Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 29 (S2)



EPISODE 29 (S2)


Tiada yang lebih nikmat setelah makan selain menyegerakan ibadah mengopi dan menyulut tembakau di ruang bebas yang aku sebut sebagai alam. Bagiku mengopi bagian dari ibadah jika aku niatkan sebagai rasa syukurku kepada Tuhan yang telah memberikanku sepiring nasi siang ini. Rokok yang aku sulut sebagai media perenungan agar bisa kembali aku kilas balik apa yang terjadi hari ini. Semua ini aku lakukan bersama Candra semabari bersila di sebuah papan, tepat di area kebun belakang rumah Pak Cik Milsa. Pohon-pohon menjadi naungan kami di atas sana, melindungi aku dan Candra dari sengat matahari yang membahana.


Reira dan kedua teman barunya itu masih di dalam rumah, berbincang mengenai tata rias yang digeluti oleh Zainab. Anak itu cukup handal merias wajah, aku rasa cocok berkuliah di jurusan tata rias. Mungkin saja Mawar masih menyambung jika berbincang mengenai hal itu. Teman Tionghoa pertamaku itu bisa dibilang termasuk kategori wanita-wanita modis di fakultasku. Namun, aku ragu Reira akan mengerti mengenai tata rias. Semoga saja ia menelaah baik-baik teknik-teknik yang diajarkan oleh Zainab, lalu setelah ini ia memintaku untuk mengawaninya membeli alat make up. Jujur, di dalam kamar Reira sendiri tidak aku temukan alat make up, kecuali bedak bayi dan sebiji pemerah bibir. Selebihnya ialah perkakas bengkel, mayat-mayat serangga yang dipajang, serta tokoh-tokoh besar dunia yang berjejer di penjuru kamar.


Namun, dari semua itu aku memaklumi ketertarikan Reira yang tak seperti wanita pada umumnya. Ia lebih menarik bagiku ketika sifat-sifat maskulin itu melekat padanya. Bukan Reira namanya jika keluar dengan gaya centil khas wanita elitis ibu kota yang bapaknya bergelimpangan uang. Ia lebih memilih memakai kaos bermotif beruang dan celana jeans robek di bagian lutut, lalu mengendarai sedan tua untuk pergi ke kampus. Kadang, kaos bermotif beruang itu dilapisi oleh kemeja kotak-kotak, bukan pakaian anggun wanita-wanita kampus pada umumnya. Tatkala melangkah denganku, aku serasa sedang dibersamai oleh teman pria daripada ditemani oleh seorang kekasih. Lain hal tatkala ia menggenggam tanganku dengan malu-malu, di sana aku merasakan sebagian kecil kasih sayang Reira.


Akhirnya mereka bertiga menampakkan diri dengan membuka pagar kebun. Sudah aku duga, Reira dijadikan sebagai samsak rias bagi Zainab. Tidak terlalu berlebihan, make up tipis saja sudah membuat Reira terlihat berbeda karena ia sangat jarang sekali seperti itu. Reira membuka jari telunjuk dan tengahnya padaku, menempelkannya pada pipinya, lalu tersenyum riang untuk aku perhatikan. Aku tak bisa mengelak, ia cantik seperti itu.


“Terlihat berbeda, tidak seperti kapten kapal yang gue temui setiap hari,” ucapku padanya.


“Terlihat lebih cantik? Atau sedikit lebih cantik?” tanya Reira.


“Pertanyaan dengan pilihan jawaban yang sama. Gue enggak diberi pilihan,” balasku.


Ia duduk di sampingku, menjauhkan asbak rokok tepat di hadapan.


“Mana Razel?” tanya Zainab padaku.


“Entahlah ... mungkin saja mencari lawan di kedai depan. Soalnya banyak remaja tanggung yang duduk di sana.”


“Wah, ngeri juga. Hahaha,” balas Zainab.


