
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Reira selama dua hari ini. Ia bagai menghilang ditelan lautan. Tidak satu pun panggilan yang bisa ia angkat, hanya berakhir dengan nada panjang berdengung pertanda panggilan itu dibiarkan. Sungguh, aku merindukan canda tawanya, walaupun hanya tidak bertemu dengannya selama dua hari ini.
Rumah Bu Fany seperti rumah kosong yang tidak berpenghuni. Sudah berkali-kali kuketuk pintu depan dan belakangnya, tetap saja tidak ada yang menyahut. Area rumah hanya tampak ramai oleh tanaman-tanaman yang banyak di halaman. Garasi belakang kelihatan kosong, biasanya sedan tua milik Reira selalu terparkir di sana. Mungkin saja, Bu Fanny masih menggunakan sedan tua itu ke keluar kota.
Pilihan kedua jatuh kepada rumah papanya yang besar itu. Sebenarnya aku segan berkunjung ke rumah sebesar itu, ditambah berurusan dengan security yang pastinya banyak tanya. Benar, baru saja aku berhenti di depan gerbang, sang security langsung menghampiri utnuk melarangku berhenti di sana.
"Dek Reira enggak pernah kelihatan semenjak itu," balasnya saat aku tanyai.
Reira tetap tidak ada. Security saja bahkan tidak mengetahui keberadaan Reira. Reira tidak pernah terlihat semenjak berseteru dengan papanya. Sejak itu, Reira tinggal bersama mamanya di rumah putih yang berhalaman bagaikan hutan. Reira hanya sesekali mampir ke rumah papanya untuk mengambil beberapa barang di kamar. Itulah pernyataan yang aku dapatkan dari security.
Satu-satunya jalan untuk mengetahui keberadaan Reira ialah café milik mamanya. Vespa 50 melaju di antara kemacetan ibu kota menuju mall tempat café-nya berada. Cukup dekat, namun kecametan ini membuat waktu tempuh menjadi hampir satu jam.
Terdapat beberapa waiter yang sedang melayani pelanggan. Aku pilih meja di mana aku dan Reira pernah duduk sebelumnya. Sebatang tembakau menyala dengan asap yang mengepul sembari menunggu waiter datang.
"Permisi, mau pesan apa, Mas?" tanya seorang waiter.
"Oh, bukan. Saya mau nanya mengenai Reira." Aku menghembuskan asap ke samping. "Reira ada enggak di café?"
"Neng Reira dua hari ini enggak ada datang ke sini. Saya juga heran, biasanya tiap malam ke sini bersama beberapa orang temannya," balasnya.
"Tahu enggak kira-kira Reira pergi ke mana?" tanyaku kembali.
"Maaf, Mas. Kalau itu saya kurang tahu." Ia menggeleng.
Aku diam sejenak. Pikiranku berputar-putar mengenai Reira. Jika gadis laut itu ditahan, berarti tidak ada kesempatan untuk dirinya berpergian. Lain hal jika hanya diperiksa, ada kemungkinan ia balik ke rumah. Namun, selama dua hari ini Reira tidak pernah aku dapati pulang ke rumah.
"Ya sudah, saya pesan espresso," pungkasku.
Waiter itu mengangguk dan bergegas pergi untuk menyiapkan pesananku.
Pahitnya espresso masih melekat di langit-langit lidahku. Mataku seakan tidak ingin tertutup, pupilku terasa terus melebar. Efek kafein yang kuat membuatku begitu fokus ketika berada di jalanan kampus yang sedikit berlubang. Sungguh, kampus ini butuh perbaikan jalan. Vespa milikku butuh jalaan mulus agar baut-bautnya tidak tanggal.
