Captain Reira

Captain Reira
32



Betapa mudahnya aku mengatakan pujian itu, seakan tak ada hambatan berarti. Fasha saja tidak pernah kupuji dengan kalimat lembut seperti itu. Terlalu banyak kata yang kutahan darinya untuk mempertahankan ego bodoh untuk tidak mengungkapkan perasaanku pada Fasha. Kini, itu mustahil untuk aku lakukan. Ia telah punya seseorang yang berhak memujinya, bukan aku.


Dress mahal itu dengan mudah ia beli dengan mengeluarkan berlembar-lembar pecahan seratus ribu dari dompetnya. Jangankan dress itu, handphone yang ia beri padaku hanya membutuhkan satu malam untuk didapatkan. Kini ia memintaku untuk menenteng belanjaan yang beratnya tidak seberapa. Padahal, ia sendiri bisa untuk menenteng.


Jajanan kaki lima menanti kami ketika di luar mall. Tanpa berkata, ia langsung menghampir gerobak nasi goreng yang berada di jejeran pedagang kaki lima.


"Lapar?" tanya Reira.


Aku mengambil dua buah kursi untuk kami berdua. "Harusnya lo menawari gue dari tadi."


Pedagang nasi goreng mengangguk saat menerima pesanan dari Reira. Di sela-sela pembicaraan mereka, terselipkan sebuah tawa yang sengaja Reira ciptakan. Ia selalu pandai memanipulasi suasana. Seakan semua orang yang ia temui, sudah ia kenali sebelumnya.


Langit malam menanti untuk dinikmati dengan kemilauan taburan bintang yang saling beradu keindahan. Malam selalu menarik untuk ditunggu jika bersih tidak berawan. Aku dengan leluasa berpindah fokus dari bintang satu ke bintang lainnya. Sementara itu, detak sebuah kota sangat kental terasa. Bunyi petikan gitar dari musisi jalanan menambah keharmonian malam. Hiruk pikuk suara kendaraan dengan kepulan asap yang mengepal, pertanda malam semakin masih jauh dari ujung.


Wajah Reira kelihatan pucat. Matanya lemah saat menatapku.


"Sudah gue bilang, kita enggak usah pergi. Lo demam," ucapku.


"Masih bisa gue tahan." Ia duduk di sampingku. Helaan napasnya terdengar berat. "Boleh gue pinjam pundak lo?"


Tubuhku terasa terhentak dengan kalimat yang ia ucap. Pikiranku sibuk mencari cara untuk menjawabnya. Logikaku memaksa untuk menolak, namun hatiku memerintah untuk mengiyakan. Kembali kulihat wajah pucat Reira, aku melunak untuk meminjam pundak.


"Silahkan, seberapa lama lo mau," jawabku.


"Pundak lo lebih empuk dari yang gue kira," puji Reira.


"Kepala lo lebih berat dari yang gue pikirkan." Aku berusaha untuk tidak tegang.


"Kepala gue enggak sebesar yang lo duga." Ia bergerak sedikit memperbaiki posisi. "Mau gue tahu satu rahasia?"


"Rahasia apa lagi?" tanyaku.


Reira diam beberapa saat. Matanya lurus melihat jalanan yang padat. Tangannya mengepal di atas pahaku.


"Lo orang pertama yang bilang gue cantik. Terima kasih." Reira tersenyum tipis.


Tanpa disadari aku menarik senyum dibalik pujian yang ia katakan. Dadaku seakan ingin pecah dengan deru aliran darah yang terpacu saat mendengarnya.


Lo orang pertama yang jatuh di pundak gue.


Akankah kita jatuh cinta?


Aku usap kepalanya dengan lembut. Sementara itu,pedagang nasi goreng hanya tersenyum ketika melihat sepasang insan yang tengahterjebak dalam romantisme malam    


***