Captain Reira

Captain Reira
Sepuluh Larangan Kapal Leon (S3)



Sepertinya aku pernah mendengar istilah Sepuluh Perintah Tuhan di ajaran kristiani pada umumnya dikarenakan aku memiliki punya seorang teman Katolik, meskipun ia tidak terlalu religius seperti yang orang kira. Perintah itu disampaikan kepada Musa agar ia teruskan kepada kaum Yahudi pada saat itu, hanya saja mereka malah menentang nabinya sendiri.


Sepuluh Larangan Kapal Leon kini dimulai dari dalil pertama. Wajah Borneo tampak serius seperti orang kesurupan hantu yang sedang serius. Gelapnya pepohonan ini hanya menyisakan binar cahaya api dari pantulan nanar matanya. Angin menyelinap ke sela-sela telinganya hingga membuat rambut gondrongnya itu bergerak. Terpejam mata Borneo tatkala asap rokok yang ia hisap kini terbang meluncur dari hidung. Mungkin saja pengaruh nikotin sedang bekerja padanya.


Larangan tersebut selalu diberitahu kepada setiap awak kapal yang baru saja bergabung. Kakek Kumbang menempelkannya pada ruang tidur dan meminta para senior untuk membimbing junior agar mereka paham. Borneo salah satu junior yang diberi pemahaman mengenai setiap dalil aneh di kertas usang tersebut. Namun, tidak ada satu pun orang yang mengetahui maksud pasti kenapa sepuluh dalil itu disusun dikarenakan makna abstraknya. Setiap awak kapal diberikan kebebasan untuk memahami setiap dalil.


Dalil Pertama, mereka dilarang untuk menyembah paus. Menurut akal sehat, siapa manusia di muka bumi ini yang menyembah paus? Apa spesialnya dari seekor paus besar yang hanya bisa menganga tatkala ada sekumpulan ikan di hadapan? Yang pasti, Kakek Kumbang ditafsirkan seperti memiliki etnosenstrisme agama. Ia hanya memperbolehkan agama monoteis di kapal itu. Penyembahan terhadap paus berarti sama halnya dengan penyembahan berhala, animisme, dan kepercayaan pagan lainnya. Baginya, penyembahan hanya diperbolehkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, meskipun ditafsirkan dengan berbeda-beda pada setiap teologi.


Dalil Kedua, siapa itu Tabrani? Sosok misterius yang hanya diketahui oleh angkatan Kapal Leon pertama. Cerita turun temurun pun berkembang mengenai sosok Tabrani tersebut. Ada yang mengatakan jika Tabrani itu hantu pria yang sering menganggu di anjungan kemudi, ada pula yang bercerita jika Tabrani itu merupakan penjual nasi ayam di Makasar karena mereka pernah bertemu dengan orang tersebut. Namun, Kakek Syarif berkata Tabrani merupakan awak kapal tertua yang pernah dimiliki oleh Kakek Kumbang, satu-satunya orang yang tidak pernah dibantah oleh Kakek Kumbang. Membantah Tabrani dijadikan sebagai manifestsi membantah orangtua sendiri sehingga hal tersebut sangat dilarang.


Dalil Ketiga, perlu diingat jika makanan faforit awak Kapal Leon pada angkatan pertama ialah donat. Jika bisnis berhasil mendapatkan untung besar, Kakek Kumbang terbiasa membeli banyak donat untuk dimakan bersama di malam harinya. Pesta pora di hadapan donat selalu dijadikan ajang suka cita karena mereka jarang memakan makanan manis dan enak selama di lautan. Namun, Kakek Kumbang selalu berpesan agar jangan menyisakan satu donat pun. Satu donat yang tersisa, berarti makan esok hari tertunda. Awak kapal pada saat itu mengakalinya dengan membuang donat-donat ke lautan, hingga Kakek Kumbang marah besar. Membuang donat ke lautan menjadi bentuk perilaku mubazir yang sangat sia-sia.


