Captain Reira

Captain Reira
Teaser



Di malam Reira kabur dari rumah ....


Benarkah saya pecundang seperti yang dikatakan oleh kalian kepada saya? Benarkah saya pengkhianat seperti yang kalian hujatkan kepada saya? Atau benarkah saya hanyalah sekuntum bunga berduri yang merusak keadaan, tak ubah layaknya ucapan hinaanmu kepada saya?


Saya tak sebaik yang ia ucapkan, tak pula sejahat yang kau hujatkan. Ia sedemikian mungkin merancang keadaan itu kepada saya sehingga saya seolah-olah menjadi benalu dalam kisah ini. Dirinyalah yang pecundang, saya membenci dirinya. Ingin saya tampari wajah sombongnya itu ketika setiap kali dirinya meminta saya melakukan sesuatu. Saya bukanlah boneka, sebagaimana boneka-boneka lain yang bisa ia gerakkan. Namun, sudah terlanjut janji yang saya ucapkan kepadanya.


Sungguh, saya kagum kepada sosok Reira yang bisa melakukan segala sesuatu atas hendak kebebasan diri untuk bergerak. Ia sebebas angin lautan, filosofi yang sering ia ajarkan kepada saya yang lemah ini. Dirinya lugas dalam berbicara, luas dalam bergaul, tak seperti saya yang hanya bisa diam menjamu seluruh rasa dan makna. Saya terlalu pasif untuk seorang manusia, memang sifat dasar saya seperti itu. Satu yang saya sesalkan ialah ketika seluruh rasa kagum itu menjadi benci. Permainan yang ia rancang telah menyakiti seseorang, seseorang yang saya cintai selama ini. Seseorang yang saya cintai sejak lama, jauh dari kisahnya bermula bersama pria bodoh itu.


Tak ada pria yang berani sebegitu melindungi diri saya daripada David. Sebaliknya, tak ada pria yang berani sebegitu menyentuh saya selain dirinya. David satu-satunya yang berani menjamah diri saya dengan segala nafsu dari desah napas beratnya itu. Dirinya terlalu lemah, saya akui itu. Kelemahannya itu membuat David tunduk kepada setiap orang yang ia anggap melebihi kapasitas dirinya, termasuk Reira dan termasuk diri saya. Ia berada di ambang ketidakkonsistensian seorang manusia. Hal itu pula yang saya benci dari dirinya.


Pada akhirnya, David tersakiti. Ia kembali berada dalam dunia hitam. Saya tahu itu, meskipun saya tak pernah bertemu dengannya lagi saat itu. Satu orang yang saya salahkan hanyalah Reira. Ia memperalat diri saya untuk mencapai kepentingan pribadinya, kepentingan keluarganya, kepentingan harga dirinya yang tinggi itu. Saya dicambuk untuk mengikuti setiap perintah yang ia ucapkan, meskipun saya harus menyakiti orang yang saya cintai. Ia terlalu besar untuk saya lawan dan diri saya terlalu lemah untuk menolak.


Satu keyakinan penuh untuk diri saya melakukan ini ialah David akan kembali kepada saya. Tak akan saya lepaskan kepadanya yang pecundang itu.


Jika kalian berpendapat saya tak tahu menahu semua ini? Maka kalian salah. Saya sudah mengetahui semua ini, semenjak pendaratan mereka di Pulau Manggar. Itulah hebatnya Reira, setiap rancangan yang ia tuliskan kepada saya akhirnya terwujud. Tak ada satu pun yang terlewati, tak ada satu pun yang saya tinggali. Setiap detail dari rencana itu tak lepas dari buah tangan saya, bahkan pada momen-momen yang membuat kalian menghujat kepada saya.


Saya berang kali ini!


Kenapa? Kenapa saya seolah-olah jahat?!


Kenapa kalian tak menghujat Reira si pecundang itu dan lebih memilih diri saya sebagai sumber amarah?


