Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 64 (S2)



EPISODE 64 (S2)


Siang semakin terik dengan mentari yang berijar begitu gahar di ata sana. Peluh para mahasiswa jatuh dari dahi mereka. Semangat tak ada padam, teriakan keadilan dikeluarkan bagaikan bom rudal yang akan menggoyangkan hati para manusia berdasi di sana. Belum ada satu pun perwakilan dari yang katanya wakil rakyat untuk menemui kami, padahal mereka sedang bersiap-siap untuk mengadakan rapat pengesahan di sana.


Para orator seakan tidak kehilangan ide untuk berbicara. Mereka bergantian menyuarakan aspirasi yang hanya dianggap sebagai sekaleng sampah yang dibuang ke pembuangan. Masih ada ribuan kata lagi yang bisa diucapkan di atas sana. Masih ada ribuan penggal kalimat kritikan yang teruntai di dalam poster-poster, spanduk, dan tulisan yang ada di tubuh mahasiswa. Di mana ada ruang, di sana kata-kata itu akan tetap berbicara.


Hingga sampai sore hari, sudah lewat pula dua waktu ibadah yang dikerjakan bersama-sama di jalanan, namun belum ada juga jawaban kepastian dari mereka yang ada di dalam. Mahasiswa pun mulai mendorong mundur polisi untuk mendekat ke gerbang. Sedari tadi polisi berbaris berlapis-lapis di depan sana, dengan wajah sangar menatap adik-adik mereka, dengan senapan karet dan pentungan polisi yang tetap tegap mereka genggam. Mahasiswa mulai bergerak maju ke depan. Terjadilah jual beli dorongan antara kedua pihak yang saling berlawanan, kami hendak memaksa masuk, sedangkan polisi menahan kami untuk tidak mendekat.


Aku dan Mawar sedikit ke tengah oleh arus dorongan dari belakang. Mawar mengerang tatkala seseorang menyengolnya. Di sini masih sedikit renggang daripada bagian muka yang seperti Spartakus yang sedang berperang melawan pasukan Persia, rapat sekali. Tidak ada pilihan selain menjadikan tubuhku sebagai pelindung wanita itu. Ia jatuh tepat di dadaku dengan menutup mata dan langkah yang rapuh.


“Woi ... perempuan di belakang! Bawa ke belakang!” ucap seseorang di sampingku ketika didapati ada perempuan di sini. Arus dorongan ini tiba-tiba saja terjadi sehingga kami tidak bisa mempersiapkan diri.


“Aaaa!” Mawar semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhku.


“Ayo, kita ke belakang!”


Susah payah aku membawa Mawar untuk ke belakang. Tidak aku pedulikan tanganku menjadi tameng terkuat untuk melawan arus dorongan ke depan. Mahasiswa di sini terlalu ramai, hingga sampai ke batas tol di seberang. Aku masih berusaha untuk membawanya ke tepi demonstrasi. Sembari aku membawanya melangkah, aku lihat di depan sana dorongan semakin ganas saja. Teriakan mahasiswa yang menghujat polisi dilancarkan seakan tidak matinya. Bendera-bendera dari mobil para orator menjadi penambah semangat untuk menembus pagar.


Reira masih di sana dengan memakai topi koboi Kakek Syarif. Bendera Merah Putih ia kobarkan dengan ekspresi bangga melihat arus perlawanan yang terjadi. Tidak ada perasaan takut yang tersimpulkan dari wajahnya tersebut. Seakan, ia menganggap mahasiswa di bawahnya merupakan gelombang lautan yang deras, lalu ingin ia selami untuk menombak ikan tuna.


“Kita aman di sini,” ucapku pelan ketika kami sampai di bagian tepi demonstrasi yang tidak ada terjadi dorong-dorongan. Cahaya senja masih terasa panas, aku menarik tangannya ke bawah pangkal jembatang penyeberangan.


Mawar menarik napas panjang. “Huuh ... tadi itu mendebarkan. Kita bisa aja terinjak-injak.”


