
EPISODE 1 (S2)
27 Desember 2016
“Bangun bodoh!” Tangannya menepuk pada wajahku.
Tidurku hanya baru dua jam, seseorang telah menepukku dengan hujatan dingin yang melekat ke wajahku. Hujatannya tajam bagaikan mulut ibu-ibu yang menghujat lawan politik pada perkumpulan 2 Desember di Monas beberapa waktu yang lalu, padahal ia tahu pikiranku belumlah terkumpul sepenuhnya untuk menerawang paras cantiknya kali ini. Gelap wajah yang redup tanpa penerangan pada kamar kecil ini tak sempat kujadikan sebagai penawar penat seharian. Termasuk dirinya yang tak bisa kulihat dengan jelas, hanya secercah lilin kecil yang ia bawa untuk menerawang diriku. Tangannya memanjang, menarikku dengan keras untuk memaksaku bangkit dari peristirahatan singkat ini.
Sudah kusebut sebelumnya, ia bukanlah manusia. Ia adalah Reira, seekor alien betina bertopi khas huruf awalan namanya yang kutemukan pada malam jamuan puisi di kampus. Sebagai seekor alien betina, ia cukup menawan untuk menarik perhatian manusia jantan tak berekor sepertiku. Ya … mana ada manusia yang berekor, baik jantan atau betina, atau lebih baik kusebut sebagai pria dan wanita karena sebagian dari manusia masih ada yang berperilaku seperti binatang: rakus, tamak, dan sombong.
Baiklah, kawan … aku ceritakan misteri apa yang aku ketahui darinya tadi malam, tepat beberapa jam sebelum ia menampar wajahku dengan tangan gemulai lembutnya itu. Seakan ingin kubalas dengan kecupan mesra dari mulut bau subuh hari. Memang mesra, tapi aku tahu Reira akan mengikatku di papan eksekusi, sembari mendorongku dengan sebilah pedang seperti adegan aktor bajak laut di TV. Sementara itu, aku bergidik ngeri dengan kejamnya lautan yang berisikan hiu-hiu bergigi besar. Aku tidak akan melakukan hal itu, walaupun Chandra menyogokku dengan cerutu kuba yang pernah ia pesan melalui toko daring, namun yang datang hanyalah tembakau biasa balutan kertas tembakau murah. Candra berang sekali saat itu, malah kepadaku, bukan kepada sang penjual.
Membicarakan manusia jantan maupun betina tak berekor seperti kami, Reira mencelaku bahwasanya ada jenis manusia berekor. Aku sontak tak percaya, mana ada manusia berekor, yang ada manusia berkumis dan dipilin seperti ekor. Namun, kau harus tahu … Reira tetap dengan pendiriannya walaupun bertaruh nyawa untuk terjun ke bawah sana. Manusia ada yang berekor, Kakeknya sendiri yang pernah melihat manusia berekor, masyarakat setempat menyebutnya sebagai manusia beoentoet di suku pedalaman Kalimantan.
Parahnya lagi, sebagai sahabat baiknya, Kakek Syarif membenarkan hal itu. Terdapat jenis manusia berekor di suku pedalaman Kalimantan yang rahasia. Hanya orang-orang tertentu saja yang pernah melihatnya, atau pun orang yang memiliki kemampuan batin yang bisa melihat ekor menjuntai tersebut. Reira menepuk kepala bagian belakangku karena sudah menertawakan kalimatnya.
Paras manisnya kini bersanding di sampingku.
“Lo kalau enggak mau bangun, orang boentoet gue bawa ke sini,” ucapnya pelan.
Sontak aku langsung bangkit dari ranjang kayu ini. Gemertak tulang yang minta direnggangkan menjerit tatkala aku gerakkan secara tiba-tiba. Reira tertawa terbahak-bahak di dalam kegelapan ruangan ini.
“Reira … jangan lo cerita tentang orang *boentoet* lagi!” protesku.
Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu duduk di samping.
“Lo jadi laki-laki jangan jadi penakut!” Ia menekan kalimatnya. Namun, kepalanya jatuh pada pundakku yang tak berotot.
“Gue baru tidur satu jam kayanya ….” Aku mendorong Reira menjauh. “Maaf, kita terlalu dekat.”
Reira semakin menekan pundaknya.
“Bukankah kita sepasang kekasih? Kenapa lo yang risih? Harusnya lo senang gue kasih kesempatan seperti ini. Cuma gue yang mau kaya gini sama lo, kan?”