Terlihat sekali gelagat Mawar yang pendiam. Ia sama sekali tak membuka mulut, walaupun seluruh orang di sini menyambung senyum satu sama lain. Sesekali ia membuka mulut, itu pun untuk mengunyah cemilan wafer yang Candra bawa ke sini.


“Jadi, di mana tepatnya Pantai Laskar pelagi yang lo sebutkan itu?” tanya Reira.


Mulutnya bergetar lebih dahulu untuk membalas pertanyaan Reira.


“Daerah pesisir timur Belitung. Mungkin aja sekitar dua jam perjalanan,” balasnya.


“Oh begitu, cukup dekat juga walaupun dua jam perjalanan,” balas Reira.


Aku menoleh pada Reira. “Lo yakin buat kemah? Kita enggak ada peralatan apa pun buat kemah.”


“Hei, tenang ... gue ini anak didik Bang Ali. Terpal dan tonggak kayu bisa jadi tenda kemah sama gue.”


“Kendaran kita mau pakai apa?” sambung Candra.


Reira melihat Zainab, ia naikkah sebelah alis matanya. “Mobil Pak Cik lah kita pinjam. Mau mobil yang mana lagi?”


Gadis Melayu itu tersenyum. “Iya, nanti aku tanya ke Bapak.”


“Eits ... enggak usah. Gue langsung yang nyanyain. Lo cukup minta izin buat pergi kemah aja.”


Kalau sudah begini, aku tidak meragukan lagi jika Pak Cik Milsa akan mengizinkan kami memakai mobil pribadinya. Anak itu punya seribu cara untuk memengaruhi Pak Cik Milsa, hingga ia menyerahkan kunci mobil tak ubah layaknya merampas kapal bajak laut lain.


“Malam ini kita harus beres-beres persiapan,” ucap Zainab.


“Iya, kita harus menyediakan semua keperluan. Jadi, besok tinggal berangkat di siang hari.” Reira menyentuh cangkir kopi milikku, lalu menyeruputnya sedikit. “Tapi, gue pingin kita ke Sekolah Laskar Pelangi lebih dahulu.”


“Gue setuju!” tegasku. “Itulah tempat yang gue nanti-nanti.”


Reira merangkul leherku dengan mesra. “Ternyata kita satu selera.”


Terdengar suara dehem dari Candra sembari menghembuskan asap rokoknya ke belakang agar tak mengenai teman-teman yang lain. “Lanjut ke pembicaraan.”


“Gue pengen kiat foto sama-sama di sana. Candra bawa kamera biar kita foto, ya kan Candra?” Ia melirik Candra.


“Tenang, beres ....” Candra memberikan jempolnya.


“Baiklah ... sidang kita kali ini selesai.” Reira berdiri kembali. “Ayo, Ladies ... ajari gue make up.”


Candra tertawa keras mendengar ajakan dari Reira. Bagaimana tidak, lagaknya sudah seperti serius sekali untuk berias diri, padahal Reira sama sekali tak pernah memerhatikan hal-hal yang seperti itu. Namun tidak apa-apa, aku ingin ia merias diriku sesekali untuk mempraktekkan hal yang telah ia pelajari bersama Zainab dan Mawar. Walaupun, ia melukis wajahku layaknya seorang perempuan, lalu mengejek betapa cantiknya diriku di tangannya.


Diskusi sunyi aku dan Candra kembali berlanjut mengenai masalah kampus yang tak pernah usai. Kami memabahas progres tugas akhir yang sedang dikerjakan, walaupun aku masih ketinggalan dari dirinya. Itulah keberuntungannya, aku bisa belajar dan bertanya dengan dirinya yang sudah melangkah sedikit jauh. Selain itu, terdengar kabar jika pejabat diduga korup masih bebas tak tersentuh hukum. Tragedi besar di kampus kemarin sudah menjadi pertanda memuncaknya emosi Mahasiswa di gedung rektorat, hingga Reira dan banyak orang lainnya terpaksa diperiksa akibat diduga melakukan perusakan. Untung saja Reira memiliki dekingan kuat, yaitu ayahnya sendiri. Sehingga, Reira tak perlu susah payah masuk ke ruangan pemeriksaan.


