Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 145 (S2)



EPISODE 145 (S2)


Ingatkah kalian pelajaran kehidupan yang diberi oleh filsuf Manggar sewaktu itu? Masih ingat aku perkataan bapak setengah baya yang selalu memakai sarung dan singlet tersebut, bahwasanya tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa merasa lebih baik dari yang lain. Superioritas tersebut bahkan tak akan bisa bersanding dengan pekerja **** komersial yang selalu mendapatkan stigma negatif di tengah masyarakat. Kita yang setiap hari tunggang langgang ke rumah ibadah dan tegak membungkuk sampai bosan pun tak bisa merasa diri lebih baik dari mereka.


Masyarakat hanya pandai menghujat, seperti anjing yang menyalak kepada tamu tak diundang. Bisa jadi, tamu tersebut merupakan kerabat sang majikan yang ingin datang untuk bertemu. Namun, anjing akan tetap menjadi anjing tatkala ada sesuatu yang tidak dikenali. Anjing tak memiliki kemampuan untuk mengenali seseorang di luar dirinya dan majikan, sehingga mereka yang di sana selalu dianggap ancaman. Jikalau Karl Marx memiliki teori bahwasnya agama adalah candu masyarakat, maka aku memiliki teori yang hampir sama. Anjing adalah candu masyarakat.


Kasar memang, tapi aku mengakui hal tersebut tak bisa lepas dari realitas masyarakat. Mereka hanya pandai melarang anak-anak mereka untuk bermain di sana, tanpa pernah tahu bisa jadi mereka yang di sana suatu saat menjadi penolong. Hujat dogma rumah ibadah yang mengatakan tempat-tempat prostitusi adalah tempat haram untuk dimasuki, tanpa pernah tahu bahwasanya tempat bukanlah makluk yang memiliki defenisi haram dan halal. Bencilah pekerjaannya, bukan manusianya.


Ada sebuah hubungan realitas antara manusia dan manusia. Ada yang menganggap manusia lain sebagai objek, ada pula yang menganggap orang lain itu sebagai subjek. Mereka sama-sama menatap dengan mata, namun berbeda dalam sudut pandang.


Ada yang kadang memandang dari ujung dada perempuan, lalu naik ke wajah, lalu, turun ke bawah sebagai mekanisme biologis seorang manusia berjenis kelamin laki-laki. Ada pula yang memandang apakah ia merasakan yang aku rasakan, ketika mereka diperlakukan sama. Ada perbedaan dari sudut pandang tersebut, apakah memandang sebagai objek atau pun sebagai subjek.


Konsekuensi menganggap manusia itu sebagai objek adalah mereka akan lebih cepat mendapatkan stiga. Stigma berarti persepsi yang berkembang di masyarakat. Pikiran masyarakat terlalu liar untuk dikendalikan apabila pemimpinnya hanya bermain dadu dalam menerapkan revolusi mental. Ketika manusia dianggap benda diam tak berperasaan, maka hujatan akan lebih mudah dilontarkan. Berbeda apabila manusia diangap sebagai subjek seperti yang dikatakan oleh Pak Cik Milsa saat itu. Kita merubah sudut pandang bagaimana mereka melakukan hal tersebut, hingga kita sadar ada alasan tertentu yang memaksa mereka begitu. Manusia lebih kritis dalam bersikap, hujatan tak mudah dilontarkan karena tahu bahwasanya umpatan itu bagai pisau yang diasah ribuan tahun, lalu ditancapkan ke dada seseorang.


Aku menghela napas tatkala seorang wanita wanita muda merayuku dengan isyarat tangannya. Ia mengajakku masuk ke dalam rumah itu, lalu memberikan isyarat tarif dengan tangan. Aku sontak tersenyum seraya menunduk. Keperjakaanku tidak akan hilang oleh tunasusila dengan harga seratus lima puluh ribuan.


Reira menutup handphone-nya. “Lima rumah lagi dari sini. Ayo, jalan ke depan.”


Sebagai lelaki, sudah tugas kami untuk mengangkat barang mereka. Reira menghitung lima rumah ke depan yang sudah disebutkan orang kepercayaannya tersebut.


“Sepertinya itu orangnya.” Reira menunjuk satu rumah di seberang kami yang ada seorang pria yang berbincang di depan pintu.


“Ciri rumahnya sama, tingkat dua.”


Tangan pria tersebut mengeluarkan sejumlah uang kepada wanita lawan bicaranya tersebut. Tanpa ragu, Reira meneriaki pria tersebut dengan sebuah nama.


“Syamsul!” sahut Reira.


Aku tidak tahu apakah orang itu lebih tua atau lebih muda dariku, tetapi aku pastikan Reira sangat berani memanggilnya dengan nama. Entahlah, aku tidak tahu tujuannya apa. Yang penting, pria yang tengah berbincang bersama seorang wanita sexy di sana terlihat menoleh pada kami. Tanpa aku duga, pria itu pun membuka tangannya seakan ingin memeluk Reira. Reira terheran melihatnya, berdiam di tepi comberan berair cokelat.


“Lah, ini Reira?” tanya pria tersebut.


