gila. Masih banyak hal yang terpendam dari imajinasi yang tidak terbendung. Aku tidak tahu momen spesial apa lagi yang akan menyeretku. Tunggu saja, wahai kawanku. Kau akan melihatnya nanti.


Ia adalah Reira.


Oh ... bukan.


Ia adalah Captain Reira.


***