
EPISODE 117 (S2)
Jika kau bisa mendengar gemeretak hancurnya dedaunan kering pada semak tatkala melangkah pelan menuju tujuan yang tak jelas, beginilah hatiku saat ini. Gemeretak daun yang samar-samar seakan menggema tak ubahnya layaknya lonceng tiang pancung zaman abad pertengahan untuk mengumpulkan warga karena akan ada sebuah eksekusi. Betapa kerasnya memekakkan telinga hati, memecahkan dinding benteng yang selama ini aku bangun berkat seluruh rasa hampa. Betapa lembutnya angin yang mengalir tatkala ia pergi, tetapi bagaikan badai tatkala aku tafsirkan dengan kemelut hati yang sirna.
Aku sebut nama ibu di dalam hati, berharap sentuhannya dari dimensi itu sampai membelai tangisan hati yang aku helat bersamaan dengan lemah jasadku. Oh, tidak ada yang lebih sakit dari ini, pisau yang menancap begitu bergerigi untuk aku cabut kembali, hanya akan menyisakan sisa-sisa luka yang lambat sekali untuk pulih. Jemariku bergetar tatkala menjepit batang tembakau yang semakin menjadi abu saja. Aku terdiam, tak tahu apa lagi yang akan diperbuat. Asap kuhirup seakan racun, menyesakkan dadaku untuk bernapas.
Pernah terlintas di masa lalu tatkala aku berkata dengan sombongnya Tuhan tak ada. Aku tak mempercayai adanya Tuhan pada saat itu di kala doa-doa sudah letih aku panjatkan untuk-Nya. Kali ini aku goyah, Kawan. Tuhan sangat tidak adil untuk orang-orang lemah tak berdaya sepertiku, orang-orang yang tak punya sepertiku. Aku mencari Tuhan dalam waktu sempit dengan pikiran kosong semberawut, tak akan bisa aku temukan diri-Nya yang tersembunyi. Setetes air mataku mengalir mengairi pipi, berusaha untuk hapus agar tak menyisakan jejak patah hati.
Berdiri diriku untuk melangkah ke hadapan Reira. Akan aku buat wajah ini seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
“Bagaimana?” tanya Reira.
Aku mengeluarkan kartu nama milik Pak Bernardo. “Dia memberikan gue ini. Kami berkenalan dengan baik.”
Ia sentuh kedua pundakku, melingkar tangannya pada leher. “Oh, syukurlah ... akhirnya kalian bisa saling kenal. Apa dia bertanya tentan gue?”
“Oh, iya ... dia bangga punya anak kaya lo, walaupun sedikit petakilan. Hahah ....”
“Jadi, apa dia bilang setuju?”
Aku terdiam sesaat. Tidak ada satu pun helat napas untuk mengatakan hal tersebut.
“Enggak ada, sih. Tapi, dia bertanya apa gue cinta sama lo. Gue jawab gue sangat cinta sama lo.”
“Bagaimana responnya?” tanya reira kembali.
“Dia tersenyum ... aku rasa dia senang.” Aku turut tersenyum, meski inilah senyum terpalsu yang pernah aku tarik dari ujung bibir.
Ia tepuk tanganku. “Ah ... bapak tua itu selalu aja kaya gitu. Selagi responnya enggak ada ada yang sinis, berarti dia senang dengan hubungan kita.”
Aku mengangguk. “Ya ... begitulah. Gue harap juga begitu.”
“Jangan khawatirkan keadaan ... semua akan baik-baik saja.”
Tanganku membelai rambutnya. “Iya, kita pelaut bukan? Badai bukanlah masalah besar bagi pelaut.”
“Anda belajar dengan cepat!” Ia menjentik jemarinya di depan mataku, lalu berbalik untuk menyiapkan pesanan selantunya.
Seketika aku seperti orang bodoh sedunia yang menatap dunia penuh warna ini dengan kosong. Senyum riang para pengunjung seperti kelam yang bersembunyi di dalam realita. Realita tak bisa memunculkan bagaimana kebahagiaan yang sedang mereka rasakan, tetapi tersembunyi berkat kacamata diriku. Jikalau hati bisa berteriak, aku aku teriaki setiap orang untuk diam, memberikan aku sedikit ketenangan dan menyendiri.
