
Tidak aku ragukan lagi jika pria itu David. Ia berhenti sembari berdiri di tepian jalan untuk melihatku yang bergelantungan di pintu bus. Tatap kami bersambut sebagaimana terakhir kali kami bertemu di kamarnya tatkala sentuh tangannya membayangi wajah gelapku. Entah kenapa kakiku memerintah untuk segera kabur, tidak ada jalan untuk menemuinya. Hingga ia sudah menjauh, aku duduk di samping Abimana yang kebingungan.
Pria berkacamata itu memandangiku dengan aneh. Wajahnya datar tanda tidak percaya jika kami berada di satu bus. Ia sedikit bergeser untuk memberiku ruang duduk, mungkin ia tidak ingin terlalu dekat denganku. Sementara aku duduk dengan menahan napas, mengingat kejadian tadi.
“Kenapa lo naik bus? Lo bilang bawa mobil.”
Aku menoleh padanya. “Aku baru ingat kalau Bapak Dekan minjam mobil aku.”
“Aneh banget seorang Dekan minjam mobil ke mahasiswinya. Kau ada apa dengan dia?” tanya Abimana.
“Jangan aneh-aneh! Itu juga bukan urusan lo,” jawabku.
“Oke … lo mau ke mana?” tanya Abimana.
Aku berpikir sejenak. Tidak tahu tujuanku ke mana. Naik bus bukanlah kebiasaanku. Bahkan, aku tidak tahu jurusan bus ini mau ke mana dan titik-titik pemberhentiannya.
“Aku penasaran dengan koleksi jamur lo. Boleh gue lihat?”
“Lo mau lihat?” Wajahnya berubah antusias. “Boleh banget. Lo orang pertama yang mau lihat koleksi jamur gue.”
“Oh ya? Kesempatan yang menarik buat lihat jamur lo untuk pertama kali,” pungkasku.
Kami transit bus dua kali selama perjalanan. Pada transit yang kedua kali, kami turun untuk berjalan sejenak. Sekitar sepuluh menit berjalan, kami tiba di sebuah tempat usaha pembuatan perabotan rumah. Karyawan-karyawan usaha tersebut menyapa Abimana. Sementara aku antusias dengan apa yang mereka kerjakan. Wangi kayu yang khas dan cat yang menyengat aku hirup dalam-dalam. Bunyi-bunyi alat produksi menghiasi seluruh tempat pembuatan perabotan.
“Lo yang punya ini?” Aku berputar melihat sekeliling.
“Iya benar, semenjak dapat bantuan dari pemerintah dan peminjaman modal dari bank, gue bisa ngembangin usaha ini sampai balik modal. Omsetnya lumayan.” Abimana mengangguk sembari tersenyum padaku. “Kita ke belakang. Kalau kita di sini bakal nganggu mereka kerja.”
Ia membawa diriku untuk menyusuri bagian belakang wilayah ini. Terdapat rumah kayu dua tingkat. Aku tidak langsung dibawa masuk, melainkan ke belakang rumah tersebut yang berdiri sepetak bangunan kayu lagi. Ia membuka pintu bangunan tersebut padaku, lalu aku lihat susunan-susunan rak yang berisikan budidaya jamur.
“Ini Pleurotus Ostreatus dari genus Pleurotus. Kebanyakan jamur dari jenis ini bisa dimakan.”
Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang ia katakana. Mungkin SMA aku masuk di jurusan sains, tetapi bukan berarti aku mengingat seluruh pelajaran sains bab jamur-jamuran. Aku cukup membenci bab tanaman pada saat itu dan lebih menyukai bab hewan.
“Gue enggak ngerti dengan apa yang lo kayakan.” Aku menyentuh jamur putih yang besarnya hampir sebesar kepalan tangan.
“Jangan disentuh.” Ucapannya membuatku menarik tanganku kembali. “Sebut aja jamur tiram. Lo pasti pernah makan jamur tiram.”
“Oh … ini toh yang disebut jamur tiram. Banyak banget jamur yang lo budidayakan.”
“Sebagian hobi juga sih. Lumayan juga buat stok makanan gue. Sekali empat bulan nant bisa dipanen.” Ia mendahuluiku dengan terburu-buru. “Ayo ke belakang. Ini belum ada apa-apanya.”
