
EPISODE 31 (S2)
Semakin lama aku memerhatikan Mawar, semakin aku lihat kemiripannya dengan wanita laut berkaos kumal jika aku temui di halaman belakangnya. Kalimatnya tegas seakan tidak ingin dibantah, sama halnya dengan Reira. Hanya saja terdapat sedikit perbedaan jika aku telisik kembali. Dari balik tatap wajahnya yang mengalihkan pandanganku di mobil―setelah memasukkan semua belanjaan ke bangku belakang mobil―aku menyimpulkan sesuatu, dirinyalah yang sebenarnya gugup. Hentak kalimat untuk membungkam lawan bicara yang selalu dilakukan oleh Mawar melainkan hanya untuk menyudahi percakapan. Ia tidak terlalu pandai saling menyambung sebuah obrolan, terutama bagi orang yang pendiam sepertinya.
Aku rasa itu pula yang membedakannya dari Reira. Reira selalu membungkam kalimat lawan bicara karena memang begitulah sifat asli Reira yang kadang membuat kesal Candra. Sedangkan Mawar, aku rasa ia hanya tak ingin memperpanjang percakapan.
“Lo yang sebenarnya gugup, kan?” ucapku sembari memundurkan mobil. Aku lihat wajahnya dari sebuah cermin yang terletak di atas depan mobil.
“Terserah ....”
What? Ini lebih parah daripada Reira.
Kalimat itu seketika menghentikanku untuk berucap lagi.
Malam menunjukkan pukul sembilan malam. Sedari tadi perut belum juga diisi oleh sebutir nasi. Kebetulan Pak Cik memintaku untuk mengambil nasi sendiri dan aku malah menunda-nunda makan hingga Mawar datang ke rumah. Laparnya perutku beralih kepada muda-mudi yang tengah bermadu kasih di atas motor bebek. Jalanan lurus dibawa seakan berbelok tajam, lambat sekali. Ingin aku tabrakkan mobil ini rasanya karena menganggu kenyamanan pengendara lain.
Aku merasakan detak jantung Kota Manggar di sini dengan gemerlap lampu jalanan yang mengingatkanku dengan Ibu Kota, walauun Ibu Kota dihiasi oleh pemandangan gedung-gedung tinggi di kiri dan kanannya.
Pandangan aku geser ke kiri, termasuk kepada Mawar sendiri. Sebuah area terbuka yang ramai dikunjungi oleh warga menarik perhatianku. Para penjual makanan bersemangat bergerak di lapak jualannya untuk melayani para pelanggan. Seketika aku sedikit melambatkan kecepatan mobil.
“Ini apa?” tanyaku pada Mawar.
“Taman Kota Manggar,” balasnya singkat.
Bacaaan 'Nasi Goreng' semakin membuatku takluk untuk menepi.
“Kayanya gue harus makan sebelum cacing di perut gue semakin menggeliat.”
“Lo mau mampir?” tanya Mawar.
“Iya, gue lapar banget, nih. Lo enggak keberatan, kan? Sebentar aja, kok. Segan gue ngambil nasi di rumah Zainab kalau jam segini. Enggak sopan takutnya.”
Walaupun sedikit, aku melihat anggukan kepala dari Mawar. “Enggak apa, kok. Gue juga laper.”
Mobil aku parkirkan perlahan mengikuti arahan dari seorang remaja yang mengayunkan tangannya padaku. Mawar lebih dahulu turun dan melangkah ke salah satu gerai nasi goreng yang terdapat pada taman kota. Ia yang turut merasa lapar memesankan dua porsi nasi goreng.
Duduklah kemudian kami di salah satu bangku kayu bundar yang disusun sedemekian estetik untuk dijadikan tongkrongan tepat bagi anak muda. Kami saling berhadap-hadapan, tetapi aku perhatikan ia menghindari sorot mataku. Selalu saja begitu, sudah berulang kali ia terpergok ingin mengucapkan sesuatu, namun kembali ia urungkan dengan memalingkan pandangan.
Bulan berkelopak di sebalik awan gemawan yang menggumpal seperti permen kapas. Terselipkan pemandangan langit yang ditaburi bintang dari sela-sela dedaunan yang menaungi kami di bawah sini. Elok sekali untuk bermadu kasih muda-mudi dengan udara sejuk malam hari, seperti beberapa pasangan muda-mudi yang tengah duduk di sekitar kami, walaupun sedikit mengambil posisi pojokan. Melalui gerak manja mata mereka yang saling bertatap muka, tersiratkan bahwasanya bara cinta tengah membara di sana. Saling memadu kasih dengan ucapan manis yang katakan pada sela-sela percakapan.