Namun, hati bukanlah tercipta untuk itu. Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan berusaha memaklumi realita yang terjadi.
Tengah malam berkata di ujung bulan yang bersinar. Satu per satu pengunjung pulang setelah nikmat berbincang ria racikan kopi dari Reira dan olahahan makanan dariku. Aku paksa senyum tatkala terlontar terima kasih dari bibir mereka. Balasku meminta mereka untuk selalu mengunjungi cafe ini di kemudian hari. Namun, sapa dari para pengunjung hanya seserpih angin lalu yang aku hindari karena terlalu dingin. Bahkan, tawa riang dari Reira pun tak bisa aku rasakan.
Apakah hati ini sudah mati?
Kenapa aku tidak bisa merasa? Padahal, Reira selalu berpesan padaku untuk terus merasa. Mata hatiku tertutup dalam perihnya gemeretak yang ia rasakan Bergelimang air mata di dalamnya sehingga hati tak bisa menatapi semua. Tak ada makna lagi setelah bibir manis Pak Bernardo menghujam jantungku dengan sempurna. Seluruh jiwaku hancur berkeping-keping yang aku paksa terus tampil dalam kepalsuan.
Aku adalah orang yang paling tidak suka dengan kepalsuan, apa pun bentunya itu. Hingga tulisan-tulisan yang aku gores dari ujung tinta, sebisa mungkin ada di dunia realita. Tak pernah diriku bergaya layaknya orang seumuranku yang selalu tampil keren untuk duduk sebentar di tempat mewah, aku bawa gaya biasaku, tak peduli kata orang. Kepalsuan hanya mengantarkan kita ke ujung di mana tidak ada ruang yang bisa dipegang. Namun, kini aku menjilati ludah sendiri. Senyumku palsu, lambaian tanganku tak berarti, ucapan manisku tidak ada makna, semuanya bergeser dari prinsip dasar diriku.
Masih aku pertahankan wajahku yang kaku ini di hadapan Reira. Pulanglah aku dan dirinya menaiki vespa tahun lima puluh ini. Peluk erat dari Reira tak cukup membuat hatiku tenang, terlalu garang hal yang telah terjadi. Tatap wajahnya di depan rumah Reira aku balas dengan sayunya sorot mataku. Ia bertanya apakah aku lelah, aku iyakan saja pertanyaan tersebut. Aku masih bersembunyi dari realita, semua ini palsu. Bedebah!
Reira seketika memelukku.
“Hangat sekali pelukan lo. Malam ini gue senang banget. Papa udah mau bicara sama lo dan responnya baik. Angin segar lautan seakan nerpa gue saat ini,” ucap Reira dalam peluknya.
“Iya, gue juga senang melihatnya. Papa lo baik banget, enggak seperti kata lo, kok.”
Ia semakin menguatkan rengkuh peluk ini.
“Dia tetap papa bodoh. Tapi, kali ini dia sangat pintar.”
“Jadi, kapan lo tidur di rumah papa lo lagi?” tanyaku.
“Setelah Mama pulang. Gue temeni Mama sebentar di sini, lalu balik lagi ke rumah Papa,” balasnya sembari melepas peluknya.
Tanganku menempel pada rambut Reira.
“Sebenarya lo itu sayang sama papa lo. Tapi, lo sendiri yang enggak mengakuinya.”
“Benar gue sayang sama dia, meskipun gue juga benci sama dia. Lo benar, bagaimana pun juga ... dia udah ngebesarin gue, gue ini darah dagingnya dia. Tetap aja ada ikatan batin yang enggak bakalan bisa lepas bagaimana pun caranya. Ya, gue selalu berharap Papa akan baik suatu hari nanti,” tutur Reira padaku.
“Teruslah semangat ....” Aku mengelus rambutnya, masih dengan kepalsuan yang aku paksa. “Semua orang akan berubah.”