Saya hanyalah tangan baginya yang masih membutuhkan banyak tangan lagi. Saya hanyalah mata baginya yang masih membutuhkan banyak pandangan lagi. Reira sendiri otak dari semua ini, lalu kenapa kalian menghujat diri saya?!


Saya tertunduk malam ini tepat di tepian kaca kamar mandi. David mengajarkan kepada saya betapa nikmatnya cinta, betapa nikmatnya nafsu. Saya menyentuh dada saya sendiri, memilin titik cokelat tak ubah jemari David yang jahat itu. Namun, tak ada yang senikmat permainannya. Tangis saya pecah seketika tatkala mengingat bahwa saya kembali dicambuk oleh wanita itu.


Jujur, tak ada satu pun orang yang benar-benar baik di dunia ini. Setiap orang jahat dan memilih dosa di jalannya sendiri, termasuk aku, termasuk David sendiri, dan termasuk Reira. Seluruh aktor besar ternyata sama-sama munafik, mereka tidak konsisten. Mereka menguasai nafsu di satu waktu, lalu logika di waktu yang lain. Dan ternyata akhirnya kalian sadar, semua orang yang berperan kecil ternyata yang paling baik. Sebaliknya, seluruh orang yang timbul di permukannya ternyata yang paling munafik, termasuk aku sendiri.


Saya mengangkat sambungan telepon dari Reira. Dirinya selalu berganti-ganti nomor ketika menghilang. “Iya, gue ke sana. Tunggu gue satu jam lagi.”


“Jangan tinggalkan jejak,” balas Reira.


“Pernahkah gue ngecewain lo?”


Pertanyaan itu mengakhiri percakapan dengan dengung yang panjang. Saya hapus air mata saya dan saya tinggalkan kenikmatan sementara ini. Saya pergi ke tempat yang paling utopis dalam kisahnya. Saya membenci tempat usang itu karena berbau kecoak dan suara pengerat yang sering terdengar. Dan saya heran kenapa kalian menyakralkan sarang hantu itu.


Seluruh keluarga saya dari Manggar tengah tertidur. Mereka ke sini karena esok hari saya akan wisuda. Sudah pasti saya pergi diam-diam, tanpa seorang pun yang mengetahui. Saya bersepeda ke rumah Alfian, padahal badai seperti ingin menggulung saya. Dokter muda itu beruntung terlahir di keluarga yang sangat kaya raya, mobilnya tak hanya satu. Sesampainya di sana, saya tak ingin melihat wajahnya. Ia pun munafik.


“Biar gue kawani,” ucap Alfian.


Saya meraih kunci mobil sedan merah miliknya. “Enggak usah, gue diminta buat sendiri.”


“Kenapa lo ngelakuin semua ini? Hanya karena David yang enggak ada apa-apanya itu? Lo berharap setelah semua ini berhasil, David bakalan jadi milik lo?”


“Itu hanyalah bonus. Yang terpenting adalah memenuhi janji gue sama Reira. Dia telah mengajarkan gue banyak hal, meskipun akhir-akhir ini gue benci sama dia.”


Alfian meremas tanganku dengan lembut. Tak ingin ia lepaskan sentuhan basahnya itu, sementara gigiku sudah bergemeretak parah karena dingin.


“Gue suka sama lo. Kenapa lo lebih milih David? Gue punya masa depan yang bisa ngabulin semua keinginan lo. Lo bakal bisa gue jadiin apa aja yang lo mau.”


Saya menyampakkan tangan kotornya itu. Tak sudi saya disentuh oleh pria yang bukan saya cintai. “Maaf, Reira mengajarkan enggak semua hal bisa dibeli dengan uang. David memang enggak punya semuanya, tapi dia punya apa yang gue harapkan. Kalau lo berharap mengacaukan semua ini, percayalah Reira punya banyak hal buat ngegagalin itu.”


