
EPISODE 5 (S2)
Seseorang pernah mengatakan padaku jangan hidup di dalam keragu-raguan walaupun banyak pilihan yang sedang dihadapi. Keragu-raguan hanya mengantarkan diri kepada jalan persimpangan dengan penuh papan jalan yang menunjuki jalan kesesatan. Begitu pendek pilihan pada orang-orang yang ragu, tak akan pernah berjalan maju berkat pikiran terlalu merengkuh waktu untuk memilih. Kurasa wanita yang tengah bertegak pinggang dengan dahi penuh peluh itu benar. Jalannya ialah jalan kesesatan bagi orang yang penuh keragu-raguan. Namun, kesesatan yang ia pilih tak pernah kutemukan titik ragu di dalamnya. Tak pernah abu-abu, selalu putih dan bahkan hitam sekali pun. Ia memang gila, namun aku tahu orang gila pun berhak menganggap orang-orang di luar sana sebagai orang gila karena berbeda.
Bagiku Reira ialah seekor ulat yang telah lama menjadi kupu-kupu bercorak indah. Pengalaman dan karakteristik unik yang ia miliki menciptakan sesuatu yang kusebut sebagai perubahan. Perubahan menciptakan hal yang berbeda pada pencetus perubahan. Asal kau tahu, Kawan. Pencetus perubahan sejatinya ialah dirimu sendiri yang tak ingin bergerak itu.
Heraclitus dari Asia Kecil mengatakan seribu tahun lebih yang lalu bahwasanya setiap hal di dunia ini akan berubah. Kaki tidak akan pernah menginjak sungai yang sama. Tatkala kau bermain pada indahnya aliran sungai yang menawan, lalu naik ke daratan untuk berkering diri, dan tidak lama kemudian kembali terjun pada riak air yang mengalir. Sungai itu bukan lagi sungai yang sama karena merupakan dari air yang berbeda. Begitu pula hidup, kita dipaksa bergerak untuk memacu perubahan yang begitu cepat.
Iseng-iseng diriku mencari arti kebijaksanaan dari sebuah buku yang kucuri dari perpustakaan. Buku itu kubawa lari ke belakang fakultas, tepat di bawah sebuah pohon besar yang menjadi salah satu tempat diriku menyendiri. Aku rasa aku belajar banyak dari Plato mengenai teori idea. Terdapat eksistensi yang tetap bertahan walaupun telah terjadi perubahan.
Ia menyebutnya sebagai bentuk idea, sebuah eksitensi yang selalu melekat dan tak pernah dikikis oleh perubahan. Tumpukan lego yang dibuat berbagai bentuk binatang, orang akan menyebutnya tetap sebagai lego, walaupun ia dirubah menjadi berbagai bentuk. Kue yang dibentuk menjadi beragam bentuk benda, orang akan tetap menyebutnya sebagai kue.
Bukankah semuanya berubah? Seketika itu pertanyaan mencuat dari pikiranku yang kosong. Dari untai tulisan sastra filsafat tempat aku menampung ilmu itu, kudapati perubahan yang terjadi terdapat hal yang tidak benar-benar berubah, itulah bentuk ideal. Ideal dari sebuah perubahan ialah perubahan itu sendiri. Diksi yang sering kudengar ialah semuanya akan berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan ialah eksistensi tetap yang akan terus berjalan tanpa henti, melalui siklus putar yang tak akan menemui titik ujung. Hal itu aku pelajari dari tatap tegas mata Reira yang memandangiku ketika aku sendiri, seakan dirinya ingin berteriak untuk aku terus melakukan perubahan.
Wangi tubuh Reira melekat pada ujung syaraf penciumanku, dikirim ke otak menjadi simpul-simpul rindu malam kemarin, tepat ketika kami menikmati rembulan bersama. Peluhnya berteriak untuk kuusap, namun terlalu canggung kulakukan ketika di hadapan orang banyak seperti ini. Ia pun bukan wanita yang berharap seperti itu, malah ia ingin melakukan hal gila lainnya. Sebagai wanita, aku cukup bersyukur ia ingin melakukan pekerjaan kasar. Ia berhasil menyusun goni-goni bersama awak kapalnya itu. Bak truk berukuran besar itu penuh oleh tumpukan yang mereka susun dengan rapi.