Ucapan pamitnya bermain di balik senyumnya yang menutup gerbang rumah. Akan aku ingat senyum itu hingga sampai di rumah nanti. Aku pasang helm dan segera menghidupkan mesin motor. Pulang diriku dengan membawa kekalahan dari seseorang yang sangat berpengaruh di sini. Entah kenapa, aku tak kunjung menangis dengan keras. Padahal, sewaktu kecil aku selalu saja menangis hingga habis dijadikan bahan lelucon oleh Dika yang tak tahu diri. Terlalu kering mungkin tangisan ini berkat seluruh rasa luka yang aku pendam.
Dika menyapaku di muka bengkel tatkala aku memarkirkan motor.
“Sombong amat!” sindirnya tatkala aku hanya merespon datar. Padahal, selalu saja seperti itu, tidak ada berubahnya.
Hanya satu tujuanku tatkala aku memasuki rumah kali ini, sebuah pintu dengan kunci yang tersembunyi di atas lemari. Hanya itu tempat aman untuk menyimpannya. Aku buka kunci itu perlahan, terciumlah bau parfum ruangan yang selalu aku semprot sekali seminggu. Jujur, aku selalu merenung di sini tatkala dunia tak lagi berperan bagiku. Seakan, lambaian sang sulung bersemayam di ujung balkon kamar yang selalu ia gunakan untuk melinting ganja. Sementara itu, aku hanya memerhatikannya dari samping sembari mendengar cerita lucu darinya.
Mungkin saja minatku dalam membaca buku tak lepas dari Rio. Ada sebuah lemari besar yang berisikan buku-buku, mulai semenjak ia kecil, hingga kuliah yang tak terselesaikan. Ia sudah mati duluan, itu bodohya Rio. Namun, aku rasa ia anak yang cerdas. Bukunya saja segudang, tak perlu ia sekolah hingga tamat untuk mendapatkan ilmu yang sebanding.
Aku tarik sebuah buku tebal kuliahnya tersebut. Tanganku merasakan goncangan dari benda yang terselipkan pada bolongan tengah. Duduklah aku di balkon kamarnya sembari menatap bulan, sementara tanganku membuka buku itu. Masih terdapat daun-daun kering khas Tanah Rencong yang terbungkus di dalam sebuah plastik. Aku ambil kertas rokok sisa rokok lintingan, aku masukkan secubit ganja agar bisa dilinting dengan sempurna.
Jangan pernah hisap benda bodoh itu! Masih ingat aku bagaimana teriakan Dika padaku sewaktu di makam Rio.
Ingin aku jawab sekarang padanya, tetapi tersebut di sini. “Lo harus mencoba ini, Dika. Ini nikmat!”
Entah kenapa aku tersenyum. Dua linting berefek padaku. Aku gila kini.
***
Apa yang sebenarnya disebut gila?
Orang sering sekali menyebut seseorang, baik dalam maksud hinaan atau candaa, mereka dilontarkan jastifikasi gila itu sendiri. Sebagai contoh, aku sering menyebut Reira itu gila, bahkan Reira lebih sering menghujat kakeknya sendiri sebagai orang gila. Dalam konteks ini, apa sebetulnya gila itu? Apakah aku termasuk gila saat ini? Atau hanya dunia ini terlalu gila untukku yang tak menerima. Subjektifitas bermain dalam jastifikasi tersebut.
Jika setiap orang gila, maka siapa yang akan tepat disebut sebagai orang gila? Tidak adil sekali jika mentang-mentang mayoritas sebagai orang waras, maka orang berbeda disebut sebagai orang gila. Di dalam rumah sakit jiwa rata-rata diisi oleh Orang Dengan Gangguan jiwa, maka aku bisa sebut seluruh pegawai dan dokter jiwa di sana sebagai orang gila. Di kala setiap orang tertawa dan berbicara sendiri, maka mereka yang normal sebenarnya penyandang gila tersebut.
Orang-orang gila di sana akan menganggap dokter dan pegawai itu gila karena berbeda sendiri. Maka, mereka yang menghujati gila seseorang, pada dasarnya penghujat itu sedang gila karena mereka sedang di dalam ranah mayoritas gila.