Aku menghela napas. Kalimatnya benar-benar menusuk. Tidak ada perempuan selain dirinya yang ingin padaku, walaupun sekeras apa pun aku berusaha. Risau kusut risalah cinta yang pernah terjadi padaku menyibakkan sebuah rahasia. Setiap keinginan akan mempunyai takdir dan takdir dipilihkan kepada orang yang terpilih untuk memangku takdir tersebut. Air mataku sudah berapa kali menangisi seseorang yang bahkan sama sekali tak sadar bahwasanya aku mencintainya dahulu. Namun, sudahlah … Fasha sudah memilih pria yang tepat walaupun di dalam situasi yang tak tepat. Kuharap ia menjadi Ibu yang baik bagi anak yang dikandungnya.
Jemariku menekan dahi Reira. “Kalau Candra lihat, kasian dirinya.”
“Oh, iya … dia kan jomblo yang belum terselamatkan. Enggak seperti lo yang udah gue selamatkan.” Ia mendekatkan wajahnya ke pipiku. Lalu, mengecupnya dengan pelan. “Ayo bangun, kita sudah sampai di tanah Laskar Pelangi. Selamat datang di Pulau Belitung, kawan.”
“Wah, beneran? Enggak nyadar aja udah sampai di sini,” balasku.
Reira tersenyum dalam gelapnya kamar.
“Kesadaran hanya untuk orang-orang waras. Kita hanya butuh ketidaksadaran untuk mencapai tujuan.”
Ia kembali berkata sok filosofis yang tidak aku pahami. Tapi, sudahlah … aku sudah terbiasa dengan segala kalimat nyentrik dari wanita yang selalu berpakaian kemeja dan celana jeans sobek-sobek itu.
“Reira … kita terlalu dekat!” protesku sekali lagi. Aku tidak ingin Kakek Syarif menyiram kami dengan air laut yang asin itu, tentu saja akan memedihkan mata.
Ia malah berbalik mendorongku dan jatuh ke ranjang. Kepalaku sampai terhantuk pada ranjang tak berkapas sehelai pun. Bantal pun hanya bantal kapuk yang keras.
“Reira … kita dikapal─”
“BANGUN PEMALAS!” Ia menepuk tepat di tengah perut, menimbulkan bunyi khas perus buncit yang ditepuk keras-keras. “Gue akan menunggu di atas!”
Reira pergi begitu saja meninggalkanku yang menutup mata dengan hal gila ini. Baru saja ia membuatku berpikiran yang tidak-tidak, membiarkan pikiranku mengawang pada hal yang semestinya tidak aku pikirkan. Tentu saja aku bisa melakukannya, kami hanya sebatas angin yang terbang di antara bunga-bunga. Menyentuh kelopak satu dan kelopak lainnya dalam tarian riang pagi hari yang disentuh mentari. Namun aku tahu, ia bukanlah wanita yang seperti itu. Aku juga bukanlah pria brengsek yang sering kali kami hujat bersama Candra tatkala diskusi pagi dengan kopi di kantin.
Perlahan kulawan kantuk yang terlalu mendalam ini. Mataku seakan ditusuk oleh angin langkah yang menerpa, begitu sulit untuk kutarik menutup ke bawah. Cahaya redup kecil sebagai teman penerang semasa tidur tadi menjadi pilihanku untuk melangkah. Lampu minyak itu menuntunku pada lorong lebar dua meter yang setiap sisinya terdapat pintu-pintu. Aku belum sempat melihat isi ruangan tersebut. Kakek Syarif mengatakan bahwasanya itu merupakan kamar para awak kapal yang sekarang sebagiannya dijadikan sebagai penyimpanan barang. Benar saja, tatkala aku menyelinapkan kepala pada celah pintu yang terbuka, terlihat barang kiriman yang menjadi maksud dan tujuan kami ke sini.
Tangga kayu landai kupijak untuk naik ke atas permukaan kapal. Wangi pagi menyeruak seketika tatkala langkah pertama bergemulai di atas kayu tersebut, menimbulkan bunyi berdecit seperti senggal napas. Kurasakan jemariku yang berkeringat menerima dinginnya pagi hari yang masih terlihat redup. Aku melihat beberapa awak kapal Reira─sang anak jalanan yang disebut sebagai bawahannya itu─tengah berkumpul ditepi kapal sembari menjatuhkan pandangan kapal yang masih bergerak. Pergerakan kapal yang cepat dan melawan ombak yang melantun di bawah sana, membuat kakiku sedikit goyah ketika menapaki langkah.