Tidak ada jadwal kuliah hari ini. Aku bebas untuk pergi ke mana-mana. Bosan rasanya bertahan di rumah yang sunyi itu. Tidak ada orang dan hiburan. Suntuk rasanya hanya mendengar dentingan jam yang terus bergerak tanpa henti dan mendengarkan ocehan tetangga yang sedang memarahi anaknya. Berharap pada Dika? Ia terlalu sibuk dengan bengkel dan para pegawainya. Kampus sendiri menjadi pilihanku untuk melepas jenuh.
Sebuah mobil menepi di depan Vespa-ku. Dari kilap mobilnya, aku sudah tahu siapa yang sedang di dalam mobil itu. Aku menepikan motorku. Seseorang pria tegap berisi keluar dari pintu mobil. Kusorot matanya yang penuh amarah. Aku tahu ini akan menimpaku, cepat atau lambat. Seseorang yang kulawan ialah salah satu orang yang paling berpengaruh di fakultasku.
"Jadi, lo yang merusak mobil gue?" tanya Bagas. Ia menarikku dari Vespa dan menghempaskan tubuhku ke trotoar.
Aku berusaha bangkit. Namun, sebuah pukulan telah ke pipi membuatku kembali tersungkur. Ketika ia kelihatan lengah, aku balas dirinya dengan sebuah serangan telak.
"Lo selingkuh dari Fasha? Fasha itu wanita baik, jangan pernah khianati dia." Aku menunjuknya yang sedang mundur beberapa langkah karena seranganku.
"Dia enggak akan pernah percaya kata-kata lo, sampai kapan pun itu. Dia cinta mati sama gue," balasnya sembari tersenyum licik.
"Jangan pernah berusaha menyakiti sahabat gue. Lo cuma memanfaatkan Fasha. Semua cowok yang dekat dengannya selalu begitu, termasuk lo!"
"Lo suka sama dia, kan?" tanya Bagas. "Dasar pengecut! Pengecut enggak akan pernah hidup!"
Ia kembali berusaha memukulku. Serangannya tidak berhasil karena aku dengan cepat mengelak. Serangan selanjutnya terlalu cepat bagiku hingga kepalaku kembali dihantam oleh pukulannya. Aku tersungkur. Pukulan sangat telak. Kedua telapak tanganku tidak henti memegangi wajahku. Serangan Bagas tidak hanya sampai di situ. Aku sangat merasakan betapa sakitnya ujung sepatu yang ia kenakan. Bagian tubuhku ditendang berkali-kali hingga aku tidak dapat bergerak.
Satu hal yang kembali aku ingat dari Rio. Jangan pernah berkelahi, lo enggak akan pernah menang. Ia menyadari kelemahan fisikku dan selalu menghindari adiknya dari adu fisik.
"Berhenti mendekati Fasha. Fasha itu sudah jadi milik gue. Lo enggak ada hak untuk merebutnya, walaupun gue tahu lo itu sahabat lama Fasha." Ia merapikan kemejanya yang kusut. "Kalau enggak, lo bakal bernasib sama dengan Reira!"
"Jadi, lo yang buat Reira ditangkap polisi?" Aku bangkit, lalu menghantam wajahnya hingga ia tersungkur ke trotoar. "Lo yang mengibus Reira?"
"Kalau iya, lo mau apa? Dia udah di penjara sekarang! Wanita seperti itu harusnya malu!"
Perkelahian kali ini menarik perhatian orang banyak. Beberapa mahasiswa berhenti untuk meihat keributan yang terjadi. Kamera-kamera dihidupkan untuk merekan perkelahian. Kemacetan tidak terhindarkan, terlalu banyak mahasiswa yang berhenti untuk menyaksikan. Tidak lama kemudian, security dari fakultas lain tiba dengan tongkat pemukulnya.
Menyadari kami telah menarik perhatian, masing-masing dari kamu mulai menarik diri. Bagas masuk ke dalam mobilnya sembari memaki orang yang menghalangi jalannya. Sementara itu, aku masih bersusah payah untuk menghidupkan Vespa tua milikku. Kami berhasil pergi lebih dahulu tanpa berurusan dengan security kampus.
***