“Hmm … kita sudah selesai. Katanya kalian bertiga ingin jualan baju anak-anak di pasar untuk beberapa hari ini, benar?” tanya Pak Milsa kepada Reira.
“Benar, Om,” balas Reira singkat.
Pak Milsa tersenyum menatap Reira. “Karena kamu anak dari Fany dan cucu Pak Kumbang, ayo menginap di rumah Bapak. Ajak temen-temennya.”
Mata Reira bergantian menatap Kakek Syarif dan Pak Milsa. Rencananya, kami akan tidur di dalam kapal hingga beberapa hari ini.
Kakek Syarif mengangkat kedua telapak tangannya. “Terserah kalian … lagi pula, liburan harus tidur dengan nyaman, bukan? Pak Milsa punya anak perempuan, aku rasa Reira bisa berteman dengan baik dengannya.”
Aku lihat Razel mengepal tangan karena ia tak lagi tidur pada kursi kayu kemudi kapal. Tidak nyaman rasanya tidur semalaman hanya dengan duduk, membuat bokong sakit di pagi harinya. Jika ingin berbaring, terlalu banyak serangga yang akan menyasar lubang telinga.
“Ayolah, Reira … kapal itu banyak kalajengkingnya.”
“Oh, ya? Reira enggak ngelihat ada kalajengking semalaman.”
Pak Milsa dan Kakek Syarif saling melempar senyum.
“Ah, sudahlah … itu rumor lama,” balas Pak Milsa. Kakek Syarif pun ikut tertawa.
“Oke, kami akan ikut. Tapi, ceritakan rumor apa itu?” tanya Reira.
Langkah Pak Milsa mengarah ke pintu kemudi truk. “Rumornya, Pak Kumbang pernah membaca mantra kalajengking pada kapal itu buat menakuti pencuri. Tapi, benar adanya, setiap malam lima belas bulan November. Itu hari kelahiran Pak Kumbang.”
“Hahah … sejak kapan Kakek gue jadi dukun?” Wajah Reira mengarah padaku.
Aku mengangkat bahu. Bisa jadi, orang dahulu memang banyak mempunyai mantra-mantra magis yang tidak masuk di akal.
Tidak lama kemudian, bibir Razel mendekat ke telingku. “Yeay─”
Belum sempat ia menyatakan kesenangannya padaku, Kakek Syarif menunjuk kapal. “Razel, kau tetap di kapal. Biarkan mereka yang tidur di rumah Pak Cik Milsa. Aku butuh kau buat melepas kerang di bawah kapal.”
Aku pun turut merasa kasihan oleh anak malang itu. Namun, di sisi lain aku merasa lucu oleh tingkahnya yang jenaka menanggapi perkataan Kakek Syarif. Ujung lidahanya mencuat keluar sebelum kembali bersembunyi tatkala Kakek Syarif menoleh lagi padanya.
Candra masuk lebih dahulu ke dalam mobil truk karena ia tertarik dengan Pak Milsa yang memelihara banyak kucing. Tatkala seekor kucing keluar dari dalam truk, mata Candra langsung berbinar menatap mata bening dan bulu indah dari kucing belang hitam. Sudah pasti, ia akan membelainya berkali-kali kucing itu sembari memberikan tips-tips memelihara kucing kepada Pak Milsa di dalam truk. Sementara itu, aku mengikuti Reira yang datang untuk mengusap rambut awak kapalnya yang belia.
“Kalian di sini aja, ya … jangan nakal. Ikuti setiap perkataan Kakek Syarif.” Reira mengeluarkan uang seratus ribu untuk mereka berlima. “Ini uang buat hari ini. Jangan boros, jangan beli rokok, jangan beli es karena kalian bisa sakit tenggorokan. Jika kurang, minta ke Kakek Syarif. Kakak udah nitipin uang juga.”
