Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 9 (S2)



EPISODE 9 (S2)


Apa arti senja bagimu?


Senja merupakan batas-batas antara siang dan malam melalui sekelumit bercak merah yang bergelantung di langit. Sekat-sekat cahaya saling berasiran berkat dinding awan gemawan yang hendak melindungi dari silaunya mentari. Cahaya itu merambat lurus membelai matamu dan membentuk bayang-bayang terang pantulan mata bening manja.


Senja hadir dengan pembawaan yang tenang, membawa setiap diri individu untuk berdecak takjub atas dasar keindahan. Dari lingkar senyum yang dilebarkan oleh penunggu senja, aku tafsirkan begitu bahagia dan bermakna. Tampak tulus dan ikhlas tanpa menyimpulkan beban hari yang sering kali membuat kerut kening menggerutu hati.


Ada apa dengan senja?


Bukankah momen itu setiap hari dirasakan sebagat tanda hadirnya malam? Atau sebagai tanda jika tubuhmu butuh peristirahatan. Oh, bukan … bagiku ialah sebagai pertanda bahwasanya tubuh butuh perenungan.


Perenungan perlu sekali dilakukan sebagai metode intropeksi diri, penilaian diri, dan penimbang hati sebagai konsekuensi makhluk berakal yang pernah melakukan kesalahan. Namun, ada apa dengan senja karena ia begitu istimewa? Kenapa perenungan harus dilakukan dikala senja menjemputmu untuk melangkah keluar rumah? Lalu, membawamu pada filsofi dalam mengenai kesederhanaan. Aku masih bertanya-tanya tentang hal itu hingga saat ini, hingga aku sadar akan satu hal yang mendasar.


Tuhan menciptakan senja sebagai tempatmu sejenak memikirkan-Nya.


Bukankah makhluk yang disebut sebagai manusia ini sangatlah sombong. Bergelimpangan harta dari hasil jerih payah berkeringat seharian, lalu kembali melanjutkan langkah untuk terus mencari kebahagiaan tanpa perenungan. Dari pagi hari setelah seorang kekasih menjamu dengan segelas kopi dan koran terbaru yang baru saja dilemparkan di depan rumah, manusia masih tetap tanpa perenungan. Bahkan, dari segelas kopi pun ia tak berhenti memikirkan sibuknya dunia, ada yang memikirkan bisnisnya semulai dari pagi, memikirkan betapa macetnya hari ini melalui smartphone, dan belai manja seorang istri yang menyambutmu. Ia tak pernah mengenal dirinya sendiri dalam setiap momen yang seharusnya didapati dalam perenungan. Berkutat dengan dunia luar, egoisme tingkat tinggi, liberalisasi pikiran, terus mengoptimalkan kemampuan.


Bukankah momen perenungan dilakukan untuk mengenal diri sendiri?


Bukan mengenal dirimu yang sedang di luar dan sendirian, takut akan dikejar oleh sombongnya dunia itu. Siang hari pun menyambut dengan terik mentari yang membakar, manusia yang sombong itu masih tanpa perenungan di jam satu siang di mana ia berhenti dari semua pekerjaan. Masih ada yang berkutat dengan laptop di hadapan makan siang, tugas kuliah di hadapan butir nasi yang berserakan di atas meja, hingga detak jantung sebuah kota yang memaksamu untuk bergerak di tengah waktu peristirahatan dan perenungan. Diri kita takut untuk dikejar tanpa pernah tahu bahwa kita perlu mengejar diri itu sendiri yang tengah jauh melangkah tanpa perenungan. Ia terus saja berlari tanpa kembali pada diri semula yang membutuhkan jati diri. Kita hanya hidup dalam kepalsuan-kepalsuan itu, dalam topeng-topeng dunia yang fana.


Datanglah sekelumit senja dengan batas-batas merah di ujung langit, berbicara dengan haluan lambat bahwasanya dirinya terus memanggilmu untuk mendatanginya.


“Wahai diri, datanglah padaku. Renungilah diriku yang sendiri ini. Kau butuh kesendirian bersama aku yang sendiri ini,” ucap senja pada orang-orang yang masih sibuk memikirkan malam, padahal senja masih saja belum dilewati.


Mungkin saja sebagian mereka masih terjebak dalam melankolisme suasana kemacetan yang penuh hujatan. Atau mereka masih melangkahkan kaki dan berkeringat diri demi mengejar target yang sejatinya mereka masih bisa mendapatkan semua itu di esok hari. Senja pun masih sendiri, tetap dengan kesendirian, menangis pada dewi malam yang masih bersembunyi diri di balik terangnya dunia.