“Bukan kita, tapi lo. Gue masih bisa ikutan dorong-dorongan, tapi lo enggak mungkin.”


Mawar mengambil tissue di dalam tasnya. Lalu, memberikan lembaran tissue tersebut dengan semprotan antiseptik. Ia memberikan beberapa lembar padaku.


“Gue masih kuat, jangan remehin gue.” Ia duduk menyila.


“Hahah ... itu bukan desakan mengantre dosen. Itu sedang dorongan sama polisi, ingat itu.” Aku duduk di sampingnya. “Ini bakalan sampai malam. Bagaimana dengan lo? Apa enggak ngekhawatirin Kakak?”


Ia menggeleng. “Sekali basah, yaudah nyelam aja sekalian, jangan tanggung-tanggung. Kecuali keadaan udah enggak mungkin lagi buat demonstrasi, kita akan pergi.”


Aku melihat ke belakang. Dorong-dorongan masih terjadi. Terlihat beberapa orang diangkut ke belakang karena mungkin saja cedera ketika berdesakan dan terdapat pasukan medis dari mahasiswa yang menghampiri mereka. Di sekitarku mayoritas diisi oleh mahasiswi yang tidak akan mampu berdesak-desakan di sana. Mereka melihat sembari mengomentari betapa ngerinya apabila masuk di sana. Namun, sudah aku pastikan ... hanya satu wanita yang berada di kerumunan itu, yaitu Reira.


“Reira badass banget.” Aku tersenyum.


“Semangat aktivis yang enggak pernah takut, itulah dia.” Ia menyetujui.


Mataku bergerak kepada beberapa orang yang berlari menuju kerumunan. Bunyi serine polisi terdengar, sepertinya mereka sedang menambah personil.


“Gue enggak nyangka Reira sebegitu beraninya.” Aku mendekatkan bibirku ke telinganya. “Padahal, papanya pasti berada di dalam sana.”


Mata Mawar yang sipit semakin menyecil ketika kerumuman desak-desakan semakin melebar. “Sama, gue juga berpikir begitu. Dan seperti yang dia bilang, Reira itu independen. Dia enggak bawa latar belakang organisasi, dia hanya membawa dirinya di atas sana.



“Jadilah diri sendiri,” balasku. “Itulah yang pernah dibilang oleh Reira sama gue.”


Kami satu jam berdiri sembari menyaksikan aksi orasi yang tanpa henti dilancarkan. Sudah tidak ada aksi dorong-dorongan yang terjadi, namun tensi di sana masih tinggi. Polisi tak gentar merapatkan barisan, bahkan menambah personil hingga ke dalam kawasan. Untuk sementara, orator umum kemudian memerintahkan kami untuk beristirahat sementara karena bantuan konsumsi telah datang. Terdapat sebuah dua buah bus yang menangkut nasi bungkus, lalu mahasiswa di dalamnya memberikan kepada kami untuk mengisi perut yang sama sekali belum ditambal.


Rapat pengesahan kenaikan BBM masih berlanjut di gedung sana. Malam bahkan sudah menyambut, mahsiswa makin membludak saja. Tol di seberang penuh oleh mahasiswa yang memegang spanduk-spanduk. Perkiraanku benar, demonstrasi ini lebih lama dari yang aku kira. Penyebabnya hanya satu, karena belum adanya perwakilan dari anggota dewan yang hadir untuk menghampiri. Terpaksa setiap perwakilan kampus untuk memulangkan para wanita menggunakan bus lebih dahulu. Kami menggiring para wanita kembali ke bus fakultas.


Ketua BEM fakultas kami datang dengan berlari menuju tempat aku dan Mawar berdiri.


“Mawar, angkat bendera fakultas, kita bawa anak perempuan buat pulang. Lo juga pulang. Kita enggak tahu situasi ke depan bagaimana,” pintanya.


Ia menggeleng. “Enggak, gue akan di sini sampai berakhir.”


