
EPISODE 65 (S2)
Lemah kakiku menapaki jalan dengan jarak pandang yang singkat. Seketika hatiku kecut oleh suara tembaka peringatan dan gas air mata yang menyeruak ke mana-mana. Air bercucuran dari pohon-pohon berkat semburan dari mobil pemancar air untuk memecah massa. Semuanya bubar dari satu titik, mencari tempat aman untuk melangkah. Berkali-kali aku menabrak orang yang ada di depan karena aku tak sanggup membuka mata. Mataku perih seakan ingin terbakar. Dadaku sesak karena menghirup gas tersebut.
Di tepi jalan aku menunduk sembari terbatuk berkal-kali. Efeknya sangat kuat, aku baru pertama kali merasakan menghirup gas ini. Sedari dulu, aku hanya melihatnya dari demonstrasi-demonstrasi di televisi, ketika para mahasiswa tidak bisa lagi dikendalikan oleh polisi. Aku melihat ke depan, tepat di muka gerbang. Mahasiswa masih berusaha mendekat, walaupun mereka dihantam dengan kuat oleh polisi yang berjaga. Air semprotan yang kuat memaksa mereka kembali untuk mundur.
Seseorang menyiramku dengan air dari atas kepala. Tatkala aku berbalik, tampaklah kepala botak dari pria berkulit gelap itu. Bang Ali mengeluarkan sebuah odol gigi dan mengolesnya tepat di bawah mataku.
“Kalian dari mana?” tanyaku dengan panik.
“Mobil pick up terpaksa mundur, kita enggak mau ganti rugi buat itu.”
“Reira?” tanyaku.
Ia melihat ke sekitar. Tangannya sedikit mengeserku ke kiri karena ada beberapa mahasiswa yang berlari dari arah berlawanan.
“Reira menghilang semenjak magrib. Dia turun sewaktu dorong-dorongan. Dan gue pastiin dia enggak mungkin ikut dorong-dorongan.”
Aku memikirkan sebentar untuk menebak ke mana Reira.
“Dia mencari gue dan Mawar,” ucapku pelan. Aku segera mengambil handphone dan menghubungi wanita itu.
Tidak sampai sepuluh detik, Reira langsung mengangkat sambungan telepon dariku.
“Rei ... hallo ... lo di mana?” tanyaku.
“Hallo ... kalian di mana?”
“Gue yang nanya lo di mana!” balasku sedikit teriak. Di sini sangat bising.
“Di bawah jembatan penyeberangan―” Rasa khawatir membuatku cepat-cepat untuk mengakhiri sambungan.
Aku isyaratkan kepada Bang Ali untuk mengikutiku. Sekitar seratus meter ke depan, terdapat jembatan penyeberangan yang mana aku dan Mawar beristirahat tadi. Tampaklah wanita dengan wajah keringatan berdiri bertegak pinggang dengan napas tidak beraturan. Tatkala aku sahut namanya, ia menoleh dengan cepat. Reira berlari menuju diriku dan memelekku dengan erat.
“Ternyata lo di sini ....” Reira semakin mengeratkan pelukannya.
“Gue selalu di sini, di dekat lo. Jangan khawatir.”
“Gue kira lo udah keinjak-injak di sana. Tubuh lo kecil dan tidak ada otot,” balas Reira.
Bisa-bisanya di dalam keadaan yang seperti ini ia malah berkata canda seperti itu.
Memang benar, aku tidak memiliki otot seperti yang Bang Ali punya. Pekerjaanku bukanlah berolahraga, melainkan duduk berpikir merangkai kata. Otakku saja yang mungkin lebih berotot dari mereka berdua.
“Lo kenapa enggak pulang? Semua cewek udah pergi.” Aku seketika mengulas balik perkataan itu di dalam hati. Salah rasanya mengucap ini kepada seorang alien betina sepertinya.
“Apa gue enggak salah dengar?” tanya Reira.
Nah, kan bener ...
Bang Ali terlihat menyulut tembakaunya. Ia menoleh kepada Reira kemudian. “Ada rencana? Gue bisa aja ngehajar dua polisi sekaligus. Itu polisi yang lagi bentrok di depan cuma polisi yang baru lulus.”
Tangan Reira meninju dada Bang Ali. “Lo kira kita ke sini buat berkelahi. Itu bukan cara pelaut.”
“Di sini udah kacau? Lo lihat itu.” Aku menunjuk kerumunan yang sedang berbentrok. Mereka terus saja mencoba untuk menembus gerbang.
“Demo ini udah kacau. Udah sulit dikendaliin. Semuanya sudah pada sibuk sendiri. Audiensi enggak mungkin terjadi karena anggota dewan enggak ada satu pun yang merespon. Padahal, sebentar lagi mungkin saja pengesahan udah diketok palu.” Ia melihat jam tangannya. “Udah berjam-jam yang lalu rapat dimulai, tapi belum ada respon dari mereka. Bahkan, papa gue pun enggak ngebalas chat dari gue.”
“Lalu, kita ngapain?” tanya Bang Ali sembari mengembuskan asap rokoknya. “Gue pengen masuk ke kerumunan.”
Dengan tubuh sekekar itu ia mungkin saja tidak akan kesulitan beradu badan dengan orang banyak. Namun, jika orang-orang yang seperti itu melakukannya, sudah pasti aku menjadi bulan-bulanan yang akan terinjak oleh kaki.
“Bentrok seperti ini bukan cara pelaut,” balasnya dengan santai.
“Kita hancurkan kapalnya,” pungkas Reira dengan ringan tanpa memberikan penjelasan lanjut.