Waktu malam menjemputku dari balik kemelut angin dingin yang menerpa. Langkah aku ayunkan menuju gudang belakang di mana Minerva bersemayam dua hari ini. Ayam rebus suir-suir dalam sebuah wadah aku bawa untuk menjadi santapan lezat baginya malam ini. Reira aku rasa tidak terlalu memerhatikannya, bisa jadi karena kami terlalu sibuk. Selama ini hanya Pak Cik Milsa yang merawat Minerva dengan memberi makan burung hantu jantan itu setiap hari. Mumpung malam ini semuanya sedang keluar, aku pun diminta oleh Pak Cik untuk memberi makan burung hantu itu.


Reira dan Zainab sedang pergi bersama Mak Cik Siti ke rumah saudara untuk membantu mereka memasak keperluan acara wirid. Sementara Candra dan Razel entah pergi ke mana mereka berdua itu menggunakan motor matic milik Pak Cik. Mungkin saja pergi keliling kota atau pergi ke tepian menikmati angin segar. Padahal, Reira berkata bahwasanya malam ini kami semua pergi untuk membeli keperluan berkemah. Hanya aku yang menolak pergi karena aku harus melanjutkan tulisanku yang selama ini tersendat.


Kembali lagi berkutat di dalam dunia kepenulisan membuatku sedikit menemukan hal yang berbeda di dalam hati. Aku rasa setiap detik napas yang aku habiskan selalu terselipkan pencarian ide untuk cerita.


Selama ini aku hanya menulis bait puisi untuk aku syairkan, namun sekarang berupa serangkaian cerita yang memiliki alur dan aku harus memikir keras untuk hal itu. Menulis puisi berbeda sekali dengan menulis novel. Namun, menurutku seseorang yang terbiasa menulis puisi akan sangat membantu sekali untuk merangkai kata pada cerita. Itu pula kelebihan penyair sepertiku.


Berkali-kali Minerva mematuk ayam suir yang masukkan. Aku cemas jika paruhnya itu menancap di ujung jempol dan terpaksa aku lemparkan Minerva keluar dari kandangnya untuk mengajaknya bergelud. Tentu saja malah aku yang akan dihantam oleh Reira selanjutnya. Untung saja Minerva bersikap manis, malah dirinya yang takut padaku. Sedikit demi sedikit langkahnya mendekat setelah melihat ayam suir-suir itu mendarat ke dalam wadah makanan. Kenyanglah dirinya malam ini oleh seonggok makanan di kandangnya.


Terdengar suara mobil berhenti di dalam area pekarangan rumah. Kepalaku mendongak karena berharap Reira dan yang lain sudah pulang. Namun, mobil itu bukanlah mobil milik Pak Cik. Aku pun segera ke sana untuk memastikan siapa yang sedang datang.


Ternyata seuntai kaki bening dengan sendal jepit aku lihat keluar pintu sebelum wajah datarnya menatap sinis kepadaku. Tangannya yang bergoyang membuat ujung tuniknya bergerak, lalu kembali berdiri lurus tanpa ekspresi menatapku.


“Hanya satu orang yang melihat gue tanpa senyuman, yaitu elo,” ucapku.


Perlahan ia memanjangkan ujung bibirnya, lalu membentuk senyum paksa yang aku lihat. “Sudah ... begini?”


“Senyum itu harus tulus. Reira bilang kalau senyum kita enggak bisa setulus kakek gila berharmonika, berarti kita belum jadi manusia.” Aku melangkah ke depan mobil, lalu meletakkan wadah ayam suir-suir rebus di atasnya. “Semuanya pada pergi.”


“Ke mana?” tanya Mawar.