Aku sontak menoleh kepada wanita itu yang dengan tegas untuk menolak pulang. “Mawar, apa yang dibilang Syaid benar. Lo harus pulang.”


“Selagi Reira masih di sana berkoar, gue tetap di sini.” Ia menyentuh dadaku. “Lo bukannya janji buat jagain gue, kan?”


Mahasiswa di depan gerbang kembali ganas untuk mendesak masuk. Tembakan peringatan terjadi dari polisi. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka di sana.


“Gue janji, tapi cuma sampai sore.”


“Pokoknya gue masih di sini, titik!” tegas Mawar.


Aku dan Syaid saling memandang berdua. Lalu, Syaid menyanggamkan genggaman tangannya pada toa.


“Baiklah, lo tetap di sini tapi harus jaga diri. Sekarang, bawa semua anak cewek ke kampus.”


Mawar mengangkat bendera lambang trisula Psikologi tersebut. Ia bergerak menuju arah bus terparkir. Syaid berteriak ke rombongan fakultas untuk memerintahkan para perempuan untuk kembali pulang karena hari sudah beranjak malam. Arahan tersebut dimengerti oleh teman yang lain dan mengikuti bendera trisula Psikologi yang dimaksud. Beranjaklah aku, Syaid, dan Mawar menuju parkiran.


Di perjalanan menuju bus, aku sangat khawatir jika Mawar tetap memilih ikut. Aku pasti tidak akan sepenuhnya bisa mengawasi wanita itu apabila keadaan semakin memanas. Aku sendiri sudah melihat potensi rusuh dari sini, mobil pemancar air sudah disediakan dari dalam, personil polisi anti huru-hara semakin bertambah saja. Unjuk rasa tengah berada di tensi yang tinggi.


Mawar diminta untuk mengatur tempat duduk para perempuan di dalam bus. Sementara itu, aku bernegosiasi dengan supir bus untuk meminjam kunci pintu. Tatkala Mawar selesai dari tugasnya di dalam, aku dan Syaid dengan sigap menutup pintu dan menguncinya. Terlihatlah wajah Mawar yang terkejut di dalam sana sembari menatap kami yang berdiri dengan wajah risau.


Segera aku kembalikan kunci pintu tersebut kepada supir. Di sana aku lihat wajah Mawar yang memerah dan menumpahkan air mata.


“David ... gue mau ikut!” teriak Mawar dari dalam sembari menarik gagang pintu bus. Tentu saja pintu itu tidak akan terbuka dan pintu bus berbeda sekali dengan mobil biasa yang bisa dibuka dari dalam.


“Lo harus pulang ... di sini bahaya!”


Bus menghidupkan mesinnya, lalu perlahan bergerak ke badan jalan.


“Lo jahat, Dave!” teriak Mawar kembali.


Tidak ada yang bisa dilakukan selain memaksanya untuk pulang. Seluruh kampus juga memulangkan mahasiswi yang ikut. Tinggallah para pria yang tengah berjuang menyuarakan aspirasi. Jika keadaan masih kondusif seperti tadi, para perempuan aku rasa masih bisa ikut walaupun etisnya mereka haruslah pulang karena sudah malam. Namun, keadaan kali ini sangatlah tidak memungkinkan.


Tepat tatkala aku dan Syaid berlari menuju kerumunan karena ingin membantu mendesak polisi untuk mundur, gas air mata di tiga titik dilontarkan. Mataku seketika pedih dan kabur oleh jarak pandang yang terhambat.


Tembakan peringatan masih terdengar tatkala aku menutup mata dan hidung di tengah putihnya gas air mata. Seluruh mahasiswa terpaksa untuk mundur. Polisi telah maju untuk menangkapi orang-orang yang dianggap provokator. Kerusuhan pun terjadi. Batu dilemparkan ke atas seperti bom-bom rudal peperangan.


***


maaf ya kemarin tidak update karena author sedang di perjalanan ke kampung halaman. ketika sampai, masih sempat nulis. tapi karena tubuh yang terlalu lelah, author malah ketiduran deh. hahaha ...