“Pergilah ....” Ia membuang wajah. “Sampaikan salam gue dengan Reira. Dia bakal pergi di waktu yang lama. Kita bisa jadi enggak bakalan bisa lagi ketemu sama dia.”


“Terima kasih ....”


Saya membuka pintu mobil dan segera melaju bersama hujan yang mengguguyur. Tak saya pedulikan mobil mewah ini kotor oleh beceknya jalanan, saya hanya ingin tidak terlambat di waktu terakhir untuk melihat Reira. Ia hanya memberikan saya kesempatan untuk bertemu sekali lagi, tepat di kapal Leon. Setelah itu, tidak akan ada kesempatan lagi.


Jujur, saya sudah menyebutkan semuanya kepada kalian sebelumnya. Reira itu terlalu utopis, ia hanya berkhayal mengenai suatu tempat yang sangat indah untuk berdua dengan orang yang ia sayangi. Di pagi hari ia akan membuatkan kopi untuk orang itu, lalu senja menyabut tanaman sawi pada ladang di depan rumah kayu sederhana. Saya tak tahu apakah ia akan berhasil menemui orang itu, tetapi rindunya sudah terlalu besar hingga mengalahkan logika.


Hal itu terpikirkan oleh saya ketika saya memijakkan kaki di atas kapal Leon. Hentak kaki saya terdengar jelas ketika saya berlari menuju pintu ruangan-ruangan kapal. Gelap menyelimuti kemudian, hanya lilin kecil penerangan untuk saya berjalan. Dahi saya pun terhantuk ketika berada tepat di muka pintu yang berhiaskan ornamen kumbang. Tatkala saya buka, Reira tampak duduk bermenung diri di atas kursi pribadi Kakek Kumbang.


“Lo rindu sama gue?” Ia tersenyum kepada saya. “Ke sinilah ... gue butuh pelukan sebelum kita benar-benar berpisah.”


Saya berjalan ke hadapannya yang membuka tangan untuk memeluk saya. “Rei, semuanya berjalan lan―”


Tamparan itu menggetarkan tubuh saya, membuat jantung ini ingin mencabik tulang rusuk untuk segera keluar. Pandangan saya terlempar ke bawah karena betapa kerasnya tamparan tersebut. Air liur saya memuncrat ke bawah, rahang tak lagi sanggup untuk menutup. Reira menampar saya sebegitu kerasnya.


“Gue cuma minta lo dekat sama David, bukan malah― ah ... lo kenapa bisa kelewatan begini, sih?” Ia mengembalikan wajahku tepat di hadapannya. “Lo masih halangan bulan ini, kan?”


Aku mengangguk. Napasku tidak beraturan.


“Gue aman ....”


Reira kembali ke tempat duduknya. “Sorry, rasanya gue berhak menampar lo. Itu sudah kelewatan, Mawar! Lo bisa ngebayangin orang yang lo cintai, terus berhubungan badan dengan orang lain?!”


Tangan Reira menepuk meja sekuat tenaga. Saya mundur selangkah karena hentakan tersebut. Tak sanggup saya menatap dirinya yang terlampau berang kepada saya. Benar, ini adalah salah saya.


“Duduklah ....” Tangannya menjulur.


“Gue minta maaf, Rei,” balas saya. Lutut saya benar-benar bergetar menatap dirinya.


“Sudahlah ... gue enggak mau mikirin itu lagi. Simpan aja rasa nikmat lo itu karena sebentar lagi kalian bisa ngelakuinnya tanpa sepengetahuan gue.” Reira menyerakkan berkas-berkas yang ia ambil dari laci. Pandanganku melebar karena saking banyaknya berkas-berkas lama. “Elektabilitas papa gue dan papa Nauren akhirnya nurun. Koalisi partai mereka banyak yang menarik diri atas kasus ini. Gue rasa bentar lagi mereka bakal ke rumah sakit jiwa. Kebanyakan dukungan udah masuk ke pasangan sebelah. Akhirnya kita berhasil.”


