Captain Reira

Captain Reira
24



Rencana dimulai. Reira mengeluarkan sebuah ember dan dua buah karton dari mobilnya. Aku tidak tahu jika ia membawa benda itu dari tadi. Semangatnya tampak membara dengan tujuan yang sama sekali belum ia beri tahu padaku. Ia berhenti di sebuah mobil putih, tepat lima kotak parkir dari mobil kami.


"Ini mobil Bagas. Sekarang, ambil spidol itu dan tulis apa yang ingin lo sampaikan," perintahnya padaku sembari memberikan selembar kerton berukuran sedang.


"Ember itu gunanya untuk apa?" tanyaku.


"Menghancurkan kapal seseorang. Kita enggak butuh meriam untuk saat ini, kita butuh ember dan ...." Ia berlari kembali ke mobil. Beberapa saat kemudian ia tiba membawa sesuatu. "Telur-telur ini."


Dua papan telur ia tenteng dengan satu tangan. Reira meletakkannya di atas mobil sembari melihat sekitar agar tidak ada yang melihat aksi kami ini.


"Jangan tulis nama lo di situ. Kita sedang menyamar," ucapnya. Tangannya membuka ikatan yang menyatukan dua papan telur.


Aku mengiyakan perintahnya. Kutulis sebuah kalimat yang diminta oleh Reira.


"SELINGKUH DARI SAHABAT GUE? SEKARANG KITA BERURUSAN!"


Tanganku memberikan tulisan itu kepada Reira.


Ia membacanya dengan mengernyitkan dahi. "Tulisan ini bakal mudah ditebak siapa penulisnya. Semua orang tahu kalau lo sahabatnya Fasha."


"Oh, begitu. Bagaimana kalau begini?" Kuambil kembali karton itu. Kutulis namaku besar-besar di bawah kalimat tadi.


Tawa Reira memekak tatkala ia membacanya kembali. Ekspresinya menyiratkan tanda tidak percaya padaku. "Lo yakin? Berurusan dengan Bagas bukan hal yang mudah."


"Kadang kita harus keluar dari zona nyaman, Rei." Senyumku begitu percaya diri


"Lo belajar banyak dari gue." Reira memuji diri sendiri. "Sekarang, bantu gue masukin telur-telur ini."


Ia cekatan sekali memecahkan telur itu satu per satu. Tidak perlu dua tangan, hanya perlu menggunakan tangan kirinya. Ember perlahan terisi oleh kentalnya cairan telur. Tidak hanya itu, Reira juga memintaku untuk memasukkan cangkangnya sekaligus. Bau amis begitu menyengat tercium. Reira sampai menutup hidung ketika memecahkan telur. Aku yakin, aku akan mendapatkan masalah besar karena hal ini. Namun, itu semua akan baik-baik saja selama aku bersama Reira.


Aku meludahi ember itu. "Itu untuknya yang sudah merebut Fasha dari gue."


Reira mengangguk. Ia juga melakukan hal yang sama. "Itu untuk si bangsat itu yang sudah merebut gebetannya sahabat gue."


Kami menempelkan tulisan yang telah dibuat di kaca depan mobil. Setelah memastikan terpasang dengan tepat, Reira menyerahkan ember itu padaku.


Matanya memberikanku keyakinan jika semua ini akan berakhir baik-baik saja. Tubuhnya membusung untuk menyampaikan wibawanya sebagai kapten. Tidak ada celah bagiku untuk menolak perintahnya. Sekali lagi untuk sekian kalinya, ia memberikanku kesempatan untuk merasakan momen yang tidak terduga. Cerita yang ia rancang sedemikian mungkin agar aku bisa merasakan hidup yang sebenarnya.


Mobil kuguyur dengan cairan telur beserta cangkangnya. Seluruh darahku mengalir dengan hentakan denyut jantung yang kuat. Adrenalin begitu terpacu jika melakukan hal-hal gila. Mataku terus bergerak pada kentalnya isi telur yang mengalir hingga ke bagian mesin mobil. Sangat bau sekali tercium, ini tidak akan mudah dibersihkan, apalagi setelah telur mengering.


Aku mengikuti alur senyum Reira yang menyeringai. Gadis laut itu tampak begitu bangga, itu terluhat sekali. Imajinasinya mungkin saja sedang melihat kapal yang sedang tenggelam oleh hantaman meriam kapalnya. Aku tahu, tidak ada yang bisa menghentikan setiap rencananya. Itu pasti akan terjadi.


"Good job. Kita harus pulang sambil menunggu kejadian buruk yang lain. Semua hal pasti ada akibatnya." Reira mengambil kunci mobil yang tersimpan di saku celanaku.


Bulan mengadah dengan sinar yang redup, tampak seperti beberapa malam lainnya. Langit tidak bersih, gumpalan awan memenuhi angkasa hingga menyembunyikan bintang gemintang yang berkedip. Detak jantung kota di malam hari perlahan lenyap di makan waktu. Jam sudah menunjukkan pergantian hari. Pantas jika jalanan terasa sunyi, hanya tersisa penghuni emperan toko yang sedang mencari tempat berteduh.


Reira mengantarku hingga ke rumah. Ia tidak langsung pulang, masih menyempatkan diri untuk keluar mobil sesaat. Mataku kantukku menyorot matanya yang masih terlihat berapi-api. Tanganku bergerak melambai untuk perpisahan. Namun, ia tetap bertahan di tempat berdirinya. Ketika aku membuka gerbang rumah, ia memelukku. Untuk pertama kali aku merasakan hangatnya pelukannya.


"Lo terlihat percaya diri malam ini. Gue ingin lo terus seperti itu," ucapnya. Nada suaranya tenggelam di dadaku.


"Oke, gue tahu itu. Tapi, lo sekarang lagi meluk gue," balasku.


Ia melepaskan pelukannya. "Oh, benar juga. Kenapa gue meluk lo, ya?"


"Kenapa? Ada yang lo cemaskan?" tanyaku.


Reira mundur beberapa hingga menyandar pada bagian depan mobilnya. "Terima kasih karena sudah mau menjadi teman gue.


"Bukannya semua orang kenal sama lo. Seharusnya, menambah teman sudah menjadi hal yang biasa," jawabku. Kudekatkan tubuhku padanya.


"Kenal belum tentu menjadi teman. Hanya orang gila yang bisa menjadi teman gue. Akhirnya gue sadar, ternyata lo cukup gila juga." Ia perlahan bergerak menuju pintu mobil. "Satu lagi, untuk selanjutnya, itu tergantung sama lo. Gue enggak akan ikut campur. Lo sudah punya bukti kuat untuk merebut Fasha kembali."


Pintu mobilnya tertutup. Mesin mobil berbunyi saat ia hidupkan. Terdengar deru ban mobilnya yang bergerak pergi. Aku tetap pada posisi hingga tidak kulihat lagi mobilnya yang sudah berbelok arah.


Ada satu hal yang ia tinggalkan malam ini. Aku benar-benar merasakan kekosongan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.


Aku ingin tetap bersamanya.


***