Entahlah, Kawan. Apakah kalian mengerti dengan pemikiran aku kini.. Aku menulisnya tatkala aku sedang merasa gila. Bulan benar-benar mendekat padaku, bernyanyi dengan irama lembut yang menenangkan. Bintang-bintang tertawa membercandai aku yang sedang gila. Bahkan, aku rasakan para serangga sedang memanggil-manggilku untuk segera ke sana. Aku sedang gila kini, oh tidak ... aku sedang waras di dalam duniaku yang sedikit gila. Sayang sekali aku menyebut Rio Si Gila, padahal ia adalah orang waras di dunia yang dianggap gila oleh orang lain.
Aku pun tertidur. Sisa-sisa kewarasanku disimpan untuk menyimpan baik-baik barang peninggalan Rio tersebut. Lembut dan hangat ranjang kasurnya yang tak pernah ditiduri bertahun-tahun. Hanya aku yang membersihkan kamar ini. Dika merasa hina menyentuh gagang pintu kamar Rio. Ia sangat membenci Si Sulung.
Tak sadar aku sudah tidur berjam-jam. Ibadah subuh pun tertinggal karena Dika pantang sekali untuk membangunkanku di subuh hari, walaupun ia selalu bergegas ke rumah ibadah. Dosa di malam hari tak pernah aku ingat. Namun, aku tak tahu apakah itu dosa atau tidak. Selagi aku tak menyakiti orang lain, maka aku baik-baik saja. Sama halnya Rio yang sedang di dalam efek mariyuana, ia seketika menjadi orang yang lucu dalam bercerita. Tak pernah ia memukuliku seperti orang mabuk di kos-kosan, atau menghujat teman sejawatnya karena merasa benci.
Jikalah Fasha di sini, sudah pasti ia akan memberitahukan papanya untuk mencidukku segera. Maka, akan aku jaga rahasia ini rapat-rapat. Tiada satu orang pun yang tahu, kecuali Tuhan.
“Sekali ini saja. Jangan lo ajak gue lagi!” Aku menyentuh ujung buku tersebut.
Sebenarnya, sudah dari dulu aku hampir menikmatinya. Namun, kali ini aku benar-benar kebablasan.
Hari sudah menunjukkan pukul satu siang. Perutku sangat lapar sekali. Aktifitas di bengkel Dika sudah sejak pagi berbunyi, sementara itu aku tertidur tanpa membantunya sedikit pun. Selesai membersihkan diri, aku melihat ke kaca. Wajahku lusuh seperti bos yang sedang bangkrut. Mataku hitam di bagian bawah seperti orang yang habis begadang. Tampak khas di bagian mataku yang merah, sama halnya seperti Rio. Aku harap akan segera hilang hingga malam.
Reira sudah menelpon berkali-kali sejak pagi. Tak ingin aku telepon balik, ia pasti akan marah. Bergegaslah aku ke bawah, menuju bengkel Dika.
“Nah, itu si tukang tidur!” Dika menghujatku seketika.
Tampak Dika sedang duduk merokok bersama seorang kakek bertopi koboi. Beliau melambaikan tangan padaku.
“Anak ini kalau tidur, payah dibangunin. Pengen gue siram aja.” Dika menghisap rokoknya.
Kakek Syarif tertawa. “Hahah ... kalian itu sebenarnya sama aja. Bedanya, kau ada kerjaan. Sedangkan dia tidak. Aku pun sama. Hahah ....”
“Cepetan kawanin Kakek Syarif ke rumah Pak RT. Gue enggak sabar lagi, nih.”
“Kebelet malam pertama lo?” tanyaku menyindir.
Mereka berdua saling bertatap lucu. Lalu, Dika menoleh padaku kembali. “Hahah ... tahu aja. Makanya, cepetan selesai kuliah lo biar mainnya enggak di kamar mand―"
Tangan Dika menutup mulutnya sendiri sembari tertawa. Kakek Syarif berdiri dari duduknya, lalu menepuk pundak Dika.