Secara ilmu pengetahuan, senja ada dikarenakan tenggelamnya mentari di barat, hingga membiaskan cahaya-cahaya merah yang berbercak pada awan. Semakin dalam ia menenggelamkan diri, cahaya itu semakin merah dan memikat harti. Akhirnya, semuanya sirna ditelan kegelapan malam yang hendak menyambut pagi yang juga dihiasi oleh langit merah yang sama, namun dingin. Namun, ada satu hal yang dilupakan oleh kita. Senja ada karena kita membutuhkan senja itu sendiri. Senja mengandung makna perenungan yang mendalam, tempat memikirkan diri sendiri untuk kembali kepada diri sendiri, dari diri sendiri yang tulus melangkah pada kesendirian diri itu sendiri.


Aku pandang langit langit senja hari ini yang masih belum terlalu merah. Masih terlalu dini untuk mengharap rona merah manja yang hadir di langit itu. Namun, suasananya mulai kutangkap. Sekitar lima menit aku berdiri di ujung laut pada dermaga yang banyak kapal-kapal kayu besar yang menepi. Sudah berapa kali aku mendengar kicau burung laut di sini, mereka masih bebas berterbangan seperti yang aku lihat tadi pagi. Aku titipkan pesan pada langit bahwasanya aku akan kembali. Masih ada teman-teman yang membutuhkan aku di sana untuk merangka lapak dagang yang akan kami gunakan hari esok. Reira pasti akan marah-marah padaku karena tiba-tiba aku menghilang dengan sepeda ontel Pak Cik Milsa yang turut Candra bawa di belakang bak truk.


Bunyi kayuh sepeda ontel sedikit berisik karena sedikit berkarat dan sudah lama tidak digunakan. Menurut Pak Cik Milsa, sepeda ini sudah ada semenjak ia masih kecil. Bahkan, sepeda ini pun pernah tercemplung ke dalam laut ketika Bu Fany melaju di tepi dermaga tanpa perhitungan. Aku masih mengingat bagaimana Pak Milsa tertawa terbahak-bahak menceritakan momen itu kepada Reira. Untung saja sepeda itu masih ada pada genggaman Bu Fany hingga berhasil menghindarinya dari amarah orangtua Pak Milsa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana marah orangtuanya ketika mengetahui sepeda yang digunakan bolak-balik mengajar ngaji itu kini berakhir menjadi karang di dasar laut.


Pasar hanya berupa lapak-lapak kosong karena hari sudah terlalu sore untuk berjualan. Kayu-kayu penyangga dengan terpak sebagai atap sederhana menjadi dominasi pemandangan yang aku tatap kali ini. Setiap saat aku selalu saja mendengar teriakan bahagia anak-anak yang bermain di sekitarku. Aku menyadari bahwasnya mereka bukanlah anak-anak kota yang selalu berdiam diri di rumah dengan segala fasilitas yang ada. Anak-anak ini membutuhkan dunia luar, memanfaatkan dunia yang sudah diciptakan untuknya. Tepat di tengah pasar, aku lihat Reira dan yang lain tengah sibuk mendirikan lapak jualan untuk esok hari.


Jika kau berpikir bahwasanya truk itu dibawa oleh Pak Milsa, maka aku sudah mengatakan bahwasanya itu adalah jawaban yang salah. Asal kau tahu, kawanku … truk itu dibawa oleh Reira sendiri. Ia meminta Pak Milsa untuk tetap di rumah agar ia bisa mengendarai truk yang identik oleh supir-supir berotot tanpa baju dan berwajah sangar. Namun, truk itu malah dibawa oleh Reira sendiri. Aku bahkan tidak percaya bahwasanya wanita itu bisa mengendarai truk. Reira berkata bahwasnya ia belajar mengendarai truk melalui beberapa kenalannya di proyek pembangunan gedung di kota. Iseng-iseng ia meminjam truk milik mereka dan belajar mengendarainya di sana.


“Lo dari mana?” tanya Reira dengan suara meninggi.


Aku lihat wajah Candra mengejekku di sana. Ia pasti sudah tahu jika Reira akan marah karena aku terlalu lama pergi.


“Dari tepi laut untuk menyendiri,” balasku dengan tenang.


Candra masih terkikik di sana bersama Zainab yang turut ikut bersama kami.


“Gue cariin ke mana-mana lo masih enggak ada. Ternyata di sana. Udah … bantuin kami.” Ia melangkah ke arah Candra dan Zainab.


“Tapi, enggak usah, deh. Kami mau selesai juga!”


Reira benar-benar marah, ucapku dalam hati.


Benar apa yang dikatakan oleh Reira, lapak kami sudah hampir sempurna berdiri. Atap terpal berwarna biru membentang melindungi Candra dan Zainab yang sedang berteduh di sana. Tiang-tiang kokoh sudah berdiri dengan kokoh berkat arsitek bernama Reira itu. Ia sangat handal membangun hal yang seperti ini karena pergaulannya bersama Bang Ali dan kawan-kawan di Mapala kampus.