“Kenapa lo ngelakuin ini? Lo ngorbanin banyak orang demi kepentingan lo sendiri?”


“Gue lebih banyak ngorbanin diri sendiri untuk musuh terbesar. Lo kira enak menanggung malu di kasus narkoba? Lalu ditemukan tanpa busana pada sebuah hotel? Kalau lo ngerasain itu, gue rasa lo udah bunuh diri.”


“Seharusnya lo enggak pergi, Rei. Lo masih bisa di sini sama kita lagi. Orang yang udah mati enggak bakalan bisa hidup lagi!”


Ia kembali mengentak meja dengan kuat. Beberapa kertas berkas terlempar ke arah saya.


“Kakek Kumbang masih hidup. Gue nemuin berkas-berkas ini di brankas Mama. Ada surat dari kedutaan besar yang menyatakan ada seorang kakek tua menggelandang di Australia. Ada juga surat-surat Kakek yang jadi tanda dia masih hidup. Ia ada di sebuah tempat yang gue rahasiakan dari kalian. Semoga dia masih ada di sana.”


Saya membaca satu per satu berkas itu. Tampak foto wajah Kakek Kumbang yang terlihat jelas pada sejumlah berkas. Tulisan bersurat dengan tinta hitam juga atas nama dirinya sendiri, dengan nama asli yang ke arab-araban. Saya meletakkan semua berkas itu lagi.


“Ada yang lo sampaikan lagi?” tanya saya.


“Jaga David ... dia milik lo. Kalau dia memang jodoh gue, dia bakal kembali lagi sama gue. Kalau lo butuh uang, gue punya banyak uang buat beliin lo satu mobil harga menengah. Satu lagi, gue udah ngasih uang yang sangat besar dengan Alfian untuk biaya sekolah anak-anak terlantar itu. Sekiranya bisa ngebawa mereka ngambil pendidikan paket dan perguruan tinggi.”


“Dari mana lo dapat uang itu?” tanya saya.


“Hey, gue ini bajak laut. Kerjaan gue mencuri uang dari orang lain. Suatu saat, mereka-mereka yang gue besarkan bakal nemuin gue di mana. Bukan kalian, tetapi anak-anak itu. Hanya mereka yang akan tahu, itu pun beberapa.”


Saya berdiri. Ia sudah bertekad untuk menghilang dan tidak ada manfaatnya untuk berdebat dengan wanita gila itu.


“Gue rasa semuanya udah cukup.” Saya berbalik arah menuju pintu. “Gue enggak bakalan ngelepas David. Ingatlah itu. Tugas gue udah cukup sampai sini.”


“Mawar, setelah lo tutup pintu itu, lo bakalan enggak bisa lagi ngelihat gue. Lo yakin semuanya udah jelas?” tanya Reira.


Saya mengangguk tanpa menjawab. Terbuka pintu tua itu kembali dan membawa saya untuk keluar. Hentakannya cukup kuat ketika ditutup. Namun, seketika saya ingat bahwasanya ada satu hal yang ingin disampaikan. Alfian selama ini tidak menyukai rencana Reira. Reira terlalu naif memberikan uang sebegitu banyaknya kepada dokter muda itu. Kembali saya buka pintu itu kembali dan menjulurkan wajah untuk menatapnya.


Namun, saya tak percaya dengan apa yang saya lihat. Ia benar-benar hilang di telan terangnya lampu lilin. Tak ada angin yang bersisa sebagai jejak dari langkahnya, ruangan ini buntu tak memiliki pintu kecuali yang sedang saya pegang. Semuanya kosong, hanya bunyi kecil binatang pengerat. Reira sudah menghilang dari kursi itu.


Helaan napas saya terasa berat, lalu saya tutup pintu rapat-rapat. Saya lupa jika dirinya merupakan cucu dari Kakek Kumbang.


***