
EPISODE 81 (S2)
Pernah aku sebutkan sebelumnya, satu kata paling sakral dalam perizinan sebuah hubungan adalah perkataan setuju dari orangtua. Ada banyak orang yang rela mati-matian untuk mendapatkan kata itu, ada pula yang berhenti di tengah jalan ketika persetujuan itu tidak kunjung didapati.
Memang, dua insan yang saling terbakar api asmara tetap saja bisa melanjutkan hubungan tanpa persetujuan, namun batin tak akan pernah menerima realita bahwa mereka tidak sebegitu sempurna dengan kata itu. Itu pula yang membuat hatiku gundah gulana di hadapan paras manis Kak Reina yang menatap lurus.
Reira berkata sebelumnya jika Pak Bernardo sudah tahu mengenai hubungan ini. Ia sudah menyebutkan bahwasanya aku merupakan kekasihnya. Hanya saja, tidak ada respon berarti dari orangtua laki-lakinya itu. Hal yang meyakinkanku ialah diam berarti pertanda setuju, setidaknya itu yang aku dengar dari Reira. Aku percaya penuh dengannya. Reira tidak akan berbohong padaku, walaupun di tengah kapal karam sekali pun.
Namun, kali ini ingin sekali air mataku jatuh dan tumpah ke cangkir yang aku angkat. Aku seruput sesaat untuk menenangkan diriku yang sedang menahan emosi negatif.
“Reira berkata kalau papanya setuju dengan kami.” Aku menggeleng sedikit. “Mereka tidak berdebat ketika Reira bercerita tentang hal itu.”
“Lo enggak memahami papa kami. Bagi gue, diam pertanda ia sedang berpikir. Dia itu pembisnis, menimbang untung rugi, dan menimbang untung rugi.”
“Apa cinta salah satu hal yang bisa dibisniskan? Gue enggak ngerti.”
Kak Reina mengembalikan posisi duduknya ke arah halaman belakang. “Bisnis bukan tentang uang, tapi harga diri, moral, dan banyak lagi.”
“Kalau papa kalian enggak setuju, gue harus bagaimana?” tanyaku.
Ia menghembus POD-nya. “Kita ini pelaut, lakukan cara-cara pelaut.”
“Menghancurkan kapalnya?” tanyaku kembali.
“Benar, kalau gagal ... larilah sejauh-jauhnya agar tidak terkena meriam balasan.” Ia menoleh padaku sembari tersenyum. “Gue rasa lo enggak akan mampu ngelakuinnya, tapi enggak tahu sama Reira. Pikirannya enggak bisa kita tebak sekali jalan. Oh, iya ... lo jangan anggap enteng setiap perkataan Reira. Bisa jadi sebecanda apa pun kalimatnya, hal itu benar-benar bakalan ia lakuin.”
“Reira pernah bilang kalau suatu saat dia bakalan menghilang,” balasku. Aku sangat ingat sekali ia pernah mengatakan hal itu padaku.”
“Dia memang sering menghilang,” jawab Kak Reina singkat.
“Tapi ... dia juga bilang bisa jadi gue yang menghilang. Setiap orang itu selalu bergerak dan berpindah. Gue enggak tahu maksud dari kalimatnya itu. Tapi, gue udah pastiin gue enggak bakalan menghilang.”
Ia memajukan wajahnya padaku. “Apa lo yakin?”
“Janji gue adalah janji pelaut.”
“Hahah .... dasar Reira.” Aku paksakan bibirku untuk tetap tersenyum.
Hari berlalu pada satu hal yang aku tunggu. Sejenak aku simpan di dalam hati bagaimana gundah menggerogoti setiap garis bibir untuk melebarkan diri, memancarkan cahaya untuk semua orang, hingga menciptakan tawa dari canda garing yang sempat terucap. Ya ... tidak ada satu hal pun yang bisa menutupinya kecuali menimbunnya dalam-dalam di pikiran bawah sadar, menambalnya dengan ingatan baru sembari berharap untuk dilupakan. Setidaknya, hatiku lebih baik seperti itu.