Inilah kawan … aku suka pagi hari ketika bersama seorang kakek tua bertopi koboi itu. Setiap alunan langkahku di sekitarnya, selalu terselingi manjanya lantutann musik harmonika yang memanjakan telingaku. Lagu Indonesia Pusaka yang ia mainkan merindukan diriku ketika masa-masa SD, tatkala di malam hari aku menangis untuk dibelikan pianika oleh ayahku. Aku menangis sejadi-jadinya di pangkuan kasih sayang seorang Ibu yang melindungiku dari amarah Ayah. Ditambah lagi Dika sang nakal itu menambah keruh suasana. Masih segar dalam ingatan tatkala Rio menarik Dika ke kamar untuk tak lagi mengejekku yang menangis mengharapkan sebuah pianika di jam sebelas malam. Akhirnya, Rio diminta oleh Ibu bersepeda membelikan aku pianika ke sebuah toserba yang cukup jauh bagi anak seumurannya. Dengan senyuman manis seorang sulung, ia memelukku dengan sebongkah pianika sembari mengatakan kepadaku untuk tidak lagi memancing amarah Ayah.
Jatuh senyum pada titik redup wajah Reira yang menari dengan alunan lambat harmonika Kakek Syarif. Gemulai lentik tangan tarian ala dirinya yang begitu dinikmati setiap detik rentak kaki menatapaki lantai kayu. Aku pun turut melempar senyum, sebelum wanita itu menyadari bahwa aku mengiyakan ajakannya untuk naik ke atas.
“Bagaimana tidurmu, Anak Muda?” tanya Kakek Syarif tatkala aku menghampiri mereka berdua.
Aku mengangkat bahu. “Setidaknya nyenyak sebelum diganggu oleh Reira.”
“Lo harus tahu bahwasanya melihat fajar terbit adalah sesuatu yang sangat indah daripada melihat senyum gue di puncak Bromo,” balas Reira dengan alis yang naik.
“Oh, ya? Baiklah … gue tunggu mentarinya tiba.” Aku menghela napas panjang yang dingin, lalu menghembuskannya ke arah timur. Mentari belumlah muncul, kami hanya terang oleh belaian cahaya lampu generator.
“Di mana Candra?”
“Sudah gue buang ke laut,” canda Reira.
“Enggak apa, sih … dia agak nyusahin orangnya. Hmm … gue serius.”
Kakek Syarif merapikan letak topi koboinya tersebut. Suara batuk paginya terdengar berat, seberat suaranya yang dalam itu. “Sedang ada di ruang kemudi bersama Razel. Katanya, dia mau jadi pelaut.”
“Candra jadi pelaut? Hahaha ….”
“Secara teknis, kita semua sekarang ada pelaut.” Wanita itu menyangah kalimatku.
“Oke, lo kaptennya hari ini.”
Kakek Syarif meninggalkan kami berdua dengan meninggalkan wangi tembakau cengkeh lintingan. Reira menyibakkan tangannya tatkala asap tembakau itu terbang ke arahnya. Kesempatan itu kugunakan untuk mengapit leher Reira dan menggosok kepalanya menggunakan kepalan tangan hingga ia meronta untuk dilepaskan. Suara manjanya itu seiring oleh pelukan erat yang perlahan membawaku ke tepi kapal, melihat alunan ombak yang saling berpacu menghantam bagian bawah kapal.
Angin beradu menghempas tubuh kami yang tak berbatas. Senyum lebar Reira memancar dari simpul tangan yang menggenggamku. Rindu-rindu sedang ia ukir kali ini untuk kukenang di kemudian hari. Ukiran tersebut akan terus melekat pada untaian nama yang selalu kuingat sebelum gelapnya mimpi menghantuiku. Reira yang membawaku pada semua perjalanan ini. Petualangan baru saja dimulai semenjak detik kepalanya jatuh pada pundakku. Wangi tubuhnya yang tak berubah, berbau parfum mahal yang sama sekali tidak akan bisa kubeli, kini bercampur dengan wangi laut yang ranum.
Matahari merangkah perlahan di ufuk timur, menyibakkan cahayanya yang merambat lurus di antara awan. Cahaya itu belum sanggup untuk menyentuh kami karena dinginnya bara cinta yang sedang bercengkerama di sini. Di sini lebih hangat kukira, wanita itu yang memberikannya padaku. Naiknya kesatria siang bulat merah membahana menjadi saksi bahwa seluruh petarung nafkah hari ini tengah sibuk membuka pintu rumah, melangkahkahkan kaki untuk menanti peluh penat bercampur rindu hidangan makan malam nanti.
Reira bercengkerama di sampingku.
“Jangan pergi hingga gue lihat sempurna senyum mentari di sana.”
“Akan gue tunggu hingga lo bosan, Sayang.”
Candra akan muntah jika mendengar ini.
***