Aku mengikutinya ke belakang. Ada area rak budidaya jamur yang lain di sana. Satu bagan yang berhadap-hadapan, terdapat tiga rak sebagai tempat budidaya.
“Rak paling atas ada Auricularia Auricula atau yang lo kenal sebagai jamur kuping. Rak yang kedua ada Volvariella Volvace atau jamur merang. Rak paling bawah Agaricus Bisporus, jamur kancing. Jamur kancing ini enggak ada di Indonesia, gue dapat bibitnya dari temen gue di Prancis.”
“Gue serasa ga percaya lo punya tempat seperti ini,” ucapku sembari berjongkok melihat jamur kancing.”
“Tapi, lo makin ga percaya kalau gue ngembangin ini.” Ia berjalanan kembali. “Ayo ke belakang lagi.”
Ia membawaku ke tempat yang ditopang dengan kayu modifikasi persegi panjang. Di dalamnya diisi dengan tanah. Terdapat jamur yang tidak asing di mataku, tetapi cukup langka di pasaran.
“Ini jamur truffle. Bukan sembarangan jamur truffle karena yang ini bisa tumbuh di tempat tropis. Gue dapat bibit sporanya dari kenalan dosen gue di Jepang.”
“Truffle?” Aku mengangguk. “Biasanya ada di restoran mahal. Gue pernah makan ini, cukup lezat.”
“Karena langka dan sulit dikembangkan. Gue berkali-kali gagal. Manja sih jamurnya butuh perhatian kelembaban, keasaman, dan lain-lain. Masa panennya tiga tahun sampai lima tahun. Ini udah ditahun ketiga, tapi menurut gue belum cukup panen.”
Kami kemudian memasuki kamar seperti ruangan kerja. Di dalamnya ada pintu yang langsung menuju area rumah. Di sekeliling ruang kerja ini tertempel jamur-jamur koleksi yang terlindungi di dalam kaca, seperti hiasan koleksi seranggaku di kamar.
“Duduklah ….” Ia menarikku sebuah kursi yang ada di depan meja. “Gue ambilin makanan dan minuman dulu.”
“Oke thanks, gue request bir.”
“Bir? Minuman itu enggak ada di sini.”
Aku tertawa. “Hahah … gue bercanda.”
Terdengar gerasak-gerusuk pria berkacamata itu. Dapur terasa dekat dengan ruangan ini. Ia menyambut diriku sebagai tamu dengan baik. Tidak lama kemudian, Abimana datang dengan dua buah mangkuk sup jamur tiram yang aku harap tidak berisikan magic mushroom seperti di kala itu. Ia menghidangkanku minuman cola kaleng untuk menyegarkan tenggorokan. Tatkala aku mencoba sup tersebut, rasanya nikmat seperti buatan Bunda pada umumnya. Aku menghabiskannya dengan cepat.
“Ini enak. Lo pandai masak ya?”
“Hidup sendiri harus pandai masak, bukan?” Abimana meminum cola-nya.
“Iya juga, gue belajar banyak masak dari Bunda.” Aku menatap dirinya. “Orangtua lo di mana?”
“Bapak dan Ibu ada di Bandung,” balasnya.
“Mereka pasti pintar kaya elo.”
Wajahnya seakan tidak yakin dengan senyum kecil. “Bapak buka usaha budidaya bunga. Kalau Ibu dosen pertanian di ITB.”
Sekarang, aku yakin darimana ia dapat semua bakat ini. Ia pasti sudah terbiasa sejak kecil dengan tanaman-tanaman. Sebagaimana diriku yang diasuh oleh seoranh pelaut, aku tidak pernah lepas dari kapal bersama Razel yang bapaknya juga seorang pelaut. Bahkan, pemikiran-pemikiran politik dariku pun juga didapat dari Papa yang sering berdiskusi bersama rekannya.
“Lo udah pasti anak bapak-ibu lo. Semua ini pasti ilmu dari mereka.”
Ia mengangguk. “Bisa dibilang iya. Tapi beda bidang aja. Kalau bapak tertarik dengan bunga, Ibu lebih ke tanaman tani. Sedangkan gue sukanya jamur, ngambil kuliah mengenai kayu pohon. Kalau elo, gimana? Apa bakat dari orangtua lo nurun?”