“Dika, kami pergi dulu. Doain lancar, ya,” ucap Kakek Syarif.
Dika menunduk santun padanya. “Iya, Kakek. Aku berharap besar sama Kakek. Makasih banyak udah mau membantu.”
“Dik, lo harus hubungi Pak Cipto karena dua hari lagi kita melamar secara resmi. Kalau bisa, lo sendiri yang datang ke tempat dia biar lebih sopan. Kan lo yang nikah, bukan gue,” sambungku.
“Tenang, sebelum lo pikirin itu, gue udah mikirn duluan. Nanti sore setelah bengkel lengang, gue ke sana.” Dika mengangguk.
Aku mengambil kunci motor vespa.
Berangkatlah aku dan Kakek Syarif menuju rumah calon mertua-nya Dika. Kakek Syarif meminta untuk mencoba vespa ini, katanya teringat masa muda waktu bersama istri. Aku pun tertawa tatkala ia mengatakan hal tersebut. Aku candai Kakek Syarif bahwa aku akan memeluknya dengan erat sebagai mana istrinya sewaktu muda.
Suara vespa pun menggelegar di depan bengkel Dika. Ia menoleh ke belakang.
“Mata kau merah, kaya habis meng-gele,” kata Kakek Syarif.
Aku tersentak dengan kalimat itu. Gele merupakan istilah umum lain untuk menyebut mariyuana. Sontak aku menggeleng karena hal tersebut.
“Ah, gila banget, Kakek. Biasa, habis begadang. Makanya bangun jam satu. Enggak ngotak, sih.”
“Jaga kesehatanmu, jangan sering begadang. Masih muda jangan ngancurin badan sendiri, apalagi nge-gele.”
Aku mengangguk. “Iya, Kakek.”
Rumah Pak RT tidak jauh dari kediamanku. Terlampau beberapa simpang jalan ke depan, hingga kami berbelok ke kiri. Rumahnya satu jalur dengan jalan besar menuju gapura komplek. Sangat strategis untuk membuat usaha kedai harian sepertinya yang selalu ramai oleh pembeli. Mudah sekali untuk menemukan rumah Pak RT kami. Lihat saja kedai harian dengan papan nama besar, serta gas LPG yang tersusun di muka kedainya tersebut. Jika malam, berhentak suara batu domino di depan kedai tersebut karena dijadikan tempat partai bapak-bapak untuk menguji kemampuan domino.
Turun kami dari motor. Aku lihat Pak RT tengah ada di kasir warung.
“Itu bapaknya?” tanya Kakek Syarif.
Aku mengangguk. “Iya, Pak. Jago banget main domino itu.”
“Aku mau cari lawan menembak burung. Kalau dia bisa, akan aku tantang.”
“Hahaha ....”
Tanpa basa-basi, Kakek Syarif melangkah menghampiri Pak RT. Aku sendiri yang mati kutu mengikuti Kakek Syarif dari belakang.
“Pak, permisi ... benar ini Pak RT,” sapa Kakek Syarif.
“Oh, benar. Saya Pak RT.” Beliau tersenyum. Kental sekali logat batak yang ia lontarkan.
Kakek Syarif menjulurkan tangannya untuk bersalaman. “Perkenalkan saya Syarif, saya bermaksud―”
“Pasti mau minta tanda tangan, ya?” pancing Pak RT. “Oh, iya ... panggil aja Pak Ucok. Warga di sini manggil saya dengan panggilan itu.”
“Oh, bukan ... bunga melati bunga mawar, kedatangan kami ke sini untuk melamar.”
Pak RT pun mengangga mendengar pantun singkat tersebut. Tanpa basa-basi sekali Kakek Syarif menyebutkannya. Aku kira, kami akan masuk ke dalam rumah sembari minum teh dengan hangat. Tapi, ekspetasiku ternyata berbanding jauh dengan yang terjadi.
Seketika Pak RT melihat diriku. Matanya memandang aneh. Ia sangat mengenali diriku karena sering bermain domino di sini.
“Bukan aku, Pak Ucok.” Aku mengangkat tangan seperti seseorang yang sedang ditodong senjata.
***