“Oh, yaudah ... kalau begitu gue pulang dulu.” Ia membuka pintunya.


Aku sontak menahan pintunya. “Eh, baru datang pakai baju bagus kok malah pulang. Duduk dulu kek, ngapain kek. Kaku banget.”


“Ya ... ngapain juga lagi, kan? Enggak ada siapa-siapa.”


“Ayo naik ... akan gue buatkan teh atau kopi.”


Aku melangkah ke arah tangga rumah. Namun, belum aku dengar juga suara sendal jepit kulit miliknya bergesek pada tanah. Aku pun kembai menoleh ke belakang. “Ayo ... anggap aja rumah gue.”


Tidak ada angin tidak ada hujan, percaya tidak percaya, aku melihat Mawar tersenyum padaku. Walaupun setipis itu, aku tahu bahwsanya buah manis dari lekuk bibir itu terasa tulus, bukan dari paksaan hati. Aku rasa benar yang dikatakan Reira, ia sedang mencari teman. Hanya saja, ia tak terbiasa untuk mengungkapkan diri bahwasanya sebenarnya ia ingin berteman. Langkah kecilnya itu mengikutiku dari belakang hingga ke sebuah meja bundar diskusi filsafat ketika bersama Pak Cik Milsa.


Mawar aku minta duduk dengan manis sementara aku masuk ke dalam untuk meletakkan wadah berbau amis ini. Sebagai pencinta kopi, Mawar sedikit berbelok memilih teh untuk aku hidangkan. Setelah mencuci tangan dan memanaskan air untuk menyeduh teh, aku menelpon Reira yang sedang di luar sana. Tanpa menunggu lama, wanita itu mengangkat sambungan telepon dariku.


“Halo, Kapten di sini ...,” balas Reira.


“Kalian apa enggak bisa pulang cepat? Katanya mau beli persiapan ... Candra sama Razel juga pergi entah ke mana. Mawar udah datang nih, enggak mungkin dia nungguin kalian lama-lama.”


“Hmm ... kami lagi asyik masak nih. Gue belajar masak di sini,” jawab Reira. “Apa Candra dan Razel enggak bisa disuruh pulang?”


“Hey, dia itu Candra ... gue ini bukan bapaknya yang langsung diturutin sama dia. Apalagi Razel yang bebas itu!” Aku mengangkat air yang telah menggelegak, lalu menyeduhkannya ke dalam cangkir teh.


“Bagaimana kalau kalian berdua aja. Mawar pasti tahu daerah Manggar daripada lo, kan?” tanya Reira.


“Iya sih ... dia kan orang sini. Tapi, lo enggak apa-apa kalau gue pergi sama dia berdua. Kemarin aja lo cemburu gue ngelihatin Mawar lama-lama.”


Terdengar suara tawa dari balik telepon.


“Hahaha ... gue bukan tipe cewek seperti itu, Dave. Gue percaya sama lo, kok.”


“Yakin?” tanyaku sekali lagi.


Reira berbicara kepada orang lain di sana sejenak, lalu kembali lagi ke sambungan.


“Udah ... pergi aja sana. Apaan sih harap-harap dicemburuin. Nanti gue chat apa aja keperluan yang harus dibeli. Yang sudah pasti terpal beberapa meter dua buah biar kita bisa bikin dua tenda, selebihnya terserah lo mau beli apa.”


“Oke, awas lo marah-marah gara gue pergi sama Mawar, ya?!” tegasku. Anak ini kadang tidak bisa ditebak. Bisa saja nanti malam ia berang dan membangunkanku dengan tiba-tiba.


“Iya, ambil uangnya di tas gue. Ingat ... jangan dibeliin rokok. Gue tidak mensubsidi kebutuhan candu kalian!”


“Oke, Bos!” balasku.


“Gue sayang lo ...,” sambungnya dengan lembut.


Aku terdiam sejenak. Senyumku melingkar sembari memutar sendok di cangkir tehnya Mawar. “Iya, gue juga.”