“Ini bukannya abang-abang yang dulu di kapal Kakek Kumbang?” tanya Reira dengan heran.


Pria tersebut menurunkan tangannya, beralih bertegak pinggang. “Inilah Bang Syamsul yang dulu pengen kali nyemplungin kau ke laut.”


“Gila ... gue ketemu lagi sama dia!” Reira bergumam kecil di sampingku.


Aku mendekatkan bibiku ke telinganya untuk berbisik. “Beneran ini orangnya? Kaya baru kalah judi.”


Ia menoleh padaku. “Orang itu pernah ingin nyemplungin gue ke laut. Entah ... mungkin dulu dia cuma bercanda ngayunin badan gue, sering banget! Tapi, yang penting gue takut sama dia dulu.”


“Beneran Bang Syamsul yang dihubungin sama Kakek Syarif, kan?” tanyaku untuk memastikan.


Jujur ... mendengar logat Sumatera aku sedikit turun mental. Keras dan penuh penekanan pada setiap kata seakan ingin marah padaku. Namun, itu sudah dikatakan oleh Bang Ali yang notabene orang Sumatera. Memang gaya bicaranya seperti itu.


“Syukurlah, kami dapat tumpangan,” balasku singkat.


Ia tersenyum, lalu berbalik menoleh pada wanita tersebut. Ia memberikan sejumlah uang pecahan seratus ribu pada tangan wanita tersebut. “Besok aku sini lagi. Kalau udah pulang dari Sijunjung, aku main ke sini. Siapin yang terbaik. Hahahah!”


Ia tertawa keras, aku yang merasa jijik karena tahu arah pembicaraannya. Tidak lama kemudian ia berterima kasih kepada wanita itu dan berpamit pergi.


“Kalian mau ke Kuantan Singingi, kan? Ayolah kita malam ni pergi lagi.”


Mata Reira masih tidak percaya bahwasnya orang di hadapannya itu merupakan pria yang pernah ingin menyampakan tubuhnya ke tengah laut.


“Gue masih enggak percaya kalau lo orangnya,” balas Reira.


“Hahah ... lo-gue ... dulu kau masih panggil aku-kau kaya Pak Kumbang. Dah jadi anak kota sekarang? Hahaha ....” Ia menyentuh tubuh belakang Reira untuk mengajaknya melangkah dari sini. “Ayo, kita pergi dari tempat penuh kenikmatan ini!”


Ia gila, lebih gila dari Reira kurasa. Dari postur tubuh, ia tinggi gempal seperti Bang Ali. Tak ada kata cerah dari perawakannya, cokelat menyeluruh dan mengkilap ketika disentuh cahaya mentari. Ia tak lagi muda, tetapi tidak tua pula. Jika aku boleh menebak, ia berumur antara tiga puluh dan tiga lima. Aku rasa ia sedikit lebih tua daripada Rio jika pria itu masih hidup.


Kami melangkah ke mobil van yang ada di seberang jalan ini.


“Abang ngapain ke tempat yang begini?”


“Hahah ... urusan orang besar. Kau enggak boleh tahu.” Ia membuka pintu mobil yang tak berkunci. Lalu, menoleh pada kami semuanya. “Masukkan aja ke bangku belakang barang-barang kalian. Kita bukan pakai ini sebenarnya buat pergi, tapi pakai kendaraan lain.”


“Oke, Bang.” Aku menunduk untuk meraih koper Mawar. “Biar gue angkat punya lo.”


Perjalanan sementara dimulai semenjak tawa besar Bang Syamsul mengenang bagaimana jahilnya ia waktu masih menjadi awak kapal Kakek Kumbang. Tampak muka masam Reira yang kesal ketika diceritakan hal tersebut. Baru kali ini ia dibuat kesal seperti ini oleh orang lain. Bang Syamsul pun bercerita bahwasanya Reira pada saat itu masih sangat kecil, sedangkan ia sudah berumur seperti kami pada saat itu. Kebetulan Kakek Syarif merekrut anak muda untuk dibawa berlayar ketika Kakek Kumbang ada di pesisir Pulau Bengkalis. Alhasil, pengalaman melaut bertahun-tahun ia lakoni di masa mudanya tersebut. Namun, sekarang ia sudah tidak melaut lagi semenjak ia pensiun dini karena penyembuhan TBC. Sekarang ia sudah bekerja sebagai supir truk batubara di kawasan Sumatera Barat.


Perjalan yang membelah kota Pekanbaru dari ujung ke ujung kini kami lakukan. Sampailah kami di suatu kawasan tepian di mana banyak truk tronton berhenti untuk beristirahat atau memperbaiki mesin-mesin.


Bertegak pinggang Bang Syamsul setelah turun dari mobil. Tangannya menunjuk kendaraan besar berwarna cokelat pekat.


“Kita naik gajah malam ini! Hahahah ....”


Ia tertawa keras lagi, sedari tadi ia sudah tertawa berkali-kali. Terkejut mataku melihat kendaraan yang sangat besar.


“Kita naik truk tronton pengangkut batu bara antar provins!” Ia mengepalkan tangannya tanda semangat.


***