“Sentuhan terakhir!” Aku mengencangkan sebuah simpul terpal yang tidak sempurna terikat. “Sempurna!"


Reira bertegak tinggang menatapku melakukan hal yang sederhana itu. Sementara itu, Candra dan Zainab antusias melihatku melakukan aksi yang tidak berguna.


“Cuma itu? Simpul lo salah!” Ia menggeser tubuhku menjauh, lalu memperbaiki simpul ikatan yang aku bentuk. “Begini yang benar … sampai Pulau Bangka dan Belitung menyatu, simpul ini enggak bakalan lepas.”


“Gila … kaya profesor pensimpulan aja lo.” Candra tertawa kecil.


“Jadi kan ke pantai?” tanya Zainab.


“Ke pantai? Rencana siapa?” tanyaku.


Zainab menunjuk Candra. “Dia, si cowok kriting ini.”


“Ayo … kita kembali berlayar!” seru Reira sembari mengepalkan tangan ke atas.


Lapak sudah berhasil didirikan, walaupun hanya sedikit sekali sentuhan tanganku berkontribusi di sana. Reira kembali menyetir truk dengan gagah berani, memutar truk menuju ke jalan seperti supir-supir lintas provinsi. Kami berempat masuk ke dalam truk, berdempetan bersama untuk memenuhi ruang sempit yang ada. Dari urutan paling kanan, Reira sebagai supir truk, diikuti oleh Zainab yang berdempetan dengan Candra, dan yang berdampingan dengan pintu kiri. Reira tidak ingin berdekatan denganku sebagai hukumanku yang tidak membantu mereka dalam mendirikan lapak.


Untung saja Reira tidak memakai singlet dan mengalungkan sebuah kain lap keringat di lehernya. Apabila ia mengenakan gaya seperti itu, lengkah sudah dirinya mirip sekali dengan supir-supir truk pada umumnya, ditambah lagi dengan mengisap rokok berat yang selalu terselipkan di bibir. Tangannya yang kecil begitu gagah memutar stir truk dan memajukan gigi untuk melaju di jalanan. Pandai pula wanita itu mengklakson mobil-mobil nelayan yang turut membalasnya dengan suara klakson dan lambaian tangan, seakan nelayan-nelayan yang baru tiba dengan mobil pengangkut ikannya itu merupakan teman-temannya semua.


Entahlah, Candra tampak kaku karena tubuhnya berdempetan dengan Zainab, gadis cantik Manggar yang kini sedang liburan semester di kampung halaman. Pak Milsa berkata bahwasanya ia berkuliah jurusan teknik di salah satu universitas ternama di Bandung. Sudah pasti bisa aku tebak, ITB. Pak Milsa mengakuinya dan aku pun turut bermalu hati ketika aku bersikeras untuk masuk ke sana, namun otakku yang kecil ini belum bisa memadai. Pantas saja ia tak terlalu berlogat Melayu ketika berbicara dengan kami karena teman satu kosnya pun merupakan warga Ibu Kota yang berkuliah di sana. Namun, ia masih canggung untuk ber-lo-gue dengan kami semua. Ia lebih suka menyebut dirinya sendiri dengan kata aku dan menyebut orang lain dengan sebutan kamu.


Mendengar kata pantai, aku seakan mendengar alunan ombak yang sahut menyahut menjemput kami di sana. Semulai dari hentak rem truk Reira yang dipaksa, sehingga tubuh kami sedikit maju ke depan, aku dengan seksama melihat lambaian angin pantai dari kejauhan dari simpul gerak dedaunan tropis di tepi pantai.


 


“Reira, lo bisa ngerem, nggak?” tanya Candra untuk memprotes.


“Santai … gue ini pelaut, bukan supir. Jadi, lo diam aja!” Suara Reira hampir sama dengan nada Candra yang sedikit tinggi. Ia sedikit kesal karena posisi gigi truk yang susah sekali untuk digerakkan pada posisi netral.


“Udah, kalian ini memang enggak pernah damai, ya?” tanya Zainab.


Aku hanya diam saja. Candra memang sering dibuat kesal oleh tingkah Reira yang menyebalkan itu. Apalagi Reira yang selalu menganggunya ketika sedang bekerja di pet shop keluarga. Bahkan, ia membawa anjing-anjing di pet shop untuk diajak jalan-jalan. Bukannya kepada Candra ia meminta untuk melakukan itu, melainkan kepada pemiliki pet shop itu sendiri, yaitu orangtua Candra. Alhasil, Candra pun sering dibanding-bandingkan dengan Reira karena sangat malas sekali membawa anjing-anjing untuk keliling.


“Mereka itu memang seperti itu, suka konflik. Kaya tinggal di Timur Tengah kalau gue sama mereka.” Aku membuka pintu truk.