Mereka ragu mengambil uang tersebut. Bukan seperti anak-anak pada umumnya yang langsung bertegak telinga menatap pemberian uang berjumlah besar.
“Udah ambil aja. Kakak bukannya enggak mau ngajak kalian. Tapi, Kakak segan sama Pak Milsa yang udah baik sama kita.”
Salah satu dari mereka yang lebih dewasa menyambut uang pemberian tersebut. “Ya sudah, kak. Enggak apa-apa kok. Kami bisa jaga diri. Dan aku bakalan jagain mereka yang nakal ini.”
“Nah, gitu dong.” Reira pun dibuat tersenyum. “Sikap hormat pada Kapten!”
Suara tegas Reira diiringi dengan sikap tangan yang hormat kepada seorang kapten. Senyum mereka melingkar di tengah terik mentari pukul sepuluh pagi.
“KAMI TIDAK AKAN NAKAL, KAPTEN!” Suara mereka serempak dan terdengar tegas.
“KAPTEN MEMBERIKAN TONGKAT KEPEMILIKAN KAPAL SEMENTARA KEPADA KALIAN!”
Bunyi truk menggelegar setelah beberapa kali berusaha untuk dihidupkan. Bau khas mesin diesel menyeruak ke penciumanku.
“Ayo masuk!” Tangan Pak Milsa berayun untuk mengajak kami masuk.
“Kami akan di atas bak truk, Pak Milsa!” teriak Reira seiring dengan tangannya yang menarikku.
Aku pun kaget, ia lebih dulu memanjat bak truk dengan menyanggakan kaki pada ban. Tanpa ragu ia mengayunkan tubuhnya ke atas melalui tumpukan tangan. Dengan cepat Reira sudah sampai di atas dengan tawa khasnya yang menggelegar mengejekku yang masih berada di sini. Lemah kakiku melihat dirinya yang tidak ingin masuk ke dalam, bahkan maunya di luar. Padahal, di atas sana akan membahayakan diri sendiri apabila terjadi goncangan pada truk. Namun, Reira merupakan seseorang yang selalu bertindak tanpa memikirkan resiko. ia tidak takut terhadap resiko. Jika bisa, resiko lah yang takut padanya.
“Hei, bodoh … ayo naik ke atas, cepat! Kenapa malah bengong!”
“Apakah di dunia ini lo enggak mengenal truk jika ada kursinya di dalam?” tanyaku balik.
“Orang gila seperti gue enggak butuh kursi!” Reira menunjuk dirinya sendiri.
Aku bertegak pinggang. “Tunggu gue di atas, jangan sebut gue dengan kata bodoh. Dasar Alien!”
“Sejak kapan gue jadi alien?”
Aku tidak menjawab pertanyan yang ia ajukan. Tanganku sibuk menggapai tubuh bak truk untuk mencari sanggahan yang tepat. Kaki aku pijak di atas ban, dan tangan aku gunakan untuk mengangkat tubuhku ke atas. Dengan susah payah aku yang jarang memanjat ini untuk sampai ke atas, ditambah lagi dengan tawa licik Reira yang meremehkan teknik yang kumiliki untuk memanjat.
“Gue rasa lo harus belajar balik ke SMA buat manjat pagar,” ucapnya sembari membantu dengan menggapai tanganku. Ia meringankan sedikit bebanku dengan menarik tangannya.
“Huh ….” Aku menghela napas. “Zaman SMA, gue anak-anak baik. Kalau lo mau belajar manjat pagar, bicara pada Dika. Berkali-kali Ayah dipanggil ke sekolah gara-gara anak itu sering cabut.”
“Hmmm … gue enggak pernah cabut. Hahahah!”
Aku menggapai kepalanya dan mendekatkann ke tubuhku. “Trus, ngapain lo ngejekin gue enggak pandai manjat.”