Bekal ucapan lembut itu aku simpan rapat-rapat dalam belahan hatiku yang terdalam. Akan aku ingat sepenggal kata sayang yang ia ucapkan, layaknya menyimpan segumpal ganja milik Rio yang masih ada sampai saat ini agar kami sekeluarga tidak mendekam di penjara. Setelah itu, aku beranjak ke meja Mawar untuk memintanya meminum teh buatanku.


“Ini teh buatan gue. Silahkan diminum,” tawarku sembari meletakkan cangkir teh di hadapannya.


“Terima kasih ....”


“Anggap aja ungkapan terima kasih gue karena lo udah pernah nyeduhin kopi buat gue dan Reira.”


“Hahaha ... jangan diingat setiap cangkir kopi yang gue berikan,” balasnya sembari menyeruput teh. “Jadi, mereka bakalan ke sini?”


Aku menarik kursi untuk duduk. “Hmm ... Reira dan Zainab enggak bakalan balik. Mereka lagi asyik masak di rumah sanak saudaranya Zainab. Sedangkan Candra dan Razel, mereka enggak jelas ke mana.”


“Jadi bagaimana?” tanya Mawar.


Senyum aku lemparkan padanya. Aku harap ia menyetujui rencana ini. “Kita aja yang beli berdua.”


“Apa?” tanya Mawar dengan nada tidak yakin.


“Iya ... lo keberatan?”


Ia menggigit bibir menjawabnya. Sekali lagi ia seruput teh itu. “Baik ... siapa lagi kalau bukan kita.”


“Tunggu di sini, ya ... gue ambil uang dulu.”


Aku berdiri dan melangkah kembali ke dalam rumah.


Wangi jeruk kamar Zainab menyeruak ke hidungku tatkala aku buka pintu dan tirai manik-manik bergerincing. Kamar kayu sederhana ini disulap sedemikian rupa hingga terlihat nyaman untuk ditempati. Terdapat sebuah ranjang yang di atasnya tergeletak tas ransel gunung milik Reira. Aku membuka tas itu dan mengambil sejumlah uang untuk dibelanjakan.


Jemariku membuka dompet miliknya. Anak ini sangat mengambil resiko menyimpan berlembar-lembar uang pecahan seratus ribu di dalam satu tempat, hingga dompetnya sendiri sulit dilipat karena saking banyaknya uang di dalam sana. Aku rasa dua ratus ribu Rupiah sudah sangat berlebih untuk dihabiskan malam ini. Uang yang aku ambil tak urung membuatku menutup kembali dompet tersebut. Mataku tertuju pada sebuah foto yang terselip di dalam sana.


Aku terheran-heran. Rasanya anak ini tidak pernah mencetak foto dan apabila ia melakukannya, ia sudah pasti memberitahukannya padaku. Seketika hatiku dipenuhi oleh ribuan tanda tanya. Terdapat seorang lelaki memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans tengah melebarkan tangannya di leher Reira. Suasana gemerlap yang aku rasa sebuah club malam terlihat kental dari foto itu. Dua senyuman berpadu dalam satu jepretan foto yang begitu mesra.


Ingin rasanya aku remas foto itu kuat-kuat lalu membuangnya pada tepian laut yang memiliki dasar paling dalam. Aku tidak mempermasalahkan Reira bermain di sebuah club malam. Bagiku hal yang biasa bagi anak perkotaan sepertinya dan apalagi bagi Reira yang selalu memiliki uang berlebih itu. Namun, senyum itu ia bagi dengan tidak biasa, dengan orang lain yang tak aku kenal.


Dia siapa?


Hanya satu yang ucapkan, yaitu kepercayaan. Bukanlah Reira punya banyak teman yang memiliki kedekatan seperti itu? Aku tutup dompet itu rapat-rapat dan aku buang jauh-jauh pikiran negatif tersebut. Mawar tengah menungguku di luar.


***