Begitulah hidup dengan semua dinamika yang ditunjukkan. Layaknya ucapan Mawar seperti cinta yang bisa meraskan bosan, hidup pun ternyata begitu pula. Benar juga yang pernah ia ucap. Jika kita merasa masalah merupakan satu hal yang harus dihindari, maka kita telah salah mengira hal itu. Masalah haruslah dihadapi, mau atau tidak mau hati merubah situasi. Aku akan tetap di sini menahan agar tembok itu tidak runtuh, menimpa diriku yang mungil karena pernah diterpa oleh masa lalu.
Senyum Mawar sangat cemerlang sore ini. Aku menjemputnya menggunakan vespa tahun lima puluh tanpa rasa malu mengunjungi rumah di kawasan hunian mewah. Untungnya sja Mawar tidak suka menaruh ekspetasi tinggi kepada orang yang ia kenali. Ia sudah sangat bersyukur aku mengenalinya, oh tidak ... lebih tepatnya adalah kami. Ia orang yang idealis, tidak matrealis seperti teman di organisasinya yang glamor itu.
Aku tepat di muka gerbang rumahnya yang tinggi. Tidak lama setelah aku memencet tombol bel, keluarlah wanita bening yang tingginya melebihi diriku. Aku senang jika ia masih bisa menatapku tanpa menunduk. Jika iya, hal itu pasti sangat memalukan. Lagi pula, ia hanya lebih tinggi seangin daripada diriku. Hanya Reira yang mengejek jika pertumbuhanku terhambat karena tidak makan ikan, sehingga tidak bisa memacu pertumbuhan Mawar yang bermasa kecil di lingkungan nelayan.
Sudah aku bilang ... aku tidak suka ikan. Kebiasaan yang sama dengan Rio yang selalu menghindari hidangan ikan di dalam rumah. Reira berkata aku bodoh pun karena tidak makan ikan. Aku pun tertawa di dalam hati. Ia belum mengenal Rio yang punya otak encer. Rio merupakan orang yang paling pintar di antara tiga kakak-beradik ini.
“Siap?” Aku memberikan helm bogo padanya. Helm itu pengganti milik Reira yang pernah dimaling, tepat di sini.
Ia menyambut helm yang aku berikan. “Tentu saja ... gue enggak sabar melihat pelanggan pertama kita.”
“Gaji pertama lo, seminggu setelah dibuka. Jangan ditagih malam nanti.” Aku menjentik dahinya. Sebelumnya, Mawar memintaku untuk langsung memberikan gaji pertama. Ia mengancamku untuk memahitkan kopi jika tidak memberikannya.
“Ih sakit tahu!” Ia menepuk dadaku, lalu tersenyum. “Hahah ... iya, sesuai perjanjian.”
“Sekarang panggil gue bos!” pintaku padanya sembari mengengkol vespa. “Jangan Reira aja yang lo panggil sebagai kapten.”
Ia memasang wajah datar padaku. “Gue bilang sama Reira, mau?”
“Heheh ... dia obrak-abrik lapak gue mau?”
Suara vespa milikku menggelegar di hadapan rumah Mawar. Aku mengode Mawar untuk segera naik. Jok vespa memang lebar, namun tidak panjang. Oleh karena itu, terpaksalah aku menahan wajahku yang memanas berkat tubuh kami yang sering berdempet ketika terdapat hentakan pada jalan. Apa yang aku lakukan pun bukanlah serta merta keinginanku sendiri. Reira sendiri yang malah memintaku untuk menjemput Mawar setiap hari untuk pergi bekerja. Ia tidak ingin adiknya yang satu ini berkeringat mengayuh sepeda, seperti halnya yang dilakukan Mawar jika pergi kuliah.
Sampailah kami di cafe milikku. Tiada aku sangka, aku sekarang benar-benar menjadi pengusaha. Mimpi yang pernah aku katakan kepada Reira ketika di Sungai Mirang kini telah terwujud. Aku mencubit lenganku ketika berdiri sembari mendongak ke atas langit. Tepat di tempatku memijak kaki, aku sama sekali tidak terbangun. Hal ini benar-benar nyata. Aku pun tersenyum ketika Mawar menyentuh tanganku dan menariknya untuk menuntun langkahku.
Tepat tatkala aku menatap wajah riangnya tersebut, sejak kapan sentuhan ini seakan sudah biasa?
***