Aku tanyakan berkali-kali apa maksud dari penghancuran kapal yang ia sebutkan, namun Reira tidak secara gambalng menjelaskan apa maksudnya. Ia hanya menegaskan kami akan menghancurkan kapal seseorang yang sangat penting.
“Ikut saja, jangan protes. Daripada di sini lo kena lempar batu,” balasnya sembari terus melangkah ke arah kawasan Stadion Gelora Bung Karno.
Sekali saja wanita itu bertitah, maka tak ada satu pun orang yang dapat menghentikannya, bahkan jika perwira polisi yang sedang berdiri di sana sekali pun. Bang Ali yang tinggi berotot dengan kulit gelap bekas berpanas-panasan marathon pun tidak bisa berkata. Ia yang berlari turut membuat kami mengejarnya tanpa kami ketahui tujuan anak itu akan berujung.
Napasku sesak sekali mengikuti arah langkah Reira yang berbelok menuju Gelora Bung Karno. Aku pun mencoba menyamai langkah Bang Ali yang berlari sembari merokok.
“Dia mau ke mana?” Aku mengatur napas sebentar. “Larinya cepet banget kaya tuyul dikejar dukun”
Ia menghembuskan asap rokoknya ketika berlari. Tampak di depan sana Stadion Gelora Bung Karno yang megah dengan lampu-lampu.
“Gue enggak tahu, ikut aja deh ke mana di pergi daripada cuma bentrok sama polisi. Lo belum pernah kena pentungan polisi, kan?” Ia menoleh padaku. “Reira itu larinya kenceng, napasnya kuat. Pernah juara marathon antar fakultas. Jadi, enggak heran dia biasa aja lari enggak ngos-ngosan. Beda sama kita yang parunya penuh asap.”
Aku mengelap keringatku yang mengalir di pipi. Tatkala aku mendongak ke depan, Reira berhenti di samping mobil Camry plat merah satu digit. Ia menunduk di samping mobil tersebut sembari mengetu-ngetuk jendela. Keringatnya bercucur hebat dan membasahi wajahnya yang mungil. Ia membuka topi koboi tersebut, lalu meletakkannya di atas mobil mewah tersebut. Tepat ketika ia melakukan hal tersebut, keluar seorang wanita berkacamata dari dalam mobil. Wanita itu adalah Kak Reina.
“Siapa tuh?” Bang Ali menyenggol diriku.
“Kakaknya Reira, Kak Reina.”
“Kok bening banget, enggak kaya Reira?” tanya Bang Ali sekali lagi.
Aku mengangkat bahu. “Mana gue tahu!”
Reira mengambil air mineral botolan ukuran sedang dari dalam mobil, lalu menuangkannya ke mulut. Brutal sekali ia menuangkannya hingga menyucur ke bawah dagu. Suara desahan puas dari haus pun terdengar, lalu ia melemparkan sebotol lagi kepada kami.
“Minum puas-puas, sebentar lagi kita masuk penjara. Di penjara minumannya enggak seenak di sini,” ucap Reira sembari tersenyum kecut oleh napasnya yang masih tersenggal.
Ia dibuat menoleh ketika Kak Reina menendang betis Reira, walaupun hanya bercanda. “Lama banget, sih! Gue sampai selesai nge-design satu baju di tablet.”
“Lo kira kami lagi ngedemo Pak RT apa sekali koar langsung selesai,” balas Reira.
Kak Reina melihat kami berdua dengan tatapan iba. Wajah kami kusut dibuat Reira yang berlari seperti dikejar hantu atau dia sendiri yang kerasukan hantu. “Kalian mau aja dibodohi sama anak ini.”
Kepala Reira maju ke depan ketika Kak Reina menyentuhnya dengan tangan.
“Kita mau ke mana?” tanya Bang Ali dengan heran.
“Oh, ini Bang Ali yang lo sebutin itu?” Kak Reina menunjuk Bang Ali.
“Iya, dia itu yang mukanya tua tamatan semester empat belas. Contoh yang buruk buat mahasiswa, tapi contoh yang baik untuk tidak ditiru.”
Ada-ada saja dia mengatai Bang Ali seperti itu. Bang Ali hanya tersenyum lebar menyadari bahwasanya sudah berapa kali Reira menyindirnya dengan kalimat itu.
“Kata Reira, gue disuruh bawa mobil Papa biar bisa masuk ke gedung DPR lewat pintu belakang,” ucap Kak Reina.
Aku memicingkan mata. “Lo mau ngapain? Kita engga ngelakuin hal kriminal, kan?”
Reira pun bertegak pinggang. Kembali ia tunjukkan ekspresi sombongnya itu lagi.
“Waktu kami bertemu di rumah sakit, ia menantangku jika ia melakukan kebijakan yang tidak pro dengan rakyat. Dan inilah saatnya,” balas Reira sembari mengambil sesuatu di dalam mobil dan menunjukkannya kepada kami. “Mobilnya menunggu untuk dilumuri oleh telur. Hahahaha!”
Tawanya kali ini terdegar paling licik daripada yang pernah aku dengar sebelumnya. Melempari telur mobil pejabat tinggi negara adalah hal yang paling gila yang aku dengar darinya. Ketua DPR bukanlah Ketua RT yang setiap hari bisa aku temui untuk membeli rokok di warungnya. Kali ini adalah orang yang sangat penting. Reira menyanggupi hal itu untuk kegilaannya sendiri dan ia sempatkan untuk dinikmati oleh kami berdua.
Akankah kami digiring ke kantor polisi terdekat?
Kami hanya bisa berlindung dari nama besar papanya apabila itu terjadi.
***