“Kalau begitu, gue bawahannya Saddam Husein,” balas Reira.


“Saddam Husein siapa lagi, sih? Kemarin dia bilang kalau dia anggota Che Guevara dan Fidel Castro dari Kuba.” Candra memegangi kedua tangannya.


“Makanya baca buku!” Sebuah koran melayang ke belakang kepala Candra. “Nanti malam lo harus duduk sama gue biar gue ajarin tentang Lenin dari Rusia.”


Aku dan Candra keluar dari pintu yang sama. Tatkala ia turun dari mobil, ia menggeer kepalanya ke arah telingaku. “Lenin siapa, sih?”


“Tanyain aja sama Reira biar lo kuliah lo ditambah lagi dua SKS sama dia.”


“Sumpah gue bingung sama anak itu.” Candra menghela napas.


“Gue apalagi!” pungkasku.


Menjelang satu jam menuju matahari terbenam, mata kami mempersilahkan diri untuk menikmati kehadiran Pantai Nyiur dengan aroma air laut yang khas. Pepohonan rindang menghiasi suasana atas yang kami tatap, ditemani dengan sekawanan burung yang berkicau di atasnya. Pemandangan Bukit Samak yang asri menyimpan rindu akan hijau rimbunnya alam. Aku pun bercengkerama dengan pasir puith yang kami duduki, seakan sentuhan jemariku menyampaikan segudang takjub detik ini. Terasa lembut sekali pasir putih dan juga dingin. Sangat cocok untuk membaringkan tubuh sembari menggesekkan kaki dan tangan seperti harapan Reira apabila di Indonesia turun hujan salju. Ia berharap pada yang mustahil, salju ingin turun di tanah tropis.


Candra dan Zainab pergi mencari makanan ringan untuk dijadikan teman mengunyah senja ini. Anak itu tentu saja setuju ketika Reira menyepaki bokongnya untuk bergerak, apalagi bersama Zainab. Aku rasa anak itu punya sesuatu yang dipendam, apakah ia kagum dengan sosok Zainab? Sang gadis Melayu pertama yang membuatnya ingin menuruti perkataan Reira. Entahlah, sampai saat ini aku masih mengira bahwa dirinya tidak suka perempuan, namun juga tidak suka kepada laki-laki. Ia salah satu makhluk membelah diri, atau bertunas.


“Masih ngambek sama gue?” tanyaku pada Reira.


“Gue selalu ngambek sama lo, bahkan di saat romantis pun.”


“Cewek selalu benar, ya? Heran gue kenapa bisa jadi begitu. Apalagi sama lo!” Aku mendorong badannya menjauh.


“Eh, Descartes pada abad pencerahan pernah mengatakan bahwasanya kebenaran itu hanya ada di akal pikiran. Jika, lo berpikir bahwasanya perempuan selalu benar, maka adalah kebenaran itu sendiri.”


“Lo itu selalu berbicara tentang tokoh yang enggak gue ketahui, Rei,” balasku.


“Tidak tahu merupakan selangkah menuju tahu. Akhirnya, lo tahu tentang Descartes.” Ia melihat langit yang tertutupi dedaunan. “Gue ini seperti filosof. Hahaha ….”


“Lo kaya Pak Milsa, dia suka filsafat.”


Tangannya menyentuh dagu. “Sepertinya ia mendapatkan cukup pembelajaran dari kakek gue. Asal lo tahu, beginilah kakek gue berbicara.”


“Lo enggak ngambek lagi, kan?” tanyaku kembali.


“Oh, iya … gue kan lagi ngambek.” Ia melipat tangan di dada. Tidak lama kemudian ia tersenyum. “Tapi, gue enggak ngambek kalau lo pijitin kaki gue!”


“Apa?”


“Pedal gas truknya keras. Kaki gue jadi pegal. Plisss ….” Suara Reira terdengar memelas.


Wajahnya menjadi impuls pemaksa gerak tanganku menyentuh ujung kakinya yang bening. Ia tersenyum licik di hadapan karena aku telah mengiyakan permintannya. Masih aku ingat gerak tangan Bang Ali tatkala memijit salah satu anggotanya yang keseleo, aku pun menirunya untuk menarik jari jemari Reira.


“Terima kasih, Sayang,” ucapnya dengan lembut.


Kelembutan suara tulus itu membuat hatiku bergetar. Tatap wajah lurus yang ia sorot tepat pada mataku yang membentuk bayang wajahnya, memberikan aku sebuah arti bahwasanya kasih dan sayang kini menyatu menjadi satu. Aku pun tersipu malu oleh ucapannya padaku, hingga membuatku menunduk, berpura-pura memperhatikan kakinya yang sedang aku pijit.


“Apaann sih─”


Seketika ia mengecup keningku.


“Tetaplah tulus seperti ini. Begitu pula gue,” ucapnya pelan.


***