“Hmm … bisa dibilang iya. Bukan mengenai profesi ya, soalnya Papa dan Bunda gue itu seorang pengusaha. Papa ada usaha properti, Bunda juga punya usaha transportasi laut, café, dan aset saham. Yang nurun itu sifat keras kepala. Gue sedikit pemberontak, susah buat diatur.”
“Itu sekadar bertahan hidup. Gue juga butuh pemasukan, bukan? Yang nurun jadi pengusaha itu kakak gue, namanya Reina. Dia punya bisnis fashion.” Ia diam sejenak. “Tapi ada satu hal yang gue dapat dari turun-temurun.”
“Apa itu?”
“Gue seorang pelaut. Leluhur gue itu bajak laut di Selat Malaka. Kakek gue juga pelaut angkut barang. Dia pernah jadi pengangkut minyak, ngantar barang logistik, sampai jadi pedagang gelap.”
Wajahnya merasa tidak yakin dengan ucapanku. Untuk orang-orang normal sepertinya, sudah pasti tidak akan langsung yakin dengan penjelasan itu. Bahkan, aku seorang pimpinan di sebuah perusahaan tranportasi air.
“Gue baru kali ini kenal cewek unik. Lo tadi bilang seorang CEO, sekarang bilangnya seorang pelaut. Lo ini sebenarnya siapa?”
“Gue Reira, itu aja cukup buat menggambarkan gue. Hahah … yang pasti sekarang gue cuma mbak-mbak pemilik café. Udah … itu aja.”
Ia pun tertawa merespon kalimatku. Aku juga tidak memaksa ia akan percaya dan tidak ada untungnya juga bagiku. Lebih baik ia tidak tahu mengenai masa laluku yang sedikit rumit untuk dimengerti orang-orang sepertinya. Aku rasa ia bukan seperti David, Razel, dan Borneo yang ingin saja aku bodohi untuk mengikutiku. Abimana merupakan pria cerdas yang punya prinsip. Ia bukan pengikut sejati, ia membuat standarnya sendiri dari seluruh potensi dalam dirinya.
Aku dan ia sama, kami penantang arus.
Sampai sore aku dikediaman Abimana. Semulanya, ia tidak percaya jika aku pandai membuat kopi dan hanya menganggap kopi-kopi di café dibuat oleh barista saja. Aku pun mengajarinya membuat kopi yang nikmat, meskipun ia tahu dasar-dasarnya dari berlajar otodidak. Tapi, bagiku yang sudah bergelut bertahun-tahun mengelola café milik Bunda, ada teknik-teknik tertentu yang akan membuat kopi semakin berkesan, misalnya memerhatikan keasaman, rasa asli kopi yang lebih fruity, atau pun rasa pahit yang melekat di langit-langit mulut.
“Udah jam lima nih. Gue balik dulu ….” Aku berdiri dari tempat duduk yang dihadapanku terdapat sepetak kebun sayur. Abimana sedang sibuk dengan pekerjaannya.
“Tunggu dulu, biar gue antar. Lo mau gue antar ke mana?”
“Ah enggak usah deh. Gue bisa naik ojek online.”
“Gue enggak tega ngelihat lo pulang sendiri.” Ia berdiri dari posisi jongkok. “Tunggu di depan, gue bersihin diri dulu.”
Mau tidak mau, tawarannya aku terima. Tidak ada ruginya juga bagiku untuk mengiyakan permintaan pria itu. Sepuluh menit menunggunya di depan area usaha pembuatan perabotan, Abimana tiba dengan motor matic.
“Maaf, gue cuma punya motor.”
“Motor juga kendaraan, bukan? Lo pasti anak orang kaya dan usaha lo udah sebesar ini. Kenapa enggak beli mobil aja?” tanyaku.
“Untuk jalanan Jakarta, lebih baik pakai motor buat menghemat waktu. Lagian gue cuma sendiri, ngapain pakai mobil. Bikin macet aja.”
“Pemikiran yang bagus ….”
Mobil di fakultas aku tinggalkan saja, rencananya esok pagi baru aku ambil. Lagi pula tidak ada biaya parkir di kampus. Aku pun minta diantarkan menuju mall CSA di mana cafeku berada. Borneo masih berada di sana untuk belajar membuat kopi.
“Ini jamur buat makan di rumah.” Ia memberikanku satu plastik penuh jamur tiram segar tatkala sampai di depan mall.