Dalil Keempat, Borneo awalnya bingung kenapa mereka dilarang membunuh pemilik burung hantu dan pemilik burung kakak tua, serta seluruh orang yang menginginkan burung hantu dan kakak tua. Padahal, membunuh itu memang dilarang kepada siapa pun itu. Borneo mendapatkan cerita jika Kakek Kumbang selalu beranggapan jika setiap orang di atas muka bumi ini menginginkan burung hantu dan kakak tua dengan alasan yang sampai saat ini tidak diketahui. Jadi, Kakek Kumbang memberikan pesan untuk jangan membunuh siapa pun dengan alasan apa pun.


Dalil kelima, Cinta diperbolehkan oleh Kakek Kumbang, tetapi ia hanya melarang bercinta. Ada banyak awak kapal yang jatuh cinta kepada gadis-gadis pelabuhan, malah Kakek Kumbang mendukung dengan membelikan baju bagus ketika mereka diberikan kesempatan kencan, tetap dengan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Jelas maksud dalil itu untuk dipahami karena lugas tersebutkan poin dasarnya. Borneo mengakui jika dalil ini yang telah ia langgar dengan membawa wanita bayaran diam-diam ke dalam kapal. Dalil itu dengan sederhana menyimpulkan jika perzinaan merupakan dosa di mata Tuhan.


Dalil ketujuh, Borneo sebenarnya tidak pernah melihat kucing di kapal itu, tetapi Kakek Syarif pernah berkata jika Kakek Kumbang pernah diberi kucing dari pedagang Spanyol. Kucing itu diberikan nama Catalonia karena pedagang itu itu berasal dari Catalan. Hal yang menarik ialah sebiji pakan pelet kucing menjadi seperti kupon berhadiah bagi awak kapal karena Kakek Mayor memberikan semacam reward apabila mereka melakukan kebermanfatan. Kupon itu bisa diganti mungkin dengan uang, barang, serta hal menarik lainnya. Namun, sering kali awak kapal diam-diam mengambil makanan Catalonia agar mereka mendapatkan bonus nantinya. Kakek Mayor pun melarang hal tersebut karena sama dengan mencuri. Aktivitas mencuri dilarang di Kapal Leon.


Dalil kedelapan, seperti yang ditanyakan oleh Razel, manusia mana yang ingin memotong jari kelingkingnya sendiri? Borneo cukup lama menyimpulkan dalil tersebut karena ia diminta berpikir sendiri tanpa diberitahu senior lagi. Ia mengingat kebiasaan semasa kecilnya dengan melakukan janji kelingking ketika berjanji. Senior membenarkan jika memang ada hubungannya janji kelingking dengan dalil tersebut. Memotong jari kelingking menjadi metafora terhadap pengingkaran janji.


Dalil kesembilan, aku ingat kebiasaan anak laki-laki SMA yang sering buang air tapi tidak disiram. Hal ini selalu menjadi candaan dan ejekan bagi siapa saja yang melakukannya. Borneo membenarkan tebakanku, dalil itu meminta setiap awak kapal untuk jujur pada setiap perkataan, terlebih lagi mereka berbohong jika buang air tidak disiram.


Dalil kesepuluh, hal menarik aku dapati dari Kakek Syarif yang memegang bidang pendidikan di Kapal Leon. Secara pendidikan, Kakek Syarif lebih tinggi daripada Kakek Kumbang meksipun hanya sebatas Sekolah Rakyat tingkat rendah. Untuk membaca dan menghitung, Kakek Syarif tentu saja lebih handal daripada kakekku sendiri. Awak kapal pada saat itu masih banyak yang belum pernah menginjakkan kaki di sekolah. Bagi mereka yang belum bisa baca, tulis, dan berhitung maka diserahkan kepada Kakek Syarif. Borneo mengatakan hal yang lebih luas, Kakek Kumbang meminta awak kapalnya jangan menjadi oranv yang bodoh.


Borneo menjelaskan secara detail mengenai setiap dalil yang ada. Pembawaannya yang serius, tidak cukup membuat kantuk malam mengalahkan kami sehingga aku terus saja bertanya mengenai maksud dari dalil-dalil itu.


“Jika kalian bawa ke kehidupan, niscaya sangat bisa dijadikan pegangan,” pungkas Borneo di akhir kalimatnya.


***