“Sejak kapan?” Tiba-tiba Mawar memulai percakapan. “Maksud gue, sejak kapan kalian pacaran? Setahu gue lo dekat sama Fasha.”
“Hmm ... Fasha, gue cuma dekat sebagai sahabat semenjak SMA. Dan gue udah pacaran sama Reira sebulan lebih. Emangnya kenapa lo nanya begitu?” tanyaku balik.
Ia mengangkat bahu. “Iya, enggak apa-apa ... penarasan aja. Lo kan dekatnya sama Fasha. Tiba-tiba aja Fasha ada berita akan menikah. Kaget kan satu organisasi ... hahaha.” Ia tertawa kecil.
Ia menekan meja kayu ini dengan jemarinya.
“Hey ... lo kira anak orang kaya sudah pasti memiliki masa depan cerah?”
“Bagi gue ada kemungkinan. Lo lihat aja anak jendral anaknya pasti jadi jendral juga. Bandingin sama anak pemulung di sekitaran kita, anaknya paling mentok jadi tukang parkir. Dunia ini harus kita akui tidak adil untuk orang-orang yang tidak beruntung seperti kami.”
“Enggak beruntung?” Ia memerengkan wajahnya. “Lo rasa diri lo kurang beruntung? Punya rumah besar seperti itu lo kira lo orang susah?”
Aku tertawa sejenak. Ia benar-benar tidak tahu mengenai latar belakang keluargaku yang hancur lebur semenjak tidak adanya orangtua. Tidak ada bedanya kehidupanku dan Dika seperti anak kos yang tunggang langgang memikirkan utang sepeninggalan ayah.
“Keadaan gue enggak seperti yang lo pikirkan. Kami tak lagi berorangtua seperti kalian yang bisa mengadu setiap ada masalah. Rumah gue aja yang besar, tapi isinya bokek. Hahahah,” candaku.
“Jangan berpikir begitu ... enggak boleh.” Ia menarik napas sejenak. “Maaf, soal itu gue enggak tahu.”
“Jadi, lo mau pergi sama kami naik kapal untuk balik ke ibu kota?” tanyaku.
Ia diam sejenak. “Mungkin aja, lihat aja nanti. Tapi, gue enggak yakin kalau pernikahan Fasha itu benar-benar dari hati.”
Sepertinya ia mengetahui sesuatu.
“Emangnya kenapa? Lo ini bukan cenayang.”
“Gue tahu Bagas kok bagaimana. Gue tahu dia pacaran dengan orang lain semenjak dekat sama Fasha. Kali aja Bagas pasang dua sama Fasha. Tiba-tiba aja ada berita nikah. Apa orang enggak mikir?”
Aku tersenyum kecil. “Udah ... jangan ngegibahin sahabat gue. Enggak baik buat ekosistem pertemanan.”
“Semoga aja dia bahagia. Jika rumor itu benar, gue harap mereka bisa menjalaninya dengan baik.”
Baiklah aku paham, sepertinya berita mengenai pernikahan Fasha merupakan sebuah kecelakan sudah menjadi berita umum di kalangan dekatnya. Aku tidak ingin saja berita ini tersebar di mana-mana demi kebaikan Fasha sendiri. Namun jujur, aku masih menyimpan kesal terhadap Bagas yang telah menyebabkan kekacauan ini. Ingin sekali aku pinjam kunci inggris milik Dika lalu menghantamkannya tepat di kepala, walaupun papanya Fasha yang notabene perwira pangkat tinggi akan langsung mencebloskan aku ke penjara.
“Lo punya pacar?” tanyaku dengan frontal. Bukan bermaksud apa-apa, namun aku hanya penasaran.
“Pertanyaan macam apa itu?” tanya Mawar balik.
Dua porsi nasi goreng tiba setelah wanita itu bertanya balik padaku. Masing-masing dari kami menarik piring dan menggenggam sendok.
“Semoga saja,” balasnya selepas sesendok kecil memasuki mulutnya. “Dan gue harap ia adalah orang yang baik.”
Aku rasa ia cocok dengan Candra. Namun yang jadi permasalahannya, apakah dia mau dengan Candra yang kadang berkelakuan tidak estetik seperti standar para wanita cantik sepertinya. Tunggu ... aku mengakui dirinya cantik? Ya memang, menurut kacamata umum para pria yang aku gunakan.
***