“Wah terima kasih banget. Main dulu ke café gue, itung-itung terima kasih buat hari ini.”
“Gue ada projek bikin jurnal. Sepertinya enggak bisa.”
Aku menepuk jok motornya. “Jangan belajar terus, ayo mampir dulu. Udah … mundur dulu. Biar gue antar ke parkiran.”
Ia tidak melawan. Aku memboceng dirinya hingga ke parkiran. Berjalanlah kami ke café milikku yang berada di lantai dua. Aku senang sore ini banyak pengunjung yang datang. Terlihat Borneo sedang sibuk di meja barista. Aku harap ia tidak menakuti pengunjungku dengan penampilannya yang masih seperti kuli kapal, muka sangar, kulit gelap, dan rambut panjang sebahu yang terikat.
Borneo melihat kehadiranku bersama Abimana. Ia menghampiri kami. Bukannya menyambut, Borneo memicinkan mata kepada Abimana.
“Kau siapa?”
Aku rasa sebutan `kau` di sini akan terdengar kasar. Mau bagaimanapun\, logat anak itu tidak akan pernah hilang.
“Jangan menakut-nakuti temanku. Kau ini!” bisikku padanya. Aku menoleh kepada Abimana. “Duduklah di mana lo nyaman.”
“Gue Abimana. Teman satu kampus Reira.” Abimana menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Borneo.
“Oh teman kampus Reira.” Borneo mulai wajahnya melunak. “Duduklah … nanti bilang ke waiter mau pesan apa.”
“Pesan aja apa yang lo mau, semuanya gratis,” ucapku.
Abimana duduk di sebuah meja. Sementara aku ke ruangan manager untuk menyapa rekan managerku di sana. Borneo sempat masuk seperti ingin mengintrogasi.
“Kau bawa pacar?” tanya Borneo.
Tanganku menepuk kepala Borneo. Ia tampak mengeluh sakit. “Kepala bapak kau itu! Dia itu teman aku.”
“Ya santailah ….” Borneo melihat manager café yang bingung dengan logat Sumatera kami. “Tadi Alfian ke sini. Dia sama Semara. Aku agak aneh lihat dia sama Semara.”
“Eh … bukan urusan kau juga mau Semara sama siapa. Alfian itu teman aku dan Semara juga teman aku. Jadi bukan hal yang aneh kalau mereka sama-sama,” balasku.
“Ya udah ….”
Borneo berlalu pergi keluar ruangan untuk menyiapkan pesanan. Anak itu memang terkadang aneh. Di sisi lain ia terlihat cuek dengan urusanku, namun ia bisa juga sedikit protektif dengan permasalahanku. Tidak apa-apa, Borneo di sini memang untuk pelindung aku dan Semara.
Perbincangan aku dan Abimana berakhri di pukul delapan malam. Ia bercerita banyak mengenai kegiatan kampusnya. Terdapat sebuah jurnal ilmiah tentang teknik industri kayu yang sedang digarap bersama dosen. Aku sama sekali tidak mengerti dengan istilah sains, tetapi aku masih mengikuti alur percakapannya. Tatkala aku bawa pembicaraan mengenai sejarah revolusi dunia seperti Che Guevara, Karl Marx, Vygostky, Tan Malaka, dan reinesain Eropa, giliran dirinya yang tidak mengerti. Ternyata kami berada di bidang wawasan yang berbeda. Ia lebih mengerti sains, sedangkan aku paham mengenai ilmu sosial.
Borneo melepas Abimana pulang dengan lembut. Mungkin setelah aku pukul kepalanya sehingga mur-mur yang longgar mulai terpasang kembali. Setelah itu, Borneo memintaku untuk mengajari ilmu membuat kopi. Sebagai murid ketiga, setelah David dan Abimana, aku dengan senang hati memberikan ilmuku tersebut. Borneo pun dengan mudah memahaminya. Ia berkata jika membuat kopi seperti melukis, penuh dengan seni.
Ia memang suka jadi orang paling berseni sedunia.
Bunyi lonceng pintu café berbunyi. Aku dan Borneo menatap siapa yang datang. Jantungku pun seketika berdebar.
“David dan Mawar,” ucap Borneo pelan. Ia menarikku ke belakang, seakan melindungiku dari hantu masa lalu.
***