“Hahah … enggak ada.” Reira berjalan ke depan, ke arah kepala truk. Pijakan kami kali ini hanyalah tumpukan karung goni padat yang berisikan pakaian. “Gue SMA di sekolah internasional. Mana ada anak-anak di sana cabut, semua fasilitas memadai. Kami nyaman.”
“Dasar orang kaya … enggak pernah ngerasain kaya kami yang bosan di sekolah,” balasku.
Reira duduk di atas tumpukan goni dengan bersandari pada kepala truk. Tampak kepalanya memereng pertanda memintaku untuk duduk di sampingnya. Aku menuruti isyaratnya tersebut dan bersanding berdua di bawah terik mentari pagi yang mulai membakar. Tatakala aku memandang wajahnya yang memicing oleh terik, aku menyadari bahwasanya ia terlihat lebih cokelat. Ia terlihat lebih eksotis layakanya anggun para wanita tropis. Ia salah satu wanita yang tak tertarik oleh dominasi iklan pencerah kulit yang meliberalisasi produk-produk kosmetik.
Pernah kutanyai kenapa ia tidak tertarik melihat majalah-majalah kecantikan.
Jawabannya ialah bisnis kosmetik hanya mengeksploitasi sisi kecantikan dari satu perspektif, tidak memikirkan bahwasanya ada banyak perspektif kecantikan di masyarakat.
Namun, apa yang terjadi dengan industri bisnis kecantikan yang hanya menampilkan wanita-wanita putih cerah, tinggi, berwajah kaukasoid, dan berpigmen mata indah. Tidak aneh rasanya wanita di jaman sekarang berlomba-lomba memutihkan kulit walauapun terlahir di tanah tropis yang pada dasarnya, cokelatnya kulit merupakan sebuah mekanisme pertahan diri dari sengat matahari. Sudah wajar bagi wanita jaman sekarang memakai krim pagi, krim malam, dan hantu belau segala macamnya itu untuk mencerahkan kulit. Bahkan, demi kecantikan matanya yang tak seberapa itu, kini mata hitam pun bisa berwarna biru. Padahal, ia tidak ada memiliki mata minus sama sekali.
Setidaknya, itu yang aku dengar dari Reira. Itulah perpsektif kecantikan dari Reira yang selalu tampil apa adanya. Namun, ia cantik apa adanya. Aku akui itu.
Mobil truk berjalan perlahan menelusuri jalanan bergelombang. Kami bergoyang di atas sini karen paling besar berdampak pada getaran mobil. Tanpa kusadari tubuh Reira sudah melekat padaku. Kepalanya terkulai lemas pada pundakku dengan mata yang tertutup rapat. Ritme napasnya lebih lambat dari yang kukira.
Ia terlihat lelah sekali. Semalaman tidak tidur. Bukannya tidak bisa tidur oleh kesibukan, ia yang tidak ingin tidur karena berharap melihat kawanan mamalia laut mengelilingi kapal. Sudah aku pinta tidur malam itu, namun ia termakan perkataan Kakek Syarif yang berkata pernah melihat kawanan paus di luat ini. Apalagi ia berkata melihatnya bersama Kakek Kumbang itu, tentu saja Reira langsung bersemengat menyenteri alunan gelombang laut.
“Dave,” panggil Reira. Tangannya menggenggam tanganku.
“Iya, apa? Gue kira lo udah tidur.”
“Seminggu yang lalu gue baca artikel kalau orang yang berpacaran sudah biasa untuk melakukan sex.”
Sontak aku menoleh padanya langsung. Aku kira aku sedang berbicara dengan hantu laut.
“Artikel di mana?” tanyaku.
“Artikel di internet. Hal yang biasa bagi pasangan di Barat sana. Apa kita akan melakukannya?”
Aku menepuk keningnya dengan keras.
“Itu di Barat! Jangan samakan dengan di sini. Gue enggak akan melakukannya. Udah, tidur aja. Lama-lama lo jadi ngaco gue lihat.”
Ia mempererat genggaman tangannya padaku.
“Lo orang baik, Dave. Gue beruntung.”
Aku tersenyum mendengar kalimat itu.
***